Guru Kesenian

Ada sebuah masa dalam garis waktu kehidupan, ketika sekolah bukan sekadar bangunan kaku bercat baru...

Guru Kesenian

14 Mei 2026
1128 x Dilihat
Share :

Guru Kesenian

Ada sebuah masa dalam garis waktu kehidupan, ketika sekolah bukan sekadar bangunan kaku bercat baru dengan deretan bangku kayu dan lonceng pulang yang dentangnya selalu kami tunggu. Bagi kami, anak-anak kampung yang kaki-kakinya masih akrab dengan lumpur, sekolah adalah jendela pertama untuk memandang dunia melampaui batas cakrawala sawah, jalanan tanah yang berdebu, dan barisan gunung yang sekian lama mengurung desa dalam sunyi.

Di dalam ruang-ruang kelas sederhana itu, kami perlahan menyadari bahwa hidup ternyata bukan hanya perihal bertahan dari tikaman musim paceklik, membantu orang tua memeras keringat di ladang, atau sekadar tumbuh dewasa untuk mengulang nasib usang generasi sebelumnya. Di sana, ada mimpi-mimpi yang diam-diam disemai oleh para guru melalui tutur cerita dan kesabaran yang telaten. Dari pengabdiannya yang tulus, tak pernah benar-benar kami pahami maknanya saat itu.

Di antara sekian banyak sosok guru kami yang datang dan pergi meninggalkan jejak dalam ingatan masa kecilku, Pak Aang biasa kami memanggilnya, adalah suaranya yang paling betah menetap di kepala. Sebab ia bukan sekadar pengajar. Ia adalah penjaga nyala api di dalam dada kami. Sebagai guru kesenian, ia membawa warna yang berbeda di tengah kurikulum yang seringkali terasa abu-abu. Lewat caranya yang khas, ia selalu menyelipkan pesan di setiap jeda napasnya bahwa menjadi manusia adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri, meski dunia kerap memaksa kita hidup sebagai bayangan pucat dari orang lain.

Dialah lelaki yang menghidupkan jiwa kami di masa kami bersekolah SMP. Sosoknya tenang, dengan suara yang tidak pernah benar-benar meninggi, namun getarannya mampu mengetuk dinding kesadaran kami seperti rintik hujan malam yang jatuh perlahan di atas atap seng dan genteng rumah-rumah kampung. Ada sesuatu dalam caranya berdiri di depan kelas menggambarkan ketenangan yang bersahaja, seolah ia menyimpan lorong panjang menuju dunia antah-berantah yang tak habis-habis untuk kami ikuti dalam jelajah ke dunia baru, menjadi manusia baru.

Setiap kali ia melangkah menuju papan tulis, suasana ruang kelas mendadak bertransformasi menjadi panggung pertunjukan yang magis. Udara seakan mengental dalam keheningan yang khidmat. Wajah-wajah kami terpaku, seolah lupa cara mengerjap. Mata kami menatap tanpa kedip, persis seperti anak-anak yang menyaksikan gerhana untuk pertama kali, yang takut kehilangan satu detik saja dari keajaiban yang sedang berlangsung.

Daun telinga kami terbuka lebar bagai kelopak bunga liar yang merekah setelah diguyur hujan semalaman. Kami berebut menangkap setiap suku kata yang meluncur dari bibirnya. Sebab bagi kami, kata-kata Pak Aang adalah perahu-perahu kecil yang siap menghanyutkan kami pergi jauh melintasi bangku kayu yang kusam dan melampaui seragam putih-biru yang mulai memudar warnanya. Di hadapannya, kami bukan lagi sekadar murid desa yang ringkih, melainkan pengelana yang sedang diajari cara memetakan takdir sendiri.

Tubuh kami mematung, seolah dipahat dari rasa penasaran yang pekat. Di ruang itu, kata-kata menjadi barang mahal. Tak ada yang berani memecah sunyi. Tak ada yang rela kehilangan satu partikel kalimat pun. Kami sadar sepenuhnya bahwa di balik teknis not angka dan susunan tangga nada yang ia ajarkan, selalu terselip hikayat yang jauh lebih esensial ingin kami dengarkan. Saat-saat ia membawakan cerita-cerita yang tak pernah mampir di lembar kurikulum, namun memilih menetap di kepala dan berakar di palung hati kami yang tumbuh diam-diam menyerupai akar pohon yang gigih merayap mencari sumber air di kegelapan tanah.

Hari itu, atmosfer tahun ajaran baru masih terasa kental. Aroma cat gedung yang segar beradu dengan wangi kayu bangku dan debu kapur tulis yang menari-nari di udara. Cahaya matahari menyusup melalui jendela-jendela besar, jatuh miring di lantai kelas serupa hamparan kain sutra kuning pucat yang membentang hangat.

Setelah jemarinya menari di papan tulis menjelaskan harmoni da-mi-na-ti-la, lalu mengurai pilinan notasi pelog dan salendro, ia tiba-tiba berhenti. Sebuah jeda yang bermakna. Kami menahan napas dan kami tahu, ritual yang paling dinanti akan segera dimulai.

Pak Aang selalu mengajar seolah musik bukanlah sekadar urusan bunyi dan akustik, melainkan jembatan sunyi untuk memahami hakikat hidup. Nada-nada itu, tuturnya pada suatu waktu, adalah cara manusia berdialog dengan kesedihan tanpa harus tersedu-sedan. Sejak saat itulah, kami menyimak pelajaran kesenian bukan lagi sebagai beban akademik, melainkan layaknya mendengarkan rahasia jagat raya yang dibisikkan dengan penuh takzim.

Dan siang itu ada nada yang berbeda yang ia bawakan. Ia tidak langsung mendedah hikayat wayang, melantunkan balada daerah, atau mengisahkan para seniman yang wafat dalam kefakiran namun abadi dalam ingatan. Hari itu, ia memahat suasana dengan satu kata pembuka tentang mimpi yang harus dipeluk.

Mimpi. Sebuah kata yang sebenarnya sudah akrab di telinga kami, namun di bawah getaran suaranya, kata itu mendadak berubah menjadi pintu gerbang raksasa yang perlahan berderit terbuka. Ia membantu kami menyingkap bentangan dunia yang belum pernah terjamah oleh imajinasi anak-anak kampung seperti kami.

Saat ia berdiri tegak di depan kelas menghadap kami, memandang kami satu demi satu. Tatapannya berkeliling dengan saksama, menyerupai seorang petani yang sedang menakar kesuburan tanah sebelum benih-benih disebar pada musim tanam. Di tengah keheningan yang kian meruncing, ia akhirnya bersuara dengan nada rendah yang menggema hingga ke sudut-sudut langit kelas.

