Layar Gelap

Aku bangun dengan kepala berat. Seperti sudah menanggung mimpi yang terlalu lama disimpan di dasar...

Layar Gelap

17 Jan 2026
225 x Dilihat
Share :

Layar Gelap

Aku bangun dengan kepala berat. Seperti sudah menanggung mimpi yang terlalu lama disimpan di dasar tubuh. Mengendap dan tak pernah benar-benar mampu mengurainya. Kepalaku serasa gudang yang tak sempat kubersihkan dan bereskan, penuh bayangan yang belum sempat ku beri nama, karen tahu-tahu sudah menumpuk tanpa tahu urutannya. 

Bangun dari tidur seolah aku baru terlelap hanya sebentar. Semalam memang aku pulang larut dan langsung terkapar. Begitu sampai kamar kos langsung menyerahkan tubuh pada kasur tanpa sempat berpamitan pada keadaan hari. Sebab lelah yang jatuh lebih dulu daripada kesadaran. Tubuh menyerah bahkan sebelum pikiran sempat mengucapkan selamat datang pada tidur. 

Rasa lelahnya seperti itulah. Seperti aku baru kembali dari sebuah perjalanan jauh dan teramat melelahkan. Padahal aku hanya pergi dan pulang dari bekerja. Tapi seperti telah melakukan perjalanan yang menuntut segalanya. Perjalanan yang tak pernah benar-benar kutahu kapan dimulainya. Karena mungkin tanpa peta dan memberi penanda mana yang penting dan bukan penting, mana yang utama dan mana yang selingan.

Namun dalam tidur yang rapuh itu aku bermimpi yang tiba-tiba saja aku berada di tengah jalan, lalu terus berjalan, tanpa peta dan tujuan yang jelas. Mimpi yang terasa lebih nyata daripada bangun. Lalu di ujung mimpi, tubuhku seperti diseret perlahan, dipanggil tanpa suara, menuju sebuah jembatan penyeberangan. Jembatan itu berdiri sunyi, seperti batas yang tak pernah dijelaskan. Di sana, kabut tipis turun pelan-pelan, mula-mula ramah lalu menebal, menutup arah dan jarak, seperti masa depan yang sengaja menyembunyikan wajahnya agar tak mudah ditebak. Seakan diatur agar tetap misteri bagiku.

Setelah nyawa berkumpul, satu per satu datang dari berbagai dimensi diri yang sempat terlepas. Seperti orang-orang yang baru saja selamat dari kecelakaan kecil yang tak pernah dicatat dunia, barulah aku tersadar: aku bangun pagi di kamar kos di Cikoko Pancoran, dengan tubuh yang masih asing pada dirinya sendiri.

Kesadaran itu datang terlambat, dengan tubuh masih terasa asing. Ranjangku sempit, sprei kusut seperti peta perjalanan yang tak selesai kubaca, penuh lipatan dan arah yang saling bertabrakan. Dari sana aku menengok jendela kos yang lebih menyerupai celah. Menyaksikan pagi datang dengan lambat, seakan ragu apakah ia layak masuk ke ruang sekecil dan sesempit ini.

Lalu aku mencium udara yang jenuh, bercampur bau logam dan debu jalanan. Bau kehidupan kota yang terus bergerak tanpa pernah benar-benar singgah. Bau yang tak memberi harapan, tapi juga tak sepenuhnya menolak. Di sela bau dan cahaya itu, ingatan tentang jembatan berkabut semalam kembali menyapa. Sebagai ingatan samar namun mengendap. Seperti pesan yang belum sempat disampaikan, dan mungkin memang tak pernah menemukan si penerima dengan alamat yang jelas.

Aku mengingat mimpi itu lebih jelas. Rasanya masih tertinggal di dada, deru napasnya seakan belum sepenuhnya reda. Gambarannya aku merasa seperti seseorang yang baru saja pulang dari perjalanan panjang. Entah ke mana, entah dengan siapa, lalu secara tiba mendapati diriku berdiri sendirian di jembatan penyeberangan menuju halte BKPM Pancoran. 

Namun jembatan itu berdiri seperti batas. Bukan hanya antara dua sisi jalan, melainkan antara sadar dan lupa, antara pulang dan tersesat. Aku berdiri di sana dalam mimpi, dan mungkin juga dalam hidup: menunggu sesuatu yang tak entah apa namanya.

