Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad bersama Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura dan rombongan melakukan kunjungan silaturahmi ke Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (12/6/2026). Dalam pertemuan yang berlangsung di Sabda Alam Hotel & Resort, Tarogong Kaler, kedua pemerintah daerah membahas peluang kerja sama pembangunan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai respons atas tantangan ekonomi dan fiskal yang dihadapi daerah saat ini.
Kunjungan tersebut memiliki makna simbolis tersendiri. Selain merupakan kunjungan balasan atas lawatan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin ke Batam beberapa waktu lalu, agenda itu juga berlangsung di tanah kelahiran Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, yang lahir di Garut pada 1 Desember 1974 sebelum kemudian merantau ke Kepulauan Riau dan membangun karier di sektor pelayaran, dunia usaha, hingga politik.
Di tengah tekanan fiskal yang dirasakan banyak pemerintah daerah, kolaborasi antardaerah kini menjadi salah satu strategi yang semakin sering ditempuh. Gubernur Ansar Ahmad menilai daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumber daya internal, melainkan harus membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan. “Meskipun kita mungkin baru penjajakan awal, tapi dari hasil diskusi-diskusi tadi, saya melihat kita punya peluang kerja sama yang besar,” kata Ansar Ahmad.
Bagi Pemerintah Kabupaten Garut, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Bupati Abdusy Syakur Amin secara terbuka mengakui bahwa peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi daerahnya. Karena itu, Garut ingin belajar dari pengalaman Kepri yang dinilai berhasil melakukan percepatan pembangunan meskipun memiliki tantangan geografis yang jauh lebih kompleks.
“Nah, ini tantangan buat kita semua, paling tidak kita dapat insight tentang bagaimana kita harus menyiapkan semuanya dari sekarang agar bisa mengakselerasi pembangunan di Kabupaten Garut,” ujar Abdusy Syakur Amin. Pernyataan tersebut menarik karena membandingkan dua wilayah dengan karakter yang sangat berbeda. Garut merupakan kabupaten daratan dengan kekuatan pada sektor pertanian, jasa, dan pariwisata alam. Sebaliknya, Kepulauan Riau merupakan provinsi kepulauan yang harus mengelola ratusan pulau berpenghuni dan wilayah laut yang luas.
Di tengah keterbatasan geografis tersebut, Kepri mampu mencatat berbagai indikator pembangunan yang relatif baik, termasuk capaian IPM yang masuk kelompok tertinggi secara nasional. Pemerintah Provinsi Kepri juga dalam beberapa tahun terakhir menempatkan pembangunan manusia, pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi daerah sebagai agenda prioritas.
Dalam pertemuan itu, salah satu sektor yang mengemuka adalah pariwisata. Ansar melihat Garut memiliki potensi besar yang dapat dikoneksikan dengan kawasan wisata Kepri, terutama Batam dan Bintan yang selama ini menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara. “Nah, ini peluang bagi kita untuk membangun kerja sama, salah satunya membangun tourism linkage dengan Kepri,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif karena kedua daerah memiliki karakter destinasi yang saling melengkapi. Jika Kepri unggul pada wisata bahari dan kedekatannya dengan Singapura maupun Malaysia, Garut memiliki kekuatan pada wisata pegunungan, pemandian air panas, budaya Sunda, hingga produk ekonomi kreatif berbasis UMKM.
Namun demikian, sejumlah pengamat pembangunan daerah mengingatkan bahwa kerja sama antardaerah tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau kunjungan seremonial semata. Tantangan sesungguhnya terletak pada implementasi program yang mampu memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, dan layanan kesehatan.
Pandangan optimistis datang dari pemerintah daerah yang melihat kolaborasi sebagai peluang mempercepat pembangunan. Di sisi lain, pandangan kritis menilai keberhasilan suatu daerah tidak dapat serta-merta direplikasi karena setiap wilayah memiliki struktur ekonomi, kapasitas fiskal, dan karakter sosial yang berbeda. Oleh sebab itu, proses belajar antarwilayah perlu disertai adaptasi kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Meski demikian, pertemuan Garut dan Kepri setidaknya menunjukkan satu hal penting bahwa pembangunan tidak selalu lahir dari kompetisi antardaerah, melainkan juga dari kemauan untuk saling belajar dan kolaborasi. Ansar Ahmad bahkan menegaskan bahwa tidak ada daerah yang lebih hebat dari daerah lainnya. “Kita saling belajar dan saling mengisi agar terbentuk sebuah ekosistem ekonomi seperti ini,” kata Ansar.
Di balik pertemuan tersebut tersimpan sebuah ironi sekaligus harapan. Seorang putra Garut yang merantau ke Kepulauan Riau kini kembali ke kampung halamannya sebagai Wakil Gubernur. Perjalanan hidup Nyanyang Haris Pratamura seakan menjadi pengingat bahwa pembangunan sejatinya bukan sekadar soal angka pertumbuhan ekonomi atau peringkat indeks pembangunan manusia. Pembangunan adalah tentang bagaimana sebuah daerah mampu melahirkan manusia-manusia yang berani bermimpi, merantau, belajar, lalu kembali membawa manfaat bagi tempat asalnya.
Karena itu, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari jalan yang dibangun atau investasi yang masuk, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama. Dari Garut yang dikelilingi pegunungan hingga Kepri yang dipisahkan lautan, kolaborasi semacam inilah yang mungkin menjadi wajah baru pembangunan Indonesia di masa depan. (Red)