Van Helsing, Batam 21, dan Nostalgia Kesunyian

Saat itu, di tengah tekanan nuansa akademik seperti menyelesaikan tugas kuliah yang menghimpit,...

Van Helsing, Batam 21, dan Nostalgia Kesunyian

02 Feb 2026
251 x Dilihat
Share :

Van Helsing, Batam 21, dan Nostalgia Kesunyian

Saat itu, di tengah tekanan nuansa akademik seperti menyelesaikan tugas kuliah yang menghimpit, karena terkadang manusia membutuhkan ruang untuk melarikan diri sejenak, di tengah malam yang seharusnya aku mempersiapkan esok hari menghadapi UAS, tapi sempetnya aku menonton film ini. Mungkin, maksudnya saat itu, supaya ada semacam katarsis.

Di dalam hidup mahasiswa, atau siapa pun yang sedang berada di persimpangan tanggung jawab, hiburan kadang bukan sekadar pelarian kosong, melainkan jeda psikologis. Saat kita membiarkan diri terserap ke dalam narasi fiksi, dengan menjauh sejenak dari tumpukan diktat ujian yang membosankan, akan membuat otak fresh kembali, dan saat belajar lagi otak pun dapat mencerna dengan mudah apa yang ingin kita pelajari.

Malam itu, aku menonton film Van Helsing yang kedua kalinya. Sebuah pengalaman yang membawa ingatanku melompat jauh ke masa lalu. Sebab aku pernah menonton film ini sebelumnya. Menonton pertama kalinya di bioskop 21 Batam, dan aku masih ingat betul bagaimana atmosfer teater saat itu yang memberikan sensasi magis yang berbeda.

Ada sesuatu tentang bioskop, terutama di era sebelum streaming menguasai dunia, yang membuat pengalaman menonton terasa lebih sakral. Layar besar bukan hanya tempat cerita diputar, tetapi ruang kolektif di mana gelap, suara, dan imajinasi menyatu. Batam 21 kala itu bukan sekadar gedung hiburan, melainkan semacam portal kecil menuju dunia lain.

Saat itu aku menontonnya malam, dan sendirian. Setelah sebelumnya di malam lain gagal untuk pergi menonton dengan perempuan. Kuputuskan menonton film aksi-horor produksi tahun 2004 ini sendirian, seolah hendak mempertegas relasi personal antara aku dan karakter Gabriel Van Helsing yang diperankan oleh Hugh Jackman.

Kesendirian dalam pengalaman semacam itu justru menghadirkan kedekatan yang lebih intim dengan film. Tidak ada distraksi percakapan, tidak ada kebutuhan untuk berbagi reaksi. Yang ada hanya aku, layar, dan tokoh yang bergerak di antara monster-monster gotik.

Ingatan itu terasa begitu hidup saat kuputar ulang di kepala, seolah baru kemarin terjadi. Saat itu menonton film Van Helsing, sebagai film kedua setelah film Disini Ada Setan. Karena tak kenyang hanya satu film, satu malam dua judul sekaligus. Sebuah transisi dari horor lokal ke fantasi gotik Hollywood yang megah.

Dua film dalam satu malam terasa seperti perjalanan lintas dunia: dari ketakutan yang dekat dan akrab dalam horor Indonesia, menuju ketakutan yang megah dan mitologis dalam semesta monster Eropa. Ada semacam perpindahan emosi: dari hantu yang mungkin terasa seperti rumor tetangga, menuju Dracula dan manusia serigala yang terasa seperti legenda ribuan tahun.

Setelah lampu teater menyala dan kredit film berakhir, aku melangkah keluar menuju sunyinya jalanan. Aku pulang ke rumah jam 12 malam, di bawah langit Batam yang tenang. Menikmati malam hanya sendirian memberikan ruang bernapas bagi pikiran untuk membedah karakter yang baru saja kusaksikan.

Malam kota yang lengang selalu punya cara membuat seseorang berpikir lebih dalam. Dalam perjalanan pulang, film itu seolah belum selesai. Ia terus berputar dalam kepala, menjadi bahan renungan yang samar namun menetap samar.

Dalam versi layar lebar ini, Van Helsing digambarkan secara berbeda dari literatur klasiknya. Ia adalah pemburu monster amnesia yang bekerja untuk organisasi rahasia Vatikan, dan bahkan diungkap sebagai inkarnasi dari Malaikat Agung Gabriel (Jibril).

