Highway: Kebingungan Menemukan Jalan

Kebingungan kerap hadir dan hinggap di kepala kita. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari wajah...

Highway: Kebingungan Menemukan Jalan

21 Des 2025
212 x Dilihat
Share :

Highway: Kebingungan Menemukan Jalan

Kebingungan kerap hadir dan hinggap di kepala kita. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari wajah manusia: makhluk yang berpikir, berharap, sekaligus ragu. Namun, kebingungan yang paling epik sekaligus tragis, barangkali dapat kita temukan dalam film Highway (2014), karya sineas India Imtiaz Ali. Film ini tidak sekadar berkisah tentang perjalanan fisik di jalan raya, melainkan tentang perjalanan batin yang tak pernah benar-benar memiliki peta.

Tokoh Mahabir Bhati adalah seorang pelaku kriminal kecil yang hidup di pinggiran hukum dan peradaban. Ia terlibat dalam aksi penculikan demi tebusan. Dalam salah satu aksi kejahatannya yang menjadi titik awal seluruh perjalanan seorang Mahabir, sebagai tema cerita film ini. 

Mahabir, yang diperankan dengan intens oleh Randeep Hooda, menjalani perjalanan emosional bersama Veera (Alia Bhatt), seorang perempuan yang awalnya “diculik”, namun justru menemukan ruang kebebasan yang tak pernah ia rasakan dalam kehidupan mapan keluarganya.

Relasi mereka tumbuh bukan dalam ruang yang aman atau bermoral secara konvensional, melainkan di jalan-jalan sepi, kota-kota asing, dan wilayah abu-abu antara pelarian dan pencarian. Di tengah pelanggaran hukum yang ia lakukan, Mahabir justru tampil sebagai sosok yang jujur pada keterasingannya sendiri—seorang kriminal yang sadar bahwa hidupnya tak pernah diberi kesempatan untuk berjalan lurus.

Dalam salah satu adegan yang paling menggugah, Veera melontarkan pertanyaan yang terdengar polos, tetapi sesungguhnya menusuk kesadaran: “Tidakkah kau ingin menikah?” dan “Tidakkah ada rencana membesarkan anak?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban pasti. Bagi Mahabir, pertanyaan itu bukan sekadar soal masa depan, melainkan cermin keterputusan total dari kehidupan “normal” yang tak pernah ia miliki. Ia terdiam, sebab ia tahu, sebagai seorang kriminal buronan, masa depan semacam itu bahkan tak pernah tersedia dalam kamus hidupnya.

Di titik inilah Mahabir menemukan kembar jiwanya dalam sosok Danny Archer di film Blood Diamond. Keduanya sama-sama hidup di alam liar. Namun “liar” di sini bukan semata hutan, jalan raya, atau wilayah konflik, melainkan alam batin yang terasing dari peta kehidupan yang dianggap sah dan layak: pendidikan formal, pekerjaan mapan, keluarga, dan rumah yang menetap.

Mahabir bergerak dari satu kota ke kota lain, hidup di ruang-ruang modern yang mengagetkan, penuh godaan sekaligus keterasingan, yang harus ia lalui sendirian, dan kadang bersama komplotannya, dengan bahasa yang terbata-bata dan arah hidup yang samar. Namun ia terus bergerak, bukan karena ia tahu tujuan, melainkan karena berhenti berarti ditangkap, dihakimi, atau dihapus dari kebebasan yang rapuh itu.

Baik Highway maupun Blood Diamond, meski lahir dari konteks budaya yang berbeda—Afrika pascakonflik dan India urban-modern, dapat bertemu pada satu simpul yang sama: potret lelaki modern yang kehilangan kompas eksistensial. 

Archer dan Mahabir sama-sama bergerak di luar hukum, mengejar sesuatu yang tak sepenuhnya mereka pahami: uang, kebebasan, atau sekadar kesempatan untuk menunda kehancuran. Seiring usia yang menua, pertanyaan-pertanyaan yang dulu terasa jauh mulai mendekat dengan wajah yang tak lagi ramah: setelah ini mau apa? 

Pada titik tertentu, bayang-bayang masa depan tak lagi romantis, melainkan menekan. Harapan berubah menjadi beban, dan pilihan hidup terasa seperti lorong sempit tanpa papan penunjuk arah.

Keinginan mengejar pantulan-pantulan hidup: status, pengakuan, atau sekadar rasa aman, justru sering membuat diri terasa semakin asing. Kita bergerak lebih cepat, tetapi makin jauh dari diri sendiri. Dan pada akhirnya, mungkin kita akan tiba di titik yang sama seperti mereka.

“Mereka” siapa? Mereka adalah Archer, Mahabir, dan barangkali kita sendiri: manusia-manusia yang hidup dalam kebingungan yang tak selalu memiliki solusi. Dan mungkin, seperti mereka pula, kita akhirnya belajar satu hal penting bahwa tidak semua hidup harus selesai dengan jawaban. Sebagian cukup dijalani, dengan kejujuran pada kebingungan itu sendiri.

Di dunia yang gemar mengukur keberhasilan lewat pencapaian lahiriah, Highway mengingatkan bahwa kegagalan terbesar bukanlah tidak memiliki segalanya, melainkan tidak memahami apa yang sebenarnya sedang kita cari. (Sal)

Perspektif

Scroll