Sebuah film atau drama sering kali bukan hanya hiburan. Ia bisa menjadi cermin yang diam-diam memantulkan ulang pengalaman manusia tentang kehilangan, tentang cinta yang tumbuh perlahan, dan tentang persahabatan yang diuji oleh jarak serta waktu. Dalam sinema dan drama Taiwan, melodrama bukan sekadar kisah romansa, tetapi ruang batin yang lembut sekaligus getir, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.
Di antara karya sinema itu, Wish To See You Again hadir sebagai cerita yang sederhana namun menyimpan resonansi emosional yang panjang. Melodrama Taiwan yang dibintangi Vic Zhou, Ken Zu, Vanessa Wu, dan artis kenamaan Taiwan yang aku tidak tahu selain jebolan Meteor Garden.
Namun sebenarnya, Wish to See You Again (judul aslinya: Zhe Li Fa Xian Ai) adalah serial drama Taiwan tahun 2008 ini tidak hanya mengandalkan kisah cinta, tetapi juga menghadirkan Taipei sebagai latar yang hidup, seperti kota yang ikut bernapas bersama para tokohnya. Drama ini diproduksi dengan dukungan dari Kantor Pariwisata Taiwan untuk mempromosikan berbagai destinasi wisata di Taiwan melalui alur ceritanya. Nuansa kota Taipei, taman-taman, jalanan, hotel, dan sudut-sudut kota bukan hanya latar, tetapi karakter tambahan yang ikut bercerita. Seolah-olah penonton diajak berjalan bersama Xu Li menyusuri kota sekaligus menyusuri batinnya.
Cerita film bermula dari tiga orang yang bersahabat sejak SMA, yaitu Xu Li (Vic Zhow), A Hao, dan Xio Ma (Ken). Masa SMA digambarkan sebagai masa ketika persahabatan terasa utuh. Ketika belum banyak rahasia, belum banyak jarak, dan hidup masih tampak seperti halaman kosong yang bisa ditulisi apa saja. Tetapi setelah lulus SMA mereka berpisah: Xu Li terus menulis, A Hao meneruskan bisnisnya, dan Xio Ma pergi ke Amerika.
Perpisahan itu bukan sekadar peristiwa, melainkan tanda bahwa kehidupan selalu menuntut pilihan. Xu Li memilih jalan sunyi seorang penulis, A Hao memilih kesinambungan usaha, sementara Xio Ma mengejar mimpi jauh di luar negeri. Cerita berjalan pada kisah Vic Zhou yang berperan sebagai Xu Li, seorang penulis novel populer yang mengalami kebuntuan ide (writer's block). Kebuntuannya menjadi simbol krisis batin ketika kata-kata tak lagi datang, ketika mimpi terasa jauh, dan seseorang mulai bertanya, apakah ia masih mampu menjadi dirinya sendiri.
Cerita kemudian ketiganya dipertemukan kembali dalam cerita penuh drama dan salah paham. Dapam pertemuan kembali itu seperti membuka pintu lama yang sudah lama ditutup. Kenangan lama muncul, perasaan lama menggeliat, dan hubungan yang dulu sederhana akhirnya menjadi rumit. Mulai dari antara A Hao dan Xio Ma yang terlibat cinta segitiga, keduanya mencintai wanita yang sama. Di sini melodrama bekerja dengan tajam: cinta bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga ujian, bahkan bagi persahabatan yang paling kuat.
Sementara Xu Li yang bermimpi jadi penulis, sambil nyambi supir taksi, menyukai Xia Ni, seorang pelayan hotel. Tokoh Xu Li terasa dekat dengan banyak orang: seorang pemimpi yang harus bertahan dalam realitas ekonomi. Xu Li melakukan pekerjaan sopir taksi di Taipei sebenarnya untuk mencari inspirasi dan untuk kembali bertemu dengan teman-teman lamanya. Taksi menjadi metafora perjalanan batinnya, yang membawa penumpang ke tujuan, tetapi juga membawa Xu Li berkeliling dalam lingkaran kenangan dan pencarian dirinya sendiri.
