Sebuah kegelisahan yang barangkali lahir dari cinta yang tidak pernah benar-benar menemukan tempatnya, atau mungkin dari cinta yang ada, tetapi tidak diberi ruang untuk hidup sepenuhnya. Dalam lanskap batin yang penuh tanya, berharap ini membawa kita menyelami palung terdalam dari eksistensi manusia yang kerap terbelah antara kewajiban langit dan tarikan bumi.
Demikian di dalam kehidupan seorang Ave Maryam, kegelisahan itu tumbuh perlahan, nyaris tanpa suara untuk menampungnya. Ia lahir dari keluarga muslim yang pada akhirnya damai menerima keputusan mengambil jalan berbeda: berpindah keyakinan, menjadi seorang biarawati Katolik, dan menempuh hidup pelayanan. Sebuah pilihan yang tentu tidak sederhana di masyarakat yang seringkali memandang perpindahan iman sebagai pengkhianatan terhadap tradisi keluarga. Tetapi dalam diri Maryam, perpindahan itu tampaknya bukan semata soal agama. Ia adalah pencarian terhadap cinta yang ingin diwujudkan dalam bentuk pelayanan dan pengabdian.
Namun masalahnya di titik itulah persoalannya bermula. Sebab manusia boleh saja memilih jalan sunyi, tetapi kerap tidak pernah benar-benar bisa menyingkir dari seorang dirinya sendiri. Dan di dalam diri manusia, cinta sering datang tanpa meminta izin kepada doktrin, aturan, ataupun sumpah pengabdian. Cinta tidak mengenal birokrasi institusi agama dan bahkan bisa menyeruak di sela-sela doa dan di tengah rutinitas yang paling sakral sekalipun.
Kegelisahan Maryam pun muncul ketika ia terbentur pada dua cinta yang berbeda arah antara cinta kepada pelayanan dan cinta kepada sesama manusia. Dari sana lahir pertanyaan yang diam-diam mengganggu dalam dirinya yang dipotret sepanjang film tentang apakah cinta, pasangan, dan pelayanan sesungguhnya bisa hidup berdampingan, ataukah ketiganya memang ditakdirkan saling menegasikan. Pertanyaan ini bukan sekadar dilema moral, melainkan gugatan eksistensial tentang hakikat kemanusiaan itu sendiri.
Film Ave Maryam karya Ertanto Robby Soediskam ini memang tidak berdiri sebagai film religi biasa. Ia lebih menyerupai ruang sunyi tempat manusia berbicara dengan dirinya sendiri melalui refleksi visual yang subtil. Film yang dibintangi Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho ini pertama kali diputar di berbagai festival internasional bergengsi, seperti Hanoi International Film Festival dan Hong Kong Asian Film Festival, sebelum akhirnya tayang di Indonesia pada 2019.
Kehadirannya sempat menuai perdebatan karena berani mengangkat relasi emosional antara seorang biarawati dan pastor—tema yang sangat jarang disentuh oleh sinema Indonesia yang biasanya lebih gemar bermain di zona aman. Ketegangan antara nilai artistik dan norma komunal membuat sebagian adegan dalam versi bioskop dipotong sekitar 12 menit karena dianggap sensitif bagi sebagian kalangan umat Katolik. Sensor ini seolah merefleksikan betapa masyarakat kita masih gagap dalam membicarakan sisi rapuh dari mereka yang dianggap "suci".
Tetapi justru di situlah kekuatan Ave Maryam. Ia tidak sedang menghina agama, melainkan mencoba memperlihatkan bahwa bahkan di balik jubah pelayanan, manusia tetap memiliki kesepian, kerinduan, dan hasrat untuk dicintai. Film ini menjadi sebuah pengakuan bahwa kesucian tidak menghapus kemanusiaan, ia justru mengujinya.
Mungkin kita berkata bahwa Islam adalah ihsan yang berbicara tentang kebaikan dan kemaslahatan, sementara Kristen berbicara tentang kasih dan pelayanan. Tetapi keduanya pada dasarnya berangkat dari sumber yang sama: cinta. Cinta yang kemudian diwujudkan menjadi tindakan nyata terhadap sesama manusia. Dalam kerangka sosiologis, agama hadir untuk mengatur ketertiban, namun cinta hadir kadang dapat mengacaukan ketertiban itu karena demi kejujuran perasaan.
