Jakarta tetap gaduh di siang hari. Klakson, langkah tergesa, dan suara bising lain tak pernah benar-benar mau berhenti. Namun ketika malam menjelma menjadi ruang asing bagiku, seperti halaman rumah yang tiba-tiba berganti alamat. Setiap kali aku menutup mata, aku merasa melangkah ke sebuah pintu lain: pintu yang tidak berderit, tidak terkunci, tapi selalu membawaku pada Elisa. Pintu itu sunyi, namun di baliknya ada denyut yang terus memanggil, pelan tapi tak pernah padam.
Malam demi malam aku tertidur dengan ragu yang bercampur harapan setipis serat cahaya. Perasaanku seperti seseorang yang berdiri di peron kosong, menunggu kereta dengan jadwal yang tak pernah diumumkan. Entah kereta itu akan datang menjemput, atau justru telah lewat tanpa suara. Aku menunggu tanpa kepastian, dan ketidakpastian itu sendiri menjadi kebiasaan yang melelahkan.
Dan pada suatu malam, mimpi itu kembali datang. Pada tidur yang ke sekian, membawaku pada mimpi berada di sebuah jalan sunyi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Namun entah mengapa terasa begitu akrab. Aku berdiri di sana seperti orang yang pulang ke tempat yang tak pernah ia tinggali, tapi pernah ia rindukan. Jalan itu asing, namun dekat. Seolah pernah kulewati dalam hidup lain yang tak sempat kuingat secara utuh.
Di kiri dan kanan jalan, pohon-pohon tinggi berdiri seperti penjaga bisu. Batangnya gelap, diam, dan seakan menyimpan rahasia yang lebih tua dari ingatan manusia. Lampu jalan menggantung rendah, berpendar redup seperti lilin yang hampir habis napasnya. Angin berhembus pelan membawa bau tanah basah dan daun terbakar, membuat dadaku terasa sesak, seolah setiap tarikan napas harus meminta izin lebih dulu.
Di ujung jalan itu, aku melihat Elisa berdiri. Wajahnya samar, diselimuti cahaya kuning yang goyah, seperti lukisan yang ditinggalkan pelukisnya sebelum diselesaikan secara utuh. Beberapa helai rambutnya tergerai dari balik kerudung, bergerak halus mengikuti angin. Matanya menatapku. Dalam, tenang, sekaligus jauh. Tatapan seseorang yang mengenalku, namun seperti hampir lupa dari mana ingatannya berasal.
Aku ingin mendekat. Tapi keinginan itu membentur tubuhku sendiri. Kakiku berat, seperti terikat bayangan yang tak kasatmata. Aku mencoba melangkah, namun tanah di bawah kakiku berubah menjadi lumpur pekat, menelan setiap niat secara perlahan. Semakin aku berusaha bergerak, semakin aku tenggelam dalam diam.
Elisa tetap di sana. Ia tidak berjalan, tidak memanggil, hanya menatap. Tatapannya tenang, seperti air danau yang dalam, menyimpan sesuatu yang tak bisa diangkat ke permukaan. Tangannya menggantung di sisi tubuh, lalu perlahan terangkat, memberi isyarat samar, antara undangan dan penolakan. Isyarat yang membiarkanku menebak, tanpa pernah memberi jawaban.
Aku memanggil namanya. Namun suaraku pecah sebelum sempat sampai. Serak, patah, dan terdengar asing bahkan bagi telingaku sendiri. Seolah suara itu bukan milikku, melainkan gema dari seseorang yang tertinggal terlalu lama di dalam diri.
Elisa membuka bibir. Gerakannya lambat, hati-hati, seperti seseorang yang hendak mengucapkan sesuatu yang telah lama ia pendam. Namun suara yang keluar bukan suara yang kukenal. Bukan kata, bukan bahasa. Hanya getaran yang sampai ke telinga.