Kisah mulanya, Xu Li yang menyewa kamar untuk dapat konsentrasi menulis, dan disitulah keduanya bertemu, Xia Ni yang kaget saat mengantarkan pesanan Xu Li. Adegan ini tampak sederhana, tetapi justru di situlah kekuatan melodrama Taiwan. Dari pertemuan kecil menjadi titik balik besar. Xu Li tidak jatuh cinta dalam ledakan dramatis, melainkan dalam keseharian yang pelan-pelan berubah menjadi makna. Pertemuan demi pertemuan mereka, Xu Li berkata pada Xia Ni, “Hari ini cuaca mendung, tapi di hatiku ada hujan..” saat mereka jalan-jalan di taman.
Kalimat itu seperti puisi yang lahir dari kesepian. Langit mungkin hanya mendung biasa, tetapi hati manusia sering menyimpan hujan yang lebih deras daripada cuaca mana pun. Kemudian lanjutnya, ..tidak tahu sejak kapan. Setelah mulai, lalu pelan-pelan berubah menjadi kebiasaan. Setelah biasa, pelan-pelan berubah jadi penantian,” kata-kata ini yang menjadi pikiran Xu Li.
Mungkin itulah sebuah gambaran cinta yang dalam kisah ini tidak hadir sebagai sesuatu yang instan. Ia tumbuh seperti kebiasaan: mula-mula hanya pertemuan, lalu menjadi kebutuhan, lalu menjadi penantian yang diam-diam melelahkan.
Seperti kata peramal bahwa hari ini cuaca begitu kering, tapi di hatiku hujan deras mengalir. Metafora hujan terus mengalir dalam dialog dan batin Xu Li. Hujan menjadi simbol emosi yang tak pernah selesai: tentang rindu, kebuntuan, harapan, juga kesedihan yang tak terucapkan.
Selain Vic Zhou, drama ini juga dibintangi oleh anggota F4 lainnya, yaitu Ken Chu, serta Kingone Wang, Michelle Chen, dan Terri Kwan. Kehadiran para bintang ini menjadikan serial yang bukan hanya melodrama personal, tetapi juga produk budaya pop Taiwan pada masanya. Menariknya, dalam persahabatan mereka, yang sendiri-sendiri, tapi mencoba untuk saling peduli, kuperoleh kata-kata menarik: “Tidak ada yang mau sendiri. Juga tak ada yang sendiri.” Kalimat ini adalah inti cerita. Benar bahwa tidak ada manusia yang benar-benar ingin sendiri, dan bahkan ketika kita merasa terasing, pikiran kita selalu dibawa oleh benang halus yang menghubungkan kita pada orang lain: kenangan, cinta, persahabatan.
Xu Li selalu ingat kata-kata sahabatnya, “Dari pensil ini kau wujudkan mimpimu!
Pena dan pensil di sini bukan sekadar alat, tetapi simbol bahwa mimpi hanya bisa bertahan jika dituliskan, jika diperjuangkan, jika dihidupi. Demikian melodrama cinta dalam mewujudkan mimpi. Dari sebuah pena yang mengundang cinta dan menjadi kaya.
Namun kaya di sini bukan hanya soal materi. Ia adalah kekayaan batin, tentang pengalaman, luka, rindu, dan kata-kata yang lahir dari semuanya.
Drama ini bahkan memiliki lagu tema yang memperpanjang nuansanya. Vic Zhou menyanyikan lagu penutup berjudul "Waiting for You" (Deng Ni) yang ada dalam album solonya, I'm Not F4. Lagu itu seperti gema dari seluruh cerita tentang menunggu, merindukan, berharap seseorang kembali. Wish To See You Again bukan sekadar kisah cinta segitiga atau melodrama persahabatan. Ia adalah cerita tentang manusia yang berjalan dalam hujan batinnya sendiri.
Xu Li adalah simbol generasi yang bermimpi, tetapi sering terjebak dalam kebuntuan. Ia menulis, ia bekerja, ia mencintai, tetapi tetap bertanya-tanya: apakah hidup ini benar-benar menuju sesuatu, atau hanya berputar dalam penantian? Dan mungkin itulah pesan terdalamnya bahwa tidak ada yang benar-benar sendiri. Bahkan dalam kebuntuan, bahkan dalam hujan, selalu ada kata-kata, selalu ada seseorang yang ditunggu, selalu ada mimpi yang pelan-pelan menuntun kita pulang pada segala bentuk persahabatan. Sebab pernikahan pun adalah nama lain dari persahabatan. (Sal)