Flu Singapura dan Tantangan Memutus Rantai Penularan di Sekolah Batam

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hand, Foot, and...

Flu Singapura dan Tantangan Memutus Rantai Penularan di Sekolah Batam

27 Sep 2026
115 x Dilihat
Share :

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau yang lebih dikenal sebagai flu Singapura di lingkungan sekolah dengan memperkuat pemantauan kondisi kesehatan siswa, berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, serta mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menyusul ratusan kasus yang tercatat di Batam sepanjang 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam, Meldasari, mengatakan sekolah perlu menjadi salah satu titik perhatian karena interaksi antaranak berlangsung intensif. Ketika terdapat siswa yang menunjukkan gejala sakit, penanganan dini diperlukan agar kemungkinan penularan kepada anak lain dapat ditekan. “Kalau di sekolah ada anak yang sakit, segera dilakukan penanganan dan dibawa ke fasilitas kesehatan. Yang paling penting PHBS,” ujar Meldasari.

Kewaspadaan dilakukan sesuai data yang dikutip dari Dinkes Batam menunjukkan hingga 13 Agustus 2026 terdapat 493 pasien flu Singapura yang tercatat sejak awal Januari. Data tersebut dihimpun dari 23 fasilitas pelayanan kesehatan di Batam. Pada periode yang sama, Meldasari menyebut kasus mingguan sempat meningkat dari 19 kasus pada minggu ke-29 menjadi 29 kasus pada minggu ke-30, sebelum turun menjadi 10 kasus pada minggu ke-31.

Dari jumlah 493 pasien merupakan akumulasi laporan dari fasilitas kesehatan, dan bukan berarti seluruhnya anak di Batam yang terjangkit HFMD. Namun data itu cukup untuk menunjukkan bahwa penyakit tersebut bukan sekadar kemungkinan yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Batam.

Sebelumnya, laporan surveilans Dinkes Batam pada minggu ke-21 hingga ke-25 tahun 2026 mencatat 90 suspek HFMD. Pada awal tahun, buku saku P2P Batam juga mencatat 18 suspek HFMD pada minggu pertama hingga keempat. Karena statusnya suspek, angka tersebut tidak dapat diperlakukan sama dengan kasus yang telah terkonfirmasi secara laboratoris. Namun keberadaan laporan suspek menunjukkan betapa pentingnya sistem kewaspadaan dini dalam membaca pola penyakit di masyarakat.

Flu Singapura sebenarnya merupakan istilah populer untuk HFMD, yakni penyakit infeksi akibat kelompok enterovirus. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa virus dapat ditemukan pada cairan hidung dan tenggorokan, air liur, tinja, serta cairan lepuh pada kulit. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung, percikan ketika penderita batuk atau bersin, benda yang terkontaminasi, maupun kebiasaan menyentuh mulut, hidung atau mata dengan tangan yang belum bersih.

Karena itu, sekolah menjadi lingkungan yang memiliki sejumlah faktor pendukung penularan. Sebab anak-anak berinteraksi secara intensif dalam ruang yang sama, menggunakan benda bersama, makan bersama, bermain berdekatan, dan belum memiliki kebiasaan menjaga kebersihan tangan secara konsisten.

Laporan investigasi wabah HFMD di sebuah sekolah dasar di Filipina yang diterbitkan dalam Western Pacific Surveillance and Response Journal pada 2025 memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut. Investigasi menemukan 19 kasus suspek, dengan sebagian besar berasal dari kelas satu. Dua sampel yang diperiksa melalui PCR positif Coxsackievirus A16. Tim investigasi menyimpulkan penularan berkaitan dengan kontak dekat dan kemungkinan penggunaan benda kelas secara bersama.

Persoalan HFMD di sekolah bukan semata-mata tentang mengenali bintik merah di tangan atau kaki. Yang lebih penting adalah bagaimana sekolah, orang tua, dan fasilitas kesehatan bekerja bersama memutus rantai penularan sejak gejala pertama muncul yang umumnya diawali demam, sakit tenggorokan, rasa tidak enak badan dan berkurangnya nafsu makan. 

Setelah itu dapat muncul luka atau sariawan yang terasa nyeri di dalam mulut, disusul ruam atau lepuhan pada telapak tangan dan telapak kaki. Ruam juga dapat muncul di bagian tubuh lain, termasuk bokong, lengan dan tungkai. Pada sebagian anak, luka di mulut justru menjadi persoalan yang perlu diperhatikan karena rasa sakit ketika menelan dapat membuat anak enggan makan atau minum. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan.

Sebagian besar kasus HFMD bersifat ringan dan dapat membaik sendiri dalam sekitar tujuh sampai 10 hari. Namun, komplikasi berat meskipun jarang tetap dapat terjadi. CDC mencatat komplikasi seperti meningitis virus dan ensefalitis dapat muncul pada sebagian kecil kasus, sementara infeksi yang berkaitan dengan Enterovirus 71 diketahui dapat berhubungan dengan penyakit neurologis yang lebih berat.

Karena itu, orang tua tidak perlu panik, tetapi juga tidak seharusnya menganggap semua demam dan ruam sebagai keluhan biasa yang dapat diabaikan. Di sini perlunya pencegahan yang membutuhkan pendekatan secara proporsional. Dinkes Batam mengingatkan agar anak yang sedang sakit beristirahat di rumah untuk mengurangi kemungkinan penularan kepada siswa lain. Secara prinsip, langkah tersebut sejalan dengan upaya pengendalian penyakit menular.

