Little Forest: Filosofi Slow Living di Tengah Krisis Petani dan Urbanisasi Global

Ada sebuah benang merah yang unik sekaligus menenangkan, seolah menghubungkan setiap desa di...

Little Forest: Filosofi Slow Living di Tengah Krisis Petani dan Urbanisasi Global

16 Feb 2026
195 x Dilihat
Share :

Little Forest: Filosofi Slow Living di Tengah Krisis Petani dan Urbanisasi Global

Ada sebuah benang merah yang unik sekaligus menenangkan, seolah menghubungkan setiap desa di belahan dunia mana pun. Dahulu, dalam kenaifan masa kecil, saya sempat mengira bahwa desa-desa di luar negeri adalah tempatnya berbeda, suasananya yang sepenuhnya asing dan terputus dari akar pedesaan yang saya kenal. 

Saya bahkan pernah menyimpan sebuah pertanyaan lugu di dalam hati, “Adakah pohon pisang tumbuh di desa-desa negara lain?” Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, bahkan cenderung kekanak-kanakan. Namun, ketika direnungkan sekarang, barangkali sebenarnya masa itu di masa kanak telah menyimpan lapisan rasa ingin tahu yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan agraris di berbagai belahan bumi mana pun.

Pertanyaan tentang pohon pisang itu adalah pintu masuk untuk memahami bagaimana manusia dan tanah saling berinteraksi. Dan rupanya, setelah menonton film Little Forest dan film lainnya yang berlatar alam pedesaan, meski dibatasi oleh garis peta dan perbedaan bahasa, kehidupan di pedesaan di mana pun ternyata saling terhubung oleh satu napas yang sama—sebuah ritme kehidupan yang tunduk pada hukum alam, musim yang berganti, dan kesetiaan pada tanah yang memberi makan.

Meski di Komori, sebuah desa di wilayah Tohoku yang menjadi latar film Little Forest, saya tidak menemukan pohon pisang, mata saya justru dimanjakan oleh hamparan persawahan yang hijau lalu menguning mengikuti titah pergantian musim. Di sana ada tambak ikan (yang di tanah Sunda kami sebut balong), juga hamparan tanaman tomat yang ranum, labu, ubi jalar, hingga talas yang dalam bahasa Jepang dikenal sebagai satoimo. Berbagai jenis palawija lain yang tumbuh subur di sana, namanya asing di telinga saya, tapi anehnya, di tengah perbedaan botani itu, saya justru menemukan sebuah jejak universalitas tentang ritme desa yang ajek dan jujur.

Jalanan kecil yang membelah persawahan, kelokan aspal yang sunyi dibalut kabut saat pagi dan siang sebagai lanskap alam pedesaan, seolah kehidupan berjalan lambat dan membuat saya merasa seperti sedang pulang ke kampung sendiri. Rasanya setiap tikungan di Komori adalah jalanan menuju tanah kelahiran saya. 

Menonton film ini membuat ingatan melayang jauh pada tanah leluhur di Cipadung, Desa Cikawung—sebuah tempat yang pernah dicap sebagai desa tertinggal bahkan sampai sekarang. Di sana, petak-petak tanah warisan terbengkalai, hanya sawah-sawahnya saja yang diurus oleh saudara-saudara dari ayah saya. 

Menonton Little Forest membuat saya bernostalgia yang muncul perlahan, meresap seperti aroma tanah basah setelah hujan pertama yang lama tersimpan dalam kotak memori dari masa kecil. Menyaksikan kehidupan Ichiko, sang tokoh utama, seolah melihat proyeksi diri yang ideal. Rasanya ingin sekali hidup seperti dia yang telaten mengurus sawah dengan tangan sendiri, menanam sayur, memelihara ikan, dan memenuhi kebutuhan pangan langsung dari rahim bumi. 