Getaran itu bergaung di kepalaku, lebih tajam dari klakson Jakarta, lebih dingin dari angin malam yang menyusup tulang. Suara itu terdengar seperti mantra tua yang berlapis gema, seolah diucapkan oleh banyak mulut dalam satu waktu. Mulut-mulut yang tak terlihat, tapi terasa dekat.
Dan kata-kata itu tertinggal di udara. Demikian katanya, “Jangan menunggu terang. Di sini semua cahaya hanyalah bayangan.”
Kalimat itu jatuh ke dadaku seperti hujan batu. Berat, dingin, dan menyisakan nyeri yang lama reda. Udara di sekelilingku bergetar aneh. Angin berubah menjadi desiran yang tak beraturan. Pohon-pohon di kiri dan kanan jalan bergerak tak wajar, ranting-rantingnya melilit seperti tangan manusia yang mencari pegangan. Bayangan mereka bergeser, memanjang, memendek, seolah hidup dalam redup.
Dari kejauhan, terdengar suara gamelan samar, bertalu-talu, bercampur dengung listrik. Sebuah harmoni ganjil yang tak pernah kupelajari, namun terasa akrab di telinga. Nada-nada itu membuat tengkukku merinding, seperti panggilan dari sesuatu yang tak bisa kusebut namanya.
Elisa kemudian melangkah satu kali ke arahku. Hanya satu langkah, lalu berhenti. Bibirnya kembali bergerak, tapi yang keluar hanyalah bisikan. Tak jelas, tak utuh. Seperti doa dalam bahasa asing, atau pesan yang sengaja disamarkan agar tak sepenuhnya dimengerti.
Aku mengulurkan tangan, mencoba meraih jemarinya yang hampir kugapai. Namun sentuhannya dingin, nyaris transparan, seperti kabut yang lolos dari genggaman. Wajahnya berpendar, lalu berubah-ubah. Kadang sebagai wajah yang kukenal, kadang wajah asing, kadang hanya cahaya putih tanpa bentuk.
“Kenapa kau diam?” tanyaku. Namun Elisa tetap menatap. Matanya seperti dua sumur gelap yang menyimpan seluruh jawaban, tapi tak pernah mengizinkanku menimba satu pun wadah yang bisa kubasuh wajah.
Dan di dalam tatapan itu, aku tahu: tidak semua pertanyaan diciptakan untuk dijawab, dan tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk selesai.
Lalu tiba-tiba tanah bergetar. Getarannya kecil mula-mula, seperti napas yang salah irama, lalu merambat ke seluruh tubuh jalan. Jalanan itu memanjang tanpa ujung, meregang seperti waktu yang kehilangan arah. Lampu-lampu jalan padam satu per satu, bukan meledak, hanya mati perlahan, seolah menyerah pada malam. Kegelapan pun turun, menutup segalanya dengan kesunyian yang pekat.
Elisa berjalan mundur. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, seperti seseorang yang telah memutuskan untuk pergi tanpa ingin diingat. Tubuhnya kian samar, tepinya larut bersama gelap, hingga akhirnya ia menyatu sepenuhnya dengan ketiadaan. Tidak ada tanda perpisahan, tidak ada kata terakhir. Hanya jarak yang tiba-tiba menjadi mutlak.
Aku berlari mengejarnya. Atau setidaknya mencoba. Namun kakiku masih berat, seakan setiap langkah harus menembus beban penghalang yang tak kasatmata. Aku menjerit memanggil namanya, mengerahkan sisa suara yang kupunya. Namun yang kembali hanyalah gema suaraku sendiri yang berpantul, berlapis-lapis, hingga aku tak lagi tahu siapa yang memanggil, dan siapa yang dipanggil.
Lalu gelap itu runtuh.