Mungkin mimpi itu datang karena kebiasaan. Setiap pekan, sabtu atau minggu, aku sering pergi berolahraga di Taman Tebet. Rutinitas kecil yang kupegang seperti pegangan tangan di tangga licin. Saat menyeberang dari Cikoko Pancoran, aku sering menengok ke timur ketika berada di jembatan penyeberangan itu. Menyaksikan matahari yang menyembul malu-malu dari balik gedung-gedung tinggi di Jalan MT. Haryono. Matahari itu selalu datang dengan ragu, seperti seseorang yang tak yakin apakah kehadirannya benar-benar dibutuhkan.

Dari sana dunia tampak separuh hidup. Setengah diterangi, setengah ditelan bayangan. Seperti kehidupan yang berjalan pincang, tak pernah utuh. Sebab sinar matahari hanya menyinggahi punggung gedung-gedung itu. Membelai kaca dan beton, tapi enggan turun lebih jauh. Cahaya memantul di dinding-dinding kaca, lalu patah sebelum menyentuh tanah. Seperti harapan yang kandas di tengah jalan. Sinarnya tak pernah sampai ke gang kecil tempat kosku berdiri, gang yang seolah dilupakan waktu dan cuaca.

Seakan-akan ada garis tak kasatmata yang menahan terang itu agar tak memasuki hidupku. Garis tipis tapi tegas, seperti keputusan yang tak pernah diumumkan. Sebab langkahku lebih akrab dengan gelap. Membuatku setiap kali melangkah, aku merasa bukan kakiku yang benar-benar bergerak. Seperti ada sesuatu di dalam diriku yang diam-diam memegang kemudi, menuntunku ke arah lain. Bukan pada cahaya, melainkan pada kegelapan yang sudah kukenal sejak lama. Kegelapan yang tak selalu menakutkan, tapi selalu menuntutku untuk diam dan berjalan perlahan.

Barangkali semua itu hanyalah gambaran pikiran yang baru saja dihantam kenyataan. Pikiran yang belum sempat pulih. Masih terengah seperti paru-paru setelah berlari terlalu jauh. Sebab terlalu lama aku berada di dalam kamar pengap, ruang sempit yang menyimpan bau tubuh dan sisa-sisa hari. Kamar ketika aku pergi, selepas lampu kupadamkan, gelap menutup segalanya dengan patuh, seperti tirai yang jatuh sebelum pertunjukan benar-benar usai. Bahkan sebelum tubuhku sepenuhnya berada di luar dan menerima sorot matahari, kegelapan sudah lebih dulu menetap di dalam kepalaku. 

Dan saat aku melangkah keluar, mencari terang demi sebuah keperluan sederhana, terasa seperti ada sesuatu dalam diriku yang justru memilih berbelok. Ada bagian dari diriku yang tak sabar menunggu cahaya, yang lebih dulu melangkah masuk ke kegelapan, seolah di sanalah ia merasa paling dikenal.

Mungkin begitulah nasib manusia: selalu berjalan di antara terang dan gelap, tak pernah benar-benar menetap di salah satunya. Seperti jarum jam yang terus bergerak tanpa pernah bertanya mengapa ia harus berputar ke arah itu, atau sering kali bergerak ke arah yang bahkan tak dimengerti oleh waktu sendiri. Mungkin di situ bahwa hidup berjalan, bukan karena kita paham, melainkan karena kita tak punya pilihan lain. 

Seperti saat aku meraih ponsel yang tergeletak di meja, benda kecil yang kini memikul harapan terlalu besar. Layarnya gelap, menunggu disentuh, menunggu terang, menunggu sesuatu muncul. Entah sebuah balasan, atau tanda kecil yang mengatakan bahwa kata-kataku telah sampai di hati Elisa, atau setidaknya dapat singgah sebentar di sana.

Layar ponsel itu masih gelap, dan aku terus menatapnya terlalu lama, seperti menatap langit malam sambil berharap satu bintang menjawab. Aku masih menunggu, dan terus menunggu, dengan kesabaran yang mulai retak. Namun sekian lama berlalu, layar itu tetap kosong. Hitamnya seperti sumur yang menelan pandangan, menarik mataku jatuh ke dalamnya tanpa gema. Hitamnya seperti sumur tanpa dasar, tempat harapan dilemparkan tapi tak pernah terdengar bunyi saat menyentuh tanah. Layar itu keras kepala dalam caranya sendiri: sepi, dingin, tanpa denyut, seolah ia tahu betul bagaimana caranya membuat seseorang merasa sendirian.

