Assalamualaikum Beijing dan Catatan Tentang Menulis

Ada kalanya sebuah film melampaui fungsinya sekadar sebagai hiburan. Terkadang ia bermetamorfosis...

Assalamualaikum Beijing dan Catatan Tentang Menulis

08 Mar 2026
278 x Dilihat
Share :

Assalamualaikum Beijing dan Catatan Tentang Menulis

Ada kalanya sebuah film melampaui fungsinya sekadar sebagai hiburan. Terkadang ia bermetamorfosis menjadi cermin kecil yang memantulkan kembali kepingan pengalaman hidup kita sendiri. Sebuah narasi yang pada mulanya terasa asing, berlatar kota yang jauh, tokoh-tokoh yang belum kita kenal, dan kisah yang seolah milik orang lain, lalu tiba-tiba beresonansi dengan kedekatan yang tak terduga. Ia mengetuk pintu ruang batin yang lama terkunci, mengajak kita berdialog dengan diri sendiri.

Begitulah pengalaman yang menyergap saya saat menonton Assalamualaikum Beijing. Film yang dirilis pada tahun 2014 dan disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini diadaptasi dari novel karya Asma Nadia, penulis yang dikenal luas melalui karya-karyanya yang kerap membedah persimpangan antara perjalanan, spiritualitas, dan dinamika kehidupan muslim modern. 

Penulisnya yang dalam beberapa dekade, adaptasi karya-karyanya ke layar lebar menjadi jembatan yang mempertemukan sastra dengan audiens yang lebih luas. Dengan Morgan Oey yang memerankan Zhong Wen, seorang pria Tionghoa yang terlibat dalam kisah cinta lintas budaya dengan tokoh Asma, film ini bukan sekadar romansa klise. Ia adalah narasi tentang pencarian makna hidup dan pergulatan batin manusia yang universal.

Mungkin sudah lewat masa gegap gempita promosi film ini. Namun, hidup memiliki caranya sendiri untuk menghadirkan sesuatu pada waktu yang tepat. Saya menontonnya di sebuah Sabtu yang lengang, saat tubuh saya harus berdamai dengan batuk yang tak kunjung reda dan ruang gerak yang terbatas. Awalnya, motivasi saya sangat manusiawi dan hampir komikal, karena melihat Morgan Oey yang sekilas mirip dengan sahabat saya, Emwil Hilman.

Namun, dari motif yang sederhana itulah, lahir perenungan yang panjang. Menonton film ini membawa ingatan pada semangat buku The Jilbab Traveller karya penulis yang sama. Ada gairah tentang perjalanan, proses pencarian jati diri, dan perjumpaan dengan dunia yang lebih luas. Melalui perjalanan korespondensi Asma ke Beijing, kota itu tidak hanya menjadi latar geografis, tetapi menjadi kanvas batin tempat tokohnya menemukan makna baru tentang hidup. Seperti salah satu dialog ikonik dalam film tersebut bahwa tugas manusia adalah “menemukan hikmah di balik setiap kejadian dan keadaan.”

Lalu itu membawa hikmah dalam kesederhanaan menulisku. Cukup memantik pertanyaan eksistensial di benak saya, jika perjalanan Asma Nadia ke Beijing mampu melahirkan karya yang menginspirasi banyak orang, bukankah setiap perjalanan manusia pun menyimpan ceritanya sendiri? Saya, yang berasal dari pelosok pedalaman di Tasikmalaya selatan dan kini berpijak di Jakarta, seringkali abai mencatat apa yang saya temukan. Padahal bukankah setiap perjalanan manusia selalu menyimpan cerita?

Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa. Hal sederhana. Hal yang tidak layak diceritakan. Tetapi bukankah kesederhanaan justru sering menjadi bahan paling jujur bagi sebuah tulisan? Sudah berapa paragraf aku menuliskan tentang hal-hal yang kutemukan selama hidup di kota? Setiap Sabtu dan Minggu aku biasa pergi berjalan-jalan. 