Aku terbangun dengan napas terengah, dada naik turun seperti baru saja lolos dari tenggelam. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Sunyi kamar kos menekanku pelan. Rasanya mimpi itu meninggalkan sesuatu yang nyata. Sebuah sisa yang enggan pergi. Aroma samar masih menggantung di udara, entah dari mimpi atau dari ingatan. Cahaya lampu jalan menembus jendela, memantulkan bayangan ke dinding, memanjang dan bengkok seperti potongan mimpi yang belum selesai.
Ponsel di samping kasur tetap sepi. Layarnya hitam, dingin, tak bernapas. Tidak ada pesan, tidak ada tanda, tidak ada apa pun yang bisa kugenggam sebagai bukti. Aku duduk lama di tepi kasur, menyalakan rokok dengan tangan yang sedikit gemetar. Asapnya naik perlahan, membentuk garis-garis tipis, lalu pecah di udara. Seperti wajah Elisa yang baru saja menghilang dari mimpiku.
Aku bertanya-tanya, entah mimpi itu hanya permainan otak yang kelelahan, atau memang ia benar-benar datang lewat jalan lain. Jalan yang tidak bisa kuterangkan dengan logika, tidak bisa kuceritakan tanpa terdengar mengada-ada. Mungkin ia memang telah datang, namun hanya dalam cara yang tak memberi ruang bagi pemahaman. Datang tanpa hadir, dekat tanpa menyentuh.
Mungkin diamnya adalah balasan. Bukan lewat kata-kata, bukan lewat layar ponsel, melainkan lewat mimpi yang justru membuatku semakin sulit membedakan terang dan kegelapan. Diam yang tidak kosong, melainkan penuh, dan karena itu terasa berat.
Kata-kata dalam mimpi itu kembali terngiang: “Jangan menunggu terang. Di sini semua cahaya hanyalah bayangan.” Kalimat itu berputar-putar di kepalaku seperti roda yang tak menemukan ujung jalan. Aku mulai bertanya-tanya: mungkin balasan Elisa memang sudah datang. Bukan sebagai pesan yang bisa kubaca, melainkan sebagai diam yang menjelma mimpi.
Sejak malam itu, aku tak lagi yakin apakah aku yang menunggu Elisa, atau justru Elisa yang menunggu aku. Mungkin di suatu tempat yang tak memiliki alamat, yang perlahan menarikku masuk. Tempat di mana gelap bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan ruang untuk tersesat dengan sadar.
Sejak malam itu pula, kata-kata Elisa dalam mimpiku tak pernah benar-benar pergi. Kalimat itu seperti benang halus yang menjerat malam-malamku, mengikatku pada sesuatu yang tak bisa kulihat. Aku mulai takut tidur, karena tahu apa yang mungkin kutemui. Namun pada saat yang sama, aku selalu menantikannya. Seolah hanya di dalam mimpi aku bisa menemukan sesuatu yang tak pernah sanggup diberikan oleh dunia nyata.
Dan benar.
Suatu malam, mimpi itu datang lagi. Tidak sekaligus, tidak tergesa. Tapi ia datang seperti tamu yang menepati janji yang tak pernah diucapkan. Beberapa malam setelahnya, Elisa kembali masuk ke dalam tidurku, pelan, nyaris tanpa tanda.
Dalam mimpi itu, aku mendapati diriku duduk sendirian di kamar kos. Segalanya persis seperti kenyataan: meja kayu kecil dengan cat yang terkelupas seperti luka lama, tumpukan kertas berserakan tanpa urutan, laptop terbuka dengan layar kosong yang menyala putih, seputih niat yang kelelahan. Lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di dinding kusam, bayangan yang tak pernah benar-benar diam.
Semuanya terasa nyata, bahkan terlalu nyata. Seolah aku tidak sedang bermimpi, melainkan terjebak di sela-sela kesadaran yang lupa cara terbangun.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Elisa kini duduk di kursi menghadap meja.
Ia menunduk, menulis sesuatu di selembar kertas dengan pena hitam. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah, dan gerakannya begitu tenang, begitu menyatu dengan ruang, seperti seseorang yang telah lama tinggal di sana. Seperti seseorang yang tahu persis di mana harus duduk, dan apa yang harus ditulis.