“Kalian adalah anak-anak panah Arjuna,” ucapnya mantap. “Anak panah yang dilesatkan dari busur-busur bambu di rumah kalian, di kampung ini.”

Ia memutus kalimatnya. Menarik napas panjang seolah sedang menghirup seluruh beban masa depan kami ke dalam paru-parunya. Sunyi kembali menggantung, tipis dan dingin seperti kabut pagi di lereng gunung. Kami saling lempar pandang dalam ketidaktahuan yang murni. Namun, justru dalam ketidakmengertian itulah, rasa lapar kami akan maknanya semakin meronta untuk segera dipuaskan.

Pak Aang kembali bersuara. Kali ini temponya melambat, setiap katanya mengalun lebih dalam, seolah ia sedang menanam benih-benih jati diri dengan penuh kehati-hatian ke dalam ceruk kepala kami.

"Kalian adalah anak-anak panah Arjuna," ucapnya lagi, “yang dilesatkan dari busur kampung halamanmu untuk menyongsong masa depan.. menuju titik bidik sebuah mimpi dan cita-cita.”

Kalimat itu jatuh ke palung hati kami seperti kerikil yang dilemparkan ke permukaan telaga tenang. Menciptakan riak-riak kesadaran yang melebar tanpa suara, menggetarkan sesuatu yang selama ini tertidur lelap. Sebagian dari kami mungkin belum punya bayangan tentang rupa masa depan. Sebagian besar bahkan belum pernah melangkahkan kaki lebih jauh dari tapal batas desa. Namun siang itu, untuk pertama kalinya, kami merasa hidup kami sedang diarahkan menuju sesuatu yang lebih megah daripada sekadar jalanan tanah dan hamparan sawah yang kami lalui setiap hari.

Di bangku paling belakang, Sudrajat yang biasanya gaduh dan gemar mengganggu teman, mendadak kehilangan selera untuk bercanda. Ia menunduk khidmat sambil menggigit ujung pensilnya. Sementara di sampingku, Hari berbisik lirih, “Maksudnya kita harus jadi pahlawan, ya?”

Aku hanya mengangkat bahu, tak mampu menjawab. Namun, entah mengapa, ada kehangatan yang tiba-tiba menjalar di dada kami. Rasanya seperti ada seseorang yang akhirnya sudi menaruh kepercayaan, bahwa kami anak-anak pelosok ini dapat meraih kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang lebih besar dari bayangan kami sendiri.

Pak Aang melanjutkan titahnya. Suaranya kini merendah, lembut seperti desau angin sore yang membawa aroma tanah basah dari kejauhan.

"Dan ketahuilah.." ia menjeda sejenak, membiarkan kami meresapi sunyi. “Keberhasilan kalian menembus tepat pada jantung mimpi, bukan ditentukan oleh busur kampungmu yang dianggap udik. Bukan pula karena tajamnya pedang Musashi yang mampu membelah jalanan masa depan.”

Demikian nama Musashi terdengar asing, sebentar mampir di telingaku sebagai sebuah teka-teki. Saat itu, aku belum mengenal sosok samurai legendaris dari negeri seberang. Yang aku tahu hanyalah golok paman yang tergantung kusam di dapur, atau kehebatan Kapak Naga Geni 212 milik Wiro Sableng yang sesekali kutonton di televisi hitam-putih milik tetangga.

Dunia kami memang kecil, sangat kecil, bahkan mungkin terpencil. Namun lelaki di depan kelas itu selalu berbicara kepada kami seolah-olah dunia adalah bentang samudera yang tak bertepi, dan kami semua adalah nakhoda yang memiliki hak penuh untuk berlayar ke mana saja.

Ia tersenyum tipis menyaksikan wajah-wajah kami yang didera kebingungan. Lalu, dengan perlahan ia mendongakkan kepala, menatap langit-langit kelas yang putih bersih. Gedung sekolah itu memang masih baru. Catnya masih segar tanpa noda, belum ada sarang laba-laba yang bergelayut di sudut-sudutnya. Semuanya tampak muda dan penuh harapan, seperti pagi yang belum sempat terinjak oleh terlalu banyak langkah manusia. Di bawah atap yang masih suci itulah, ia membiarkan kami berimajinasi tentang langit yang lebih tinggi.

“Bukan pula karena megahnya gedung baru ini,” katanya lirih, hampir menyerupai bisikan. “Sekolah ini mungkin tampak gagah.. tampak tampan menyerupai rupa Sang Arjuna, bukan?”

Beberapa kawan tertawa kecil, berusaha memecah ketegangan. Namun, ia tidak ikut terlarut dalam tawa itu. Tatapannya tetap terlempar jauh ke depan, seolah ia sedang menembus dinding beton kelas dan melihat garis takdir yang belum mampu kami raba.

“Semua kemegahan ini tak akan berarti apa-apa,” lanjutnya, “sebab segala sesuatunya bergantung pada kepandaian kalian dalam menjemput peluang.”

Kalimat itu diucapkannya dengan nada datar, namun terasa seperti ketukan palu yang menghantam pelipis kami. Mengingatkan bahwa fasilitas hanyalah wadah, dan isi di dalamnya adalah tanggung jawab kami sendiri.

“Persoalannya adalah pilihan,” ia menekankan suaranya. “Apakah kalian akan menempuh hidup layaknya Pandawa Lima yang berjalan di atas setapak dharma demi kebenaran.. atau justru berebut takhta dengan cara-cara nista, seperti langkah seratus Kurawa di bawah panji angkara Duryudana?”

Kelas kembali jatuh ke dalam sunyi yang amat pekat. Nama-nama legendaris itu bergema di telinga kami, terasa asing sekaligus megah. Saat itu, kami belum sepenuhnya memahami esensi dari dharma, kehormatan, atau betapa beracunnya kerakusan akan kuasa. Namun, cara ia melafalkan setiap suku kata itu membuat kami tersadar akan sebuah kebenaran baru bahwa hidup ternyata bukan sekadar urusan tumbuh dewasa lalu mencari upah dari pekerjaan.

Hidup, rupanya, adalah serangkaian pilihan jalan yang tidak mudah. Sebuah perjalanan panjang untuk menentukan jalan mana yang sanggup menjaga kita agar tetap tegak berdiri sebagai manusia, tanpa harus kehilangan jiwa di tengah rimba dunia. Di balik seragam putih-biru yang kami kenakan, ada sebuah beban mulia yang baru saja ia letakkan di pundak kami. Beban untuk memilih menjadi pemenang yang terhormat.