Dari perjalanan kecil itu, selalu saja ada sesuatu yang dapat dijadikan gagasan penulisan. Kadang hanya percakapan singkat di halte bus. Kadang karena melihat wajah seseorang yang terlihat lelah di kereta. Kadang setelah tampak langit sore yang terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun itu hal sederhana semacam itu, bisakah aku meramunya? Memberinya makna sedalam-dalamnya pemaknaan atas sikap kepasrahan pada kehendak Tuhan? Bukan untuk mendramatisasi sesuatu yang sebenarnya biasa. Tapi juga tidak meremehkan sesuatu yang mungkin menyimpan makna besar.

Bagi sebagian orang, mungkin apa yang saya alami hanyalah rutinitas yang lumrah. Namun, bukankah kesederhanaan adalah bahan paling jujur bagi sebuah tulisan? Saat saya berjalan-jalan di akhir pekan dalam menangkap percakapan singkat di halte bus, membaca guratan lelah di wajah penumpang kereta, atau menatap langit sore yang beranjak senja sering di sanalah gagasan bersemayam.

Tetapi menulis memang tampak gampang, seperti judul buku legendaris Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang. Kita tinggal duduk. Mengambil mesin ketik atau menyalakan komputer. Lalu menulislah dan teruslah menulis. Sekarang bahkan lebih mudah lagi. Siapa yang tidak punya perangkat menulis? Dari laptop sampai gadget. Semua orang bisa menulis.

Namun, menulis dengan kedalaman, yang mampu relevan bagi pembaca hari ini dan di masa depan adalah perkara yang berbeda. Menulis seperti itu membutuhkan jarak panjang antara pengalaman dan kata-kata. Penulis Paulo Coelho pernah mengibaratkan sebuah tulisan layaknya proses kehamilan yang membutuhkan waktu, perenungan, dan kesabaran untuk akhirnya "dilahirkan." Demikian bagi saya, menulis adalah kerja kegelisahan. Jika gagasan tidak segera dituangkan, ia akan menguap secepat embusan napas. 

Tetapi tantangannya adalah bagaimana meramu hal sederhana yang saya temukan dapat menjadi pemaknaan yang dalam atas kepasrahan kepada Tuhan, tanpa terjebak dalam dramatisasi yang picisan. Pertanyaan yang lebih penting selalu muncul setelahnya.

Sering berputar-putar di kepala benarkah hal itu layak dituliskan? Benarkah orang lain perlu membacanya? Benarkah itu bukan sekadar tulisan picisan? Namun mungkin di situlah tantangan kerja kreatif. Hal yang dianggap picisan pun bisa menjadi menarik jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kerja kreatif memerlukan kepekaan pada bagaimana kita menghayati kehidupan, pada bagaimana kita merenungi masalah, pada bagaimana kita mempertanyakan nilai-nilai yang sudah mapan, dan bagaimana kita menyadari bahwa nilai-nilai itu juga bisa berubah.

Karena itu kita harus terus bekerja keras memutar otak, mendayagunakan akal budi, menghayati perasaan, dan mendengar suara hati nurani. Namun di tengah tuntutan hidup yang seringkali menyempitkan ruang waktu dan menuntut fokus pada hal-hal teknis, menulis seringkali menjadi barang mewah. Terkadang tidak sadar bahwa menulis adalah cara kita menghias hidup. 

Ketika waktu terasa terbatas dan gagasan sulit dirangkai, kegiatan menonton film menjadi oase. Maka, bagi saya, mengulas sebuah film bukan sekadar upaya kritik sastra, melainkan sebuah dialektika antara apa yang saya tonton dengan apa yang saya alami. Menulis ulasan film adalah cara saya memanjangkan usia pemikiran, memastikan bahwa tontonan tidak sekadar berlalu sebagai angin lalu, melainkan menetap sebagai memori yang bermakna.

Meski filmnya sebuah gambaran titik temu antara perjalanan fisik dan spiritual sebagai keunggulannya, tetapi hal lainnya dalam pembacaan saya atas kemunculan film seperti Assalamualaikum Beijing ini tidak bisa dilepaskan dari pola yang serupa dengan Ayat-Ayat Cinta atau 99 Cahaya di Langit Eropa. Tema yang sering muncul adalah perjalanan spiritual dan kisah seseorang yang akhirnya memeluk Islam.

Fenomena ini sebenarnya cukup menarik. Kehadiran film religi yang mengangkat perjalanan iman memang memiliki daya tarik yang kuat. Mengapa demikian? Karena menurut data dari Pew Research Center, agama tetap menjadi variabel fundamental dalam identitas sosial masyarakat dunia. Realitas inilah yang menjelaskan mengapa cerita tentang perjalanan iman senantiasa mampu mengusik emosi dan menyentuh sisi terdalam penontonnya.