Sesekali ia berhenti. Menatap kertas itu lama, seolah mendengarkan sesuatu yang hanya bisa ia dengar, lalu kembali menulis. Aku ingin bicara. Ingin menyebut namanya dengan suara yang utuh. Tapi suaraku hilang, tersangkut di tenggorokan, seakan ruangan itu menelan kata-kataku sebelum sempat keluar. Diam di kamar itu bukan kosong, melainkan padat menekan.
Kehadirannya membuatku berdiri perlahan dan melangkah mendekat. Kursi berderit pelan di belakangku, suara kecil yang terasa terlalu keras. Namun Elisa tak menoleh. Dari jarak dekat, aku bisa melihat apa yang ia tulis.
Bukan huruf yang kukenal. Bukan bahasa yang pernah kupelajari selama ini. Aksara asing memenuhi kertas. Seperti tulisan kuno yang lahir sebelum lidah manusia menemukan suara. Huruf-hurufnya merangkai indah, melengkung dan patah, dan baris-barisnya bergetar pelan, menyala samar, seolah hidup dan siap melompat keluar dari permukaan kertas.
“Elis… Elisa…” bisikku akhirnya.
Suaraku keluar dengan susah payah, seperti memaksa diri menembus dinding tipis.
Ia berhenti menulis. Tangannya terhenti di udara. Lalu perlahan ia menoleh. Matanya menatapku. Mata yang sama seperti dulu. Namun kini menyimpan sesuatu yang lain. Di dalamnya ada cahaya kecil, seperti nyala lilin yang dipeluk bayangan, rapuh tapi tak padam.
Bibirnya bergerak. Namun yang keluar hanyalah bisikan panjang, mengalir, seperti doa dalam bahasa yang tak pernah kutahu. Aku tidak mengerti kata-katanya, tapi aku merasakan dampaknya. Udara di kamar bergetar. Kipas angin berhenti berputar. Bahkan asap rokok yang tersisa di asbak seakan membeku, mengeras di udara, membentuk garis-garis kaku.
“Elis, apa yang kau tulis?” tanyaku, dengan ucapan keras. Tapi suaraku kali ini pecah, seperti benda rapuh yang dipaksa utuh.
Ia tak menjawab. Ia kembali menunduk dan menulis lagi. Kali ini lebih cepat. Lebih keras. Pena menari liar, seperti digerakkan oleh sesuatu yang tak terlihat. Dan dari ujung pena itu, tinta perlahan berubah menjadi darah, tipis mula-mula, lalu mengalir, meresap ke kertas, menetes ke lantai.
Aku menjerit dan melangkah mundur. Jantungku berdegup kacau. Tapi Elisa tetap menulis. Wajahnya memucat, matanya kosong, tidak lagi menatapku, seolah aku telah dikeluarkan dari keberadaannya. Seolah yang penting hanyalah tulisan itu.
Tiba-tiba ia berhenti.
Ia menutup pena, melipat kertas itu dengan hati-hati, dengan penuh kasih, lalu meletakkannya di atas meja. Tangannya gemetar. Ia menatapku sekali lagi. Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar jelas. Suara dingin, tajam, dan menusuk tepat ke dadaku.
“Bacalah… tapi jangan percayai sepenuhnya.”
Sekejap kemudian, lampu padam.
Gelap turun tanpa peringatan, menelan segalanya.
Aku pun terbangun dengan napas tersengal. Keringat membasahi tubuhku, meski udara dini hari menusuk dingin. Jantungku masih berlari ketika aku meraba saklar lampu dengan tangan gemetar. Kamar itu benar-benar gelap. Padahal aku yakin sebelum tidur lampu kupasang hidup, tapi redup.
Lampu menyala kembali.
Kamar kosong.
