Sebuah film yang jika diterjemahkan oleh celupan palung rasa paling dalam, kurang lebih maksudnya, "Duh hati, sungguh sulit.. Ae Dil Hai Mushkil." Karena cerita tentang duhai hati yang betapa payah langkahku menujumu, mendapatkan cintamu, dari seorang Ayan kepada Alizeh, dan seorang Tahir kepada Saba. Kalimat itu bukanlah sekadar judul film teranyar yang kutonton dari sutradara Karan Johar, melainkan sebuah ratapan bagi mereka yang terjebak dalam labirin asmara yang buntu. Film ini boleh dikata sebagai panggung utama bagi drama kemanusiaan yang paling purba tentang rasa sakit saat menerima cinta yang tak terbalaskan.
Narasi cerita dan dialognya bertaburan kata-kata puitis yang tajam. Sebab jika bukan karena puisi, seperti yang dikatakan tokoh Saba (Aishwarya Rai), barangkali jiwa-jiwa yang terluka sudah mati ribuan kali. Demikian di alam semesta Ae Dil Hai Mushkil, cinta adalah sebuah spektrum penderitaan yang melankolis, tapi penuh nuansa estetis, dan tak sepenuhnya bisa kompromis antara idealis dan pragmatis. Antara cerita cinta menjala cinta Ayan (Ranbir Kapoor) yang membara kepada Alizeh, ada cinta Tahir yang tak padam kepada Saba, lalu cinta Saba yang matang kepada Ayan, hingga kemudian Alizeh yang berdiri rapuh di ambang kematiannya.
Tadinya, aku ingin berargumen bahwa pada akhirnya, sebagian besar perempuan pada akhirnya akan menyerah dari upaya melelahkan mencari cinta sejatinya. Namun, siapakah aku yang merasa tahu soal perempuan? Tapi melalui sosok Alizeh (Anushka Sharma) dan Saba, aku bisa belajar tentang segelintir perempuan yang tipikal memiliki "satu" keinginan yang jarang dimengerti lelaki manapun, dan mungkin begitu sebenarnya karakteristik perempuan?
Dalam cerita, perempuan adalah mereka yang jiwanya merdeka, yang tak hendak menyerah di bawah belenggu budaya patriarki, lalu memilih jalan sunyi mereka sendiri daripada tunduk pada standar kebahagiaan orang lain.
Momentum yang paling menggetarkan muncul di pertengahan cerita, saat pertemuan pertama Ayan (ingat, ini Ayan, bukan Vyan) dengan Saba setelah pernikahan Alizeh yang menyakitkan. Lengkapnya, Saba Tahyar Khan muncul sebagai sosok perempuan penulis nan penyair, seorang janda yang secara radikal—"merasa bahagia."
Ia pernah berujar saat pertemuan dengan Ayan, entah di hotel atau terminal, “Aku tahu kata-kata tak selalu bisa menyembuhkan kepedihan. Tapi hanya kata-kata yang kupunya. Namun bila kata-kata bukan kesukaanmu, mungkin nomor handphone-ku bisa membantu.” Sebuah rayuan intelektual yang tak tertahankan, sembari ia menyodorkan sekumpulan puisi karyanya sendiri kepada Ayan.
Ayan pun terpikat. Ia ingin mengubah amarah dalam diksi-diksi puisi karya Saba menjadi melodi lagu. Namun, dalam setiap bait itu, ada pertanyaan yang menghantui: Bagaimana lagi cara untuk menyapa? Apakah aku harus menunggu hingga ia berkata, “Aku yang nyaris mati menunggu telepon darimu?”
Di titik ini, narasi cerita membawa kita pada kekosongan yang absolut. Saat tak ada cinta dalam cintamu. Saat tak ada teman dalam sedihmu, tak ada senyuman dalam tangismu, bahkan tak ada suara dalam setiap ucapanmu. Nafas hanya dilepas tanpa makna, sementara malam datang di setiap jam harimu. Detak jantung terasa telah meninggalkan raga. Duh hati, betapa sulit.
