Adalah kehendak untuk menetap, sebagaimana plot gagasan Ibnu Khaldun tentang tata masyarakat: dari kehidupan nomaden menuju kehidupan menetap. Dalam kerangka itu, sejarah manusia bergerak dari pengembaraan menuju pembentukan komunitas yang lebih stabil, lalu kemudian lahirlah gagasan nation state (negara bangsa). Setelah negara terbentuk, mengemukalah eksistensi individual sebagai subjek sejarah, dan pada tahap berikutnya, di zaman kita hari ini, tercipta ruang pengakuan itu ramai oleh media sosial, tempat individu dan kelompok berlomba menegaskan keberadaannya.
Kehendak untuk menetap bukan sekadar persoalan geografis, melainkan pilihan eksistensial. Ia menuntut keberanian untuk bertahan, kesediaan menghadapi konflik, serta kesiapan membangun tatanan sosial yang lebih kompleks. Menetap berarti mengikat diri pada tanah, hukum, nilai, dan masa depan, sebagai sebuah keputusan yang selalu berisiko, tetapi justru di situlah sejarah bergerak.
Meski mulanya menetap di bawah sebuah pohon, tapi “setiap pohon punya ulatnya masing-masing”—kata Ertugrul. Dalam kehendak untuk menetap, setiap daun harus tahan terhadap ulat-ulat yang mengerat dirinya. Kalimat ini terdengar sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan politik dan sosial yang dalam: tidak ada tempat yang sepenuhnya aman, dan tidak ada komunitas yang bebas dari ancaman. Yang membedakan hanyalah kesiapan untuk menjaga, merawat, dan mempertahankan apa yang telah dipilih.
Kehendak untuk menetap, itu yang kukira ada dalam pikiran Ertugrul, dan juga ayahnya, Sulayman Shah. Ia pula yang tampak hadir dalam kesadaran si pembuat drama epik Turki yang baru kali ini kutonton, yang ternyata sudah mendekati tamat. Tentang duduk perkara siapa Ertugrul dalam sejarah bangsa Turki modern. Dialah Sang Ghazi Ertugrul, ayahanda dari Utsman, yang kepadanya haluan sejarah Turki Utsmaniyah hingga Turki modern disandarkan.
Di titik inilah serial Kebangkitan Ertugrul menemukan relevansinya. Serial drama sejarah populer asal Turki ini tidak sekadar mengisahkan tokoh heroik, tetapi menghadirkan pergulatan panjang sebuah suku yang sedang mencari masa depan. Ia menceritakan perjuangan Ertugrul Bey, pemimpin suku Kayi dari bangsa Turki Oghuz pada abad ke-13, dalam upaya menemukan tanah tempat mereka dapat hidup menetap dengan bermartabat.
Serial ini berfokus pada kehidupan Ertugrul Ghazi, ayah dari Utsman I (pendiri Kesultanan Utsmaniyah). Ceritanya mengikuti perjalanan suku Kayi yang terusir dan terombang-ambing, mencari tempat menetap sambil menghadapi berbagai musuh: Tentara Salib, Kekaisaran Bizantium, hingga serangan bangsa Mongol. Dalam setiap konflik itu, yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa, tetapi juga identitas, iman, dan kelangsungan komunitas.
Secara historis, Ertugrul digambarkan sebagai tokoh yang memperoleh wilayah di perbatasan dari Sultan Seljuk, Alauddin Kayqubad, sebagai imbalan atas jasanya menjaga kawasan tersebut dari serangan musuh. Wilayah perbatasan ini, yang tampak kecil dan rentan, justru menjadi cikal bakal berdirinya kekhalifahan Islam besar dan monumental di kemudian hari.
Tidak pernah tahu, bahkan mungkin dari pikiran Ertugrul masa itu. Dari tanah pinggiran itulah, akan membentang panjang sejarah Utsmaniyah yang perlahan tumbuh dan mengubah wajah dunia.
Dari sisi produksi, serial ini memiliki total lima musim dengan sekitar 448 episode (versi durasi internasional), menjadikannya salah satu drama sejarah terpanjang dan terlengkap dari Turki. Di Indonesia, serial ini pernah ditayangkan oleh stasiun televisi Trans7, dan kini dapat diakses melalui berbagai platform streaming seperti Netflix, sehingga menjangkau penonton lintas generasi dan lintas budaya.
Popularitasnya yang mendunia membuat serial ini kerap dijuluki sebagai “Game of Thrones versi Islam”. Namun, perbandingan itu sesungguhnya hanya tepat di permukaan. Yang membuat Dirilis Ertugrul (judul asli Kebangkitan Ertugrul) dapat bertahan dalam ingatan penontonnya bukan intrik politik semata, melainkan penekanan pada nilai-nilai kepahlawanan, keadilan, moralitas Islam, serta pergulatan batin seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan, iman, dan kemanusiaan.
Kisah Ertugrul kemudian dilanjutkan melalui sekuelnya, Kurulus: Osman, yang mengisahkan masa kepemimpinan putranya, Osman atau Utsman Ghazi. Di sana, kehendak untuk menetap bertransformasi menjadi kehendak untuk membangun negara, sebuah transisi dari sekadar bertahan hidup menuju pendirian peradaban baru.
Kebangkitan Ertugrul dapat dibaca sebagai cermin panjang sejarah manusia: bahwa setiap peradaban besar berawal dari kelompok kecil yang berani memilih untuk menetap, meski tahu bahwa “setiap pohon punya ulatnya masing-masing.” Serial ini mengingatkan kita bahwa stabilitas, negara, bahkan identitas modern yang kini kita nikmati, lahir dari keberanian menghadapi ketidakpastian, kesetiaan pada nilai, dan kesediaan membayar harga sejarah.
Di tengah dunia kontemporer yang kembali gaduh oleh perebutan identitas dan pengakuan, kisah Ertugrul mengajukan satu pertanyaan sunyi namun mendasar: di mana kita memilih untuk menetap, dan nilai apa yang bersedia kita pertahankan ketika ulat-ulat itu datang? (Sal)