Doa yang Mengancam: Sebuah Renungan Eksistensial

Ada sebuah titik dalam hidup di mana keheningan justru terasa begitu bising. Di titik itulah...

Doa yang Mengancam: Sebuah Renungan Eksistensial

28 Feb 2026
296 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Doa yang Mengancam: Sebuah Renungan Eksistensial

Ada sebuah titik dalam hidup di mana keheningan justru terasa begitu bising. Di titik itulah pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul tanpa diundang, menyeret kesadaran pada perenungan mendalam tentang siapa aku dan ke mana nasib akan membawaku pergi. Kegelisahan ini agaknya bukan datang dari hiruk-pikuk dunia di luar sana, melainkan dari dalam jiwaku sendiri. Dari sebuah jiwa yang tak kunjung menemukan pelabuhan dalam eksistensi sosial yang fana tapi mengabadi dalam ingatan manusia.

Ketiadaan pelabuhan itu membuat hati tak lagi tenteram. Aku merasa seolah terus dikejar-kejar oleh sesuatu yang tak kasatmata. Namun apa atau siapa sebenarnya yang sedang memburuku? Mungkinkah itu sang waktu, ataukah bayang-bayang masa depanku sendiri? Tapi apakah memang benar masa depa ditakdirkan untuk terus menghantui mereka yang belum sanggup melangkah?

Barangkali, semua ini terjadi karena tuntutan masa depan yang menginginkan terlalu banyak hal, sementara aku masih saja terpaku di sini, menjadi diriku yang sekarang. Di sinilah letak keganjilan itu barangkali. Menghadapi sebuah paradoksal dan ketimpangan tajam antara ambisi yang menjulang dengan realitas yang membentur bumi. Lalu menciptakan lubang hitam di dalam jiwa, sebuah ruang hampa yang terus menganga dan menuntut untuk segera diisi oleh makna yang semestinya.

Kegelisahan itu pun menjelma gema panjang yang tak kunjung usai. Dalam kekosongan yang terus mengendap dan memaksaku untuk tetap tiarap dalam ketidakberdayaan, lalu ingatanku tertuju pada karakter tokoh Madrim di sebuah cerita yang mengguncang batinku, film Doa yang Mengancam.

Doa yang Mengancam adalah film karya arahan sutradara Hanung Bramantyo, dirilis sebagai film layar lebar pada 2008 dan kemudian diadaptasi menjadi serial web pada 2022. Tapi yang kutonton hanya layar lebar yang kisahnya tentang perjalanan seorang bernama Madrim, yang diperankan oleh Aming dalam versi film, serta Ammar Zoni dalam versi serial, adalah seorang lelaki miskin yang taat beribadah namun terus tertimpa nasib buruk.

Madrim digambarkan sebagai lelaki sederhana yang hidupnya tidak pernah benar-benar membaik. Padahal ia rajin beribadah, tekun berdoa, namun justru dihimpit kemiskinan dan kehilangan. Puncak kemalangannya di saat istrinya, Leha, dan dalam penggambaran lain sebagai Ima, meninggalkannya karena tak tahan hidup dalam keterbatasan—bahasa lain untuk menyebut kemiskinan. 

Dalam puncak frustrasi dan rasa dikhianati oleh keadaan, Madrim akhirnya meluapkan kemarahan kepada Sang Pencipta. Ia melontarkan ancaman dalam doanya, sebuah bentuk pemberontakan eksistensial sekaligus manifestasi spiritual yang lahir dari rahim keputusasaan dan ketakberdayaan yang teramat dalam.

Ironisnya, dalam narasi film tersebut, doa yang dipenuhi amarah itu justru dikabulkan. Madrim memperoleh kekuatan luar biasa yang melampaui nalar manusia. Namun, kekuatan itu bukannya membawa kedamaian, melainkan justru menyeretnya masuk ke dalam pusaran kekuasaan, manipulasi, dan konspirasi kotor yang jauh lebih gelap serta menyesakkan dibanding kemiskinan yang dulu ia keluhkan.