Film ini menggugat dikotomi antara ‘cinta’ dan ‘persahabatan’. Sebab seringkali, pria menginginkan kepemilikan (cinta), sementara perempuan mendambakan kenyamanan (persahabatan). Dan ketakutan terbesar muncul ketika cinta tak pernah sudi mengerti persahabatan. Bahkan bagi laki-laki kala mengatakan cinta terkadang hanyalah kedok bagi hasrat (nafsu), sedangkan bersahabat adalah upaya menemukan kedamaian.
Dalam realitas yang sinis, mungkin damai hanya dianggap cukup jika ada cis (picis/uang), ri (periuk yang tetap mengepul), dan kar (zakar yang memuaskan syahwat hingga klimaks). Namun, apakah cinta sedangkal itu? Lalu, apakah perempuan tak punya cinta, tak ingin cinta?
Alizeh menjawabnya dengan getir, sebab berharap suatu saat Ayan mampu memahami cintanya yang melampaui fisik (physically/ragawi). Tapi apakah cinta perlu didefinisikan secara kaku? Apakah kita sedang mempersulit diri karena tak kunjung menemukan jati diri? “Aku mencintaimu, Ayan,” kata Alizeh. “Hanya saja tidak seperti yang kau inginkan.”
Bagi banyak lelaki, pengakuan "aku sangat mencintaimu" tanpa penyerahan tubuh mungkin dianggap hampa, padahal bagi Alizeh, itu adalah bentuk tertinggi dari pengabdian jiwa. Cinta tanpa tapi.
Barangkali Karan Johar dalam film ini hendak mengangkat topik cinta paling epik, atau tentang konflik yang memuncak pada perbedaan persepsi tentang kebutuhan dan hasrat. Saat Ayan bertanya dengan nada terluka, apakah Alizeh mengira ia hanya ingin menidurinya?
Saba pun pernah memberikan pelajaran serupa kepada Ayan: “Kau tak tahu apa-apa soal diriku.” Baginya, hasrat bukanlah kebiasaan yang rutin. Ia ibarat makan yang lekas dilupakan setelah kenyang. Begitulah seks yang diharapkan pada umumnya laki-laki. Tapi perempuan ingin lebih dari itu, atau bukan cuma itu.
Ketika Ayan memohon karena dirinya sangat "membutuhkan" Saba, sang penyair menjawab dengan cerdas: “Aku tak ingin jadi kebutuhan. Aku ingin jadi hasrat.” Mungkin Saba hendak memberi pelajaran bahwa orang-orang memang senantiasa bimbang pada hubungan yang riskan, namun bagi Saba ingin membiarkan Ayan menemukan jalannya, seperti mereka yang tersesat menemukan jalannya sendiri.
“Obrolan hanyalah upaya bodoh,” cetus Saba suatu kali. Namun, ia juga mengakui bahwa keheningan mampu bicara lebih banyak. Mata tak bisa menyembunyikan kepedihan yang ditutupi kata-kata. Jangan penjarakan air mata. Biarkan ia bebas. Mengakui kesedihan yang abadi jauh lebih jujur daripada memaksakan kebahagiaan yang semu. Saba sebagai penyair banyak melontarkan kata-kata puitis. Entah apakah juga ia sebenarnya seperti banyak orang yang menutupi ketakutannya, atau untuk memulai kembali sebuah hubungan, jalannya sering dengan tumpukan kata-kata, meski luka lama tetap berdenyut di sana.
Ada sebuah satire menarik dalam film ini bahwa setiap perempuan yang menjadi penyair setidaknya harus menikah sekali. Jika pernikahannya bahagia, ia mendapat kehidupan yang bagus. Jika tidak, ia akan menghasilkan puisi yang bagus. Ini senada dengan petuah Sokrates: “Menikahlah, bilapun tak menemukan bahagia, niscaya kau menjadi filsuf.” Namun, bagi mereka yang tak menikah dan cintanya tak terbalas, apakah tak menikah dan penolakan itu adalah siksaan?
