Apa yang hilang dalam Norwegian Wood versi Tran Anh Hung, adalah getaran yang seharusnya tetap tersembunyi di antara baris-baris Haruki Murakami. Menjadi seperti desau angin yang hanya bisa dirasakan, ketika diubah ke dalam gambar, saya sebagai pembaca dan penonton reka cerita Norwegian Wood dibuat agak kecewa.
Sebuah getaran yang bukan sekadar suasana murung atau romansa yang getir, melainkan lapisan batin yang bekerja diam-diam. Sebuah kesepian yang tidak meminta belas kasihan, atau duka yang tidak mencari penyelesaian, dan cinta yang tidak pernah benar-benar ingin diberi definisi.
Dalam novel, Murakami membiarkan perasaan itu berdiam di ruang antara kata dan hening. Ia tidak memaksa pembaca untuk memahami segalanya, apalagi menutupnya dengan kepastian. Tapi justru di situlah kekuatannya: adanya ketidakselesaian, adanya keraguan yang dibiarkan hidup.
Dalam film, sayangnya, menjadi terlalu gamblang, terlalu terang benderang, seolah-olah kesunyian dan kerumitan manusia bisa diukur dengan bidikan kamera. Terutama ending-nya, yang dalam buku dibiarkan mengambang seperti daun yang tertunda jatuhnya, sementara di film dipaksakan untuk mendarat dengan pasti.
Padahal, keambiguan itu bukan kekurangan, melainkan sikap estetik dan etik Murakami terhadap kehidupan: bahwa tidak semua luka harus disembuhkan, dan tidak semua cinta harus diberi arah yang jelas.
Saya kira, Murakami tidak pernah bermaksud memberi jawaban. Ia hanya menyerahkan Watanabe kepada kita: akankah ia tetap terperangkap dalam duka Naoko, atau justru menemukan pelipur dalam pelukan Midori, atau bahkan dalam keintiman yang tak terduga dengan Reiko-san.
Pilihan-pilihan itu tidak ditawarkan sebagai skema moral, melainkan sebagai kemungkinan eksistensial, bahwa manusia sering kali hanya bergerak dari satu kesepian ke kesepian lain, sambil berharap ada sesuatu yang terasa sedikit lebih hangat di antaranya.
Di titik inilah adaptasi film kehilangan ketegangan batinnya. Misalnya pada adegan antara Watanabe dan Reiko-san—dalam buku, ia adalah letupan gairah yang hangat, sebuah pelarian sekaligus penemuan. Tapi di layar, ia berubah menjadi semacam transaksi yang dingin, seolah tubuh-tubuh itu hanya memenuhi kewajiban visual.
Keintiman yang seharusnya terasa canggung, rapuh, sekaligus manusiawi, justru menjadi adegan yang rapi, bersih, dan terkontrol. Ada kehilangan denyut emosional yang justru itu membuatnya bermakna.
Reiko-san, yang dalam teks digambarkan nyaris tanpa buah dada—sebuah detail kecil yang justru membuatnya manusia, sementara di film justru terlihat lumayan cantik, lumayan “layak” untuk dinikmati mata. Tapi detail tubuh dalam prosa Murakami bukanlah erotika kosong, melainkan cara halus untuk menegaskan kerentanan dan ketidaksempurnaan. Namun ketika detail itu dihaluskan demi estetika visual, yang hilang bukan sekadar akurasi, tetapi kemanusiaan itu sendiri.
Begitu pula Midori, yang seharusnya bersinar lewat keceriaannya, bukan kecantikannya. Tapi wajah Kiko Mizuhara terlalu memesona, terlalu sempurna, seakan-akan pembuat film takut pada kita yang tak jatuh cinta padanya, jika ia tidak secantik itu. Padahal Midori dalam novel justru menarik karena ketidakseimbangannya: ia cerewet, hidup, penuh luka, dan terlalu nyata untuk menjadi sekadar simbol cinta penyembuh.
Demikian Naoko, yang diperankan Rinko Kikuchi, mungkin terasa lebih tua dari Watanabe, sebuah pilihan yang bisa dimaklumi, meski mengaburkan dinamika hubungan mereka. Tapi Reika Kirishima sebagai Reiko-san terlalu muda, terlalu segar, untuk seorang wanita yang seharusnya membawa beban usia dan luka yang jauh lebih berat.
Jarak 16 tahun antara Reiko-san dan Watanabe seharusnya terasa seperti jurang, bukan sekadar selisih angka. Usia dalam Norwegian Wood bukan soal kronologi, melainkan soal pengalaman batin. Ketika jarak itu dipersempit oleh casting, maka ketegangan relasional yang penting ikut memudar.
Tapi memang begitulah nasib adaptasi: selalu menjadi bayangan yang tak pernah cukup setia. Buku-buku laris sering kali dikhianati setelah diangkat ke layar lebar, bukan karena kurangnya upaya, tapi karena kata-kata punya ruang sendiri, ruang yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan oleh gambar.
Prosa Murakami bekerja melalui ritme pikiran, pengulangan sunyi, dan suara batin yang tak bisa difilmkan sepenuhnya. Lalu ketika berupaya diambil satu sudut pandang sutradara, menjadi sudut pihak lain merasa kehilangan sesuatu.
Siapa yang pernah tersesat dalam halaman-halaman Murakami, mungkin hanya bisa menghela napas. Film ini mungkin indah, tapi ia bukan Norwegian Wood yang setidak-tidaknya yang saya kenali. Ia hanya salah satu dari banyak kemungkinan, dan sayangnya, bukan yang terbaik.
Barangkali di titik inilah kita belajar: bahwa ada cerita yang lebih setia tinggal sebagai bacaan, sebagai bisikan personal antara teks dan pembacanya. Tanpa perlu lagi diterjemahkan sepenuhnya ke dalam cahaya layar. (Sal)