Sesekali ia berkedip, memberi cahaya singkat yang segera padam. Namun yang datang hanyalah kabar-kabar remeh: promo belanja online, tawaran pinjaman cepat, berita basi tentang politik Jakarta yang terasa semakin jauh dari hidupku. Notifikasi-notifikasi itu seperti suara orang-orang asing yang menyela duka. Seolah seluruh dunia masih berisik, masih sibuk berbicara tentang dirinya sendiri, kecuali satu nama yang paling ingin kudengar. Dunia tetap berisik, berisik sekali, hanya Elisa yang memilih diam. Diamnya terasa lebih nyaring dari segala bunyi.

Aku lalu menyalakan laptop, berpikir barangkali aku bisa menulis saja, menyingkirkan waktu dengan kata-kata. Namun jari-jariku kaku, seperti lupa cara menjadi perantara pikiran. Mereka enggan mengikuti apa yang berkecamuk di kepala. Setiap kata terasa seperti batu yang terlalu berat untuk diangkat, dingin dan keras di telapak tangan. Kata-kata tak mau keluar, seperti kuda liar yang menolak dijinakkan, meringkik di dalam dada tapi tak pernah benar-benar berlari ke halaman kertas.

Sebab yang terus muncul hanyalah bayangan Elisa. Bayangan yang tak mau berubah bentuk. Mungkin ia sedang duduk di sebuah tempat di Yogyakarta, di kafe kecil atau di sudut kamar, membaca pesanku lalu memilih diam. Mungkin ia sedang marah, atau lelah, atau sudah terlalu jauh melangkah untuk kembali setelah memutuskan pergi. Barangkali ia telah menjelma menjadi sesuatu yang lebih jauh dari sekadar seseorang: suara samar yang hanya bisa kudengar di sela kesunyian, gema yang tak lagi punya tubuh, namun terus tinggal di dalam kepalaku, dengan lebih nyata daripada cahaya pagi yang masuk ke kamar.

Hari-hari kemudian bergulir seperti kaset lama yang diputar ulang. Suaranya serak, gambarnya buram, tapi tetap saja diputar karena tak ada pilihan lain. Aku tetap berangkat ke kantor, tetap menatap angka-angka yang berbaris rapi di layar komputer, angka-angka yang bergerak tanpa perasaan. Aku tetap berdesakan di dalam busway dan KRL yang sesak, tubuh-tubuh saling berhimpitan tanpa saling mengenal. Namun di sela-sela semua itu, ada kebiasaan kecil yang terus kulakukan tanpa sadar: melirik ponsel. Seolah-olah nama Elisa akan tiba-tiba muncul di layar, seperti hujan yang jatuh mendadak, membawa segalanya kembali ke semula.

Aku menjalani hari-hari dengan rasa menunggu yang aneh, rasa menunggu yang tak punya bentuk. Sebab hampir di setiap jeda, aku kembali melirik ponsel, membuka daftar pesan masuk, menelusuri nama-nama yang bukan dirinya. Kadang aku merasa Elisa sedang menulis pesan panjang di tempat lain, jari-jarinya menari di layar dengan hati-hati, merangkai kata yang mungkin berat. Namun entah mengapa, pesan itu tak pernah sampai. Seolah ada tangan tak terlihat yang menghapus semua huruf sebelum sempat menyeberang ke hidupku, sebelum sempat menjadi nyata.

Tubuhku mengikuti ritme kota. Berjalan, berhenti, bergerak lagi. Seperti mesin yang sudah hafal jalurnya. Namun pikiranku selalu terikat pada satu layar gelap, layar yang diam tapi penuh kemungkinan. Kadang aku membayangkan ia sedang menulis balasan panjang, kata-kata yang mampu menyalakan ulang hidupku, menyalakan kembali ruang-ruang yang mulai padam. Tapi kemudian ia sengaja menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Sampai akhirnya tak ada yang terkirim, kecuali satu hal yang paling berat: diam.

Dan malam-malam pun terasa semakin panjang. Di kamar kos, aku menyalakan lampu redup, duduk sendiri menghadap meja kecil yang dipenuhi kertas berserakan. Catatan, potongan ide, dan sisa-sisa niat. Cahaya lampu memantulkan bayangan ke dinding kusam, memanjangkan bentuk-bentuk yang tak pernah benar-benar ada. Malam membuat kamar kosku serupa ruang gaib, tempat setiap benda seolah memiliki roh sendiri, dan setiap bayangan tampak seperti kenangan yang belum siap pergi.

