Kingdom of Heaven dan Pencarian Etika Universal dalam Konflik Agama

Karena dibahas di Majalah Syir'ah, rasa penasarannya tumbuh pelan-pelan. Dari sebuah majalah yang...

Kingdom of Heaven dan Pencarian Etika Universal dalam Konflik Agama

20 Jan 2026
340 x Dilihat
Share :

Kingdom of Heaven dan Pencarian Etika Universal dalam Konflik Agama

Karena dibahas di Majalah Syir'ah, rasa penasarannya tumbuh pelan-pelan. Dari sebuah majalah yang menghadirkan isu-isu keislaman, sejarah, dan kebudayaan dalam nada reflektif, di salah satu edisinya membahas satu film yang sedang beredar kala itu, dan sempat memantik diskusi secara luas: Kingdom of Heaven. 

Dari situ, langkah berlanjut sepulang kuliah kemudian berbelok ke lapak CD bajakan, sekadar untuk bisa menonton film karya sutradara Ridley Scott tersebut. Sebagai sebuah perjalanan kecil yang justru membuka perenungan besar tentang sejarah, iman, dan cara kita memahami masa lalu.

Kingdom of Heaven adalah sebuah film drama sejarah epik yang disutradarai oleh Ridley Scott, produksi tahun 2005. Berlatar belakang abad ke-12 di masa Perang Salib. Mengisahkan perjalanan seorang pandai besi asal Prancis bernama Balian yang berangkat ke Yerusalem untuk mencari penebusan dosa dan akhirnya menjadi pemimpin pertahanan kota tersebut melawan pasukan Sultan Saladin (Shalahuddin Al-Ayyubi). 

Sejak awal, film ini tidak sekadar menampilkan perang sebagai benturan senjata, melainkan juga benturan nilai, keyakinan, dan tafsir tentang “kebenaran” yang ditampilkan di Kingdom of Heaven, Ridley Scott seperti sengaja menempatkan dirinya di wilayah yang rawan perdebatan. Film ini memantik diskusi panjang karena menampilkan sosok Saladin sebagai pembebas Yerusalem yang, meski tidak digambarkan sempurna, tapi berusaha ditampilkan secara relatif objektif. 

Sosok ini tidak direduksi menjadi karikatur antagonis, sebagaimana lazim dalam banyak film Perang Salib sebelumnya, melainkan hadir sebagai pemimpin yang menjunjung kehormatan, etika perang, dan kemanusiaan. Namun penerimaan atas gambaran tersebut, tentu respon publik tidak tunggal. 

Bagi kalangan Muslim, Saladin digambar bahwa Perang Hittin dan perang lain di hidup Saladin itu kemenangan umat Islam. Sebuah kemenangan historis yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga moral dan simbolik. Tapi pendapat lain muncul karena tokoh Balian berasal dari pihak Kristen, yang dalam kacamata tertentu, tampak bahwa kemenangan justru berada di pihak umat Kristen, setidaknya dalam pengertian moralitas personal, pengorbanan, dan kemanusiaan universal yang diperjuangkan tokoh utama film.

Di titik inilah Kingdom of Heaven menghadirkan tokoh Balian sebagai pahlawan Kristen sekaligus rival Saladin. Dari sudut pandang penonton yang mencoba membaca sejarah, terasa adanya perbedaan detail cerita antara film dan sumber-sumber sejarah. Balian dalam film bukan sepenuhnya representasi historis, melainkan tokoh yang disusun ulang untuk memenuhi kebutuhan dramatik dan pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan.

Perbedaan itu semakin terasa ketika Kingdom of Heaven dibandingkan dengan isi buku Perang Suci karya Karen Armstrong. Buku tersebut menyajikan narasi sejarah yang lebih ketat, berbasis sumber, dan berupaya menempatkan Perang Salib sebagai tragedi panjang akibat fanatisme, politik kekuasaan, dan kesalahpahaman lintas iman. Namun mungkin begitulah posisi film: ia bukan kitab sejarah dan bukan pula tafsir sejarah yang mengklaim kebenaran tunggal.

