Malam demi malam berlalu, hingga sampailah aku pada satu malam yang diam-diam menandai pergantian musim. Musim bergeser tanpa suara, seperti jam pasir yang ditiup napas tak terlihat. Malam-malam panjang itu merayap pelan, menggerus hari, menyeretku ke dalam kebimbangan yang hening. Kebimbangan yang tak meledak, tapi menetap, seperti kabut tipis di dada dan menghalangi pandangan mata.
Sepulang dari bekerja, tubuhku selalu jatuh ke kasur kamar kos, seperti seonggok batu yang dilepaskan dari tebing tanpa aba-aba. Pekerjaan yang katanya hanya “duduk” untuk aktivitas menjurnal transaksi, mengakuisisi angka, mengonsolidasi laporan, ternyata tak pernah benar-benar sekadar duduk. Ia adalah pertempuran sunyi di dalam kepala, perang yang tak meninggalkan luka di kulit, tapi menggerogoti pelan dari dalam. Otak serasa ladang yang terus dipacu, dipaksa berbuah tanpa jeda, sementara tubuh hanyalah alat yang setia menyangga seluruh keletihan itu.
Setibanya di kamar kos, aku tak melakukan apa pun selain melesakkan badan ke atas kasur, seolah kasur adalah satu-satunya tanah aman setelah hari yang panjang. Aku merebahkan kepenatan dari sibuk seharian, dari pikiran yang berputar tanpa rem. Lelah itu terasa ganjil. Dengan pekerjaan yang cukup duduk, tapi menghabiskan tenaga seperti menggali lubang dengan pikiran sendiri. Meski repetitif, meski tampak ringan dari luar, kepenatan menjalar perlahan, sejak masih di kantor, dengan satu keinginan sederhana yang terus diulang di kepala: ingin lekas rebah, ingin diam, ingin berhenti sejenak dari menjadi manusia yang harus berpikir.
Tenaga terkuras, sementara makan tak pernah benar-benar bergizi. Ada ironi kecil yang terus kupelihara: keinginan membentuk tubuh ideal lewat olah raga, sementara asupan hanya sekadar menunda lapar. Nasi seadanya, lauk yang itu-itu saja. Cukup untuk bertahan, tak pernah cukup untuk pulih. Otot ingin dibentuk, tubuh ingin seimbang, tapi kantong lebih dulu menjerit. Hidup di kota rasanya seperti menukar tenaga dengan sisa-sisa napas yang tak pernah cukup, seperti berlari di tempat dengan dada yang semakin sempit.
Dalam rebah malam itu, saat lampu kamar dibiarkan redup dan tubuh mulai menyerah, layar ponselku tiba-tiba menyala. Satu getaran kecil, tapi cukup untuk mengusik ketenangan yang rapuh. Sebuah pesan masuk, dan seketika jantungku bergetar, seperti disentuh ingatan lama yang belum benar-benar mati. Nama pengirimnya muncul di layar: Elisa, dan seketika malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Ia adalah seseorang yang lama hilang dari radar hidupku. Entah aku atau dia yang lebih dulu menjauh, entah jarak itu dibangun perlahan atau dibiarkan tumbuh sendiri. Yang jelas, waktu telah menaruh kami di dua garis yang tak lagi sejajar. Namun kini, jarak panjang itu seolah diringkus hanya oleh satu getaran notifikasi, oleh satu nama yang tiba-tiba kembali meminta ruang di dadaku.
Percakapan dimulai dengan hal-hal yang paling aman: kabar, kesibukan, basa-basi yang rapi tapi tak pernah jujur sepenuhnya. Kata-kata mengalir seperti air dangkal. Tenang di permukaan, tapi menyimpan arus di bawahnya. Tak lama, pembicaraan bergerak ke sesuatu yang lebih dalam, lebih rawan, seolah sejak awal perahu ini memang ditujukan ke sana, ke pelabuhan yang dulu pernah kami singgahi tanpa janji.