Saat kubuka kembali catatan lama yang pernah kami buat bersama di Tamantirto. Tentang kampung halaman, tentang inisiatif masyarakat, tentang kota agropolitan dan usaha pertanian, aku merasa seperti membaca sesuatu yang asing. Kata-katanya masih sama, tersusun rapi seperti dulu. Namun catatan itu seperti kehilangan rohnya. Ia terdengar seperti suara jauh yang bergema dari masa lalu, suara yang tak lagi memiliki tubuh untuk berdiri di masa kini.

Dulu, kata-kata itu terasa hidup, seperti benih yang siap tumbuh begitu menyentuh tanah. Dulu, kata-kata itu adalah doa masa depan, diucapkan dengan keyakinan yang sederhana. Kini ia terdengar seperti bisikan orang mati, gema dari ruang yang tak bisa kusentuh lagi. Ia masih ada, tapi tak lagi bernapas. Ia hanya gema, samar, kehilangan arah pulang.

Ponsel tetap sepi.

Layarnya masih gelap.

Diamnya terasa semakin berat.

Pada suatu malam lain, aku terbangun mendadak pukul tiga dini hari. Entah karena mimpi yang tak sempat selesai, entah karena udara pengap yang menekan dada. Di kamar yang terasa sempit, malam terasa terlalu dekat. Aku meraih ponsel, menyalakan layar dengan harapan kecil yang hampir memalukan. Namun tetap tidak ada apa-apa dari Elisa. Hanya hening digital yang terasa lebih sunyi daripada malam itu sendiri.

Di sisa malam, aku duduk di tepi kasur, menyalakan rokok murahan, menghisapnya pelan-pelan. Asapnya berputar di udara kamar yang sempit, menggantung sejenak, lalu menghilang entah ke mana. Dalam sekejap yang nyaris tak masuk akal, asap itu membentuk rupa samar. Seperti wajah Elisa. Lalu perlahan pecah dan lenyap, seolah menertawakanku karena berharap terlalu jauh.

Asap yang berkelindan sejenak lalu lenyap itu membawa arti. Arti yang tak pernah benar-benar tegas, tapi cukup untuk menyentak kesadaran. Ia seperti jawaban yang tak pernah datang dalam bentuk yang kuinginkan. Dan di situlah aku mulai mengerti: mungkin jawaban memang tidak selalu datang sebagai pesan. Kadang ia hadir sebagai diam yang panjang, sebagai jeda yang tak pernah diisi. Barangkali itulah pesan itu sendiri, pesan akan diamnya Elisa.

Malam demi malam aku tertidur dengan rasa ragu yang bercampur harapan tipis. Harapan yang nyaris transparan, tapi masih cukup untuk membuatku menunggu. Rasanya seperti berdiri di peron sunyi, menunggu kereta yang tak pernah jelas jadwalnya. Entah akan tiba suatu saat, entah sudah lewat begitu saja tanpa tanda, tanpa suara, tanpa pamit. Aku terlelap dengan pikiran setengah terbuka, seolah takut jika benar-benar tidur, aku akan melewatkan sesuatu yang mungkin datang.

Jakarta tetap bising. Kota ini tak pernah peduli pada satu kehilangan kecil. Hidup tetap berjalan dengan langkah cepat dan suara klakson yang tak putus. Elisa tetap diam, diamnya utuh dan tak terjangkau. Dan aku—aku hanya duduk di tengah semuanya, di antara bising dan hening, menunggu sesuatu yang mungkin tak akan kembali. Menunggu sesuatu yang mungkin sejak awal tak pernah benar-benar kembali, kecuali dalam kepalaku sendiri.

Hari-hari di kantor berlalu tanpa makna, seperti kalender yang sobekannya jatuh begitu saja ke lantai. Pekerjaan selesai, hari berganti, tapi tak ada yang benar-benar menetap. Hari-hari di Jakarta terus bergulir tanpa satu pun suara jawaban dari Elisa. Ponselku tetap sepi, hanya diisi pesan-pesan singkat dari atasan: laporan telat, rapat dipercepat, revisi mendadak. Kalimat-kalimat itu kering, tak bernapas, tak memberi ruang untuk merasa. Semua terasa hambar, seperti hidup yang hanya dijalani demi bertahan, bukan demi memahami.