Namun, pedoman CDC menunjukkan bahwa keputusan mengenai kapan anak dapat kembali ke sekolah tidak selalu sesederhana. Untuk HFMD, CDC menyatakan anak pada umumnya dapat kembali ke sekolah apabila sudah tidak demam, merasa cukup sehat untuk mengikuti kegiatan belajar, dan tidak mengalami air liur berlebihan yang tidak terkendali akibat luka di mulut. Dalam situasi tertentu, otoritas kesehatan setempat dapat menerapkan ketentuan yang lebih ketat untuk mengendalikan wabah.

Perbedaan penekanan ini penting. Pencegahan memang membutuhkan kehati-hatian, tetapi kebijakan sekolah juga perlu mempertimbangkan kondisi anak secara individual, risiko penularan, kebutuhan belajar, serta situasi epidemiologis setempat. Bagi anak yang sakit tidak seharusnya dipaksa masuk sekolah. Tetapi kebijakan kesehatan sekolah juga idealnya tidak berhenti pada larangan masuk. Yang lebih penting adalah adanya mekanisme yang jelas antara siapa yang melakukan pemantauan, kapan orang tua dihubungi, kapan anak dirujuk, kapan anak dapat kembali belajar, dan bagaimana sekolah membersihkan lingkungan setelah terdapat kasus.

Dalam konteks HFMD, PHBS bukan sekadar slogan kesehatan yang ditempel di dinding sekolah. CDC merekomendasikan pencucian tangan dengan sabun dan air selama setidaknya 20 detik, terutama pada waktu-waktu penting seperti setelah menggunakan toilet, sebelum makan, dan setelah aktivitas tertentu. Sekolah juga dianjurkan menyediakan fasilitas cuci tangan dan menjadikannya bagian dari rutinitas harian siswa.

Permukaan dan benda yang sering disentuh juga perlu dibersihkan secara rutin, seperti mainan, meja, gagang pintu dan benda yang digunakan bersama yang dapat menjadi bagian dari rantai penularan apabila terkontaminasi. Karena itu, edukasi kepada anak perlu dibuat konkret. Bukan hanya mengatakan “cuci tangan”, tetapi mengajarkan kapan harus mencuci tangan, bagaimana melakukannya, mengapa tidak boleh berbagi alat makan dan minum, dan mengapa anak perlu memberi tahu guru ketika merasa tidak sehat.

Pemerintah Kota Batam sebelumnya juga menegaskan belum ada pembatasan perjalanan akibat perkembangan HFMD. Kepala Dinas Pariwisata Batam Ardiwinata mengatakan 493 pasien yang tercatat hingga 13 Agustus belum menjadi alasan untuk menerapkan pembatasan mobilitas wisatawan. “Enggak ada,” ujarnya ketika ditanya mengenai pembatasan tersebut. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tetap menjaga kesehatan.

Pernyataan tersebut memberi perspektif lain bahwa peningkatan kasus tidak otomatis berarti keadaan darurat yang harus direspons dengan kepanikan atau pembatasan aktivitas secara luas. Namun tidak adanya pembatasan perjalanan juga tidak berarti persoalan kesehatan masyarakat dapat diabaikan. Bagi keluarga yang memiliki anak usia sekolah, ukuran kewaspadaan jauh lebih penting dengan memperhatikan apakah anak mengalami demam, luka di mulut, ruam atau lepuhan, berkurang nafsu makan, sulit minum, atau menunjukkan perubahan kondisi yang tidak biasa.

Sementara perkembangan vaksin menunjukkan bahwa pencegahan HFMD kini mulai memasuki tahap baru. BPOM menyetujui vaksin Inlive pada 5 Februari 2026 untuk mencegah HFMD yang disebabkan Enterovirus 71 pada kelompok usia enam bulan hingga 71 bulan. Namun vaksin tersebut secara spesifik melindungi terhadap EV71 dan tidak mencakup HFMD yang disebabkan virus lain seperti Coxsackievirus A16. Karena itu, keberadaan vaksin tersebut tidak menggantikan kebersihan tangan, pembersihan lingkungan dan kewaspadaan terhadap gejala.

Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa HFMD bukan satu jenis virus tunggal. WHO mencatat HFMD dapat disebabkan sejumlah enterovirus, terutama kelompok Coxsackie A dan Enterovirus A71. Karena itu, vaksin terhadap satu jenis virus tidak berarti seluruh kemungkinan HFMD telah tertutup.

Tantangan terbesar Batam bukan sekadar menghitung berapa anak yang terkena flu Singapura. Yang lebih penting adalah memastikan setiap angka memiliki tindak lanjut pada kasus yang ditemukan dengan lebih cepat dan tanggap, anak yang sakit mendapat pemeriksaan, orang tua memperoleh informasi yang benar, sekolah memiliki protokol yang jelas, dan penyediaan fasilitas kesehatan, serta mampu membaca perubahan pola penyakit sebelum penularan berkembang menjadi lebih luas.

Penyakit menular sering bergerak melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang luput diperhatikan. Misalnya melalui tangan yang belum dicuci sampai bersih, botol minum yang dipakai bersama, mainan yang tidak dibersihkan, atau seorang anak yang tetap masuk kelas meski tubuhnya mulai memberi tanda.

Di situlah kesehatan publik sesungguhnya bekerja bukan hanya ketika wabah telah menjadi berita besar, melainkan jauh sebelumnya, ketika kewaspadaan masih tampak sebagai tindakan sederhana. Mencuci tangan, membersihkan meja, membawa anak yang sakit pulang dan memeriksakannya mungkin terlihat sepele. Namun dari tindakan-tindakan kecil itulah sebuah sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, bukan justru menjadi tempat sebuah virus menemukan jalan dari satu tubuh ke tubuh lainnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll