Touch: Sentuhan Waktu dan Labirin Masa Lalu

Sebab ada hati yang belum selesai, seorang Pak Tua bernama Kristofer memutuskan meninggalkan...

Touch: Sentuhan Waktu dan Labirin Masa Lalu

05 Feb 2026
205 x Dilihat
Share :

Touch: Sentuhan Waktu dan Labirin Masa Lalu

Sebab ada hati yang belum selesai, seorang Pak Tua bernama Kristofer memutuskan meninggalkan Islandia, kampung halamannya yang dingin. Ia pergi jauh menuju Jepang untuk menuntaskan apa yang selama ini menjadi pertanyaan besar pada cinta pertamanya. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah ziarah batin untuk menjemput fragmen diri yang tertinggal di masa muda.

Sebuah film yang bertema sama dengan yang kutonton beberapa bulan sebelumnya, tentang seorang lelaki yang menjelajahi dampak masa lalunya, membuatku bertanya: mengapa tema pencarian ini begitu sering digarap oleh para sineas? Apa haruskah demikian seorang manusia? Apakah kita memang ditakdirkan untuk selalu menoleh ke belakang sebelum benar-benar bisa melangkah ke depan?

Mungkin benar jika hati belum selesai atau belum tuntas dengan masa lalunya, hal itu akan memiliki dampak besar pada hidup seseorang di masa sekarang. Masa lalu yang tak terpecahkan membayang kelam, membuat hati tak tenang, seperti gema yang terus memantul di ruang kosong.

Gambaran kompleksitas jiwa manusia barangkali memang tidak sederhana, meski banyak orang sering kali menganggapnya remeh. Bagi sebagian besar orang, hidup seolah cukup dijalani dengan "kawin dan beranak" saja, tanpa perlu bertanya terlalu dalam tentang apa itu cinta. Ada pragmatisme yang menyelinap di sana, terutama karena bayang-bayang Kodokushi—fenomena di Jepang tentang kematian dalam kesendirian. Ketakutan akan mati sendirian akan terasa sangat menakutkan jikalau hidup terus melajang tanpa ikatan emosional yang diakui secara sosial.

Namun, film Touch membawa kita melampaui sekadar rasa takut akan kesepian. Tema ini diangkat agar kita memiliki referensi tentang bagaimana meraih bahagia yang sesungguhnya. Yakni, sebuah cara untuk memenuhi panggilan jiwa yang dapat dijelaskan melalui kacamata ilmu psikologi maupun sains. Dalam diri manusia yang tak bahagia, barangkali terdapat endapan alam bawah sadar yang harus dibuang; ada jejak memori yang terbentuk pada neokorteks atau hipotalamus yang harus diuraikan agar trauma tak lagi menyumbat aliran rasa.

Karakteristik keintiman manusia Sapiens sendiri sebenarnya telah terbentuk dan menjadi memori kolektif sejak ribuan tahun lalu. Keintiman ini berakar ketika cara pembuahan dan evolusi menuntut kelahiran secara "prematur". Tidak seperti mamalia lain yang begitu lahir sang anak langsung bisa lari dan mandiri, bayi manusia lahir dalam kondisi rapuh dan membutuhkan sentuhan serta perlindungan dalam waktu lama. Ketergantungan inilah yang menciptakan ikatan emosional yang purba dan mendalam.

Memori tentang keterikatan dan kehilangan itu tertanam kuat pada diri Kristofer. Kini ia sudah berusia lanjut, namun saat ia mengenang dirinya di usia 51 tahun—ketika sudah menikah dan memiliki anak—endapan bawah sadarnya tetap membawanya mencari-cari sesuatu yang lain. Sesuatu yang rupanya adalah jejak darah dagingnya yang lain, buah cinta dari kekasih pertamanya yang hilang ditelan waktu.

Di era globalisasi dan kolaborasi hari ini, tema yang diangkat film ini terasa begitu relevan. Mengangkat ruang percintaan yang melintasi batas negara dan benua. Di sela-sela romansa itu, diselipkan pula gagasan sejarah tentang Hiroshima saat dibom atom. Peristiwa kelam itu bertepatan dengan lahirnya Miko, perempuan cinta pertama Kristofer. Fakta sejarah ini memiliki relevansi yang harus senantiasa dikabarkan, bahwa luka politik sering kali menjadi luka personal yang abadi.

Kristofer muda adalah sosok yang gandrung pada pemikiran sosialis. Ia bahkan memilih meninggalkan bangku kuliahnya karena menganggap pendidikan formal hanya akan menjadikannya kaum borjuis. Ia kemudian melamar kerja menjadi tukang cuci piring sebagai sebuah pekerjaan yang sempat diledek oleh teman-temannya sebagai bentuk pelaksanaan nyata menjadi seorang proletariat yang bekerja dengan tangan. Ada ironi yang indah di sini, mengingat relevansinya dengan Jepang yang di masa lalu pernah terjebak dalam fasisme, kini menjadi tempat Kristofer mencari makna tentang kemanusiaan yang setara.

Lalu kita bertemu dengan kenyataan pahit Miko. Ia lahir prematur dan dinyatakan secara medis mengidap Hibakusha, sebuah istilah bagi penyintas bom atom. Rahimnya dianggap terpapar radiasi bom, hingga muncul vonis medis bahwa nanti anak yang dilahirkannya terindikasi akan cacat. Ketakutan ini menjadi motor penggerak tragedi. Dengan asumsi medis tersebut membuat ayah Miko memaksa agar bayi dari anaknya itu diberikan untuk diadopsi oleh orang lain demi "kebaikan" sang bayi.

Tetapi, sejarah dan takdir sering kali memiliki rahasianya sendiri. Rupanya, anak itu tumbuh sehat sampai dewasa dan bahkan sudah memiliki dua anak. Penderitaan bertahun-tahun itu lahir hanya karena sebuah asumsi, bukan fakta sains yang absolut. Indikasi kecacatan itu ternyata tidak terjadi pada diri Miko maupun anaknya.

Kisah ini menjadi pengingat yang pedih. Seringkali karena terlalu percaya pada perkataan medis yang belum terbukti, seorang ayah tega terpisah dengan anaknya. Hal inilah yang kemudian memunculkan suara-suara batin dalam diri Kristofer untuk menempuh perjalanan ribuan mil demi menemukan buah cinta pertamanya.

Perjalanan Kristofer mengajarkan kita bahwa "menyelesaikan" masa lalu bukanlah bentuk kegagalan untuk move on, melainkan sebuah keberanian untuk berdamai dengan ketidaktahuan. Kita sering kali hidup dalam penjara asumsi, baik asumsi medis, sosial, maupun ketakutan akan masa depan yang justru menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai.

Manusia memang makhluk yang rumit. Kita membawa trauma sejarah dalam sel-sel tubuh kita, namun kita juga memiliki kapasitas luar biasa untuk memaafkan dan mencari kembali kepingan yang hilang. Bahwa pada titik tertentu, sentuhan (touch) bukan sekadar kontak fisik, melainkan keberanian untuk menyentuh kembali luka lama agar ia tak lagi berdenyut menyakitkan, melainkan menjadi pelajaran yang mendewasakan. (Sal)

Perspektif

Scroll