Aku mencoba menulis setiap malam, duduk di meja kecil yang sama, menatap halaman kosong yang makin terasa asing. Namun tulisan-tulisanku mulai kehilangan arah. Kalimat-kalimatnya seperti jalan buntu yang berulang-ulang kutemui, setiap belokan kembali ke titik semula. Semua yang kutulis terdengar seperti gema dari suaraku sendiri, memantul ke dinding kamar kos yang sempit, lalu pecah dan hilang sebelum sempat menjadi apa-apa.

Kadang, di tengah kebuntuan itu, aku mendengar suara samar dari luar jendela kos. Suara langkah kaki yang berhenti sebentar, seolah seseorang berdiri tepat di depan pintu, ragu untuk mengetuk, lalu menghilang begitu saja. Pernah pula kudengar suara kucing mengeong panjang di kejauhan, nada suaranya seperti memanggil satu nama yang hanya aku tahu. Suara itu mengiris pelan, lalu lenyap, meninggalkan getar di dada.

Ada malam ketika aku merasa seseorang berdiri di ujung ranjang saat aku baru saja terlelap. Tubuhku mendadak kaku, napasku tertahan, seolah udara menolak masuk ke paru-paru. Aku membuka mata dengan jantung berdegup terlalu cepat. Namun yang kulihat hanya bayangan kipas angin yang berputar, memantulkan cahaya lampu redup ke dinding kusam. Bayangan itu membentuk siluet yang menyerupai seseorang yang sedang menunggu. Dengan diam, sabar, dan tak berkata apa-apa.

Malam-malam semacam itu menumbuhkan lubang di dalam diriku. Lubang yang perlahan makin dalam, makin gelap, seperti sumur yang digali oleh kesunyian. Malam demi malam terasa seperti jalan menuju sesuatu yang tak bisa kuterangkan dengan bahasa apa pun. Dan tanpa kusadari, aku mulai terbiasa dengan hening yang tidak wajar itu, hening yang awalnya menyakitkan, lalu berubah menjadi kebiasaan.

Suatu sore, setelah kantor bubar, aku naik KRL seperti biasa. Kereta penuh sesak oleh tubuh-tubuh yang berdesakan, tubuh-tubuh yang saling menempel tanpa saling mengenal. Napas orang-orang bercampur menjadi satu, hangat dan pengap. Aku berdiri dekat pintu, menggenggam besi pegangan, menatap pantulan wajahku sendiri di kaca jendela. Wajah itu tampak pucat, mata sayu, dengan garis-garis lelah yang tak bisa lagi kusamarkan, seolah waktu menuliskannya dengan sengaja.

Dalam pantulan itu, untuk sepersekian detik, aku melihat bayangan Elisa berdiri di belakangku. Ia diam, wajahnya tenang, matanya menatap tanpa suara, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tak pernah diucapkan. Jantungku tersentak. Namun ketika aku menoleh, hanya ada kerumunan penumpang yang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Tak ada Elisa. Hanya aku, kaca jendela, dan kota yang terus bergerak tanpa menungguku.

Aku pulang dengan kepala berat dan kaki yang enggan melangkah, seolah setiap jarak harus dibayar dengan tenaga yang tersisa. Jalan pulang terasa lebih panjang dari biasanya, dan pintu kamar kos menyambutku tanpa suara, seperti mulut yang menelan lelah tanpa memberi jawaban. Begitu masuk, aku langsung menyalakan laptop. Layar putih menyala, bersih dan menunggu, seperti halaman yang percaya aku masih punya sesuatu untuk dikatakan. Namun tak satu kalimat pun keluar. Aku hanya duduk, menatap kosong ke arah putih itu, mendengar dengung kipas laptop yang berputar pelan seperti doa yang patah di tengah jalan, seperti permohonan yang tak selesai diucapkan, seolah bunyinya memanggil sesuatu dari balik dinding kamar yang sempit dan bisu.

Aku membuka ponsel. Tetap tidak ada balasan dari Elisa. Dengan gerakan lambat, aku menggulir percakapan lama kami, membaca ulang kata-kata yang dulu terasa hangat dan hidup. Kini kata-kata itu seperti arsip museum: rapi, terjaga, tapi dingin, milik seseorang yang entah siapa. Kalimat-kalimat yang dulu menjadi mantra kini kehilangan kuasanya, seperti doa yang pernah manjur tapi tak lagi dihafal dan seolah langit telah melupakan.