Tak ada Elisa. Tak ada kertas di meja. Tak ada tanda apa pun. Namun di asbak, abu rokok membentuk pola aneh. Menjadi semacam garis-garis halus yang menyerupai aksara yang kulihat dalam mimpi.
Aku terduduk lama, tak berani menyentuh apa pun. Mengulang mimpi itu di kepalaku, sepotong demi sepotong guna merangkainya. Sejak malam itu, aku mulai merasa batas antara tidur dan terjaga semakin kabur. Elisa seakan benar-benar datang. Bukan lewat pesan, bukan lewat suara, melainkan lewat ruang gelap yang setia menunggu di setiap malamku.
Beberapa malam setelah mimpi kedua, aku mulai merasakan sesuatu yang ganjil. Rasa itu tumbuh pelan, seperti retak halus di dinding kesadaran. Aku mulai takut pada tidurku sendiri. Tidur yang dulu kuanggap jeda, kini berubah menjadi pintu yang selalu setengah terbuka. Tak pernah lagi hening. Bahkan sebelum memejamkan mata, aku bisa merasakan kehadiran dingin di sudut kamar. Seperti ada seseorang yang menunggu dengan sabar, tanpa suara, tanpa gerak, tapi penuh niat.
Aku mencoba menunda tidur. Menyalakan musik dengan volume rendah, membiarkannya mengisi ruang yang terasa terlalu lapang. Menyalakan rokok satu batang demi satu batang, membiarkan asap menggantung seperti tirai tipis. Namun kantuk tetap datang, perlahan tapi pasti, menelan semua perlawanan.
Dan pada malam itu, mimpi ketiga datang. Mimpi datang mengunjungi tidurku, atau aku tidur untuk mengunjungi mimpi itu. Tapi mungkin tidak yang sekarang sebagai kunjungan, melainkan sebagai tanda, benar-benar tanda. Tanda yang tak lagi bisa kuhindari akan makna pertanda.
Dalam mimpi aku berdiri di sebuah jalan panjang. Jalan itu asing, namun juga akrab. Seperti jalan dalam mimpi-mimpi sebelumnya. Jalan itu terasa seperti kumpulan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai: trotoar Jakarta yang retak dan penuh bekas langkah, pohon-pohon tua dari kampung halaman yang diam menyimpan masa lalu, lampu jalan kuning pucat seperti di Yogyakarta yang selalu tampak sendu. Semuanya hadir bersamaan, berlapis-lapis, tak utuh. Seperti serpihan kaca yang dipaksa membentuk satu dunia baru.
Di ujung jalan itu, Elisa berdiri.
Ia mengenakan gaun putih tipis yang berkibar pelan, seolah disentuh angin yang hanya mengenalnya. Wajahnya pucat, namun senyumnya tenang, terlalu tenang untuk sebuah pertemuan. Matanya menatapku lama, dalam, dengan sorot yang tak bisa kuterjemahkan. Di dalam sorot itu ada sesuatu yang tak bisa kusembunyikan dari diriku sendiri: rindu yang bercampur pamit. Rindu yang tahu batasnya, seperti hendak pamit yang sudah lama dipersiapkan.
Aku melangkah mendekat. Namun di antara kami ada dinding kaca yang tak terlihat. Lantai di bawah kakiku berubah menjadi bayangan pekat, menyerap suara langkahku, membuat setiap gerak terasa berat. Kakiku seperti menjejak cairan kental, lengket, seolah dunia sendiri menahan agar aku tak terlalu cepat.
“Elis…” panggilku.
Suaraku nyaris serak, seperti nama itu telah terlalu sering kusebut tanpa jawaban.
Elisa hanya mengangkat tangannya perlahan dan tersenyum samar. Tangannya terulur, seolah ingin meraihku. Namun udara di antara kami membentang kaku, menjadi jarak yang tak bisa diringkas.
