Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perubahan lanskap media digital, kemampuan berkomunikasi secara strategis menjadi kebutuhan mendasar, bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi hadirnya program CommuniAction di Kota Batam melalui sebuah workshop yang digelar di Hotel Aglow, Harbour Bay, Kamis (27/11/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk memperkuat literasi komunikasi publik di daerah, sekaligus membangun jejaring komunitas yang mampu menyampaikan informasi secara akurat, berimbang, dan berdampak. Batam dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai kota perbatasan dan pusat pertumbuhan ekonomi, Batam memiliki dinamika informasi yang cepat, beragam, dan kerap bersinggungan dengan isu strategis nasional.
Workshop CommuniAction diinisiasi oleh Direktorat Informasi Publik, Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, bersama Komdigi Kota Batam, melalui program Go Indonesia (GOID) Menyapa. GOID Menyapa sendiri merupakan portal informasi nasional yang dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, bekerja sama dengan Forum Media Monitoring (FOMO).
Kolaborasi lintas lembaga ini tidak semata berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk membentuk komunitas Sahabat Hebat Indonesia Baik (SOHIB), sebuah jejaring pegiat komunikasi yang diharapkan memiliki keterampilan komunikasi publik, kemampuan membaca dan menganalisis isu, serta kecakapan memproduksi konten digital yang bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, workshop ini menghadirkan tiga materi utama yang saling melengkapi. FOMO membuka sesi dengan materi media monitoring dan analisis isu, mengajak peserta memahami bagaimana percakapan publik terbentuk di ruang digital, serta pentingnya membaca data dan tren sebelum menyusun pesan komunikasi. Sesi ini menekankan bahwa komunikasi publik yang baik selalu berangkat dari pemahaman konteks, bukan sekadar respons reaktif.
Materi berikutnya adalah Interactive Engagement Session yang dibawakan oleh IGID, yang menyoroti pentingnya keterlibatan audiens dalam komunikasi modern. Peserta diajak melihat komunikasi bukan sebagai proses satu arah, melainkan dialog yang membutuhkan empati, keterbukaan, dan kemampuan mendengar. Di era media sosial, kepercayaan publik dibangun melalui interaksi yang manusiawi, bukan hanya narasi yang rapi.
Sementara itu, sesi Digital Storytelling oleh SOHIB menutup rangkaian materi dengan pendekatan kreatif. Peserta diajak memahami bagaimana cerita—jika disusun dengan jujur, sederhana, dan relevan, dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan pesan publik. Di sinilah komunikasi bertemu dengan nilai, dan informasi bertemu dengan makna.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, serta perwakilan Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Latief Siregar, bersama para praktisi dan fasilitator lainnya. Para pemateri menekankan bahwa tantangan komunikasi hari ini bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal kepercayaan dan tanggung jawab etis.
Melalui kegiatan CommuniAction di Batam, penyelenggara berharap lahir praktik komunikasi publik yang lebih terencana, inklusif, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah kebisingan informasi, komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan merawat ruang publik agar tetap sehat, kritis, dan beradab.
Workshop ini bukan hanya tentang teknik berbicara atau menulis, tetapi tentang bagaimana komunikasi dapat menjadi jembatan: antara negara dan warga, antara data dan empati, serta antara informasi dan harapan. (Sal)