Pada mulanya, Blonde saya kira akan tampil sebagai film biopik konvensional tentang Marilyn Monroe. Sebuah film yang menata ulang fakta sejarah, kronologi karier, dan gemerlap Hollywood. Dugaan itu keliru. Blonde bukan biografi dalam pengertian ketat, melainkan adaptasi dari novel fiksi karya Joyce Carol Oates yang menjadikan hidup Marilyn Monroe sebagai bahan tafsir artistik, yang lebih psikologis daripada historis.
Nama Marilyn Monroe sendiri pertama kali saya dengar bukan dari buku sejarah film, melainkan dari lagu lawas Jaja Miharja, Cinta Sabun Mandi: "Marilyn Monroe juga cantik, tetapi bagiku lebih cantik Nyai."
Sebuah fragmen budaya pop yang menempatkan Monroe sebagai simbol kecantikan global, bahkan di telinga anak-anak Indonesia pada masanya. Dari situlah Monroe hadir bukan sebagai manusia, melainkan sebagai mitos.
Film Blonde, yang disutradarai Andrew Dominik dan dirilis pada 2022, berupaya membongkar mitos itu. Dominik tidak tertarik merayakan kejayaan Monroe, melainkan menelusuri luka-luka batinnya. Ia menghadirkan sosok Norma Jeane, nama asli Marilyn, sebagai perempuan yang sepanjang hidupnya dikejar rasa kehilangan, trauma masa kecil, dan kerinduan pada figur ayah yang tak pernah hadir.
Pendekatan film ini sangat kental dengan pembacaan psikoanalitik ala Freud. Norma Jeane digambarkan sebagai anak yang merasa terbuang, tumbuh dalam ketidakstabilan mental sang ibu, dan sempat hidup di panti asuhan. Trauma itu kemudian membentuk relasi-relasi dewasanya: pencarian cinta yang berulang kali gagal, ketergantungan pada validasi laki-laki, serta kebutuhan akan sosok pelindung yang tak pernah benar-benar ia temukan.
Dalam tafsir Blonde, keputusan Monroe masuk ke dunia film bukan semata ambisi menjadi bintang. Dunia Hollywood justru digambarkan sebagai ruang pencarian, sebuah upaya menemukan "ayah simbolik" yang terus ia bayangkan sejak kecil, berdasarkan cerita-cerita ibunya.
Namun pencarian itu tak pernah sampai. Ketika ketenaran hadir, ia justru menjadi jebakan lain: tubuhnya dieksploitasi, citranya dikurung dalam stereotip "pirang seksi", sementara jiwanya kian terasing.
Marilyn Monroe, yang kerap dikenang karena dugaan relasi dengan Presiden John F. Kennedy, dalam film ini dilucuti dari sensasi politik. Ia ditampilkan sebagai simbol Amerika pasca-Perang Dunia II, sebagai negara pemenang yang makmur, percaya diri, dan mempesona, namun menyimpan kekosongan moral dan kemanusiaan. Tubuh Monroe menjadi metafora: indah di permukaan, rapuh di dalam.
Ketergantungan Monroe pada obat-obatan penenang, hingga akhirnya meninggal karena overdosis, diposisikan sebagai konsekuensi dari luka yang tak pernah sembuh. Popularitas hanyalah bonus yang datang bersamaan dengan penderitaan.
Dalam Blonde, ketenaran bahkan tampak seperti gangguan, sesuatu yang "taken for granted", karena inti persoalannya bukan ingin dikenal, melainkan ingin dicintai dan diakui. Di titik ini, Blonde berhenti menjadi kisah tentang seorang selebritas, dan berubah menjadi cermin bagi banyak manusia.
Siapakah di antara kita yang tak pernah merasa terbuang? Siapa yang benar-benar bisa mengatakan telah menerima kasih sayang secara utuh dan tuntas? Manusia adalah makhluk yang terus bergerak, terus menginginkan, dan hampir selalu tiba di ambang ketidakcukupan.
Norma Jeane berjalan sepanjang hidupnya untuk menemukan sesuatu yang tak pernah jelas bentuknya. Dan seperti banyak manusia lain, pencarian itu baru "selesai" ketika hidupnya berakhir. Ironisnya, bagi saya, Marilyn Monroe justru hadir setelah kematiannya, dalam lagu, dalam mitos, dan akhirnya dalam film yang mengajak kita menengok sisi paling sunyi dari seorang ikon.
Blonde bukan film yang mudah ditonton, apalagi dinikmati. Ia gelap, melelahkan, dan kerap tidak nyaman. Namun justru di sanalah kekuatannya: mengingatkan bahwa di balik citra, kecantikan, dan kemasyhuran, selalu ada manusia yang rapuh, dan bahwa pencarian paling sunyi dalam hidup seringkali adalah pencarian akan kasih yang tak pernah kita dapatkan sepenuhnya.(Sal)