Lalu ia menatap kami sekali lagi. Sebuah tatapan yang panjang dan lekat, seolah ia sedang memastikan bahwa setiap kata yang ia ucapkan telah benar-benar melabuhkan diri di dasar sukma kami.

“Kalian telah menerima bekal pendidikan dan pengajaran dari sosok-sosok seperti Bhisma, Dewi Kunti, dan Gandari,” ucapnya takzim. “Guru-guru kalian di sekolah ini, merekalah perwujudan dari kearifan itu.”

Tak seorang pun berani memecah keheningan setelah kalimat itu mengudara memenuhi ruang kelas. Hanya suara angin dari balik jendela yang terdengar lamat-lamat, menyapu dedaunan di luar kelas layaknya bisikan waktu yang sedang bergegas. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidup kami yang masih belia, yang belum pernah mengecap pahit getirnya dunia, kami mulai merasakan sebuah transformasi. Sekolah ini tiba-tiba berhenti menjadi sekadar bangunan, seperti yang digambarkan Pak Aang bahwa sekolah adalah penjelmaan sebuah busur yang kokoh.

Dan kami anak-anak kampung dengan seragam lusuh dan sepatu yang mulai menganga di bagian ujungnya adalah anak-anak panah yang sedang ditarik kencang, dipersiapkan untuk melesat jauh menuju suatu ufuk yang bahkan belum sanggup kami beri nama.

Aku menyerap setiap tetes petuah yang meluncur deras dari lisan sang guru kesenian itu dengan segenap kesadaran. Kata-katanya tak pernah mampir sebagai khotbah yang dipaksakan, melainkan hadir menyerupai aliran sungai yang mengalir tenang di sela-sela bebatuan yang lembut, namun perlahan mampu mengikis ketidaktahuan yang mengerak di dalam diri kami.

Kadang suaranya meluruh lirih, setenang doa di sepertiga malam, namun sesaat kemudian bisa meninggi seperti tabuhan genderang perang dalam lakon wayang. Di bawah sihir kata-katanya, ruang kelas yang panas dan pengap itu mendadak meluas, meruntuhkan dinding-dinding pembatasnya hingga menjadi sebuah semesta yang jauh lebih lapang daripada dunia sempit yang kami kenal sebelumnya. Kami tidak lagi merasa kecil. Kami merasa sedang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari sejarah.

Demikianlah aku mengenang sosok itu, Pak Guru yang memiliki nama lengkap Aang Kunaefi. Sebuah nama yang sederhana, namun di dalam kepalaku, nama itu tumbuh dengan keagungan yang sama seperti nama tokoh pengembara dalam naskah-naskah klasik.

Statusnya di sekolah bukanlah guru tetap. Ia hanyalah seorang guru bantu, sekaligus penjaga sekolah yang setia. Pada pagi hari, ia berdiri tegak mengajar kami seni dan kehidupan. Lalu ketika sore tiba, pemandangan berganti. Aku sering melihatnya menyapu halaman yang luas, memeriksa gerendel jendela, atau menggembok ruang perpustakaan yang nyaris tak pernah disinggahi langkah kaki. Dengan tubuh kurusnya yang tampak letih dipanggang matahari, ia sering terlihat mengangkat kursi-kursi rusak sendirian. Namun anehnya, tak pernah kulihat setitik pun keluhan di raut wajahnya. Seolah-olah hidup telah menanamkan satu kebijaksanaan purba di dalam dadanya bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan, melainkan oleh kesungguhan dalam menunaikan peran.

Dedikasinya dalam mengajar sungguh tak tersentuh keraguan. Mungkin justru karena ia sadar statusnya hanyalah guru sementara, ia mengajar dengan cinta yang terasa lebih utuh dan mendesak. Ia bertindak bak seorang musafir yang tahu bahwa masa singgahnya tidaklah lama, maka setiap pertemuan harus ia jadikan sebuah jejak yang tak terhapus. Ia tidak mengajar demi menggugurkan jam kewajiban. Ia mengajar seperti seorang penjaga api yang sedang menitipkan bara agar tak padam dihantam palu zaman yang kian menderu.

Perlahan, kepingan kisah hidupnya mulai kami ketahui. Ia berasal dari Bandung, sebuah kota yang bagi imajinasi anak kampung seperti kami saat itu terdengar seperti negeri antah-berantah yang gemerlap. Bandung dalam benakku adalah jalinan jalan raya, pendar lampu kota, deretan toko buku, dan orang-orang sibuk berjas yang melangkah cepat. Sangat kontras dengan kampung kami yang hanya memiliki jalanan tanah, hamparan sawah yang retak di musim kemarau, serta sunyi yang menyergap cepat sesaat setelah azan isya berkumandang.

Maka, betapa beruntungnya kami memiliki guru seperti beliau. Ia adalah lelaki kota yang datang membawa aroma dunia luar yang belum pernah kami jamah. Dari caranya bertutur saja, kami sudah merasakan getaran yang berbeda. Ia gemar menyelipkan istilah-istilah asing yang membuat dahi kami berkerut, lalu ia akan terkekeh kecil melihat kebingungan kami yang lugu. Namun, justru dari celah kebingungan itulah rasa ingin tahu kami menyembul, seperti tunas mungil yang gigih menembus kerasnya tanah.

Kendati demikian, kadang sebersit tanya muncul di benakku. Apakah kehadirannya di sini adalah nasib baik bagiku, ataukah justru nasib malang baginya? Ia adalah sarjana seni yang mumpuni, namun harus menelan kenyataan menjadi penjaga sekolah di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk peradaban. Ada semacam kabut kesunyian yang sering tertangkap di matanya saat lembayung sore turun dan halaman sekolah mulai sepi. Tampak kesunyian seorang manusia yang mungkin pernah memimpikan bentang hidup yang berbeda, namun akhirnya takdir melabuhkannya di pelabuhan yang tak pernah ia rencanakan.

Seiring kedewasaan yang tumbuh, aku mulai menyadari satu hal. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk saling menggenapi. Sebab nasib baik seringkali berjodoh dengan nasib baik lainnya lewat cara yang misterius. Hidup tidak selalu bisa dibelah sesederhana hitam dan putih, atau mujur dan celaka. Kadang, sesuatu yang tampak seperti keterasingan justru menjadi jembatan pertemuan paling krusial dalam riwayat hidup seseorang. Bukankah rintik hujan yang dianggap sebagai pengganggu bagi sebagian orang, justru merupakan berkah yang teramat suci bagi sawah-sawah yang mulai meregang nyawa?

