Baaghi dan Perebutan Narasi Bela Diri: Dari Shaolin hingga Kalaripayattu

Bersyukurlah Indonesia memiliki pencak silat sebagai seni bela diri khas Nusantara, sebuah warisan...

Baaghi dan Perebutan Narasi Bela Diri: Dari Shaolin hingga Kalaripayattu

25 Apr 2026
213 x Dilihat
Share :

Baaghi dan Perebutan Narasi Bela Diri: Dari Shaolin hingga Kalaripayattu

Bersyukurlah Indonesia memiliki pencak silat sebagai seni bela diri khas Nusantara, sebuah warisan yang tidak sekadar teknik bertarung, melainkan juga filosofi hidup yang menyatu dengan budaya, etika, dan spiritualitas. Di tanah air, silat bukan hanya soal ketangkasan fisik, melainkan manifestasi dari wiraga, wirama, dan wirasa. Jika Tiongkok memiliki kungfu, dunia telah lama mengenalnya sebagai identitas yang melekat kuat pada peradaban mereka. Narasi supremasi bela diri Asia Timur ini telah mendominasi layar kaca selama berabad-abad melalui epik-epik klasik. Namun dalam beberapa dekade terakhir, narasi tentang asal-usul bela diri mulai mengalami pergeseran. India, melalui industri filmnya yang masif, mencoba menelusuri dan sekaligus merebut kembali akar sejarah tersebut sebagai bagian dari identitas kulturalnya.

Upaya ini bukan sekadar upaya sinematik, melainkan bentuk diplomasi budaya yang boleh dikatakan cukup agresif. India mulai mempromosikan premis bahwa banyak teknik bela diri Asia Timur sebenarnya berakar dari tradisi kuno India Selatan. Di tengah konteks itu, hadir film Baaghi, yang sempat tayang di bioskop Indonesia. Film ini tampil berbeda dari arus utama sinema Hindi yang kerap berkutat pada tema cinta, keluarga, dan melodrama. Jika pun ada adegan laga, seringkali hadir sebagai pelengkap emosional, bukan sebagai disiplin teknik yang utuh. Namun dalam Baaghi, pendekatan itu diubah. Aksi tidak lagi sekadar amuk, melainkan diposisikan sebagai “seni”—sebuah sistem gerak yang memiliki akar, metode, dan filosofi.

Disutradarai oleh Sabbir Khan (dengan produser Sajid Nadiadwala), film ini mengangkat narasi bela diri dengan pendekatan yang lebih serius. Bahkan dalam beberapa adegannya, terdapat kemiripan visual dengan film Indonesia The Raid, yang secara global diakui sebagai salah satu tonggak kebangkitan sinema aksi Asia Tenggara. Kemiripan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan menunjukkan bagaimana estetika pertarungan kini menjadi bahasa global yang saling dipinjam dan diadaptasi. Baaghi seolah menjadi titik temu antara koreografi modern yang cepat dengan tradisi kuno yang mistis.

Baaghi, yang dalam bahasa Hindi berarti “pemberontak”, memang bercerita tentang seorang pemuda yang gelisah, memberontak terhadap otoritas, dan mencari jati diri. Karakter utama, Ronny, digambarkan sebagai sosok yang memiliki energi besar namun tanpa kendali. Suatu ketika, sepulang dari keluyuran malam dalam keadaan mabuk, ia tiba di padepokan Rama, seorang master bela diri di Kerala, dan dimarahi oleh gurunya. Dengan nada kesal, ia menyahut, “Di sini aku tidak diajarkan apa-apa.. Martial art adalah milik Shaolin China yang terkenal di dunia. Aku akan belajar langsung di sana.”

Dialog ini menjadi titik penting. Ia tidak hanya mencerminkan konflik karakter, tetapi juga memantulkan perdebatan historis yang lebih luas tentang dari mana sebenarnya bela diri itu berasal? Ini adalah pertanyaan sensitif yang melibatkan kebanggaan nasional dua bangsa besar, India dan Tiongkok.

Sang guru menjawab dengan tenang, mencoba meruntuhkan persepsi sempit muridnya, “Tunggu. Kau dengarkan dulu.. Di sekitar tahun 1500 SM, Bhodidharma dari India berangkat ke China. Dia yang membuat Temple of Shaolin. Di sana ia mengajarkan 18 teknik dari Buddha. Dan semua itu adalah bagian dari negeri kita. Dalam ribuan tahun mereka berlatih dengan menggunakan teknik yang sama sampai seterkenal sekarang.”

Narasi tentang Bodhidharma memang telah lama menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian sumber tradisional menyebut bahwa ia adalah seorang biksu dari India, atau kemungkinan seorang pangeran dari Dinasti Pallava—yang membawa ajaran Zen (Chan) ke Tiongkok sekitar abad ke-5 atau ke-6 Masehi, dan dikaitkan dengan perkembangan awal latihan fisik di kuil Shaolin. 

Namun banyak akademisi modern menilai bahwa klaim tersebut lebih bersifat mitologis daripada historis, karena minimnya bukti empiris yang kuat. Meski demikian, narasi ini tetap hidup terutama dalam budaya populer dan industri film. Karena daya tariknya yang simbolik sebagai sebuah jembatan antara spiritualitas India dan disiplin fisik Tiongkok.

Bagi India, Bodhidharma adalah sosok kunci yang "mengekspor" kearifan lokal ke dunia luar. Sementara itu, organisasi seperti UNESCO telah mengakui praktik-praktik tertentu dari kuil Shaolin sebagai warisan budaya takbenda, menegaskan bahwa bela diri bukan sekadar teknik, tetapi juga bagian dari warisan peradaban. 