Aku meletakkan kembali ponsel di meja, lalu merebahkan tubuh di kasur tipis yang berderit pelan. Dari sana aku menatap langit-langit kusam yang tak berujung, penuh noda dan retakan kecil seperti peta jalan yang tak pernah kujalani. Malam itu, sebuah kesadaran datang tanpa aba-aba: mungkin inilah hukuman paling sepi. Bukan kehilangan yang tiba-tiba, melainkan menunggu yang tak pernah selesai. Menunggu tanpa kepastian, menunggu tanpa tanggal, menunggu yang perlahan menggerogoti hari-hari, yang membuatku terasa panjang dan menyiksa.

Di luar, langit mulai membiru di ujung atap, bercampur temaram lampu-lampu kota yang enggan padam. Aku membayangkan Elisa sedang berpikir di tempat lain, menimbang hubungan ini di sebuah persimpangan yang sunyi: apakah ia akan tumbuh menjadi sesuatu yang kokoh, atau perlahan retak jika aku terus larut dalam duniaku sendiri. Pikiran itu berputar seperti lampu lalu lintas yang terlalu lama menyala kuning.

Dan mungkin, kali ini, ia masih menunggu. Menungguku bukan dengan kesabaran yang lembut, melainkan dengan batas yang pelan-pelan digambar. Menungguku sampai aku tiba di titik akhir kesabaran itu. Bukan karena ia ingin pergi, melainkan karena setiap penantian punya ujungnya sendiri. Aku terus larut dalam duniaku, dan tanpa kusadari, jarak itu kian nyata.

Maka aku mulai mengerti: bukan kehilangan yang paling menyakitkan. Yang paling menyiksa adalah menunggu di ruang yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Menunggu yang sudah terlalu sabar. Menunggu dengan sabar. Menunggu karena sabar. Dan sabar yang diam, sabar yang tak bersuara itu, sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang menuju batas. Seperti batas yang jika terlampaui, tak lagi bisa ditarik kembali.

Malam itu aku akhirnya bisa memejamkan mata tanpa benar-benar tidur. Tubuhku terbaring, tapi pikiranku berdiri di ambang sesuatu yang tak bisa kusebutkan. Seperti seseorang yang terlalu lama menunggu di pintu, lalu lupa apakah ia masih berharap pintu itu dibuka, atau justru berharap pintu itu tak pernah ada. Di antara gelap dan terang yang samar, aku hanya mendengar detak waktu berjalan pelan, seperti langkah kaki yang menjauh tanpa menoleh.

Aku sadar, ada hal-hal yang tak bisa dipaksa kembali dengan rindu, sebagaimana cahaya tak bisa dipanggil hanya dengan menyalakan lampu. Ada jarak yang tumbuh bukan karena kebencian, melainkan karena diam yang dibiarkan terlalu lama. Dan diam itu, perlahan, belajar menjadi rumahnya sendiri.

Di luar, kota tetap bergerak. Jalanan tetap dilalui, kereta tetap datang dan pergi, lampu-lampu tetap menyala lalu padam. Dunia tidak berhenti hanya karena satu percakapan tak pernah selesai. Aku yang tertinggal di sini, menimbang-nimbang: apakah menunggu adalah bentuk kesetiaan, atau sekadar ketakutan untuk melangkah ke hari berikutnya.

Sebelum fajar benar-benar datang, aku menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan diri yang tercecer. Ada sesuatu yang mulai retak di dalam. Bukan dengan bunyi keras, melainkan dengan kelelahan yang tenang. Mungkin, pikirku, inilah awal dari perubahan yang tak kupahami. Atau mungkin hanya jeda sebelum luka menemukan bentuk barunya.

Aku belum tahu apa yang menungguku setelah ini. Yang kutahu hanya satu: bab ini belum selesai, tapi aku tak bisa terus tinggal di halaman yang sama. Dan seperti semua perjalanan yang tak pernah dimulai dengan kepastian, langkah berikutnya akan lahir dari keraguan yang kupeluk diam-diam.

Lalu malam benar-benar menutup matanya. Dan aku bersiap, entah untuk menunggu lagi, atau untuk akhirnya memaksaku berjalan lagi. (Bersambung)

Perspektif

Scroll