Takdir yang membawanya ke kampung kami ternyata memiliki simpul yang lebih dalam. Sebab Pak Aang meminang seorang gadis desa, satu-satunya putri dari keluarga Tionghoa di kampung kami. Kehadiran keluarga itu selalu tampak seperti noktah yang berbeda di mata warga. Berbeda dalam rima bicara, berbeda dalam arsitektur rumah yang dihuni, hingga berbeda dalam cara mereka menyambut pergantian tahun. Perbedaan itulah yang membuat mereka kerap menjadi buah bibir yang tak kunjung usai di teras-teras rumah warga.

Mungkin karena merasa dirinya dan keluarga mertuanya berdiri di atas pijakan yang sama sebagai pendatang, Pak Aang sering menyelipkan hikmat tentang cara memandang kemanusiaan. Ia membedah dikotomi antara pribumi dan pendatang bukan dengan nada amarah yang meledak, melainkan seperti seorang tabib yang membuka perban luka lama secara perlahan, agar kami mengerti bagaimana luka itu bermula dan mengapa ia tetap menganga.

“Manusia terlalu sibuk memancangkan pagar di antara sesamanya,” tuturnya suatu siang, suaranya mengalun di sela napas kami yang tertahan. “Padahal jauh sebelum tangis pertama pecah, tak ada seorang pun dari kita yang diberi hak untuk memilih dari rahim suku mana kita dilahirkan.”

Seketika, kelas jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Bahkan anak-anak yang biasanya gemar bersenda gurau di bangku belakang mendadak terbungkam, seolah kata-kata itu baru saja membedah isi kepala kami.

Istilah 'pribumi' dan 'pendatang' memang sedang menjadi udara yang kami hirup akhir-akhir itu. Kata-kata itu bertebaran di warung-warung kopi, terselip dalam obrolan para tetua desa selepas magrib, hingga dalam bisik-bisik yang menyimpan kombinasi ganjil antara rasa takut dan sisa amarah. Meski saat itu aku belum sepenuhnya mencerna peristiwa kelam Kerusuhan Tasikmalaya atau bara Mei 1998, aku bisa merasakan berat yang menggantung dalam nada bicara orang-orang dewasa. Suara mereka terdengar seperti membawa sisa abu dari sesuatu yang baru saja hangus terbakar hebat.

Seringkali mereka bercakap dengan volume rendah sembari waspada menoleh ke kanan dan kiri, seolah sejarah adalah hantu kelaparan yang masih bergentayangan di pematang kampung kami. Di tengah kegelisahan zaman itulah, Pak Aang hadir sebagai jembatan. Ia seakan ingin menanamkan pengertian di benak kami bahwa kebencian tidak pernah lahir secara instan. Ia adalah benih ketakutan yang dipupuk dan dipelihara terlalu lama hingga menjadi hutan yang menyesatkan.

Melalui Pak Aang, kami belajar bahwa di balik perbedaan bentuk mata atau cara berdoa, ada detak jantung yang sama-sama merindukan kedamaian. Ia mengajari kami untuk tidak menjadi penanam pagar, melainkan menjadi perajut jembatan di atas jurang prasangka yang digali oleh sejarah.

Pak Aang adalah seorang lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) jurusan Karawitan. Kala itu, istilah "karawitan" masih merupakan konsep abstrak yang asing bagi benak kami. Yang aku pahami hanyalah kegemarannya bicara tentang gamelan, wayang, gaung bunyi gong, serta jalinan nada yang ia yakini mampu membawa manusia mengenali jati diri mereka yang paling purba. Baginya, musik tradisional bukanlah sekadar keriuhan hiburan, melainkan sebuah prasasti ingatan yang panjang tentang jatuh bangun peradaban manusia.

Bertahun-tahun kemudian, takdir membawaku mengunjungi almamaternya saat aku telah menjadi seorang mahasiswa. Kenangan tentang dirinya mendadak menyeruak, datang menyergap seperti suara gamelan yang terdengar samar namun konsisten dari kejauhan. Saat itu, aku berkesempatan menonton pertunjukan teater Seribu Kunang-kunang di Manhattan, sebuah lakon yang dibawakan oleh anak-anak Institut Kesenian Jakarta yang sedang melakukan muhibah ke berbagai kampus seni.

Melalui perantara seorang teman kuliah, kakiku akhirnya menapak di bumi STSI Bandung. Udara Bandung sore itu turun dengan dingin yang gigil, membelai pepohonan kampus yang bergoyang lembut diterpa angin. Di tengah keriuhan penonton dan pendar lampu panggung yang dramatis, bayangan Pak Aang tiba-tiba muncul dengan begitu nyata di ruang mataku.

Aku menjadi teringat masa sekolah SMP, saat Pak Aang merajut narasi di depan kelas kami yang pengap, membangun dunia imajinasi lewat berbagai cerita, agar kami tetap terpaku mendengarkannya hingga lonceng pulang berdentang. Ia selalu menyebut nama kampusnya dengan mata yang berbinar, seperti binar yang sama milik seseorang yang sedang mengenang rumah lama yang sangat ia cintai namun terlampau jauh untuk dikunjungi. Kini aku baru menyadari, barangkali setiap kali ia bercerita tentang kampus itu, ia sesungguhnya sedang melakukan perjalanan pulang yang singkat melalui gerbang ingatan.

Sang guru kami itu, saat di ruang kelas memang tak menghabiskan banyak waktu untuk mendedah teori-teori kaku dari buku cetak. Ia lebih memilih menjadi seorang pendongeng bagi kami, anak-anak desa yang selalu lapar akan cerita-cerita di luar nalar. Lewat lisannya membuat dunia kami meluas melampaui tapal batas desa. Ia memperkenalkan kami pada Bhisma, Resi Drona, Gandari, dan Dewi Kunti. Ia menghadirkan pertarungan batin antara Pandawa dan Kurawa, serta kelicikan Sengkuni hingga ambisi buta Duryudana, adalah nama-nama yang kutahu kemudian berasal dari epik cerita Mahabharata yang sebelumnya hanyalah gaung asing di telinga kami.