Tahir, mantan suami Saba, memberikan perspektif yang berbeda. Baginya, tak ada alasan untuk tersiksa. Kekuatan cinta tak terbalas itu unik dan suci. Tak seperti ikatan lain yang bisa dibagi atau dikhianati, dalam cinta sepihak, hanya "aku" yang berhak memiliki perasaan itu. Ia tak butuh balasan untuk tetap hidup. Bukankah itu bentuk cinta yang paling murni?
Namun, Ayan menyanggah, bukankah itu membuat kita lemah? Ia teringat alasan Alizeh yang tetap mencintai pria yang telah meninggalkannya (Ali). Tahir, sang kurator seni yang sukses namun kesepian, menegaskan bahwa memperjuangkan cinta adalah sebuah pertaruhan. “Pertaruhkanlah apa yang kau suka. Untuk apa takut? Betapa hebatnya bila kau menang, namun bilapun kalah, kita tak akan kehilangan semuanya.” Perasaan itu sendiri adalah pencapaian tertinggi seorang manusia.
Tahir yang diperankan secara epik oleh Shah Rukh Khan, telah menyeberangi perbatasan antara cinta dan persahabatan. Namun, ketika cinta menyadari bahwa persahabatan akan pergi selamanya (seiring kematian yang menjemput Alizeh), ia pun lari mengejar. Sebab, saat-saat terakhir persahabatan adalah milik cinta sepenuhnya. Meskipun bagi perempuan seperti Alizeh, keinginan itu tetap sederhana, yang dalam kata-katanya, “Aku ingin berteman denganmu sepanjang sisa hidupku.”
Hubungan manusia memang berlapis-lapis. Demikianlah sebagai dua atau empat jiwa yang tersesat di samudra kehidupan. Kita diminta untuk terus mencari kebenaran hingga menembus pekatnya malam. Teruslah mencari di ambang pintu yang kutinggalkan. Alizeh sangat tahu kebaikan yang diberikan Ayan, namun ia mengharap "surga" dari pengorbanan perasaan yang ia lakukan. Ada gejolak untuk jatuh cinta lagi, namun hati selalu punya seribu alasan untuk mengelak.
Bagaimana mungkin seseorang tidak jatuh cinta pada sosok yang begitu memikat? Mungkin itu pertanyaan kita. Jawabannya, bagi Alizeh ada pada air mata. Jika seseorang menangis di hadapanmu, berarti cintanya adalah untukmu. Namun, dalam kehidupan Ayan, ada dua perempuan hebat yang memberi warna berbeda antara Alizeh dan Saba, Sana ataupun Alizeh yang dengan lirih mengakui bahwa meski ia menjauh, ia tidak benar-benar menutup ruang bagi cinta. Sebab kita memang tak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, tapi kita punya otoritas penuh untuk memilih kapan harus menjauh (dan mendekat) demi kewarasan jiwa.
Kecantikan fisik perempuan mungkin sering mengalahkan kecerdasannya di mata dunia, tapi pada sosok Saba, kepribadianlah yang memenangkan segalanya. Sebagaimana kata Alizeh, kematian sekalipun tak bisa melenyapkan kepribadian seseorang. Seperti harimau meninggalkan belang, manusia meninggalkan karakter dalam setiap laku perbuatannya, dan di sana, cinta tak akan pernah berkurang.
Ae Dil Hai Mushkil mengajarkan kita satu hal yang sangat manusiawi namun sulit diterima bahwa dalam persahabatan sejati, tak perlu ada kata maaf atau terima kasih. Karena segalanya telah termaafkan sebelum diucapkan. Dan mencintai seseorang yang tidak membalas cintamu bukanlah sebuah tragedi. Itu adalah sebuah keberanian untuk mencintai tanpa syarat, sebuah seni menjadi utuh meski dalam kesendirian. (Sal)