Persoalannya, cinta sendiri tidak memiliki bentuk yang pasti. Ia cair, sekaligus mengikat. Meminjam pemikiran Ayu Utami dalam berbagai esai literaturnya, bahwa cinta mungkin memang terlalu besar untuk sepenuhnya dijelaskan atau dikurung oleh institusi. Cinta adalah sesuatu yang dibiarkan tetap berada di langit sebagai idealisme, sementara kebaikan harus bekerja di bumi sebagai praktik harian. Maka pelayanan bisa menjadi manifestasi cinta. Tetapi apakah manifestasi itu harus selalu menolak kedekatan personal? Bisakah cinta kepada Tuhan berjalan berdampingan dengan cinta kepada manusia lain tanpa salah satunya harus dikurbankan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tenang di sepanjang Ave Maryam. Maryam menjalani keseharian sebagai biarawati yang merawat para suster lansia di sebuah biara di Semarang. Hidupnya nyaris monoton antara membersihkan ruangan, memandikan para suster tua, menyiapkan makanan, dan berdoa dalam kesunyian. Namun, di balik dinding biara yang dingin itu, rutinitas yang tampak damai itu sesungguhnya menyimpan ruang kosong yang perlahan membesar. Hingga kemudian hadir Romo Yosef, pastor muda yang pandai bermain musik dan membawa udara segar ke dalam kesunyian biara. Dari tatapan pertama yang canggung namun dalam, kegelisahan Maryam mulai menemukan bentuknya yang paling konkret.
Yang menarik, film ini tidak menghadirkan cinta mereka secara meledak-ledak. Tidak ada dialog romantis berlebihan atau janji-janji manis di bawah bulan purnama. Tidak ada adegan melodramatik yang memaksa penonton menangis. Semua bergerak pelan, nyaris dingin, seperti hujan tipis yang turun terus-menerus di kota lama Semarang, sampai akhirnya membasahi seluruh tubuh tanpa disadari. Sutradara Ertanto Robby memilih pendekatan minimalis yang justru memberikan dampak emosional lebih kuat.
Di titik tertentu, penonton akhirnya dibawa untuk memahami bahwa cinta sering lahir bukan karena kemegahan, melainkan karena intensitas kehadiran. Karena terbiasa mendengar suara yang sama dalam frekuensi yang sunyi. Karena ada seseorang yang memahami kesunyian kita tanpa perlu banyak bertanya. Cinta dalam film ini digambarkan sebagai "pengenalan" yang mendalam terhadap luka dan sepi masing-masing.
Dan mungkin benar bahwa cinta tumbuh dari intensitas serta ketidakrelaan untuk kehilangan kenangan. Namun, dalam dunia yang terstruktur oleh aturan, hidup tetaplah tentang pilihan. Dalam tradisi Katolik, pastor dan biarawati mengucapkan kaul selibat sebagai pilihan untuk tidak menikah demi pengabdian total kepada pelayanan. Secara teologis, selibat dipahami sebagai jalan spiritual agar seseorang lebih fokus pada tugas kemanusiaan dan relasi dengan Tuhan (Eskatologis). Dalam banyak tradisi religius di seluruh dunia, pelepasan terhadap ikatan duniawi dianggap sebagai cara mencapai kedalaman spiritual tertentu, sebuah bentuk transendensi di mana diri tidak lagi dimiliki oleh satu orang, melainkan oleh semua orang.
Namun Ave Maryam seperti ingin mengajukan pertanyaan lain yang lebih dalam tentang apakah manusia benar-benar bisa memisahkan spiritualitas dari kebutuhan primordial untuk dicintai secara personal?
Sebab bahkan setelah memilih jalan pengabdian, Maryam tetap seorang manusia biasa. Ia tetap bisa merasa sepi ketika malam turun di Ambarawa. Ia tetap bisa rindu pada sentuhan yang menguatkan. Ia tetap bisa ingin dipeluk oleh kehidupan yang normal, yang sederhana, yang tidak menuntutnya menjadi simbol kesucian setiap detik. Bahwa di balik seluruh doktrin kesucian, manusia tetaplah makhluk yang rapuh dan butuh pegangan dan sandaran serba fisik dan psikis sebagai keinginan yang normal.