Di bawah kendali ceritanya, tokoh-tokoh wayang itu tidak lagi sekadar bayangan di balik layar kulit, melainkan sosok yang bernapas dan hidup. Bhisma bukan lagi sekadar nama, melainkan personifikasi dari sebuah kesetiaan yang rela menanggung luka abadi. Sengkuni bukan hanya penjahat klise, melainkan wujud kecerdikan yang kehilangan kompas nuraninya. Sementara Pandawa dan Kurawa ia gambarkan sebagai dua sisi yang diam-diam saling berperang di dalam dada setiap manusia. Lewat dongeng-dongeng itu, Pak Aang sedang mengajari kami tentang kompleksitas menjadi manusia, bahkan sebelum kami benar-benar menjadi dewasa.

Sejak saat itulah, gerbang dunia pewayangan yang selama ini terasa asing dan menjemukan, perlahan mulai terbuka di hadapanku. Sebelumnya, kami adalah generasi yang lebih akrab dengan drama-drama di layar kaca, hafal di luar kepala liku-liku sinetron Tersanjung, Tersayang, hingga aksi Ali Topan Anak Jalanan yang saban pekan mampir di ruang obrolan setelah semalam menontonnya. Kami bisa dengan lancar melantunkan lagu pembukanya, namun gagap saat ditanya perihal Bharatayudha. Kami jauh lebih mengenal aliran air mata fiktif para pesinetron daripada pergulatan batin Arjuna yang koyak oleh keraguan di medan Kurusetra.

Pak Aang pernah terkekeh kecil menyaksikan kami yang lebih fasih menyebut nama-nama bintang televisi ketimbang nama-nama kesatria pewayangan. Namun, tawanya tak mengandung ejekan. “Tidak mengapa,” ucapnya tenang. “Yang terpenting adalah kalian mau kembali menengok akar sendiri. Ingatlah, pohon setinggi apa pun akan mudah tumbang jika ia lupa pada tanah tempatnya berpijak.”

Siang itu, semangatnya kembali meluap. Suaranya menggelegar memenuhi ruang kelas, namun entah bagaimana, tetap terasa hangat serupa api unggun yang memeluk tubuh di tengah dinginnya malam. “Karena itulah, kalian harus siap ditempa menjadi tunas-tunas baru!” serunya sembari mengepalkan tangan di udara. Matanya menyala, memancarkan keyakinan yang seolah mampu menembus masa depan kami. “Kalian wajib mengenal lingkungan sendiri, agar kalian tahu apa yang pantas dilakukan, apa yang patut diciptakan, dan apa yang harus diperbarui.”

Ia menjeda ucapannya, menyapu wajah kami satu per satu dengan tatapan yang sangat lekat memastikan tak ada satu kata pun yang tercecer atau menguap sia-sia.

“Namun di samping itu,” lanjutnya, “kalian juga harus mengintip apa yang terjadi di luar desa ini.. melampaui batas kota, negara, benua, hingga menembus sunyi antariksa.” Kalimatnya meluas, membentang serupa langit malam yang tanpa tepian. Dan kami, anak-anak kampung dengan seragam kusam dan sepatu yang mulai berlubang, mendadak merasa dunia bukan lagi sebatas pagar-pagar rumah atau pematang sawah. Dunia ternyata adalah sebuah panggung raksasa yang menanti langkah kami.

Namun, di puncak semangat itu, ia segera menurunkan nada bicaranya. Suaranya menjadi lebih pelan, lebih dalam, menyerupai bisikan rahasia dari leluhur. “Tetapi ingatlah akan satu hal bahwa sekolah bukanlah alat untuk menjauhkan kalian dari kenyataan, atau hanya demi mengatasnamakan imajinasi dan mimpi-mimpi kosong.”

Setelah kalimat itu terlontar, sunyi turun perlahan menjadi sebuah keheningan yang panjang dan terasa berat. Rasanya seolah-olah Pak Aang baru saja menyibak jendela besar di dalam kepala kami, membiarkan angin kenyataan masuk membawa pertanyaan-pertanyaan baru tentang hidup, tentang ketidakpastian masa depan, dan tentang siapa sesungguhnya diri kami di tengah dunia yang terus-menerus berputar dan berubah rupa ini. 

“Kalian harus mampu meramu segalanya sendiri, dan pandai menempatkan posisi.”

Suara Pak Aang kembali mengalun, memenuhi ruang kelas yang kini mulai menguning oleh bias cahaya siang menjelang lonceng bubar sekolah. Suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang guru yang sedang mendiktekan pelajaran, melainkan menyerupai seorang pengembara tua yang tengah menitipkan peta rahasia kepada sekumpulan anak muda, sebelum mereka melangkah masuk ke dalam rimba kehidupan yang masih asing dan liar. Kata-katanya meluncur dengan tenang, namun menetap lama di palung kepala kami serupa aroma tanah basah yang menyeruak setelah hujan pertama jatuh di musim kemarau yang panjang.

“Kalian harus memiliki sikap yang lentur,” lanjutnya sembari menatap kami dalam-dalam, “tetapi bukan berarti kalian boleh kehilangan prinsip.”

Ia mengangkat telunjuknya dengan gerakan gemulai, lalu mengayunkannya pelan menyerupai batang bambu yang meliuk diterpa angin kencang.

“Pohon besar yang kaku sering kali tumbang diterjang badai karena terlalu keras kepala menahan dirinya sendiri. Namun, lihatlah bambu yang tetap hidup dan tegak berdiri karena tahu persis kapan saatnya harus menunduk.”

Kami terdiam, menyerap maknanya dalam takzim yang luar biasa. Bahkan suara decit kursi yang biasanya gaduh, kini seolah enggan bersuara karena takut mengoyak kesakralan petuahnya. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar keriuhan anak-anak SD yang sedang bermain, kokok ayam dari halaman rumah warga, dan desir angin yang menyapu padang ilalang di belakang sekolah. Semua bunyi itu seakan melebur, menjadi musik latar bagi sebuah wejangan yang perlahan-lahan meresap ke dalam sumsum tulang kami.

“Mungkin saat ini kalian menerima ilmu secara sepenggal-sepenggal,” ia menyambung kembali, memecah kesunyian. “Kalian hanya mendengar sekeping dari sini dan sepotong dari sana. Namun, kelak ketika waktu memanggil, kalian harus mampu meramu serpihan-serpihan itu menjadi satu keutuhan.. sesuai dengan pribadi kalian.. seturut dengan keunikan jiwa kalian sendiri.”

Ia menjeda sejenak. Tatapannya kembali mengitari kelas, menyisir wajah kami satu per satu dengan sorot yang hangat namun menyelidik. Seolah-olah lewat tatapan itu ia sedang mencoba meramal sosok manusia macam apa yang kelak akan lahir dan tumbuh dari rahim bangku-bangku kayu kusam ini.