Dalam bayangan itu, hidup terasa sederhana sekaligus utuh. Makanan bukan sekadar komoditas yang dibeli di supermarket, melainkan hasil dari dialog panjang antara manusia dan tanahnya. Di sana, waktu berjalan mengikuti detak musim, bukan dikejar oleh jadwal rapat atau notifikasi gawai yang tak henti memekik dalam kehidupan urban kota. Sibuk iya tapi tak membuat saya kaya.

Film Little Forest seolah hadir untuk mengangkat kembali martabat profesi petani, justru di saat profesi ini semakin terpinggirkan dan banyak anak muda memilih menjauh dari dunia agraris. Dalam konteks global, fenomena "pelarian" dari desa ini adalah luka yang nyata. Indonesia, misalnya, sedang menghadapi ancaman krisis regenerasi petani. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar petani kita kini berada di kelompok usia tua. Kondisi serupa terjadi di Jepang. Berdasarkan data dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang, usia rata-rata petani di sana telah melampaui 65 tahun. Urbanisasi besar-besaran telah mengubah wajah pedesaan menjadi sunyi, meninggalkan rumah-rumah kosong yang disebut akiya.

Di tengah situasi yang mencekam secara demografis itulah, muncul narasi slow living tentang seorang gadis yang diperankan dengan sangat lembut oleh Ai Hashimoto. Ia hidup sendirian di lembah pertanian Komori, sebuah wilayah yang dikelilingi hutan dan pegunungan. Film ini mendapat banyak ulasan positif bukan karena menyajikan drama penuh konflik atau air mata, melainkan karena ia adalah sebuah perjalanan sunyi yang kontemplatif. Ia memberikan ruang bagi penonton untuk bernapas.

Barangkali, banyak orang terobsesi dengan film ini karena mereka membayangkan satu kemungkinan pahit: jika suatu hari hiruk-pikuk kota telah meluluhlantakkan kewarasan mereka, selalu ada kerinduan tersembunyi pada masa kecil. Terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan kehidupan agraris. Mereka yang lahir di desa, atau bahkan yang tumbuh di beton kota tetapi sering dibawa pulang ke rumah neneknya di kampung, pasti menyimpan imajinasi tentang kehidupan tenang di kampung, pada hijaunya pepohonan, hidup terasa lebih manusiawi, dan organik.

Little Forest diproduksi pada tahun 2014 oleh sutradara Junichi Mori, diadaptasi dari manga karya Daisuke Igarashi. Versi live-action ini dirilis dalam dua bagian, antara Summer/Autumn dan Winter/Spring (yang ini belum saya tonton) yang masing-masing merepresentasikan siklus musim di Komori. Setiap pergantian musim ditandai dengan monolog Ichiko yang puitis namun membumi, memperkuat kesan bahwa film ini bukan sekadar narasi linear, melainkan semacam jurnal hidup yang ditulis Ichiko, atau "labirin ingatan" yang mengikuti irama alam yang melingkar dari musim ke musim.

Pada mulanya, dalam kisah singkatnya, Ichiko kembali ke Komori setelah mengalami serangkaian kegagalan di kota besar. Katakanlah ia "gagal hidup di kota"—gagal meniti karier, gagal meraih pekerjaan layak, atau mungkin gagal memenuhi standar kesuksesan yang dipaksakan masyarakat. Seringkali, saya pun merasa demikian, yang merasa gagal menjadi "orang kota" yang tangguh, sementara di sisi lain, tanah warisan di desa tidak digarap sebaik-baiknya. Ada rasa bersalah yang menusuk ketika menyadari bahwa kita memiliki akar, namun kita membiarkannya kering karena mengejar fatamorgana urban kota.

Komori, yang secara harfiah berarti "hutan kecil", adalah tempat yang jauh dari modernitas tetapi sangat dekat dengan esensi hidup. Melihat pemandangan itu mengingatkan saya bahwa saya pun memiliki alam seperti itu di kampung halaman. Namun, masalahnya klasik: tak ada tuntunan tentang bagaimana cara memulai, dari mana harus melangkah untuk mengelola tanah garapan, terutama dalam kasus saya yang tidak memiliki rumah tinggal di sana. Keterputusan pengetahuan (knowledge gap) antar generasi inilah yang seringkali menjadi tembok besar bagi pemuda yang ingin kembali ke tanah kelahirannya.

Hidup Ichiko di pedesaan menunjukkan bahwa kesendirian bukan berarti kesepian. Setelah ibunya pergi tanpa kabar, ia bertani dan memasak dengan kesadaran penuh terhadap alam (mindfulness). Setiap hidangan yang dimasaknya, mulai dari roti yang dipanggang dengan suhu ruang, hingga selai elaeagnus, bukan sekadar pengisi perut, melainkan arsip kenangan tentang ibunya dan cara hidup yang selaras dengan lingkungan. 

Film ini secara teknis dapat disebut sebagai tutorial halus tentang pertanian tradisional. Penonton diajak melihat bagaimana menanam tomat agar tidak pecah karena hujan, memanen padi dengan tangan, hingga mengolah hasil bumi menjadi hidangan yang estetis namun jujur. Misalnya cara menumpuk jerami oleh para petani Jepang sesudah panen, sesudah diarit patut dicontoh. Saya belum melihat pemandangan itu sebelumnya.

Ssegala hal di balik keindahan lanskap yang dipotret dalam film, film ini juga bisa dibaca sebagai refleksi sosial yang tajam. Selain Indonesia, Jepang juga sedang mengalami depopulasi pedesaan yang serius atau rural decline. Banyak desa di sana kehilangan nyawanya karena penduduknya lebih memilih migrasi ke kota. Fenomena ini begitu mendesak hingga pemerintah Jepang mendorong berbagai program revitalisasi desa, bahkan menarik tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia, melalui program Specified Skilled Workers (SSW) di sektor pertanian.

Melihat konteks tersebut, saya sempat merenung: apakah film ini semacam "propaganda lembut"? Sebuah narasi alternatif yang menawarkan romantisasi hidup desa agar masyarakat kembali melirik sektor pertanian? Mungkin saja. Namun, terlepas dari itu, Little Forest menghadirkan opsi imajinatif tentang cara hidup lain di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Kesuksesan film ini, yang kemudian memicu adaptasi versi Korea Selatan oleh sutradara Yim Soon-rye pada 2018, membuktikan bahwa tema kerinduan akan kesederhanaan adalah bahasa yang universal.

Little Forest bukan sekadar film tentang memasak atau bertani. Ia adalah meditasi visual tentang waktu, kesendirian, dan upaya menemukan kembali identitas diri melalui hubungan dengan tanah yang kita pijak atau tanah pernah kita pijak di waktu lampau. Film ini menjadi pengingat pedih bahwa kehidupan modern seringkali membuat manusia terputus dari sumber pangannya sendiri. Kita tahu cara memesan makanan melalui aplikasi, tapi kita lupa tentang bagaimana aroma tanah saat disiram, atau bagaimana rasanya menunggu benih pecah menjadi kecambah.

Barangkali yang membuat film ini begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa banyak dari kita sebenarnya tidak hanya merindukan desa sebagai sebuah koordinat geografis, melainkan sebagai keadaan batin. Sebuah tempat di mana hidup berjalan perlahan tanpa tuntutan kompetisi, di mana makanan adalah bentuk rasa syukur, dan di mana manusia merasa cukup dengan kesederhanaan yang melimpah. 

Ketika dunia bergerak semakin cepat dan bising, kerinduan terhadap "hutan kecil" di dalam diri kita akan terus tumbuh. Bukan karena kita ingin benar-benar meninggalkan kemajuan, tetapi karena kita ingin memulihkan bagian dari jiwa kita yang pernah hidup selaras dengan detak jantung musim alam pedesaan yang barangkali telah jauh dan lama kita tinggalkan. (Sal)

Perspektif

Scroll