Film memiliki karakternya sendiri, pakemnya sendiri, dan ia adalah tafsir sang sutradara, sebagai interpretasi artistik, bukan verifikasi sejarah. Bahkan ilmu sejarah sendiri tak sepenuhnya bebas dari subjektivitas. Setiap penulisan sejarah selalu melibatkan sudut pandang, pilihan sumber, dan konteks zamannya. Maka film, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi pintu masuk awal bagi banyak orang untuk kembali membaca, mempertanyakan, dan menelusuri sejarah secara lebih serius.

Secara produksi, film ini disutradarai oleh Ridley Scott dan ditulis oleh William Monahan. Pemeran utamanya, menampilkan Orlando Bloom sebagai Balian dari Ibelin, Eva Green sebagai Sibylla dari Yerusalem, Liam Neeson sebagai Godfrey dari Ibelin, Edward Norton sebagai Raja Baldwin IV, Ghassan Massoud sebagai Saladin, dan Jeremy Irons sebagai Tiberias. 

Proses syuting dilakukan di Ouarzazate, Maroko, serta beberapa lokasi di Spanyol. Pilihan lokasi yang memperkuat nuansa epik dan lanskap historis Timur Tengah abad pertengahan.

Menarik pula mencermati keberadaan dua versi film. Versi bioskop (144 menit) yang dirilis pada Mei 2005 yang dinilai terasa tergesa-gesa dalam pengembangan karakter dan alur. Sementara Director’s Cut (194 menit), yang dirilis pada Desember 2005, dianggap jauh lebih utuh, matang, dan adil dalam menggambarkan konflik, motivasi tokoh, serta kompleksitas politik dan agama yang melingkupinya. Bagi banyak penonton, versi kedua yang mendekati visi utuh Ridley Scott.

Secara singkat, sinopsis film ini berangkat dari tragedi personal. Setelah kehilangan keluarga, Balian mengikuti ayahnya ke Yerusalem. Di sana, ia terjebak dalam konflik antara mereka yang ingin berdamai dengan kaum Muslim dan mereka yang justru memicu perang demi ambisi pribadi. Setelah kekalahan pasukan Kristen dalam pertempuran Hattin, Balian membela Yerusalem dari serangan Saladin, sebelum akhirnya menyerahkan kota tersebut demi keselamatan penduduknya, sebagai sebuah keputusan yang menegaskan bahwa kemanusiaan bisa melampaui fanatisme.

Sebagai tambahan, dua dekade setelah perilisannya, Kingdom of Heaven ternyata belum kehilangan relevansinya. Pada 14 Mei 2025, film ini ditayangkan kembali di bioskop dalam format 4K untuk perayaan 20 tahun 20th Century Studios. Versi Ultra HD Blu-ray juga telah dirilis, dan film ini dapat disaksikan melalui layanan streaming seperti Prime Video atau Google Play per Januari 2026.

Kingdom of Heaven mengajarkan satu hal penting: bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hitam-putih. Ia selalu hadir sebagai ruang tafsir, perdebatan, dan refleksi. Film ini mungkin tidak sepenuhnya setia pada fakta sejarah, tetapi ia membuka percakapan tentang toleransi, kekuasaan, iman, dan kemanusiaan, adalah tema-tema yang tetap relevan hingga hari ini. Menontonnya bukan untuk mencari siapa yang mutlak menang atau kalah, melainkan untuk belajar bagaimana manusia, di tengah perang dan keyakinan, masih bisa memilih jalan belas kasih.

Jika ditarik ke wilayah filsafat sejarah, Kingdom of Heaven dapat dibaca sebagai ilustrasi dari gagasan klasik bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan narasi yang selalu ditulis ulang. Friedrich Nietzsche dalam On the Use and Abuse of History for Life pernah mengingatkan bahwa sejarah selalu berkelindan dengan kepentingan hidup masa kini. Kita membaca masa lalu bukan dalam keadaan netral, melainkan dengan beban nilai, trauma, dan harapan zaman kita sendiri. Dalam konteks ini, Ridley Scott tidak sedang “mengkhianati” sejarah, melainkan menafsirkannya demi menjawab kegelisahan dunia modern: konflik agama, kekerasan atas nama iman, dan pencarian makna kemanusiaan universal.