“Jangan hanya menjadi peniru,” pesannya dengan nada lirih yang menggetarkan. “Sebab burung beo pun fasih mengulang suara manusia. Namun, kalian diberi akal budi untuk menciptakan suara dan lagu kalian sendiri.”

Kalimat penutup itu menghantam pikiranku tanpa ampun. Diam-diam aku merenung bahwa betapa selama ini kami hidup hanya dengan menyalin banyak hal: meniru cara bicara orang tua, mengekor cara pikir para sesepuh kampung, bahkan cara kami bermimpi pun sering kali hanya mengikuti apa yang dianggap lumrah oleh lingkungan sekitar. Baru saat itulah tersingkap di hadapanku sebuah kemungkinan besar bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk memahat bentuk dirinya sendiri, tanpa harus menjadi bayangan dari siapa pun.

Pada hari yang lain, Pak Aang melanjutkan kisahnya dengan nada suara yang terasa lebih berat, seolah kata-kata yang keluar dari lisan itu membawa beban yang sungguh nyata. Kali itu ia tidak sedang mendongeng tentang mitologi yang jauh, ia sedang menitipkan sebuah amanah untuk kami bawa pulang dari ruang pengajarannya.

“Buatlah sesuatu dengan tangan kalian sendiri,” ucapnya tandas. “Setidaknya, jangan pernah menjadi beban bagi keluarga kalian. Dan yang lebih utama lagi..” Ia menjeda kalimatnya, menatap kami dengan sorot yang sangat lekat dan lama, seolah sedang menghitung detak jantung kami satu per satu.

“...jangan sampai kalian mencoreng muka masyarakat tempat kalian berasal.”

Kalimat itu jatuh ke dasar hati kami seperti sebongkah batu besar yang dilemparkan ke lubuk sumur. Dingin dan bergaung lama. Kami adalah anak-anak yang tumbuh di rahim kampung yang sempit, tempat satu kesalahan kecil saja bisa dengan cepat menjadi api yang membakar pembicaraan seluruh desa. Di sini, kehormatan keluarga bisa harum semerbak karena satu orang, namun bisa pula runtuh berkeping-keping karena ulah satu orang lainnya. 

Lewat pesannya, Pak Aang ingin kami menyadari sebuah hakikat pahit sekaligus mulia bahwa hidup seorang manusia tidak pernah benar-benar miliknya sendiri. Ada nama orang tua yang harus dijaga, ada wajah kampung yang harus dibasuh, dan ada tumpukan harapan orang banyak yang diam-diam ikut membebani punggung kami.

Lalu, ia kembali merajut narasinya dengan suaranya melunak, setenang seseorang yang sedang merapikan potongan-potongan dunia agar lebih mudah dipahami oleh pikiran kanak-kanak kami yang terbatas.

“Memang..” ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak sedikit lelah namun penuh ketulusan. “Peran seorang guru memiliki pengaruh yang sangat besar dalam garis takdir kalian.” Ia membenahi letak berdirinya, lalu melanjutkan, “Kalian bisa melesat layaknya anak panah Arjuna yang menghunjam tepat di sasaran, namun ingatlah, ketepatan itu juga bergantung pada bagaimana para guru memberikan sudut pandang melalui ilmu yang mereka semaikan.”

Aku terpaku, memandangi guratan wajahnya lama-lama. Baru saat itulah aku tersadar, mungkin selama ini kami terlalu naif dengan menganggap guru hanyalah sosok yang datang membawa tumpukan buku dan pemberi angka di atas lembar rapor. Padahal, mereka sesungguhnya adalah arsitek yang sedang menawarkan berbagai cara untuk memandang semesta.

Guru matematika melatih kami untuk berpikir runtut di tengah kekacauan. Guru bahasa mengajari kami cara menenun rasa menjadi kata-kata yang bertenaga. Guru sejarah memberi peringatan bahwa manusia rentan mengulang kehancuran yang sama jika mereka memilih untuk amnesia pada masa lalunya. Dan Pak Aang—guru kesenian kami yang bersahaja ini—sedang mengajari kami satu hal yang paling mendasar bahwa hidup tanpa imajinasi dan rasa hanya akan menjadi sebidang tanah kering yang retak-retak, tandus tanpa jiwa. Di bawah bimbingannya, kami belajar bahwa keindahan adalah bumbu yang membuat keberadaan manusia menjadi lebih berarti.

“Karena dunia sekarang telah dicacah hingga sekecil-kecilnya,” tuturnya lagi dengan nada yang lebih berat. “Serenik-reniknya. Hingga kadang ia terpelanting sejauh-jauhnya dari inti pokok kemanusiaan.”

Kalimat itu melayang di udara kelas, dan kami anak-anak yang dunianya masih sebatas pematang sawah hanya bisa terdiam dalam ketidaktahuan yang khidmat. Namun, cara ia melafalkannya membuat duniaku mendadak terasa rumit sekaligus maha luas. Seolah-olah manusia modern, dalam ambisinya, telah memecah segala sesuatu menjadi fragmen-fragmen ilmu yang kerdil, hingga mereka kerap kehilangan arah dan lupa pada tujuan awal mengapa ilmu itu harus ada.

Namun, Pak Aang segera menggeleng pelan, seakan sedang menepis keraguannya sendiri.

“Tetapi tetap saja.. kemajuan kalian tidak sepenuhnya bergantung pada kelihaian guru yang berdiri di depan sini.” Kalimat itu meluncur dalam nada rendah, hampir menyerupai bisikan yang ditujukan bagi nuraninya sendiri. Ia mulai melangkah perlahan di depan kelas. Langkahnya tenang dan berwibawa, persis seperti seorang dalang yang sedang menggerakkan wayang-wayang kehidupannya satu per satu.

“Biarpun guru-guru kalian sematang Resi Bhisma dalam mendidik Pandawa dan Kurawa..” ia menjeda, membiarkan nama-nama itu bergema. “..atau setulus Dewi Kunti dalam membesarkan anak-anaknya: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa..” Matanya kini menerawang jauh menembus kaca jendela, menatap langit yang mulai beranjak sore.

“...atau sesetia Gandari yang dengan sukarela menutup kedua matanya demi mendampingi sang suami yang buta dalam kegelapan..” Suasana kelas mendadak terbungkam oleh keheningan. Kami seolah tidak lagi merasa berada di dalam bangunan sekolah yang panas. Kami seolah sedang berdiri di tengah Padang Kurusetra yang luas dan sunyi, tempat setiap manusia dipaksa bertarung melawan nasib dan sisi gelap dirinya sendiri.

