Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto mengurangi frekuensi perjalanan ke luar negeri dan lebih mengutamakan diplomasi yang efisien dari dalam negeri. Usulan itu disampaikan melalui akun Instagram pribadinya setelah muncul kritik publik terhadap tingginya intensitas kunjungan internasional Presiden. Dino menilai penghematan anggaran, efektivitas diplomasi, serta meningkatnya penggunaan teknologi komunikasi global menjadi alasan mengapa pola diplomasi Indonesia perlu dievaluasi.
Perdebatan mengenai perjalanan luar negeri Presiden bermula dari pertanyaan sejauh mana setiap perjalanan menghasilkan manfaat strategis dan apakah sebanding dengan biaya yang dikeluarkan negara. Dalam unggahan videonya, Dino mengungkapkan bahwa berdasarkan perhitungan yang dilakukan timnya, Presiden Prabowo termasuk salah satu kepala negara yang paling aktif melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat. Bahkan, menurut catatan yang ia sampaikan, sekitar satu dari enam hari masa kepresidenan Prabowo dihabiskan di luar negeri.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri,” kata Dino Patti Djalal. Menurut mantan Wakil Menteri Luar Negeri tersebut, setiap kunjungan presiden ke luar negeri melibatkan biaya yang tidak sedikit. Selain penggunaan pesawat kepresidenan, terdapat biaya tim pendahulu, pengamanan, akomodasi delegasi, logistik, konsumsi, hingga protokoler kenegaraan. Dalam beberapa kasus, biaya perjalanan dapat mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah.
Atas dasar itu, Dino menawarkan lima rekomendasi kepada Presiden Prabowo. Salah satu yang paling menonjol adalah memaksimalkan penggunaan teknologi komunikasi seperti video conference, telepon, atau pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia. “Pengalaman saya, suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam, dan selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu,” ujarnya.
Dino menilai era digital telah mengubah praktik diplomasi global. Banyak pembicaraan strategis kini dapat dilakukan tanpa harus mempertemukan para pemimpin negara secara fisik. Sebagai contoh, ia menyebut Presiden Meksiko, , yang menurutnya telah berulang kali berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, melalui sambungan telepon tanpa harus menggelar pertemuan bilateral secara langsung.
Ia juga mengutip contoh lain ketika Sheinbaum memilih menggunakan penerbangan komersial saat melakukan kunjungan kerja ke luar negeri sebagai simbol komitmen terhadap efisiensi anggaran negara. Selain mengurangi perjalanan bilateral yang dianggap kurang efektif, Dino menyarankan agar Presiden memanfaatkan forum-forum internasional seperti KTT ASEAN, G20, Sidang Umum PBB, maupun Forum Ekonomi Dunia di Davos untuk melakukan banyak pertemuan sekaligus. Menurutnya, pendekatan semacam ini lebih hemat waktu dan biaya dibandingkan melakukan kunjungan terpisah ke banyak negara.
Saran berikutnya menyangkut transparansi. Dino menilai agenda kunjungan Presiden perlu diumumkan lebih awal kepada publik agar masyarakat memahami tujuan, target, dan manfaat yang ingin dicapai dari setiap perjalanan luar negeri. Ia juga mengusulkan agar dalam satu tahun ke depan Presiden lebih banyak menerima tamu negara di Indonesia dibandingkan melakukan perjalanan ke luar negeri. Menurut Dino, pendekatan tersebut telah lama dipraktikkan Presiden Cina, yang lebih sering menjamu pemimpin dunia di Beijing dibanding melakukan kunjungan ke luar negeri.
Namun demikian, pandangan Dino bukan tanpa sanggahan. Kelompok yang mendukung diplomasi aktif Presiden berargumen bahwa kehadiran langsung seorang kepala negara tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi komunikasi. Dalam hubungan internasional, pertemuan tatap muka menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan, mempercepat negosiasi, dan membuka peluang kerja sama strategis yang sulit dicapai melalui layar komputer.
Pemerintah sendiri beberapa kali menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden dilakukan untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang semakin kompleks. Dalam berbagai lawatan internasional, pemerintah mengklaim berhasil mendorong kerja sama investasi, pertahanan, hilirisasi industri, ketahanan pangan, hingga transisi energi. Pendukung pendekatan ini menilai diplomasi tingkat tinggi memang membutuhkan biaya, tetapi manfaat jangka panjang yang diperoleh negara dapat jauh melampaui biaya perjalanan yang dikeluarkan.
Di sisi lain, kritik yang disampaikan Dino mencerminkan meningkatnya sensitivitas publik terhadap penggunaan anggaran negara. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, efisiensi belanja pemerintah menjadi tuntutan yang semakin kuat. Masyarakat tidak lagi hanya ingin melihat aktivitas diplomasi yang megah, tetapi juga ingin mengetahui hasil konkret yang diperoleh dari setiap perjalanan internasional.
Perdebatan ini sesungguhnya bukan tentang apakah Presiden harus sering bepergian atau tidak. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah setiap perjalanan memiliki tujuan yang jelas, menghasilkan manfaat yang terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Sebab diplomasi bukanlah soal seberapa sering seorang presiden terlihat di bandara atau tampil dalam foto bersama para pemimpin dunia. Diplomasi adalah tentang kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat.
Jika sebuah panggilan video mampu menghasilkan kesepakatan yang sama dengan perjalanan bernilai ratusan miliar rupiah, maka efisiensi patut dipertimbangkan. Namun jika kehadiran langsung mampu membuka pintu investasi, memperkuat posisi Indonesia, dan menghasilkan keuntungan strategis yang jauh lebih besar, maka biaya perjalanan dapat menjadi investasi politik yang masuk akal.
Di era ketika teknologi mampu mendekatkan pemimpin dunia hanya dengan satu sentuhan layar, ukuran keberhasilan diplomasi tampaknya tidak lagi terletak pada jarak yang ditempuh, melainkan pada hasil yang berhasil dibawa pulang. (Red)