Dari sekadar bertanya kabar dan kegiatan, percakapan itu merambat pada maksud yang sebenarnya: mempertanyakan keadaan perasaan, mempertanyakan kepergian, mempertanyakan alasan menghilang. Ada kegelisahan lama yang hendak disibakkan. Apakah aku pergi karena takut, atau dia yang memilih diam.
Dan di ujung semua itu, ada satu pertanyaan yang menggantung, menunggu keberanian untuk dijatuhkan: jangan-jangan sekarang dia sudah menikah. Pertanyaan itu berdiri sendiri, seperti batu besar di tengah jalan, menunggu untuk disingkirkan atau ditabrak.
Aku ingin menanyakan itu secepatnya, sebelum keberaniannya runtuh. Tapi rupanya ia lebih dulu melangkah ke sana. Dengan tiba-tiba, tanpa banyak pengantar, ia menuliskan pertanyaan itu—“Haya, kapan kamu menikah?” Nada kalimatnya enteng, hampir bercanda, tapi justru di situlah letak beratnya. Pertanyaan serius yang disamarkan sebagai gurauan.
Bagiku, itu bukan lagi sekadar pertanyaan. Ia terasa seperti todongan pistol yang diarahkan tepat ke batin. Nada pesannya ringan, nyaris santai, tapi dampaknya menusuk seperti sebilah pisau yang mengoyak lapisan dada. Sebab itu bukan hanya tentang pernikahan, bukan hanya tentang waktu, melainkan tentang usia, tentang keterlambatan, tentang hidup yang diam-diam bergerak tanpa menungguku. Ia adalah pukulan keras ke ruang sunyi batinku. Ruang yang selama ini kuhuni sendiri, dengan segala penyangkalan dan ketakutan yang tak pernah benar-benar selesai.
Kupaksa diriku menanggapinya dengan wajar, atau setidaknya berpura-pura wajar. Pertanyaan itu, toh, sudah terlalu sering mampir di hidupku, seperti tamu tak diundang yang merasa berhak duduk di ruang tamu siapa pun. Dari tetangga, saudara, teman lama, bahkan rekan kerja yang sekadar mengisi jeda di pantry kantor. “Kapan menikah?” adalah versi sopan dari “kapan mati?” Pertanyaan tentang waktu yang tak pernah benar-benar ingin tahu jawabannya, tapi gemar menekan atau semacam perundungan yang dinormalisasi.
Terlalu sering orang bertanya seperti itu, bertanya kapan menikah yang rasanya sama saja seperti bertanya kapan aku selesai hidup. Pertanyaan yang mengukur umur dengan kalender orang lain. Namun tetap harus kuanggap biasa, sewajarnya, sebagai percakapan antar orang dewasa yang konon sudah paham batas. Apalagi ini datang dari Elisa. Dari seorang perempuan yang lama kukenal dan lama tak saling berkabar. Dia mungkin yang pernah menitipkan hati, lalu membiarkannya berdebu tanpa penjelasan.
Karena jika bukan dia yang bertanya, akan kuibaratkan pertanyaan itu seperti stum yang main seruduk saja, meratakan jalan hidup siapa pun tanpa peduli apa yang sedang dibangun di sana. Alat berat bernama norma sosial, yang bekerja tanpa rasa. Tapi Elisa rupanya tak berhenti di situ. Ada jeda sejenak, lalu pesan berikutnya meluncur, lebih pelan tapi jauh lebih dalam:
“Sekarang Elis lagi bingung. Bagaimana sikapmu terhadapku?”
Aku membaca ulang kata-katanya, sekali, dua kali, seperti menggosok kaca buram untuk mencari celah makna. Ada kebingungan di sana, tapi juga ada tuntutan yang diam-diam.
Lalu kujawab, dengan nada yang separuh bercanda, separuh menantang, seolah humor bisa melunakkan kebenaran yang pahit:
“Kenapa harus bingung? Sebenarnya yang kita mau itu pernikahan jiwa atau sekadar transaksi?”
Pertanyaan itu kulempar kembali, bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai cermin. Sebuah upaya membedakan antara pernikahan sebagai pertemuan batin dan pernikahan sebagai kesepakatan untung-rugi, yang diam-diam, aku pun bertanya pada diriku sendiri.
Beberapa detik hening. Hening yang terasa lebih panjang dari waktunya, seperti napas yang tertahan di dada. Lalu balasannya datang, pendek saja: “Ah aku cape menerima logikamu.”
Kalimat itu terdengar seperti penyerahan, seperti seseorang yang meletakkan senjata bukan karena kalah, tapi karena lelah. Mungkin selama ini ia mencoba memahami sudut pandangku. Menyadari ada sisi-sisi benarnya, namun lama-lama jengah. Seperti berdiri terlalu lama di depan pintu yang tak kunjung terbuka.
Aku tersenyum pahit menatap layar, senyum yang lebih mirip refleks daripada perasaan. Ingatanku melayang pada suatu waktu, ketika aku pernah mengajaknya berdiskusi tentang akad pernikahan. Tentang ijab dan kabul yang pada hakikatnya adalah kontrak hukum. Tentang hukum yang lahir untuk mencegah kezaliman, untuk memastikan siapa yang dirugikan bisa menuntut keadilan. Percakapan yang kala itu terdengar teoritis, tapi sesungguhnya lahir dari kegelisahan yang nyata.
Kusampaikan padanya: bukankah itu pertanda pamrih, pertanda keuntungan? Pernikahan, kataku saat itu, kadang tak lebih dari upaya formal agar cinta bisa diikat oleh pasal. Agar perasaan yang rapuh diberi tongkat bernama hukum. Kata-kata itu membuat Elisa terdiam kala itu. Mungkin diam yang tak kutahu apakah karena setuju, bingung, atau sekadar menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan.
Apakah pernikahan cukup dikokohkan oleh hukum dan kekuatan hukum semata? Sementara hukum hanya mengatur agar tak ada yang saling menzalimi. Ia berbicara tentang siapa yang dirugikan dan bagaimana menuntut kerugian. Tapi soal luka batin, soal kecewa yang tak kasatmata, soal sunyi yang tumbuh perlahan, semua itu tak pernah benar-benar bisa disidangkan.
Karena itu, hukum bagiku tak lebih dan tak kurang adalah urusan pamrih dan keuntungan. Ia bekerja pada yang terukur, bukan pada yang terasa. Saat itu Elisa hanya terdiam. Mungkin sedang mencerna, mungkin sedang menimbang apakah pikiranku terlalu dingin atau justru terlalu jujur. Namun kini, ketika gagasan yang sama kembali kuhadirkan, ia tak lagi memilih diam. Ia memilih berbicara:
“Aku sudah berumur, Haya. Kamu juga,” jawabnya.
Kata-kata itu jatuh perlahan, seperti daun tua yang dilepas angin tanpa perlawanan. Tak ada nada marah, tak ada tekanan, justru karena itulah ia meninggalkan gema hening yang panjang. Aku terdiam sejenak, terbawa suasana, mencoba menangkap apa yang sebenarnya hendak disampaikan Elisa lewat kalimat yang singkat tapi berat itu.
Agar percakapan tetap bernapas, agar suasana tak runtuh oleh kesunyian yang terlalu serius, aku mencoba mencairkannya. Kujawab spontan, hampir refleks: “Tidak, aku masih muda.” Sebuah bahan bercanda yang kugenggam seadanya. Sebuah cara untuk menunda pembicaraan yang terlalu dekat dengan kenyataan. Aku ingin menjaga jarak dari sesuatu yang, kalau disentuh terlalu lama, bisa melukai.
“Ya laki-laki mah gitu,” balasnya. “Tapi aku perempuan, Haya.”