“Pada akhirnya,” ucapnya pelan namun bertenaga dari Pak Aang memberi wejangan bahwa “semua kunci itu kembali ke genggaman kalian masing-masing.” Ia menepuk permukaan meja kayu di depannya secara perlahan untuk memberikan penekanan. “Kalian harus terus belajar. Harus berani melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.”

Kalimat terakhir itu terdengar sederhana bagi sebagian orang, namun bagiku, ia terasa seperti perintah untuk mendaki gunung tanpa kaki. Di kampung kami, melanjutkan sekolah adalah sebuah kemewahan yang getir. Banyak kawan sebayaku yang bahkan setelah lulus SD harus mengubur mimpi di dalam lumpur sawah, menjadi buruh kasar, atau tergesa-gesa menikah muda karena tuntutan keadaan. Pendidikan tinggi, dalam benak kami, adalah mercusuar di balik kabut tebal yang terlihat indah secara lamat-lamat, namun nyaris mustahil untuk digapai.

Namun aku menyimpan setiap keping kata Pak Aang siang itu dalam kesunyian yang panjang. Tak lama kemudian, lonceng sekolah berdentang nyaring, memecah sihir di ruang kelas. Anak-anak lain mulai riuh membereskan buku sambil saling melempar canda, bersiap untuk pulang. Namun, aku masih duduk mematung di bangku kayu kusam itu.

Sambil memasukkan buku catatan ke dalam tas, pikiranku terasa sesak oleh nama-nama yang baru saja menetap di kepalaku. Mengeja kata per kata: Bhisma, Dewi Kunti, Gandari. Nama-nama yang sebelumnya asing dan mati, kini mendadak berdenyut dan hidup, seolah-olah mereka adalah sosok nyata yang pernah bernapas dan berjalan di antara lorong-lorong sunyi desa kami. Lewat Pak Aang, sejarah bukan lagi sekadar hafalan, melainkan cermin yang menuntut jawaban dari masa depan kami.

Aku bangkit perlahan dari kursi kayu kusam itu. Tubuhku bergerak lunglai menuju pintu keluar, namun jiwaku seolah tertinggal, tersangkut di antara jajaran kata-kata Pak Aang yang masih menggantung di udara kelas. Langkah kakiku seakan bergerak tanpa komando, sementara di dalam kepala, pertanyaan-pertanyaan besar mulai berdesakan: Siapakah sebenarnya Bhisma? Mengapa ketulusan Dewi Kunti begitu dipuja? Dan mengapa Gandari lebih memilih kegelapan abadi demi sebuah kesetiaan?

Di lorong sekolah yang mulai merayap sunyi, sebuah kesadaran tiba-tiba menghantamku tentang guru-guru kami sebagai perwujudan nyata dari tokoh-tokoh yang baru saja ia ceritakan. Bapak dan ibu guru kami adalah titisan Bhisma, adalah manusia-manusia yang merelakan kenyamanan pribadi di atas altar pengabdian. Seperti Pak Aang, yang meninggalkan hingar-bingar kota kelahirannya dan membuang segala peluang hidup yang lebih mapan, hanya untuk berlabuh di kampung terpencil yang jauh dari keriuhan. Ia bertahan di sekolah baru dengan fasilitas yang serba seadanya, mengajar anak-anak desa yang terkadang bahkan belum memiliki buku tulis yang utuh. Namun, ia tetap hadir setiap pagi dengan binar semangat yang tak pernah benar-benar redup oleh peluh.

Aku mulai memahami bahwa pengabdian sejati jarang sekali tampil dalam rupa yang megah. Ia justru lahir dalam kesunyian yang dalam. Ia hadir dalam sosok guru yang tetap teguh berdiri di depan papan tulis meski imbalannya tak seberapa. Ia mewujud dalam diri lelaki yang rela menjaga sekolah hingga senja, memastikan setiap gerendel jendela aman dari tempias hujan. Pengabdian, rupanya, lebih mirip dengan nyala api kecil di tengah badai, tidak meledak untuk dipuji, namun konsisten mengusir gelap.

Begitu pula dengan guru-guru perempuan kami. Mereka adalah inkarnasi Dewi Gandari yang setia pada amanat hidupnya. Banyak dari mereka yang datang dari kota yang jauh, menembus belantara desa sendirian, dan merelakan waktu jauh dari suami serta pelukan hangat anak-anak mereka demi mengabdi di sekolah yang alat peraganya pun belum lengkap. Mereka hidup dalam palung kesepian yang mungkin tak pernah sanggup kami selami sebagai murid-murid kecil.

Aku teringat Pak Aang pernah berbisik suatu hari, "Kadang, seorang guru pun hanyalah manusia yang diam-diam merintih rindu untuk pulang." Baru sekarang kalimat itu terasa menyayat. Seperti Gandari yang memilih hidup dalam kegelapan demi mendampingi suaminya, para guru kami pun seolah menjalani "kebutaan" mereka sendiri. Buta dari hangatnya dekapan keluarga dan buta dari gemerlap kenyamanan kota. Mereka menelan hari-hari panjang di desa yang asing, hanya agar kami anak-anak yang tak mereka kenal sebelumnya memiliki kesempatan untuk melihat cahaya.

Para guru kami juga adalah Dewi Kunti, sosok yang dengan sabar menuntun anak-anaknya menuju puncak potensi terbaik mereka. Mereka berjalan menyisir jalanan becek saat musim penghujan, tetap mengajar di ruang kelas yang kekurangan buku paket dan sarana. Gedung sekolah kami mungkin memang baru saja berdiri tegak, namun isinya masih terasa lowong dan sunyi.

Kadang aku membayangkan, betapa berat beban mereka untuk menerjemahkan ilmu-ilmu tinggi dari bangku kuliah kepada kami yang hidup dalam keterbatasan ini. Mereka bagaikan petani yang dipindahkan paksa ke tanah kering berbatu, namun tetap dituntut untuk menumbuhkan bulir-bulir padi terbaik di sana. Air sulit didapat, fasilitas minim, namun mereka tetap gigih menanam benih-benih harapan di kepala kami, satu demi satu.