Konsep ini menarik, karena film tersebut tidak sekadar mengadaptasi cerita, melainkan menciptakan ulang mitologi. Van Helsing bukan lagi sekadar manusia biasa, melainkan figur religius dan simbolik: seorang pejuang yang bahkan lupa siapa dirinya, tetapi tetap harus bertarung.

Konon, tokoh Van Helsing merujuk pada Abraham Van Helsing, karakter fiksi ikonik yang pertama kali muncul dalam novel horor Gotik karya Bram Stoker tahun 1897, Dracula. Ia dikenal sebagai musuh bebuyutan Count Dracula dan ahli dalam bidang supranatural. Dalam novel aslinya, ia bukanlah pemburu monster yang tangkas seperti Hugh Jackman, melainkan seorang profesor dan dokter asal Belanda yang sudah lanjut usia. Ia memegang berbagai gelar serta dikenal sebagai pengacara, filsuf, dan teolog.

Kontras antara versi novel dan film tahun 2004 ini menunjukkan betapa luasnya spektrum interpretasi terhadap satu sosok dan perjuangan seorang pahlawan. Di sinilah adaptasi bekerja: satu karakter bisa berubah sesuai zaman. Dunia modern menginginkan aksi cepat dan visual spektakuler, sementara dunia sastra klasik lebih menekankan kecerdasan, pengalaman, dan ketekunan. Van Helsing menjadi cermin kebutuhan generasi yang menontonnya.

Malam-malam panjang yang kulalui sendirian itu seolah membentuk sebuah pola hidup. Dulu sampai sekarang selalu sendirian. Namun, kesendirian ini bukanlah sebuah kekosongan. Sendirian saja baik di kosan atau saat bepergian, aku menemukan kenyamanan dalam kesendirian dan semoga kemandirian. Kesunyian bukan berarti tidak ada suara, tetapi ruang untuk mendengar diri sendiri.

Seperti halnya semesta hidup Van Helsing yang terus berkembang lewat berbagai adaptasi, seperti serial TV tahun 2016 yang berpusat pada keturunannya, Vanessa Van Helsing di dunia pasca-apokaliptik, hidupku pun terus bergerak maju dalam kemandirian yang tenang, dan jikapun terburu pada menemukan pasangan, hal itu juga wajar, untuk hidup yang tidak selesai.

Demikian adaptasi adalah bukti bahwa cerita tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah bentuk. Begitu pula manusia: kita terus berubah, menua, bergerak, tetapi membawa inti pengalaman yang sama.

Kini, di awal tahun 2026, kabar mengenai pengembangan serial TV Van Helsing baru oleh CBS yang berlatar di New York modern mulai bermunculan. Bahkan, kabar mengenai sekuel atau reboot bertajuk Van Helsing 2: The Dark Rise yang kembali melibatkan Hugh Jackman memberikan harapan akan pertemuan kembali dengan pahlawan masa remajaku itu.

Ini menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, namun kegemaran akan cerita yang mendalam tidak pernah pudar. Dunia boleh berubah dari bioskop Batam 21 menuju layar ponsel, tetapi rasa takjub terhadap kisah tetap sama.

Menutup catatan ini, aku teringat pada tanggal di mana semua ingatan ini mulai tertuang: Rabu, 05 Juli 2006. Dua dekade hampir berlalu sejak malam di Bandung dan Batam.

Rasa sendirian yang kujalani, kuhadapi, dan kunikmati tetap menjadi teman yang setia. Barangkali, keberanian Van Helsing dalam menghadapi monster di layar adalah metafora bagiku semua dalam menghadapi monster-monster dalam diri: ketakutan akan kesepian, beban tanggung jawab, dan ketidakpastian masa depan.

Tetapi menjadi sendirian bukanlah tentang kesepian, melainkan tentang memiliki kekuatan untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Dan mungkin, menonton film bukanlah sekadar hiburan. Ia adalah cermin kecil. Dalam gelap bioskop atau dalam sunyi kamar di tahun 2026, kita menemukan bahwa monster terbesar bukan selalu Dracula atau manusia serigala, melainkan rasa takut dalam diri yang harus kita hadapi dengan keberanian yang pelan namun pasti. (Sal)

Perspektif

Scroll