Dengan itu, berbicara film Ave Maryam menjadi jauh lebih luas daripada sekadar kisah cinta terlarang antara suster dan pastor. Ia berbicara tentang benturan antara institusi dan naluri manusia, atau tentang bagaimana agama seringkali mengajarkan pengorbanan sebagai jalan utama menuju Tuhan, sementara tubuh manusia terus mengingatkan bahwa ia diciptakan dengan kebutuhan emosional yang tidak bisa dipadamkan hanya dengan doa.
Film ini juga menarik karena menghadirkan tokoh Maryam sebagai perempuan yang datang dari latar muslim sebelum akhirnya memilih Katolik. Detail itu penting dan sangat berani. Sebab Indonesia masih sering kesulitan membicarakan perpindahan keyakinan secara dewasa dan terbuka. Banyak orang masih menganggap iman sebagai identitas komunal yang diwariskan dan tidak boleh dinegosiasikan. Padahal dalam kenyataan hidup, spiritualitas seringkali bergerak melalui pencarian yang sangat personal, berliku, dan kadang menyakitkan.
Dan mungkin karena latar belakang pencariannya itulah, Maryam terasa begitu manusiawi. Ia bukan tokoh suci yang tanpa cacat dalam hagiografi klasik. Ia hanya seseorang yang mencoba memahami dirinya sendiri di tengah kepungan ekspektasi Tuhan dan manusia.
Secara visual, film ini juga sangat puitik. Sinematografi karya Ical Tanjung menghadirkan Semarang dan Ambarawa dengan nuansa muram sekaligus indah, menggunakan palet warna yang membumi. Banyak kritik memuji bagaimana film ini memadukan realisme keseharian biara dengan simbolisme visual yang kuat. Bahkan beberapa pengamat film membandingkan atmosfernya dengan karya-karya sinematik Asia yang kontemplatif, seperti karya Wong Kar-wai atau Tran Anh Hung, di mana emosi justru lebih banyak bicara melalui komposisi gambar daripada kata-kata.
Di balik seluruh perdebatan soal agama dan cinta terlarang, ada satu hal yang sebenarnya paling menyakitkan dari Ave Maryam tentang kesadaran bahwa manusia seringkali harus memilih sesuatu dengan meninggalkan sesuatu yang lain. Mungkin sebab hidup adalah serangkaian pelepasan yang tak berkesudahan dan tidak semua pilihan menghasilkan kemenangan yang benderang.
Sebab kadang-kadang, menjadi religius tidak otomatis menghapus rasa sepi yang menggerogoti. Menjadi manusia biasa juga tidak selalu membawa kedamaian yang kita impikan. Kita hanya berpindah dari satu kegelisahan menuju kegelisahan lain, sambil berharap bahwa di ujung jalan nanti, ada pemakluman dari Sang Pencipta atas segala kerapuhannya.
Mungkin itu sebabnya film ini terasa begitu sunyi setelah selesai ditonton. Ia meninggalkan gema yang panjang di kepala. Karena di balik cerita Ave Maryam sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang seorang biarawati yang jatuh cinta kepada pastor muda. Ia adalah cerita tentang kita semua—manusia yang berusaha memahami letak cinta di dalam hidupnya sendiri. Ia adalah cermin bagi setiap orang yang pernah merasa asing dalam pilihannya sendiri.
Pertanyaannya apakah cinta harus dimiliki secara fisik untuk dianggap nyata? Apakah pelayanan harus menolak kedekatan agar tetap murni? Apakah Tuhan selalu meminta manusia meninggalkan sebagian dirinya, bagian yang paling manusiawi untuk menjadi suci? Ataukah jangan-jangan, cinta itu sendiri sebenarnya adalah bagian paling murni dari jalan spiritual manusia, sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan Yang Ilahi melalui sesama?
Pertanyaan-pertanyaan ini tetap menggantung di udara, serupa kabut yang menyelimuti gereja-gereja tua di tanah Jawa yang samar, dingin, namun nyata. Dan mungkin, di sanalah letak keindahannya bahwa kegelisahan Maryam memang tidak dirancang untuk benar-benar selesai. Sebab pada akhirnya, cinta dan pengabdian adalah dua kutub yang akan terus menari dalam batin manusia, saling tarik-menarik dalam sunyi, hingga kelak maut datang untuk melepaskan seluruh ikatan duniawi dan mengembalikan kita pada pelukan-Nya. (Sal)