ABCD-2: Semua Orang Bisa Menari, Tapi Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Diri Sendiri

ABCD adalah kependekan dari Any Body Can Dance, sebuah premis sederhana bahwa semua orang bisa...

ABCD-2: Semua Orang Bisa Menari, Tapi Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Diri Sendiri

17 Feb 2026
280 x Dilihat
Share :

ABCD-2: Semua Orang Bisa Menari, Tapi Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Diri Sendiri

ABCD adalah kependekan dari Any Body Can Dance, sebuah premis sederhana bahwa semua orang bisa menari. Namun, dalam sekuelnya, ABCD-2 yang disutradarai oleh Remo D’Souza—seorang koreografer kawakan yang piawai membawa bahasa tubuh ke dalam narasi sinema populer, makna tersebut meluas. D’Souza mengubah gerak menjadi konflik, dan panggung menjadi ruang pencarian identitas yang sunyi sekaligus gaduh.

Bersamaan dengan munculnya film ini, layar televisi kita juga sedang marak dengan berbagai ajang audisi. Entah itu adu bakat menyanyi, menari, atau apa pun saja yang bisa dikompetisikan. Maka, menonton ABCD-2 boleh jadi terasa mirip juga dengan menyaksikan Happy New Year, film yang juga mengangkat tema audisi yang peran utamanya adalah Shah Rukh Khan. Keduanya memotret fenomena yang sama: panggung sebagai muara dari segala ambisi.

Namun, di balik kalimat Any Body Can Dance, janji bahwa “semua orang bisa menari” terdengar seperti komitmen yang sangat ramah, egaliter, dan penuh harapan. Sayangnya, saat dunia dikendalikan oleh industri hiburan yang haus akan rating, seringkali janji itu tidak lebih dari sekadar slogan pemasaran. Tapi mungkin itulah mimpi kolektif kita sebagai pemirsa pada sebuah keyakinan bahwa siapa pun, dari latar sosial mana pun, memiliki hak yang sama atas panggung dan cahaya lampu sorot.

Ini adalah cerita tentang bagaimana siapa pun punya peluang. Peluang itu boleh datang dari orang-orang biasa seperti pekerja kasar, pelayan, hingga anak jalanan. Selama ia percaya bahwa tubuhnya, dengan segala keterbatasan dan guratan nasibnya, masih mampu berbicara dalam gerak, maka tarian adalah pintu menuju jalan keluar. Ia bukan hanya jalan keluar dari kemiskinan materi, tetapi pelarian dari ketiadaan pengakuan eksistensial yang selama ini menghimpit mereka.

Film ini memang tidak berhenti pada romantisme kerja keras semata. ABCD-2 berani mengangkat luka yang jarang dibicarakan dalam gemerlap dunia seni: tuduhan plagiarisme. Tuduhan ini adalah hantaman telak yang membuat mimpi, dalam rangkaian cerita film ini, menjadi sangat rentan dan runtuh seketika. Pada titik itulah, tarian kehilangan kepolosannya. Ia tidak lagi sekadar ekspresi murni dari jiwa, melainkan medan sengketa yang panas antara klaim kreatif, reputasi, dan kekuasaan simbolik.

Di sinilah kata orisinalitas muncul, berdiri sendirian seperti sebuah vonis yang dingin. Orisinalitas adalah kata yang berdiri seperti pertanyaan yang belum selesai dijawab, karena ia memerlukan kehati-hatian dalam penjelasannya. Ia bukan sekadar tema sampingan, tapi luka akibat tuduhan yang menjadi faktor pendorong utama cerita film ini bergerak maju.

Secara naratif, film ini berkisah tentang sekelompok penari yang dituduh meniru karya orang lain. Tuduhan itu bukan hanya merusak reputasi profesional, tetapi juga menghancurkan rasa percaya diri mereka secara personal. Seolah-olah tubuh mereka kehilangan makna dan gerakan mereka kehilangan jiwa. Maka kemudian, tarian mereka bukan lagi sekadar hiburan bagi penonton, melainkan telah menjelma menjadi pertarungan identitas yang mempertaruhkan harga diri.

Film yang dirilis pada tahun 2015 ini, konon mengambil inspirasi dari kisah nyata komunitas tari India, Kings United India, yang berjuang menembus panggung internasional seperti World Hip Hop Dance Championship. Mereka datang dari latar sederhana. Terdiri dari kumpulan pekerja biasa dan orang-orang yang tidak pernah dianggap sebagai bagian dari elite seni. Namun mereka membuktikan bahwa tubuh dapat berbicara lebih jujur daripada kata-kata. Kekuatan utama film ini terletak pada keberaniannya menempatkan seni bukan sebagai privilese kelas atas, tetapi sebagai kemungkinan bagi semua orang.

Audisi dan Ilusi Kesetaraan Peluang

Fenomena ini membawa kita pada realitas yang lebih luas. Televisi di Indonesia, dan mungkin juga di seluruh dunia, sedang mengalami "demam audisi". Kalimat tentang televisi yang dipenuhi audisi bukan sekadar observasi dangkal, melainkan cermin zaman kita saat ini. Reality show dan kompetisi bakat telah menjadi ritual modern; sebuah panggung tempat mimpi dipertontonkan sekaligus dipertaruhkan secara masif.

Layar kaca kita dipenuhi wajah-wajah penuh harap, air mata yang tumpah sebelum sempat mengering, dan narasi klasik "dari nol menuju bintang" (from rags to riches). Format ini terasa sangat manusiawi, seolah memberi ruang bagi siapa saja untuk masuk, mencoba, dan dinilai secara adil. 

Tetapi sesungguhnya, audisi adalah panggung yang sangat terstruktur. Semua orang boleh masuk, tetapi hanya sedikit yang dipilih melalui filter industri yang ketat. Ia tampak demokratis di permukaan, namun menyimpan seleksi yang kaku di belakang layar.

Dalam iklannya, industri selalu mendengungkan bahwa ada kesetaraan. Narasi yang berulang adalah: seseorang dari latar sederhana datang membawa harapan, melewati seleksi yang dramatis, menangis di depan kamera, lalu menjadi simbol keberhasilan. Kita menyaksikan perjalanan itu bukan hanya sebagai penonton pasif, melainkan sebagai partisipan emosional yang ikut bersorak. Kita ikut percaya bahwa siapa pun bisa menjadi bintang. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang jarang diajukan: apakah panggung ini benar-benar demokratis, ataukah ia hanya menjual drama kemiskinan demi angka penayangan?

Perbandingan dengan Happy New Year

Untuk pembahasan yang lebih luas, kemiripan ABCD-2 memang sangat terasa dengan Happy New Year. Keduanya menggunakan kompetisi tari sebagai mesin penggerak cerita. Bedanya, ABCD-2 berusaha tampil lebih “serius” dan emosional dengan pendekatan semi-biopik, sementara Happy New Year dengan sadar menempatkan tari sebagai bagian dari spektakel hiburan komedi yang megah. Namun keduanya tetap bergerak dalam orbit yang sama: kompetisi, penilaian, dan eliminasi. Hal yang dipertaruhkan bukan hanya piala kemenangan, tetapi legitimasi sosial.

Film seperti Happy New Year menunjukkan sisi lain tentang industri hiburan di mana kompetisi menjadi sebuah "spektakel"—bagian dari mesin hiburan yang menggabungkan drama, komedi, dan visual yang memanjakan mata. Dalam konteks ini, kompetisi bukan lagi ruang murni untuk pencarian diri, melainkan format bisnis yang dapat diulang tanpa henti.

Industri panggung sering membutuhkan cerita yang familiar karena penonton butuh harapan yang mudah mereka kenali. Di antara desakan format industri ini, individu sering kali harus menyesuaikan diri agar "laku". Maka di era digital, isu orisinalitas akhirnya menjadi medan konflik yang semakin rumit. Inspirasi bergerak secepat kilat melintasi layar ponsel, sementara ide-ide saling bersinggungan tanpa batas geografis. Apa yang tampak unik hari ini bisa terlihat seperti imitasi esok hari hanya karena kemiripan algoritma.

ABCD-2 memperlihatkan kecemasan itu melalui tuduhan plagiarisme yang menghancurkan. Karakter-karakternya harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar peniru, bahwa mereka memiliki suara yang otentik. Namun ironisnya, mereka harus membuktikan keunikan itu melalui kompetisi yang formatnya sendiri sudah sangat standar dan kaku.

Di sinilah paradoks muncul: ketika ingin dianggap orisinal, seseorang harus berhasil dalam sistem yang justru sering menyeragamkan. Orisinalitas dalam dunia seni modern bukan lagi sekadar soal mencipta sesuatu yang benar-benar baru, yang terkadang menjadi standar moral yang ambigu, tetapi seringkali menjadi senjata untuk membunuh karier bahkan sebelum karya itu sempat dipahami. Di sisi lain, sistem yang hidup saat ini adalah sistem yang menyeragamkan, di mana perbedaan sering kali berupaya diredupkan demi harmoni pasar.

ABCD-2 menangkap kegelisahan ini dengan cukup jujur. Para penarinya tidak menyangkal bahwa mereka belajar dari banyak sumber. Mereka mengakui bahwa tubuh mereka dibentuk oleh tontonan, latihan, dan proses imitasi. Tetapi mereka menolak disingkirkan hanya karena tidak dianggap “murni”. Di era digital, di mana gerakan bisa ditonton ulang, direkam, dan disalin dalam hitungan detik, pertanyaan tentang orisinalitas menjadi semakin kabur. Apakah mungkin kita benar-benar menjadi orisinal, ketika semua orang tumbuh dari arsip visual yang sama?

Film ini tidak memberi jawaban tegas. Ia justru menunjukkan bahwa orisinalitas sering kali ditentukan oleh siapa yang memiliki panggung dan kuasa untuk melabeli, bukan sekadar siapa yang memiliki ide pertama kali.

Tubuh yang Mengingat Sinkronisasi Gerak

Namun pesannya tentang tari dalam ABCD-2 tetap mendalam: tari bukan sekadar koreografi indah atau sinkronisasi gerak. Ia adalah "tubuh yang mengingat". Tubuh yang menyimpan sejarah kelas sosial, sejarah kerja keras, dan sejarah keterpinggiran. Ketika para tokohnya menari, yang bergerak bukan hanya otot yang terlatih, tetapi juga ingatan sosial mereka.

Televisi mungkin menyederhanakan tarian menjadi hiburan cepat saji yang bisa dikonsumsi sambil lalu. Namun film ini mencoba mengingatkan kita bahwa di balik setiap gerakan, ada perjuangan yang tidak selalu tertangkap oleh lensa kamera. “Semua orang bisa menari,” kata film ini. Tetapi makna kalimat itu berubah pahit ketika kita menyadari bahwa tidak semua tarian diberi nilai dan ruang yang sama.

Tarian dalam film ini bukan sekadar estetika, melainkan bahasa sosial. Gerakan menjadi cara untuk melawan stigma dan untuk mengklaim kembali identitas yang sempat dirampas oleh tuduhan-tuduhan miring. Ketika kata-kata gagal menjelaskan siapa mereka yang sebenarnya, tubuhlah yang berbicara. Mungkin itu sebabnya film tentang tari memiliki daya tarik universal. Tanpa perlu banyak dialog, penonton dapat merasakan getaran emosi melalui ritme, energi, dan ekspresi fisik yang jujur.

Catatan Penutup tentang Semua Orang

Judul Any Body Can Dance memang terdengar seperti slogan yang sangat optimis, bahkan mungkin utopis. Semua orang bisa menari. Semua orang punya kesempatan. Tetapi kenyataan di lapangan tidak pernah sesederhana itu.

Ya, semua orang mungkin bisa bergerak. Namun tidak semua orang mendapatkan panggung yang sama. Tidak semua mendapat sorotan lampu yang setara. Ada struktur industri, algoritma popularitas, dan mekanisme seleksi yang kejam yang menentukan siapa yang layak terlihat dan siapa yang harus tetap berada di bayang-bayang. Panggung tidak pernah benar-benar netral.

ABCD-2 bukan hanya film tentang tari atau kompetisi belaka. Ia adalah metafora tentang manusia yang mencoba menemukan dirinya di tengah sistem yang terus-menerus meminta mereka menjadi sesuatu yang lain. Mungkin, orisinalitas bukan berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru dari ketiadaan, karena tidak ada seni yang lahir dari ruang hampa. Orisinalitas mungkin justru adalah keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri, bahkan ketika dunia meminta kita meniru formula yang sudah terbukti berhasil secara komersial.

Film ini adalah refleksi tentang manusia yang ingin diakui di tengah sistem yang gemar mengklasifikasi, menilai, dan menyingkirkan. Ia mungkin bukan film yang sempurna secara teknis, tetapi kegelisahan yang dibawanya terasa sangat nyata bahwa orisinalitas tidak lagi sekadar soal gaya, melainkan soal hak untuk tetap ada (eksistensi). Audisi pun bukan lagi sekadar kompetisi bakat, melainkan mekanisme sosial yang menentukan siapa yang layak dipandang dan siapa yang cukup menjadi latar belakang.

Dan mungkin kita semua memang sedang menari. Kita menari di antara tipisnya batas mimpi dan realitas. Kita menari di antara keinginan kuat untuk diakui dan ketakutan hebat untuk kehilangan jati diri. Kita terus menari di panggung yang tidak selalu kita pilih sendiri, tetapi tetap harus kita jalani dengan sebaik-baiknya.

Dan mungkin, di sanalah letak ironi terbesar dari kalimat Any Body Can Dance: semua orang bisa menari—tetapi tidak semua tarian diberi ruang untuk mempertahankan otentisitas dirinya. (Sal)

Perspektif

Scroll