Aku menepuk dinding tak kasatmata itu, mencoba menembusnya, mencoba percaya bahwa jarak bisa dilanggar. Tapi yang kudapat hanya gema hampa, dingin, tanpa pantulan.
“Elis, jangan pergi. Aku belum siap.”
Kata-kata itu keluar begitu saja, lebih sebagai pengakuan daripada permohonan. Dan untuk pertama kalinya dalam mimpi itu, Elisa benar-benar berbicara dengan bahasa yang kumengerti. Suaranya bening, namun dingin. Seperti tetes air yang jatuh di dasar gua, terdengar jelas karena kesunyiannya sendiri.
“Aku tidak pernah benar-benar di sini,” katanya pelan.
“Kau hanya menahan bayangan.”
Aku ingin menyangkal. Ingin mengatakan bahwa bayangan pun bisa tinggal. Namun kata-kata itu mati sebelum sempat lahir.
“Jangan memanggilku lagi,” lanjutnya, suaranya tetap tenang, tanpa amarah. “Aku harus berjalan sendiri.”
Setelah itu, Elisa berbalik badan. Langkahnya ringan, hampir tanpa jejak. Gaun putihnya perlahan menyatu dengan cahaya yang menipis.
Dan aku tahu, tanpa ada kata yang mengatakannya secara langsung, bahwa mimpi ini bukan lagi tentang pertemuan, melainkan tentang pelepasan. Tentang belajar menerima bahwa tidak semua yang datang ingin tinggal, dan tidak semua yang pergi bisa ditahan, bahkan oleh cinta yang paling sunyi.
Langkah-langkahnya perlahan menjauhkan tubuhnya dariku. Setiap pijakan seperti keputusan yang tak bisa ditarik kembali. Aku berteriak, memanggil namanya dengan sisa tenaga yang kupunya, namun suaraku terlempar kembali, terpatahkan oleh ruang yang menolak mendengar. Aku ingin menahan laju langkahnya, ingin mengikatnya dengan kata-kata, tetapi seluruh ucapanku terperangkap di dada, mengendap menjadi nyeri.
Elisa semakin jauh. Tubuhnya kian samar, tepinya larut ke dalam kabut yang turun tanpa suara. Gaun putihnya memudar perlahan, seperti cahaya yang kehabisan alasan untuk tinggal. Di setiap jejak kakinya, bunga-bunga kecil tumbuh seketika. Mekar dengan cepat, indah dalam sekejap, lalu layu, lalu lenyap, seolah hidup mereka hanya diciptakan untuk menandai perpisahan. Jalan yang tadi panjang kini menyempit, tampak seperti jembatan rapuh yang membentang di atas kegelapan tak bernama.
Aku berlari. Aku mencoba menyusulnya dengan tubuh yang digerakkan oleh panik dan harapan yang terlambat. Namun setiap kali aku berlari, jarak justru bertambah. Elisa makin jauh, makin kabur, hingga akhirnya ia tinggal seberkas cahaya putih yang bergetar, lalu perlahan memudar di balik kabut.
Sebelum benar-benar lenyap, ia sempat menoleh sekali lagi. Gerakannya pelan, hampir ragu. Bibirnya bergerak, namun tanpa suara. Hanya bentuk kata yang samar. Seperti seseorang yang mengucapkan selamat tinggal tanpa ingin didengar.
Dan seketika dunia itu runtuh.
Lampu-lampu jalan padam bersamaan, seperti mata yang dipaksa terpejam. Pohon-pohon tumbang tanpa suara, tanah di bawah kakiku retak, membuka celah yang tak memberi pilihan. Aku terjatuh ke dalam jurang hitam yang tak berujung, jatuh tanpa pegangan, tanpa arah. Yang tersisa hanyalah gema suaranya, berulang-ulang, menempel di kepalaku seperti mantra yang tak bisa dihapus:
“Aku tidak pernah benar-benar di sini…”
Aku terbangun dengan tubuh basah oleh keringat. Napasku pendek, dadaku sesak. Udara kamar terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Kulirik jam sudah pukul tiga pagi. Lampu yang kupasang semalam padam dengan sendirinya, meninggalkan kamar dalam keadaan remang yang asing.