Sebagai seorang muslim, menonton film ini membawa saya pada perenungan yang lebih dalam. Muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana narasi iman yang kental ini diterima oleh mereka yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda? Jika seorang penganut Konfusianisme menonton Assalamualaikum Beijing, akankah mereka tersentuh oleh pesan kemanusiaannya, atau justru merasa terganggu?

Saya sendiri kerap merasakan kegelisahan ketika mendengar seseorang berpindah keyakinan dari Islam ke agama lain. Meski secara sadar saya mengakui bahwa memilih jalan hidup adalah hak mutlak setiap individu, tetap ada rasa kehilangan sebagai sebuah celah dalam keutuhan batin. Mungkin ini efek dari pendidikan masa kecil yang cenderung mengagungkan keseragaman, sehingga ketika berhadapan dengan perbedaan yang nyata, kita kerap kesulitan untuk menerimanya dengan tenang.

Kita hidup di dunia yang majemuk. Meski saya meyakini kemuliaan Islam, saya cukup sadar bahwa setiap komunitas agama memiliki potensi kelemahan dalam praktik sosial para penganutnya. Fenomena kompetisi religius—entah itu disebut kristenisasi, islamisasi, hinduisasi, atau bentuk penyebaran lainnya—adalah keniscayaan teologis yang tak terelakkan. Namun, harus ada garis tegas: kompetisi iman tidak boleh bermutasi menjadi konflik iman.

Setiap keyakinan tentu memiliki misi untuk menyebarkan ajarannya. Namun, misi tersebut tidak boleh menghalalkan cara yang merusak tatanan kemanusiaan. Di titik inilah kita memerlukan etika dakwah yang berlandaskan kejujuran dan rasa hormat. Dakwah, dalam bentuk apa pun, seharusnya dilakukan tanpa manipulasi, tanpa pembodohan, dan tanpa mengeksploitasi kerentanan sosial masyarakat.

Yang kita butuhkan adalah aturan main yang adil bagi para pendakwah, misionaris, maupun penyiar agama mana pun. Harus ada mekanisme saling kontrol yang memegang teguh etika dan integritas. Tanpa manipulasi. Tanpa pembodohan. Tanpa memanfaatkan kelemahan sesama. Dengan cara itulah agama bisa kembali hadir sebagai sumber kedamaian, sebuah mata air rahmat, bukan justru menjelma menjadi dinding pemisah atau sumber pertentangan di antara sesama manusia.

Barangkali hal menariknya ada di pengujung film, saat Zhong Wen mengucapkan dialog yang cukup memukau: “Aku juga takut, Asma. Yang kutakutkan bukan bagaimana aku hidup bersama kamu. Yang kutakutkan adalah apakah aku bisa menjadi laki-laki yang membahagiakan kamu.. yang mengantar kamu ke surga-Nya.”

Kalimat ini mengingatkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang mengejar kesempurnaan pada pasangan, melainkan tentang keberanian memikul tanggung jawab atas kebahagiaan orang lain di hadapan Tuhan. Cinta tidak menuntut manusia sempurna, hanya menuntut manusia yang bersedia untuk tumbuh bersama.

Dan saat layar kembali gelap setelah film berakhir, pikiran saya terus berkelana pada hidup yang memang sebuah perjalanan panjang seperti Asma di Beijing. Saat kita berjalan, lalu kita menemukan, lalu kita mencoba memaknainya. Dan dari proses memahami itulah, lahir sebuah cerita. Cerita yang mungkin sederhana.

Tetapi cerita jika dituliskan dengan jujur, cerita sederhana tersebut bisa menjadi saksi kecil dari jejak manusia di muka bumi. Sebab selama manusia masih berjalan, selalu ada sesuatu yang layak untuk diceritakan. Selama kita masih melangkah, akan selalu ada kisah yang layak diabadikan. 

Dan mungkin, suatu saat nanti, catatan-catatan kecil ini akan menemukan pembacanya sendiri, seperti sebuah salam hangat yang dikirim dari kejauhan, Assalamualaikum, Beijing. (Sal)

Perspektif

Scroll