Industri perfilman Indonesia tengah memulai sebuah proyek ambisius yang tak hanya menjanjikan hiburan, tetapi juga membuka kembali lembaran sejarah yang kurang terekspos di layar lebar. Rumah produksi Manara Studios resmi memulai proses pembuatan film Pasukan 1000 Janda, sebuah karya bergenre aksi-sejarah yang direncanakan tayang Agustus 2026.
Film ini mengangkat kisah perjuangan sekelompok perempuan Aceh di abad ke-16 yang dipimpin oleh tokoh legendaris Laksamana Malahayati, seorang laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin pasukan wanita dalam perlawanan terhadap penjajah.
Menurut dokumen sejarah, Laksamana Malahayati pernah memimpin Pasukan Inong Balee, sebuah unit militer perempuan yang terdiri dari para janda prajurit. Mereka bangkit setelah kehilangan keluarga akibat peperangan, namun memilih untuk terus berjuang demi kedaulatan dan kemerdekaan negeri Aceh dari kekuasaan asing.
“Kisah beliau bukan hanya heroik, tetapi relevan dengan semangat perempuan Indonesia hari ini,” ujar Archie Hekagery, sutradara sekaligus penulis skenario film ini. “Kami ingin membuat sejarah yang terasa hidup, dekat, dan inspiratif — bukan sekadar catatan di buku.”
Nama Atiqah Hasiholan dipilih untuk memerankan Laksamana Malahayati, sebuah peran yang dianggap sangat penting secara budaya. Atiqah bukan sosok asing dalam film berbalut isu sosial atau psikologis; portofolionya mencakup banyak karya yang menantang emosi dan konteks sosial penonton.
“Perempuan-perempuan ini punya cerita yang kuat,” kata Atiqah saat jumpa pers produksi. “Saya merasa terhormat bisa memerankan sosok yang bukan hanya tokoh sejarah, tapi simbol ketangguhan yang harus dikenal generasi kita.”
Produksi Pasukan 1000 Janda menunjukkan keseriusan tim kreatif dalam menghadirkan pengalaman sinematik yang autentik. Salah satu elemen paling menarik adalah pembuatan kapal warisan sejarah, dibangun sepanjang satu bulan menggunakan kayu asli berskala 1:1, menyerupai kapal phinisi tradisional.
“Kami ingin penonton merasa seolah berdiri di geladak kapal itu, merasakan angin dan debur ombak saat para pahlawan itu berlayar,” ujar Archie.
Selain Atiqah, film ini juga menampilkan aktor dan aktris lain seperti Cut Mini, Ully Triani, Brittany Fergie, serta aktor internasional seperti Ron Smoorenburg dan Hans de Karker, kombinasi yang menegaskan ambisi film ini untuk menyasar khalayak global sekaligus lokal.
Film sejarah sering kali dianggap kaku dan kurang menarik oleh penonton muda. Archie menjelaskan bahwa pendekatan film ini bukan sekadar rekonstruksi sejarah, melainkan juga gaya yang memikat dan mudah dicerna generasi baru.
“Kami ingin membuka pintu rasa ingin tahu. Setelah pulang dari bioskop, penonton muda akan penasaran dan mencari tahu lebih jauh siapa sebenarnya Malahayati,” Archie menambahkan.
Film ini dijadwalkan tayang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 2026, sebuah waktu simbolis untuk mengangkat semangat nasionalisme melalui perfilman. (Red)