The Banshees of Inisherin: Tentang Kenormalan dan Perubahan Manusia

Barangkali ada hukum ketertarikan tertentu, meminjam istilah fisika kuantum, yang mempertemukan...

The Banshees of Inisherin: Tentang Kenormalan dan Perubahan Manusia

17 Des 2025
161 x Dilihat
Share :

The Banshees of Inisherin: Tentang Kenormalan dan Perubahan Manusia

Barangkali ada hukum ketertarikan tertentu, meminjam istilah fisika kuantum, yang mempertemukan pengalaman menonton The Banshees of Inisherin dengan film Taare Zameen Par karya Aamir Khan. Keduanya, meski lahir dari latar budaya dan estetika yang sangat berbeda, namun sama-sama berbicara tentang satu hal mendasar: bagaimana manusia memaknai "kenormalan".

The Banshees of Inisherin berlatar pedesaan terpencil di Irlandia pada tahun 1923, masa ketika perang saudara masih membayang di kejauhan. Film ini berpusat pada retaknya persahabatan dua lelaki paruh baya: Padraic Suilleabhain dan Colm Doherty. Persahabatan yang semula berjalan biasa saja, bahkan nyaris tak bermasalah, kemudian mendadak berakhir sepihak. 

Colm memutuskan untuk tidak lagi berbicara dengan Padraic. Alasannya terdengar sederhana, bahkan sepele: Padraic dianggap terlalu membosankan. Di balik alasan yang tampak remeh itu, kalau kita cermat memikirkannnya, alasannya dapat diterima. Colm menyimpan kegelisahan eksistensial yang dalam. 

Colm, seorang pemain biola, merasa hidupnya telah dihabiskan untuk percakapan kosong dan rutinitas tanpa makna. Ia ingin menata ulang hidupnya, menjauh dari obrolan ngalor-ngidul, dan memusatkan diri pada penciptaan karya musik. Baginya, waktu adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tak meninggalkan jejak. Ia ingin menulis lagu, lagu yang dalam imajinasinya, kelak akan dikenang oleh zaman.

Dalam cara pandang Colm, percakapan ringan dan kebiasaan harian tak akan pernah kekal. Ia membandingkannya dengan karya besar yang melampaui usia penciptanya. Orang mengenang Mozart bukan karena obrolan sehari-harinya, melainkan karena musik yang ia tinggalkan sebagai penanda sebuah era. Keinginan Colm bukan sekadar ambisi artistik, melainkan ketakutan akan hidup yang berlalu tanpa makna.

Sebaliknya, Padraic berdiri di kutub yang lain. Ia terkejut, bingung, dan terluka oleh perubahan Colm. Bagi Padraic, kebosanan adalah sesuatu yang normal. Mengobrol tentang hal-hal remeh, bertemu teman setiap hari, berbagi cerita sederhana, semua itu adalah bagian wajar dari kehidupan manusia. 

Padraic bertanya-tanya, bukankah justru itulah yang membuat hidup terasa manusiawi? Mengapa sesuatu yang selama ini dianggap biasa, tiba-tiba menjadi alasan untuk memutuskan persahabatan.

Konflik film ini menjadi semakin mengerikan ketika Colm menyatakan ultimatum ekstrem: setiap kali Padraic mengajaknya berbicara, ia akan memotong satu jarinya. Ancaman itu terdengar absurd, hampir tidak masuk akal. Namun film ini tidak berhenti pada kata-kata. Colm benar-benar melakukannya. Satu demi satu jarinya terpotong, hingga empat jari hilang, semata-mata karena Padraic tetap datang dan berbicara.

Di titik inilah The Banshees of Inisherin berubah menjadi alegori yang menyakitkan. Film ini memperlihatkan bagaimana ketidakmampuan menerima perubahan orang lain dapat berujung pada kekerasan. Bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan batin. 

Padraic gagal memahami bahwa keinginan Colm untuk menyendiri dan berubah adalah bagian dari dinamika manusia. Sementara Colm sendiri terjebak pada obsesinya, hingga rela melukai diri demi mempertahankan batas yang ia buat.

Lalu hal yang luput dari Padraic, dan barangkali juga dari banyak dari kita adalah kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar statis. Apa yang hari ini terasa normal, esok bisa menjadi beban. Apa yang dulu menghibur, suatu saat bisa terasa menyesakkan. Dengan kata lain bahwa perubahan, sejatinya, adalah kenormalan itu sendiri.

Di akhir film, kita tidak ditawari solusi yang menenangkan. Tidak ada rekonsiliasi manis, tidak pula pelajaran moral yang disampaikan secara gamblang. Namun di situlah kekuatan film ini. The Banshees of Inisherin mengajak penonton bercermin: sejauh mana kita bersedia menerima perubahan orang-orang terdekat kita? Dan pada saat yang sama, sejauh mana kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk berubah tanpa harus melukai, baik orang lain maupun diri kita sendiri?

Film ini akhirnya menjadi refleksi sunyi tentang kesepian, persahabatan, dan kegagalan manusia memahami satu sama lain. Bahwa kenormalan tidak pernah tunggal, dan memaksakan definisi kita tentang hidup kepada orang lain, sering kali hanya akan menyisakan luka yang tidak perlu.(Sal)

Perspektif

Scroll