Aku menoleh ke meja kecil di sudut kamar. Di sana ada sesuatu yang tak kuingat pernah ada. Sebuah benda kecil, rapuh, seolah tak berasal dari dunia ini: setangkai bunga kertas kering, warnanya pudar, kelopaknya kaku.
Aku menatapnya lama. Terlalu lama. Mencoba mencari penjelasan, mencoba menautkan logika dengan ingatan. Namun tak ada yang bisa menjelaskan keberadaannya. Tak ada urutan sebab-akibat. Tak ada jawaban yang masuk akal. Hanya satu perasaan yang berdiri jelas, tak terbantahkan:
Benarkah Elisa telah berpamitan?
Benarkah mimpi hanyalah bunga tidur, sebagai endapan ketakutan dan rindu yang menyamar menjadi kisah saat kesadaran melemah? Atau benarkah, sejak malam itu, setidaknya di dalam mimpi, Elisa memang tak akan datang lagi?
Pertanyaan itu tak menuntut jawaban. Ia hanya tinggal. Seperti bunga kering di atas meja. Diam, rapuh, dan menolak dilupakan.
Sejak malam itu, aku tidak lagi mempercayai tidur sebagai tempat beristirahat. Ia berubah menjadi wilayah abu-abu, tempat ingatan dan bayangan saling menyamar. Setiap kali aku memejamkan mata, ada rasa ragu yang menyelinap lebih dulu. Bukan takut akan mimpi, melainkan takut pada apa yang mungkin ditinggalkan mimpi setelah aku terbangun.
Aku belajar bahwa kepergian tidak selalu datang dengan pintu yang dibanting atau kata perpisahan yang jelas. Kadang ia hadir sebagai diam yang terlalu rapi, sebagai bayangan yang perlahan memudar, sebagai sesuatu yang tidak lagi datang. Elisa mungkin telah pergi, atau mungkin belum pernah benar-benar tinggal. Namun rasa yang ia tinggalkan tetap nyata, seperti bekas duduk di kursi kosong yang masih hangat.
Bunga kering di atas meja tidak pernah kupindahkan. Ia menjadi penanda yang tak bernama. Bukan kenangan, bukan pula bukti. Ia hanya ada. Setiap kali kupandang, aku teringat bahwa ada pertemuan yang hanya bisa terjadi di antara tidur dan terjaga, di wilayah yang tak bisa dicatat dengan tanggal dan jam. Wilayah yang tidak menuntut kepastian, hanya keberanian untuk mengingat.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah aku benar-benar merindukan Elisa, atau aku hanya takut pada ruang kosong yang ia tinggalkan? Apakah yang kukejar adalah dirinya, atau bayangan tentang diriku sendiri ketika masih berharap? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak kutemukan jawabannya. Mereka tumbuh seperti akar, menyusup pelan, menahan langkah tanpa terlihat.
Malam-malam pun kembali datang, satu per satu, membawa kemungkinan yang sama: mimpi lain, atau ketiadaan yang lebih sunyi. Aku tidak lagi menunggu dengan penuh harap, tapi juga tidak sepenuhnya menutup pintu. Ada bagian dalam diriku yang masih percaya bahwa tidak semua perpisahan adalah akhir. Tapi sebagian hanya jeda yang terlalu panjang untuk dipahami.
Dan jika suatu malam Elisa kembali, atau jika ia tidak pernah kembali sama sekali, aku tahu satu hal: kisah ini belum selesai. Ia hanya sedang belajar berjalan lebih pelan, menyiapkan ruang bagi bab berikutnya, di mana terang dan gelap tidak lagi saling meniadakan, melainkan saling menguji. (Bersambung)