Dalam tradisi historiografi modern, pemikiran E. H. Carr juga relevan di sini. Carr menegaskan bahwa fakta sejarah tidak pernah berbicara dengan sendirinya; ia selalu dipilih, disusun, dan ditafsirkan oleh sejarawan. Jika sejarawan saja tidak sepenuhnya objektif, maka film sebagai karya seni tentu lebih jauh lagi dari klaim objektivitas. Namun justru di situlah nilai Kingdom of Heaven: ia menyadarkan penonton bahwa sejarah adalah arena dialog, bukan monumen beku.

Dari sudut pandang studi agama, film ini menyentuh persoalan klasik tentang agama sebagai jalan spiritual versus agama sebagai ideologi kekuasaan. Wilfred Cantwell Smith membedakan antara faith (iman personal yang hidup) dan religion (institusi dan sistem simbol). Konflik dalam Kingdom of Heaven bergerak tepat di ketegangan ini: iman yang seharusnya membimbing manusia pada kebajikan, justru diperalat menjadi pembenaran penaklukan dan dominasi.

Dalam Islam sendiri, sosok Saladin sering dirujuk sebagai contoh etika kepemimpinan yang berusaha memadukan kekuatan dan akhlak. Sejarawan seperti Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam mencatat bahwa kemenangan Saladin bukan hanya bersifat militer, tetapi juga simbolik: ia menampilkan wajah Islam yang beradab di tengah kekerasan Perang Salib. Film ini, meski menyederhanakan banyak aspek, berupaya menangkap semangat itu, terutama ketika Saladin digambarkan menghormati lawan, melindungi warga sipil, dan menolak pembantaian.

Sebaliknya, tokoh Balian dapat dibaca melalui kacamata filsafat moral modern. Ia bukan pahlawan teologis, melainkan pahlawan etis. Dalam kerangka Immanuel Kant, tindakan Balian menyerahkan Yerusalem demi keselamatan penduduk, mencerminkan etika kewajiban: manusia tidak boleh diperlakukan semata sebagai alat, melainkan sebagai tujuan. Di titik ini, film tampak lebih berpihak pada humanisme modern ketimbang teologi abad pertengahan.

Kingdom of Heaven juga sejalan dengan gagasan Hans Kung tentang global ethic, bahwa di balik perbedaan agama, terdapat nilai-nilai etis universal: larangan membunuh yang tak bersalah, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Film ini seolah berkata bahwa Yerusalem bukan sekadar milik satu agama, melainkan simbol pergulatan manusia mencari Tuhan melalui jalan yang sering kali saling bertabrakan.

Dalam perspektif pascakolonial, Edward Said juga relevan untuk dibaca ulang bersama film ini. Kingdom of Heaven memang berusaha keluar dari orientalisme kasar ala Hollywood lama, tetapi tetap tidak sepenuhnya bebas dari sudut pandang Barat. Namun setidaknya, ia membuka ruang bagi representasi Muslim yang lebih manusiawi sebagai sebuah langkah kecil namun penting dalam sejarah sinema Barat.

Kingdom of Heaven mengajak kita merenung bahwa konflik agama jarang lahir dari Tuhan, melainkan dari tafsir manusia tentang Tuhan. Sejarah Perang Salib bukan hanya kisah masa lalu, melainkan cermin yang memantulkan wajah kita hari ini: ketika iman mudah berubah menjadi identitas eksklusif, dan kebenaran diklaim sambil meniadakan yang lain.

Film ini mungkin tidak sempurna secara historis, tetapi ia berfungsi sebagai jembatan kesadaran, untuk mengantar penontonnya dari semata hiburan menuju refleksi. Ia mendorong kita bertanya: apakah kita sedang membela iman, atau sekadar membela ego yang dibungkus iman?

Di dunia yang masih gemar mengulang konflik lama dengan nama baru, Kingdom of Heaven mengingatkan bahwa kerajaan Tuhan, jika memang ada di bumi, barangkali bukan berdiri di atas tembok kota yang direbut dengan pedang, melainkan di dalam hati manusia yang memilih belas kasih di tengah kekerasan. (Sal)

Perspektif

Scroll