Lalu kalimat itu mengalir seperti kelelahan yang lama disimpannya. “Aku capek. Terlalu banyak omongan. Terlalu banyak tuntutan. Keluarga, tetangga, siapa saja.” Kata-katanya terdengar seperti napas yang dikeluarkan perlahan setelah ditahan bertahun-tahun. Ada letih yang tak perlu diterangkan, karena ia sudah tumbuh di setiap jeda.
Aku ingin membalas dengan lantang: Sampai kapan kau mau dijajah oleh omongan orang? Aku ingin menepisnya dengan kalimat yang tegas: Kau mau mendengar hatimu sendiri atau suara orang lain? Tapi semua itu kutahan. Kata-kata itu terasa terlalu keras untuk ruang yang rapuh. Aku tak ingin menjadi hakim bagi lelahnya.
Sebagai gantinya, kutulis dengan nada yang lebih lunak, lebih berhati-hati: “Kita hidup di tengah masyarakat. Mau tak mau, kita perlu memahami perasaan umum yang berlaku. Tak mungkin selamanya menginginkan pertemanan murni seperti dulu.” Kalimat yang terasa aman, nyaris klise, tapi itulah satu-satunya jembatan yang bisa kupijak tanpa merobohkan apa pun.
Apa yang kusampaikan sesungguhnya adalah perkara paling biasa tentang manusia sebagai makhluk sosial. Kita hidup bermasyarakat. Kita belajar membaca norma, menimbang pandangan umum, meski sering kali itu berarti menekan diri sendiri. Kita tak bisa berharap segalanya tetap murni, apalagi jika yang terlibat adalah laki-laki dan perempuan sebagai dua jiwa, dua tubuh yang selalu dibaca dengan prasangka.
Balasan darinya tak segera datang. Ada jeda yang cukup lama, seolah ia menimbang kata-kataku seperti menimbang barang rapuh di telapak tangan. Lalu ia menulis:
“Masing-masing kita punya kepentingan untuk hidup bermartabat dan mendapat tempat di tengah masyarakat.”
Kalimat itu terdengar rapi, nyaris seperti kesimpulan dari diskusi panjang yang tak pernah benar-benar kami selesaikan.
“Ya, aku mengerti,” jawabku lirih, sambil mengangguk pada layar yang tak bisa melihat gerakku. Sebuah persetujuan yang lebih banyak datang dari akal ketimbang hati. Setelah itu, ia seperti merasa perlu meluruskan sesuatu, atau mungkin merasa bersalah karena terdengar terlalu tegas.
“Tapi bukan maksudku ingin ada orang datang menolongku. Aku tidak ingin terlihat lemah,” tulisnya.
Lalu jeda lagi, seolah ia mencari kata yang tepat. “Aku hanya…. hanya ingin menjelaskan dulu. Supaya kamu tidak salah paham.” Kalimat itu terputus-putus, seperti langkah orang yang ragu memasuki ruangan yang pernah ia tinggalkan.
Aku menarik napas panjang. Kata-katanya terasa seperti pintu yang hampir tertutup, tapi masih menyisakan celah kecil tempat cahaya masuk. Sebuah peluang yang tak jelas apakah hendak dibuka atau dibiarkan.
“Bukan begitu maksudku. Bukan maksud menghubungimu ini,” tulisnya lagi, lalu berhenti. Kalimat itu menggantung, tak selesai, seperti pikiran yang takut pada kesimpulannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia melanjutkan, lebih pelan:
“Pasti kamu mengerti tentang kesalahpahaman itu.”
Dan di situlah percakapan kami berdiri. Di antara kata-kata yang diucapkan dan yang sengaja tak diteruskan. Di celah sempit antara niat dan ketakutan, antara usia dan perasaan yang belum benar-benar mau selesai.
“Elis, kita sama-sama tahu,” tulisku akhirnya, setelah menimbang lama di ujung jemari. “Pernikahan dan transaksi itu berbeda. Pertolongan dan pernikahan pun jauh berbeda.” Kalimat itu kuletakkan perlahan, seperti meletakkan benda rapuh di meja. “Aku bukan tidak mau menikah. Tapi aku harus bertanya lebih dulu: dengan apa aku menikahimu?”