Pada uang yang dulu begitu ia dambakan sebagai juru selamat, justru ia lempar dan tebarkan begitu saja ke udara. Sebab kemudian Madrim menyadari dengan getir bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga dan hakiki daripada sekadar tumpukan materi.

Narasi seorang Madrim barangkali adalah cermin retak bagi banyak orang seperti kita. Di saat terjepit, seringkali spiritualitas kita berubah menjadi transaksi yang menuntut. Dari sanalah aku seperti bercermin. Apakah doa-doaku selama ini juga diam-diam mengandung ancaman? Apakah aku berdoa karena syukur atau karena kecewa?

Dalam hiruk-pikuk dunia modern, kita sering mengidentikkan kebahagiaan dengan angka-angka di saldo rekening. Orang berkata bahwa dengan uang setidaknya dapat membeli sedikit kesenangan untuk memacu hadirnya rasa bahagia. Tapi ketika uang datang berlimpah, kalau belum siap menggunakan uang itu, tetap saja bahagia hanya sebentuk kerinduan rasa. Uang mungkin bisa membeli kenyamanan, namun ia gagal membeli ketenangan.

Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai Hedonic Treadmill. Penelitian dalam psikologi kesejahteraan menunjukkan bahwa faktor material memang berkontribusi terhadap kebahagiaan, tetapi efeknya cenderung terbatas dan adaptif, sebab manusia cepat bosan dengan peningkatan materi sebagaimana hukum Gossen. Kita mengejar sesuatu, lalu mendapatkannya, lalu segera merasa biasa saja dan menginginkan yang lebih besar lagi.

Sebaliknya, faktor internal seperti rasa syukur, makna hidup, dan kualitas relasi sosial memiliki dampak yang lebih stabil terhadap kepuasan hidup. Ketimpangan antara apa yang kita miliki dan apa yang kita syukuri adalah akar dari penderitaan batin. Studi yang dipublikasikan dalam Social Indicators Research menunjukkan bahwa praktik syukur berkorelasi positif dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologis secara signifikan. Orang yang secara rutin melatih rasa syukur, misalnya dengan menulis jurnal syukur, mengalami peningkatan emosi positif dan penurunan stres dibandingkan kelompok kontrol.

Dengan kata lain, kebahagiaan tidak semata soal memiliki lebih banyak, tetapi soal mampu menghargai apa yang sudah ada. Tetapi kita sering dikalahkan oleh sosialitas hedonisme yang membuat jiwa merasa hampa.

Lalu godaan untuk mencari pelarian instan selalu menemukan peluangnya. Ketika hal-hal yang telah memberi kebahagiaan sudah hilang, akhirnya merasa hidup tak berguna lagi, uang tak bisa berarti lagi. Seperti sang konglomerat yang setiap malam pergi ke club night, punya istri simpanan, dan main perempuan terus. Itu demi mengejar apa? Ia mengejar yang disangkanya akan meraih kebahagiaan.

Namun kebahagiaan semu seringkali hanyalah pelarian. Dalam psikologi, ada jurang pemisah yang lebar antara sekadar bersenang-senang dan merasa bermakna. Paradigma hedonistik, yang memaknai bahagia sebagai kenikmatan sesaat, tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan jangka panjang. 

Penelitian psikologi membedakan antara hedonic well-being (kesenangan) dan eudaimonic well-being (makna hidup), adalah yang kedua terbukti lebih berkelanjutan dan berakar pada tujuan, kontribusi, serta nilai-nilai batin.

Madrim dalam film Doa yang Mengancam menjadi simbol ekstrem dari manusia yang putus asa. Ia menginginkan perubahan instan, bahkan dengan cara mengancam Tuhan. Namun kekuatan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan kehancuran baru. Maka siapapun yang punya kekuasaan jika tanpa dibarengi kedewasaan batin justru memperluas kerusakan. 

Kisah Madrim mengajarkan kita bahwa berhati-hatilah dengan apa yang kau minta, karena jika batinmu belum siap memangkunya, anugerah pun bisa menjadi musibah. Fondasinya adalah syukur sebagai kematangan spiritual. Kita harus kembali pada kedaulatan hati. Kebahagiaan yang hanya bisa ditimbang oleh hatinya sendiri. Saat hidup harus terus dijalani dengan syukur dan senantiasa hati dipenuhi harapan tinggi. 

Berpengharapanlah yang besar, mungkin begitu nasihatnya saat berada dalam kesempitan hidup. Semoga nanti suatu ketika dengan cara-Nya sendiri akan bertemu jalan untuk meraih apa yang diinginkan. Sebab syukur dalam pengertian lain adalah juga bersikap sabar ketika menganggap yang menimpanya adalah musibah, misalnya musibah karena teledor. Ini bukan sekadar teori motivasi, melainkan mekanisme pertahanan mental yang kuat. Dalam kajian psikologi Islam dan kesejahteraan mental, syukur terbukti berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih rendah serta daya lenting (resilience) yang lebih tinggi. Individu yang bersyukur cenderung lebih mampu menerima realitas tanpa kehilangan harapan.

Namun patut diperhatikan bahwa langkah terpenting sebelum meminta dalam setiap doa, baik yang diucapkan atau cukup dalam hati adalah situasi memataskan diri. Maka bangunlah kepantasan diri untuk menerima apapun yang kita inginkan ketika suatu saat nanti. Jika dirimu belum pantas menurut pandangan-Nya, ketika diberikan setumpuk uang maka kau tak mampu menanggung amanahnya, seperti kisah Madrim 

Sebuah pertanyaan reflektif muncul: Dengan uang itu engkau mau apa? Sudahkah kupikirkan jika aku diberikan uang sebanyak yang kumau? Meskipun aku sudah bisa meneropong penggunaannya dengan sebanyak uang yang diberikan, pertanyaannya lagi akan bermanfaatkah bagi yang lain juga?

Kemanusiaan kita diuji pada sejauh mana keberadaan kita memberi dampak. Jangan hanya bisa menyenangkan dirimu saja. Tengoklah saudaramu di sekelilingmu yang miskin kelaparan dan belum tahu apa-apa. Jika engkau merasa tahu bagaimana jalan hidup, tunjukilah mereka. Beri tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dengan cara-cara lembut dan tidak menyinggung. Keberlimpahan yang sejati adalah keberlimpahan yang mengalir, bukan yang menggenang dan membusuk di satu tempat.

Film Doa yang Mengancam seakan mengingatkan bahwa doa bukan alat untuk memaksa Tuhan, melainkan ruang dialog untuk menata batin. Ancaman dalam doa mungkin lahir dari luka, tetapi penyembuhan hanya datang dari kesadaran. Doa yang tulus adalah pengakuan akan keterbatasan kita di hadapan Yang Maha Tak Terbatas.

Jadi sekarang dalam setiap hari lakukan selalu untuk belajar, menjadi medium pembelajar dalam membangun kepantasan diri dalam menerima apa pun yang kita doakan dalam setiap waktu. Sebab, kesiapan batin adalah wadah bagi berkah yang akan datang. Karena mungkin yang perlu diubah bukan takdir yang kita minta, melainkan cara kita memaknai apa yang sudah diberikan. Kita seringkali terlalu sibuk menghitung apa yang belum ada, hingga lupa menikmati apa yang sudah tersedia di atas meja kehidupan kita.

Dan mungkin, doa yang paling kuat bukanlah doa yang mengancam, melainkan doa yang berserah dengan hati yang telah belajar bersyukur. Di sebuah keadaan penyerahan diri yang total dan aktif, yang bekerja sekuat tenaga dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali atas hasilnya. Barangkali di sanalah letak kedamaian yang sesungguhnya. (Sal)

Perspektif

Scroll