Entah mereka merasa malang karena "terbuang" ke kampung kami atau tidak, aku tak pernah benar-benar tahu. Namun Pak Aang selalu berpesan agar kami melihat mereka sebagai pejuang yang sebenarnya. “Anggaplah guru-guru kalian seperti Bhisma, Dewi Kunti, dan Gandari,” pesannya pada suatu petang. “Mereka mungkin tidak menghunus pedang atau memimpin barisan perang. Namun, mereka bertarung habis-habisan setiap hari, hanya agar kalian memiliki hari esok yang lebih benderang.”

Setelah mendengar itu, aku tak lagi mampu melihat guru sekadar sebagai sebuah profesi. Di mata kecilku, mereka yang dalam diam dan kesahajaannya sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari nyawa mereka sendiri. Menjaga sebuah kemungkinan agar anak-anak kampung seperti kami tidak selamanya terperangkap dalam gelapnya ketidaktahuan. Lewat mereka, kami belajar bahwa masa depan bukanlah milik mereka yang berpunya, melainkan milik mereka yang mau belajar.

Lonceng pulang akhirnya benar-benar berdentang. Suaranya menggema panjang, memantul pada dinding-dinding gedung baru yang masih menyisakan aroma semen dan cat yang belum sepenuhnya mengering. Anak-anak berhamburan keluar kelas layaknya kawanan burung kecil yang baru dilepaskan dari sangkar. Ada yang berlari sembari terbahak, ada yang saling dorong dengan tas lusuh terguncang di punggung, dan ada pula yang sudah riuh menyusun siasat permainan di lapangan desa sore nanti. Kehidupan kembali bergulir pada porosnya yang biasa. Sederhana, bising, dan lekas melupakan banyak hal.

Namun, siang itu aku melangkah pulang dengan ritme yang berbeda. Kata-kata Pak Aang masih berdengung di kepalaku, serupa gema gamelan yang ditabuh lamat-lamat dari sebuah tempat yang teramat jauh. Tentang anak panah Arjuna yang melesat dari busur bambu. Tentang heroisme Bhisma, kasih Dewi Kunti, dan kesetiaan Gandari. Tentang kebijaksanaan untuk menjadi selentur bambu tanpa harus menggadaikan prinsip. Tentang mimpi yang seharusnya tidak membuat seseorang tercerabut dari akar kenyataan hidupnya sendiri. Semua itu berkelindan, menjadi suara asing yang terus mengetuk-ngetuk pintu batin masa kecilku.

Jalan berbatu putih menuju rumah terasa membentang lebih panjang dari biasanya. Angin sore menyisir pucuk-pucuk bambu di tepian sawah, melahirkan bunyi lirih serupa bisikan rahasia kepada sang waktu. Matahari mulai meluruh di balik siluet perbukitan, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang menyelimuti kampung kami dengan nuansa melankolis yang sulit didefinisikan. Di tengah perjalanan sunyi itu, untuk pertama kalinya aku menyadari sebuah kebenaran: bahwa sekolah bukan sekadar bengkel untuk belajar mengeja huruf dan menghitung angka. Ia adalah kawah candradimuka tempat seorang manusia diam-diam ditempa jiwanya.

Aku mulai meraba betapa para guru kami sesungguhnya sedang melakoni sebuah peperangan yang sunyi. Mereka tidak memanggul senjata, pun tidak dielu-elukan layaknya pahlawan dalam lembar buku sejarah. Namun setiap hari, mereka bertarung melawan naga kebodohan, keterbatasan yang mencekik, dan rasa putus asa yang sewaktu-waktu bisa mematahkan sayap anak-anak kampung seperti kami bahkan sebelum kami sempat mencoba terbang. Mereka datang dengan pakaian bersahaja, dengan upah yang barangkali tak seberapa, membawa kerinduan yang mereka simpan rapat-rapat untuk keluarga di kota seberang. Namun, mereka tetap tegak berdiri di depan kelas, seolah-olah keyakinan adalah satu-satunya kemewahan yang tersisa di genggaman mereka.

Dan Pak Aang, lelaki kurus yang lebih sering mendedah dongeng ketimbang teori seni, barangkali sangat sadar bahwa banyak materi pelajaran akan menguap seiring berjalannya waktu. Rumus-rumus akan memudar, catatan akan menguning dimakan rayap, atau tercecer dalam lipatan sejarah kepindahan rumah. Namun, kata-kata yang berhasil menyentuh palung hati akan memiliki usia yang lebih panjang daripada buku pelajaran manapun. Karena itulah, ia memilih untuk menanam cerita. Ia menyemai pewayangan, menghidupkan tokoh-tokoh Mahabharata, dan menumbuhkan keberanian berpikir di kepala anak-anak desa yang bahkan belum pernah melihat batas cakrawala luar desa.

Bertahun-tahun kemudian, barulah aku memahami sepenuhnya. Pak Aang tidak sedang berambisi mencetak kami menjadi seniman, dalang, atau penabuh gamelan. Ia hanya ingin kami tidak tumbuh menjadi manusia yang kehilangan akar sekaligus kehilangan arah. Ia ingin kami mengenali luasnya samudera dunia tanpa harus membenci telaga kampung halaman sendiri. Ia ingin kami memanjat mimpi setinggi langit, namun tetap memiliki kerendahan hati untuk menunduk kepada hakikat kehidupan.

Kini, ketika usia telah berjalan jauh meninggalkan musim-musim itu, wajah Pak Aang sesekali masih muncul dalam ruang ingatan, saat ia berdiri di depan kelas dengan sorot mata yang teduh, sepotong kapur di jemari, dan suara yang mengalir tenang bak sungai panjang di musim penghujan. Ia adalah seorang guru kesenian yang mungkin tidak pernah mengecap kekayaan materi, tidak pernah tersohor, dan barangkali tak pernah menyadari betapa dalam jejak yang ia tinggalkan pada jiwa-jiwa kecil kami.

Namun, dari lelaki bersahaja itulah aku belajar bahwa cahaya sejati tidak selalu berpendar dari tempat-tempat yang megah. Terkadang, ia justru lahir dari ruang kelas yang pengap di kampung terpencil, dari seorang guru yang memilih untuk terus menjaga nyala lilin meski hidupnya sendiri didera badai keterbatasan. Sebelum kami benar-benar dilepas ke rimba dunia yang sesungguhnya, lelaki itu telah lebih dulu menyalakan lentera kecil di dalam dada kami, menjadi cahaya abadi yang akan terus hidup, bahkan setelah lonceng sekolah berhenti berdentang dan masa kecil perlahan mengerut menjadi sekerat kenangan. (Bersambung)

Perspektif

Scroll