Aku melanjutkan, kali ini tanpa berkelit. “Aku hanya pegawai rendahan, dengan gaji yang pas-pasan. Gaji yang sudah bisa ditebak ujungnya setiap bulan.” Ada jeda singkat, seolah aku sendiri sedang mengukur keberanian. “Aku bahkan sering punya alasan untuk tidak pulang, untuk tidak menemuimu, kalau tak ada alasan rasional, alasan yang bisa kuterima oleh logikaku sendiri.”
Lalu kututup dengan pertanyaan yang sejak lama mengendap di dada: “Apa yang bisa kupersembahkan? Apa yang bisa kubanggakan di hadapanmu?”
Kutegaskan lagi, hampir seperti mengulang sumpah pada diri sendiri: “Mengerti antara pertolongan dan pernikahan itu sangat jauh berbeda.” Aku tahu pengulangan ini bisa terdengar keras, tapi bagiku ia perlu. “Aku takut jalinan pernikahan yang kita inginkan pada akhirnya tak lebih dari transaksi yang disepakati diam-diam.”
“Bukannya aku tak mau menikah,” tulisku sekali lagi. “Tapi apa yang sudah kupunya, Elis? Kalau uang belum cukup, tak banyak yang bisa kulakukan.”
Aku mengakui semuanya di hadapan Elisa, tanpa sisa. Bahwa aku hanyalah pegawai rendahan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk bernapas satu bulan ke bulan berikutnya. Bahwa datang ke Yogya bukan perkara rindu semata. Untuk apa aku datang, kalau tak punya alasan rasional. Sebagai alasan yang bisa diterima oleh logika perusahaan untuk memberiku tugas audit, atau sekadar cuti sebentar. Sementara ongkos, akomodasi, dan waktu selalu harus dihitung berkali-kali.
Bahkan untuk rindu pun, aku harus berhemat. Aku melanjutkan, kali ini lebih panjang, seperti seseorang yang akhirnya menumpahkan beban yang terlalu lama disimpan sendirian.
Negeri ini sudah lama merdeka, katanya. Setiap orang berhak atas kesempatan. Tapi aku tahu betul, tanpa uang, orang tak pernah benar-benar merdeka. Percuma negara berteriak tentang kesempatan yang sama dan merata, jika seseorang tak punya daya untuk melangkah.
Kesempatan tanpa uang hanyalah pintu tanpa gagang. Tanpa uang, aku tak bisa bergerak banyak. Bahkan untuk memilih pun aku sering kehabisan pilihan.
Bagaimana mungkin aku memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain, jika aku tak punya uang?
Keadaannya sama seperti negara yang kehabisan anggaran: lumpuh, terhenti, aktivitas sosial dan ekonomi berjalan tertatih. Begitu pula aku. Bisa berjalan, tapi dengan langkah yang selalu ditahan oleh perhitungan.
Elisa tak segera menjawab. Barangkali ia membaca pelan-pelan, menimbang tiap kalimat seperti menimbang berat yang tak pernah ia minta. Atau mungkin ia hanya terdiam, memandang layar, mencari kata yang tak melukai siapa pun. Terlebih ketika aku mulai menyebut kondisi perusahaan tempatku bekerja, tentang ketidakpastian yang bahkan tak bisa kujanjikan pada diriku sendiri.
Dan di jeda itulah, semua yang tak tertulis terasa jauh lebih berat daripada yang sudah kukatakan.
“Perusahaanku persis keadaanku,” tulisku. “Mau melangkah, tapi selalu tersendat ongkos. Mau menumbuh, tapi modal menipis.” Kalimat itu terasa seperti pengakuan ganda. Tentang perusahaan, dan tentang diriku sendiri. Dua hal yang berjalan sejajar dalam keterbatasan yang sama.
