Pada 11 November 1994 di New York, di ruangan megah sebuah rumah lelang Christie's, ada sebuah buku tua yang berubah menjadi primadona sejarah. Di antara lelang karya seni dan buku langka itu, sebuah manuskrip ilmiah karya polymath Renaisans Italia menjadi sorotan: Codex Leicester. Buku catatan itu terjual seharga 30,802,500 dolar AS, sebuah angka yang belum pernah tercapai untuk manuskrip ilmiah pada zamannya.
Pembelinya adalah Bill Gates, salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi. Namun, berbeda dari anggapan populer yang beredar di media sosial bahwa tindakan Gates setelah membelinya dikatakan untuk menyembunyikannya dari publik, bukan demi membuka akses pengetahuan seluas-luasnya untuk dunia digital dan publik global.
Codex Leicester, yang dikenal di periode sebelumnya sebagai Codex Hammer, adalah sebenarnya kumpulan tulisan dan sketsa ilmiah karya Leonardo da Vinci. Disusun sekitar tahun 1506–1510 sebagai manuskrip berisi 72 halaman tulisan cermin (mirror script) dengan diagram, sketsa, dan catatan pemikiran Leonardo mengenai fenomena alam yang luas. Mulai dari pergerakan air dan hidrodinamika, geologi dan fosil, hingga astronomi dan cahaya langit.
Sebelum menjadi milik Gates, Codex Leicester pernah berpindah tangan beberapa kali sepanjang sejarah. Berdasarkan pelbagai sumber pernah jatuh kepada Giuseppe Ghezzi, kolektor Italia di abad ke-18, pernah disimpan dalam keluarga Thomas Coke, Earl of Leicester sejak 1719 hingga 1980, pernah dibeli oleh industrialis dan kolektor seni Armand Hammer pada 1980, dan dikenal sebagai Codex Hammer, sampai akhirnya dibeli Gates pada 1994 melalui lelang Christie’s.
Perjalanan ini bukan hanya soal kepemilikan artefak, tapi tentang bagaimana karya ilmiah disimpan, dipertukarkan, dan kemudian dihadirkan kembali kepada publik dalam berbagai kesempatan pameran di museum dunia, dari Sydney hingga Florence, untuk menunjukkan sisi lain dari sang maestro Renaisans.
Isi Codex Leicester semata kumpulan catatan pribadi yang seringkali acak dalam tema dan pembahasannya. Manuskrip ini menunjukkan cara Leonardo memandang dunia melalui observasi, eksperimen, dan hubungan antarfenomena alam yang jauh melampaui zamannya.
Beberapa tema utamanya tentang air dan hidrodinamika yang mana Leonardo mengamati aliran sungai, pusaran air, gelombang, dan bahkan merancang ide-ide awal tentang bendungan dan kanal. Mencakup juga pembahasan geologi dan fosil yang mana ia berusaha menjelaskan mengapa fosil laut dapat ditemukan di puncak gunung, sebuah gagasan yang mendahului teori ilmiah modern tentang perubahan permukaan bumi. Selain itu, cakupan bidang astronomi dan cahaya yang dalam catatannya tentang pengamatan fenomena cahaya bulan. Isinya lebih dari sekadar esai artistik, tapi sebagai refleksi awal pemikirannya misalnya tentang pantulan cahaya bumi (planetshine).
Dalam pameran besar bertajuk Water as Microscope of Nature di Galleria degli Uffizi, Florence, pagelaran manuskrip ini menegaskan bahwa Leonardo menggunakan gerak air sebagai alat untuk memahami keseluruhan fenomena alam, menjadikannya bukan hanya catatan teoritis, tetapi juga jembatan antara seni, sains, dan filsafat. Setelah membeli manuskrip itu, Gates tidak hanya menyimpannya sebagai koleksi pribadi.
Pada 1997, melalui perusahaannya Corbis, Gates merilis versi digital Codex Leicester dalam format interaktif yang memungkinkan generasi baru mengaksesnya secara luas. CD-ROM itu bahkan dipasarkan sebagai alat pendidikan yang menggabungkan teks terjemahan dengan gambar digital berkualitas tinggi. Pernah halaman-halaman manuskrip dipajang di pameran global di Phoenix Art Museum, Minneapolis Institute of Art, hingga perayaan 500 tahun kematian Leonardo di Uffizi Gallery pada 2018–2019.
Seorang kurator pameran di Uffizi Gallery pernah menjelaskan dalam konteks pameran tersebut bahwa manuskrip bukan hanya sekadar artefak, tetapi cara Leonardo berbicara lintas abad tentang hubungan antara pengetahuan empiris dan intuisi artistik. Namun dalam masyarakat digital saat ini, narasi tentang benda-benda bersejarah sering ditarik ke arah sensasional. Sebagai rumor tentang rahasia tersembunyi, konspirasi, atau kekuatan misterius yang tak terjelaskan.
Codex Leicester menjadi hal luar biasa bukanlah karena unsur mistis atau “penemuan yang mengganggu” yang tersembunyi, melainkan tentang kekuatan pikirannya yang dapat kita baca dari seorang Leonardo yang terus memacu dirinya pada rasa ingin tahu dan kita pun terpacu ingin tahu hal-hal yang pernah terjadi dalam penemuannya selama lima abad lebih berlalu.
Dalam Codex Leicester menggambarkan sosok Leonardo yang pernah menulis dan menggambar tanpa batasan genre, antara menghubungkan seni, sains, dan teknologi dalam satu gulungan pemikiran yang koheren. Itu bukan sekadar catatan masa lalu, tapi merupakan cermin ilmu pengetahuan modern yang mengingatkan kita bahwa observasi, kreativitas, dan refleksi adalah inti dari semua proses ilmiah dan artistik.
Codex Leicester hari ini bukan hanya artefak di rak kolektor. Tapi menjadi warisan bersama umat manusia, dipelajari oleh akademisi, dipamerkan oleh museum, dan diakses oleh siapa pun yang ingin memahami bagaimana seorang pemikir besar mencoba menghubungkan dunia yang terlihat dengan prinsip ilmiah yang tak terlihat.
Apa yang bisa kita pelajari dari Codex Leicester dan dari cara kita memperlakukannya di era digital adalah, pertama, pengetahuan bukan milik satu orang atau satu era, melainkan warisan kolektif yang harus dilestarikan, dipelajari, dan dibagikan. Kedua, ilmu pengetahuan dan seni tidak pernah terpisah. Kedua cara berpikir itu saling memperkaya dalam memahami realitas. Ketiga, di tengah arus informasi yang sering menyederhanakan fakta, kita ditantang untuk menelusuri kebenaran kontekstual daripada sekadar mitos sensasional.
Leonardo menulis bahwa “air adalah kunci segala hal” yang dalam pengertiannya bukan sekadar tentang cairan itu sendiri, tetapi sebagai metafor bagi arus pemikiran manusia yang bergerak, berubah, menyesuaikan bentuk, tetapi terus mengalir mencari kebenaran. Begitu pula pengetahuan kita hari ini tidak seharusnya terkunci, tetapi mengalir ke mana pun ada rasa ingin tahu.
Codex Leicester bukan sekadar buku langka yang dibeli Bill Gates dengan harga fantastis. Itu adalah jendela ke dalam pikiran seorang genius Renaisans, sekaligus pengingat bahwa ilmu pengetahuan adalah kontribusi tak ternilai yang harus terus dipelajari, dibagikan, dan direnungkan oleh generasi demi generasi. (Red)