Di sisi lain, India sendiri aktif mempromosikan seni bela diri tradisional seperti Kalaripayattu sebagai salah satu sistem bela diri tertua di dunia, sebuah klaim yang juga sering muncul dalam diskursus global. Kalaripayattu, yang berasal dari Kerala, diyakini sebagai ibu dari segala bela diri, yang teknik-tekniknya meliputi serangan titik saraf (marmam) yang mematikan.

Kembali ke cerita, si pemuda masih belum memahami maksud gurunya. Ia merasa selama berhari-hari di padepokan, dirinya tidak benar-benar dilatih. Alih-alih diajarkan teknik bertarung, ia justru disuruh memukul lonceng, menendang gelondong kayu, mencuci, memasak, membagi makanan, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggapnya remeh. Ia terjebak dalam ekspektasi bahwa bela diri adalah tentang kekerasan instan, bukan tentang ketelatenan.

Namun suatu hari, ketika secara refleks ia menangkis serangan gurunya, ia tersentak. Ia menyadari bahwa gerakan tangkasannya adalah akumulasi dari semua aktivitas yang selama ini ia anggap bukan latihan. Pantulan saat menabuh gong, ritme saat membagi makanan, keseimbangan saat bekerja—semuanya telah membentuk tubuh dan refleksnya secara alami. Ini mengingatkan kita pada metode "Wax On, Wax Off" dalam film Karate Kid, namun dengan kedalaman filosofis Timur yang lebih kental.

Di titik inilah film ini berbicara bahwa latihan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk yang eksplisit. Ia tersembunyi dalam rutinitas, dalam kerja sehari-hari, bahkan dalam kesulitan hidup. Disiplin bukanlah sesuatu yang dikenakan dari luar, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam melalui konsistensi.

Sang guru pun kemudian berkata, memberikan analogi tentang eksistensi, “Di pagi hari, seekor kijang bangun dari tidurnya dan berpikir: jika aku tidak bisa berlari cepat, aku akan terbunuh. Di pagi hari, seekor harimau bangun dan berpikir: jika aku tidak bisa berlari kencang, aku akan mati kelaparan. Kijang dan harimau sama-sama harus berlari. Perbedaannya, yang satu pemberontak, yang satu prajurit. Namun keduanya berjalan di atas tujuan mereka.”

Metafora ini sederhana, tetapi tajam. Ia menghapus batas antara “pemberontak” dan “prajurit”, menunjukkan bahwa keduanya digerakkan oleh kebutuhan yang sama untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan. Keberanian tanpa tujuan adalah kecerobohan, sementara tujuan tanpa keberanian adalah kelumpuhan. Maka sang guru menutup dengan kalimat yang menjadi inti film ini: “Jadilah seorang pemberontak untuk sebuah tujuan.”

Di sinilah Baaghi tidak hanya menjadi film aksi, tetapi juga refleksi tentang identitas, disiplin, dan makna pemberontakan itu sendiri. Pemberontakan yang dimaksud bukan sekadar melawan aturan, melainkan melawan keterbatasan diri dan ketidaktahuan.

Dalam konteks yang lebih luas, film ini juga mencerminkan bagaimana industri perfilman global kini menjadi arena perebutan narasi budaya. Bela diri tidak lagi sekadar praktik lokal, tetapi telah menjadi komoditas global yang diproduksi, direproduksi, dan dipertukarkan lintas negara. Hollywood, Bollywood, hingga sinema Asia Tenggara saling meminjam estetika, teknik, dan bahkan sejarah. Film kini menjadi senjata "soft power" untuk mengklaim sejarah yang selama ini mungkin terkubur atau terlupakan.

Pertanyaannya kemudian: di mana posisi kita?

Indonesia, dengan pencak silatnya, memiliki kekayaan yang tak kalah besar. Bahkan sejak kesuksesan The Raid dan tampilnya aktor-aktor silat kita di panggung internasional, dunia mulai melirik kembali seni bela diri Nusantara sebagai sesuatu yang otentik dan berbeda. Pencak silat memiliki keragaman gaya dari Sabang sampai Merauke yang masing-masing membawa cerita sejarahnya sendiri. Namun tanpa upaya serius dalam dokumentasi, pengembangan, dan promosi, bukan tidak mungkin narasi tentang asal-usul dan keunggulan bela diri ini akan diambil alih oleh pihak lain, sebagaimana yang coba dilakukan dalam berbagai produksi global melalui dramatisasi sejarah.

Dengan demikian, Baaghi mengingatkan kita bahwa identitas budaya tidak pernah benar-benar statis. Ia selalu dinegosiasikan, diperebutkan, dan dibentuk ulang, baik melalui sejarah, mitos, maupun layar lebar. Bahkan kekuatan sebuah bangsa seringkali ditentukan oleh kemampuannya menceritakan kisahnya sendiri kepada dunia sebelum orang lain menceritakannya dengan versi yang berbeda (storytelling).

Dan mungkin, seperti kata sang guru, kita semua, baik sebagai individu maupun bangsa, perlu menjadi “pemberontak” yang bukan untuk melawan tanpa arah, tetapi untuk mempertahankan makna, menjaga akar, dan berjalan dengan tujuan yang jelas di tengah dunia yang terus berubah. Menjadi pemberontak berarti berani menolak menjadi penonton dalam sejarah sendiri, dan mulai menjadi penulis dari narasi masa depan kita sendiri. (Sal)

Perspektif

Scroll