Memberi tahu Elisa tentang kondisi keuangan perusahaan tempatku bekerja mungkin itu jawaban defensif. Bahwa aku berada di bagian keuangan, orang yang sehari-hari menuliskan angka, membaca laporan, dan memahami betapa rapuhnya deret-deret nominal itu. Angka-angka tampak rapi di layar, tapi di baliknya ada kegelisahan yang terus berdenyut. Aku ikut turun ke kantor-kantor cabang untuk melakukan audit internal, dan dari sanalah aku tahu: cabang-cabang itu tak benar-benar tumbuh. Mereka hanya bertahan, sambil perlahan menambah beban bagi kantor pusat.
Dari sudut pandang keuangan, kantor cabang lebih sering tampak sebagai lubang yang kian dalam. Pemasaran menyebutnya strategi jangka panjang. Dan mungkin mereka benar. Dari sudut mereka, membuka cabang berarti melebarkan sayap, menjangkau pasar seluas-luasnya, dengan konsekuensi ongkos besar di awal. Sebuah pertaruhan: mengeluarkan banyak sekarang, demi menuai hasil entah kapan. Pertumbuhan selalu menuntut pengorbanan, kata mereka.
Aku memahami itu. Aku pernah berdiri di posisi pemasaran sebelumnya. Aku tahu logika ekspansi, tahu pentingnya menjangkau, tahu mimpi besar yang tak bisa dibangun dengan langkah kecil. Tapi kini aku berdiri di sisi lain. Di sisi angka yang harus seimbang, di sisi kas yang harus dijaga agar tak runtuh sebelum mimpi itu sempat tumbuh.
Sekiranya aku mendapat tunjangan besar di akhir tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin aku bisa menikah. Mungkin. Tapi sebagai orang keuangan, aku tahu betul kondisi perusahaan. Aku tahu harapan itu rapuh. Aku tahu janji bonus sering kali lebih dulu tumbang ketika laporan keuangan dibuka. Aku mengerti keuangan, dan cukup mengerti pula pemasaran. Justru karena mengerti dua-duanya, aku tahu betapa sempit ruang gerakku.
“Dan aku berdiri di tengah semua itu, Elis,” tulisku lagi, mengulang dengan nada yang lebih pelan. “Keadaan perusahaanku persis seperti keadaanku secara pribadi.”
Apa yang kuinginkan selalu tersendat oleh saldo tabungan yang tak kunjung menebal. Bahkan sering kali menipis, hanya karena perjalanan yang sebenarnya tak perlu, karena rindu yang harus ditunda, karena hidup yang menuntut perhitungan di setiap langkahnya.
Aku berhenti menulis di sana. Karena pada titik itu, tak ada lagi yang bisa dijelaskan dengan angka. Semua sudah berubah menjadi perasaan. Perasaan terjepit di antara keinginan untuk tumbuh dan kenyataan yang terus meminta ditunda.
“Sama seperti keadaanku. Dan mungkin juga keinginnamu,” tulisku lagi. Mencoba merangkum semuanya, “yang memerlukan asupan modal untuk melaksanakan visi hidupku—menikah.” Visi itu terdengar besar. Padahal sesederhana ingin hidup bersama seseorang tanpa rasa takut. “Sama halnya seperti perusahaan yang membutuhkan modal untuk menggerakkan kantor-kantor cabang. Medan dan tantangannya tak bisa dipukul rata.” Begitu pula manusia, pikirku, tak pernah benar-benar bisa diseragamkan.
Termasuk keadaanku sendiri, yang tak jauh berbeda dengan keadaan banyak orang. Di usia yang perlahan bergerak menuju tua, pilihan hidup terasa semakin sempit. Setiap orang memiliki kemampuan dan ketahanan yang berbeda-beda: ada yang memilih menikah secepatnya, meski bekal pikirannya belum sepenuhnya matang. Ada pula yang terus menunda, hingga suatu hari tersadar bahwa waktu telah berjalan terlalu jauh untuk diajak berkompromi.
Menikah muda dengan keberanian yang kadang ceroboh, atau menunggu terlalu lama dengan kewaspadaan yang berlebihan, keduanya sama-sama menyimpan risiko. Dan di ujung pertimbangan itulah, kalimat Elisa kembali terngiang, kalimat yang ia ucapkan dengan tenang tapi menghentikan banyak hal:
“Aku sudah berumur, Haya. Kamu juga.” Ucapan itu membuat percakapan kami jatuh ke dalam hening yang panjang. Hening yang tak kosong, melainkan penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak punya jawaban cepat. Dalam sela keheningan itu, aku menimbang visiku sendiri: tentang hidup, tentang pernikahan yang bersisian dengan realitas pekerjaanku yang kerap memaksa menunda apa pun yang tak bisa dihitung.
Dan sekali lagi, kalimat Elisa itu berputar di kepalaku, berulang-ulang, seperti gema di lorong sempit: Aku sudah berumur, Haya. Kamu juga. Kalimat yang sederhana, nyaris datar, tapi menyimpan beban usia, tuntutan sosial, dan getir waktu yang tak pernah bisa dibalik. Kalimat yang tak menuduh, tapi cukup kuat untuk membuat siapa pun menunduk, menyadari bahwa tidak semua hal bisa ditunggu sampai siap.
Malam itu, setelah pesan terakhir terkirim, aku tak segera meletakkan ponsel. Ada sesuatu di dadaku yang mulai bergeser, seperti bangunan tua yang retaknya tak lagi bisa disangkal. Selama ini aku berdiri di atas logika berupa angka, hitungan, dan kehati-hatian yang merasa aman di sana. Tapi usia punya cara sendiri untuk merobohkan keyakinan, bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan yang terus berulang.
Aku menyadari batinku tak lagi seteguh yang ingin kutampilkan. Bukan karena aku tiba-tiba ingin menyerah, melainkan karena waktu perlahan menyingkap batas. Ada lelah yang tak bisa dijelaskan oleh laporan keuangan mana pun. Ada cemas yang tak bisa ditutup dengan alasan rasional. Aku mulai mengerti: kegoyahan ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa aku masih hidup dan masih ingin berharap.
Di sisi lain, aku membayangkan Elisa, duduk sendiri dengan ponsel di tangannya. Barangkali ia juga sedang menimbang kata-kata yang tak kunjung dikirim. Ketakutannya bukan tentang siapa yang akan menolong, melainkan tentang ditinggalkan oleh waktu. Tentang menjadi perempuan yang terus diminta sabar, sementara dunia di sekelilingnya tak pernah benar-benar sabar padanya.
Aku tahu, pengakuannya belum selesai. Ada kalimat yang tertahan di antara jeda-jeda pesan. Ketakutan yang belum berani ia namai: takut menunggu terlalu lama, takut salah memilih, takut pada kemungkinan bahwa cinta tak selalu datang bersama kesiapan. Ketakutan yang tak ingin ia serahkan sebagai beban, tapi juga tak sanggup lagi dipikul sendirian.
Malam itu tak melahirkan keputusan apa pun. Ia hanya mempertemukan dua ketakutan yang berbeda, namun berakar pada hal yang sama: waktu yang terus berjalan. Aku dengan hitungan dan penundaan, Elisa dengan usia dan tuntutan. Kami berdiri berhadap-hadapan, bukan sebagai dua orang yang siap melangkah, melainkan sebagai dua manusia yang sama-sama ragu.
Dan mungkin, di situlah kisah ini perlu berhenti sejenak. Di antara niat yang belum menjadi tekad, dan pengakuan yang belum sepenuhnya terucap. Ketika keberanian, atau kelelahan, akhirnya memaksaku dan Elisa jatuh pada masing-masing pilihan untuk sekali lagi dipertemukan. (Bersambung)