Masa Depan Menjadi Beban: Membaca Ditto dari Sains dan Cinta

Ditto adalah film bertema bucin, tetapi kemudian jalurnya berbelok ke ranah sains. Mengapa saya...

Masa Depan Menjadi Beban: Membaca Ditto dari Sains dan Cinta

27 Des 2025
293 x Dilihat
Share :

Masa Depan Menjadi Beban: Membaca Ditto dari Sains dan Cinta

Ditto adalah film bertema bucin, tetapi kemudian jalurnya berbelok ke ranah sains. Mengapa saya katakan film buatan Korea ini sebagai film bucin, karena mengambil latar yang terasa akrab bagi banyak orang tentang perasaan cinta dan segala perasaan lainnya. 

Batam, misalnya, dengan luas wilayah yang relatif kecil, sering memunculkan cerita kebetulan: seseorang menemukan pasangan hidup, lalu belakangan menyadari bahwa pasangannya, atau mantannya adalah teman, kolega, atau orang yang masih berada dalam lingkar pergaulan yang sama. 

Dunia terasa sempit, relasi saling bersilangan, dan masa lalu kerap muncul kembali dalam wujud yang tak terduga. Persis seperti yang digambarkan film ini.

Namun Ditto tidak berhenti pada drama cinta. Film ini menjadikan sains, khususnya konsep waktu, sebagai kendaraan refleksi. Sains dihadirkan bukan sekadar rumus dan teori, melainkan sebagai perjalanan akal budi: upaya manusia membaca kecenderungan, menebak masa depan, dan mencari pegangan di tengah ketidakpastian hidup. 

Ironisnya, mengetahui masa depan justru tidak selalu membawa ketenangan. Di titik inilah kegelisahan film ini bekerja.

Tokoh utamanya adalah Kim Yong, mahasiswa tingkat akhir teknik mesin yang berada di ambang drop out. Ia diingatkan bahwa kuliahnya harus segera diselesaikan, sementara hidupnya sendiri terasa jalan di tempat. 

Dalam sebuah percakapan tentang hari esok, Kim Yong melontarkan kalimat yang terdengar sederhana namun menghantam: “Masa depan itu beban.” Agar masa depan tidak lagi menjadi beban, Yong justru ingin mengetahuinya. Terutama soal cintanya kepada Han Seol, adik tingkat yang ia pacari. Ia ingin tahu apakah hubungan itu akan berujung pernikahan atau perpisahan. Apakah cinta akan terus berjalan, atau berhenti di tengah jalan.

Sebagai mahasiswa teknik mesin, Yong tentu bersentuhan dengan teori relativitas Einstein. Dari sanalah film ini mulai bermain dengan gagasan waktu. 

Diperkenalkan dua cara memandang waktu: waktu seri-A dan waktu seri-B. Waktu seri-A adalah waktu yang kita hidupi sehari-hari yang kronologis, mengalir seperti sungai dari masa lalu ke masa depan. Sementara waktu seri-B lebih menyerupai peta: semua peristiwa dari masa lalu, masa kini, dan masa depan sudah ada sebagai titik-titik yang berbeda, atau sering pula disebut sebagai waktu ilahiah.

Sebagian besar dari kita, termasuk saya, sebenarnya masih belum benar-benar memahami atau mengalami waktu seri-B. Sebab kita hidup terpola dalam turbulensi waktu seri-A yang akhirnya membuat kita penuh kecemasan, ketergesaan, dan ketidakpastian. Namun pada saat yang sama, kita mendambakan kepastian ala waktu seri-B—masa depan yang bisa dipetakan, diprediksi, dan dipahami dari ketinggian, seolah-olah kita menatap hidup dari langit.

Kita kerap mengatakan bahwa masa depan berbeda dari masa lalu. Kita menggunakan pengalaman lampau sebagai pedoman untuk berburu kecenderungan yang akan datang. Padahal, menurut pemahaman fisika modern, pergerakan dari masa lalu ke masa depan bukanlah arus waktu yang tetap, sebagaimana dibayangkan fisika Newton, melainkan hasil dari gerak kita sendiri sebagai pengamat. Sekali lagi: adalah hasil dari gerak kita sebagai pengamat.

Dalam relativitas Einstein, masa lalu, masa kini, dan masa depan tidaklah terpisah secara mutlak. Ketiganya hanyalah wilayah-wilayah berbeda dalam satu peta ruang-waktu. Perbedaan itu, kata Einstein, lebih merupakan ilusi yang lahir dari cara kita mengamati. Waktu bersifat relatif—ia bergantung pada hubungan, posisi, dan gerak pengamat di alam semesta.

Memang, dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa waktu berjalan sama bagi semua orang. Kita hidup di kota yang sama, di planet yang sama, dengan kerangka acuan yang hampir seragam. Namun secara prinsip, aliran waktu bisa berbeda bagi setiap pengamat, tergantung posisi dan geraknya. Di sinilah gagasan tentang kecepatan cahaya dan gravitasi masuk. Cahaya, yang lajunya konstan di mana pun, menjadi kunci dalam memahami bagaimana ruang dan waktu bisa melengkung.

Einstein menggambarkan konsep kerucut cahaya: hanya peristiwa-peristiwa tertentu di masa depan yang bisa memengaruhi kita, yakni yang berada dalam jangkauan cahaya. Dengan logika ini, upaya Kim Yong untuk mengetahui masa depannya terasa seperti percobaan melangkah lebih cepat dalam ruang-waktu. Mendekati wilayah yang seharusnya belum ia capai.

Film ini menghadirkan elemen fiksi ilmiah melalui radio HAM milik Eun Song, teman Yong. Radio itu diutak-atik untuk menjembatani waktu seri-A dan seri-B. Secara ilmiah, bagian ini memang mengundang tanda tanya. Gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah dan panjang gelombangnya. Dalam praktik nyata, gelombang radio digunakan untuk astronomi radio, memotret bintang jauh, hingga proyek SETI dalam pencarian kehidupan cerdas di luar Bumi. Namun menjadikannya alat komunikasi lintas waktu jelas berada di wilayah spekulasi fiksi.

Meski begitu, film ini tampaknya tidak sedang mengejar ketepatan sains, melainkan makna di baliknya. Sebab pada akhirnya, Yong berhasil berkomunikasi dengan Mu-nee—anak dari Han Seol, mantan kekasihnya, yang ternyata menikah dengan Eun Song. 

Masa depan datang menyapa masa kini, bukan sebagai jawaban yang menenangkan, melainkan sebagai kenyataan yang harus diterima Yong.

Dari sini, Ditto seolah menyimpulkan bahwa tidak ada cara mutlak untuk menentukan kapan masa lalu berakhir dan masa depan dimulai. Segalanya bergantung pada di mana kita berdiri dan bagaimana kita bergerak saat ini pada detik ini. 

Masa depan seseorang bisa menjadi masa kini bagi yang lain, selama keduanya berada dalam kerangka acuan yang saling terhubung. Dengan cahaya, yang lajunya mutlak, waktu kronologis bahkan bisa kehilangan maknanya. 

Di titik ini, film mengajukan metafora yang puitis: bukankah cinta itu sendiri adalah cahaya? Ia dapat menghubungkan ibarat konduktor, dapat menembus jarak, dan kerap melampaui logika waktu.

Pertanyaan ini mengingatkan pada novel Klara and the Sun karya Kazuo Ishiguro. Di tengah puncak teknologi kecerdasan buatan, Ishiguro mengajukan satu soal mendasar: mampukah teknologi menjawab apa arti mencintai? Apakah cinta sekadar reaksi biologis, dorongan libido, kerja hormon, atau rasa sakit karena ditinggalkan?

Ditto tidak memberi jawaban pasti. Ia justru mengajak penonton berdamai dengan ketidakpastian. Bahwa masa depan boleh jadi tetap menjadi beban, tetapi cinta, seperti cahaya—memberi kita alasan untuk terus bergerak, meski tanpa peta yang benar-benar pasti untuk bagaimana kita bergerak dengan sepatutnya. (Sal)

Perspektif

Scroll