Jakarta - Yogyakarta

Pagi itu, kabut tipis menebarkan tirai samar di atas kota. Ia jatuh perlahan, nyaris tanpa suara,...

Jakarta - Yogyakarta

13 Jan 2026
289 x Dilihat
Share :

Jakarta - Yogyakarta

Pagi itu, kabut tipis menebarkan tirai samar di atas kota. Ia jatuh perlahan, nyaris tanpa suara, seperti seseorang yang datang membawa pesan penting namun memilih untuk tidak mengetuk pintu. Sehelai kain sutra yang ditarik tergesa, tapi tak pernah benar-benar menutup wajah. Kabut menggantung di udara, menyisakan gedung dan pepohonan dalam bentuk setengah jadi, seolah dunia sengaja dibiarkan belum rampung. 

Dari balik jendela kereta, Jakarta tampak seperti lukisan yang terhenti di tangan pelukisnya. Tampak garis-garis belum selesai, warna-warna tertahan, dan keberanian yang entah mengapa ditunda. Aku menatapnya lama, seakan berharap kota ini memberi satu isyarat kecil sebelum benar-benar kutinggalkan.

Stasiun Gambir perlahan menghilang di belakang punggung waktu. Ia mundur tanpa pamit, seperti kenangan yang tahu diri untuk tidak diminta tinggal. Tak ada lambaian, tak ada penyesalan. Kereta melaju mantap, dan delapan jam menuju Stasiun Tugu terbentang di hadapanku. Angka delapan itu tak terasa matematis. Ia lebih menyerupai lorong panjang yang gelap di ujungnya. Sebuah ruang yang akan memaksaku berjalan sendirian, ditemani rindu yang tak sepenuhnya kupahami dan pertanyaan yang sengaja tak kucari jawabannya.

Aku berangkat dengan bekal secukupnya, sebagaimana hidup sehari-hari yang menuntut kehati-hatian nyaris berlebihan. Hidup sebagai pegawai kecil adalah seni menahan diri: tahu kapan harus berharap dan kapan harus mengalah. Setiap rupiah dijaga seperti rahasia kecil yang tak boleh bocor. Menabung demi pernikahan terasa seperti menimba air dari sumur bocor. Bisa penuh sebentar, lalu merembes pelan, lalu menghilang tanpa suara. Kadang aku bertanya, apakah yang bocor itu sumurnya, atau keyakinanku sendiri.

Namun kali ini, hidup memberiku jeda yang tak biasa. Perusahaan menanggung biaya perjalanan, bahkan memberiku kursi di kelas yang bukan ekonomi. Sebuah kenyamanan yang terasa canggung di tubuhku, seperti mengenakan sepatu mahal yang belum tentu cocok dengan langkah sendiri. Aku duduk di sana dengan perasaan yang tak sepenuhnya senang. Ada rasa syukur, tentu saja, tapi juga kesadaran bahwa semua ini hanya singgah sebentar. Seperti hujan yang turun bukan untuk menetap, melainkan sekadar mengingatkan bahwa langit masih ada.

Kereta berderap menembus sawah yang masih basah oleh sisa hujan malam. Tanah mengilap, memantulkan cahaya pagi yang pucat, seperti wajah seseorang yang belum sepenuhnya sadar. Bayangan pohon kelapa berkelebat di kaca, datang dan pergi tanpa sempat kukenali. Aku menangkapnya sebagai peringatan sunyi: tak ada yang benar-benar tinggal. 

Aku memejamkan mata, membiarkan suara roda besi beradu dengan rel mengisi kepalaku. Suara itu berulang, datar, namun menenangkan. Seperti doa yang dihafal tanpa lagi memahami maknanya.

Sesampainya di Yogyakarta, Stasiun Tugu menyambut dengan riuh yang akrab. Langkah kaki bersilang, suara pengumuman berlapis-lapis, bau tanah basah bercampur asap rokok yang enggan pergi. Kota ini tak pernah benar-benar diam. Ia hanya tahu cara berbicara pelan. Di Pasar Kembang, lampu jalan berkilau basah, memantul di genangan air seperti mata yang menolak tidur. Malam di kota ini selalu tampak seperti seseorang yang ingin bercerita, tapi tak tahu harus mulai dari mana.

Seorang rekan kerja menjemputku. Dari balik kaca mobil yang masih digurat sisa hujan, pandanganku sempat menangkap Gerbang Geser berdiri tegak. Diam, kukuh, dan tak meminta perhatian. Namun justru karena itulah ia terasa berat. Pandangan singkat itu meninggalkan getar halus di dadaku, seperti sentuhan yang tak disengaja tapi sulit dilupakan. Aku merasa bukan hanya melewati pintu kota, melainkan melangkah ke batas tipis antara siapa diriku dulu dan siapa yang mungkin akan kutemui kembali.

Kamar penginapan sudah kupesan lewat aplikasi. Ruang sederhana, bersih, dan nyaris tanpa cerita. Ranjang, meja kecil, lampu temaram. Cukup untuk satu tubuh, tapi tidak untuk satu pikiran. Aku duduk sebentar, meletakkan tas, lalu terdiam. Hatiku tak tertambat di ruangan itu. Ada denyut lain di sudut kota ini, pelan tapi terus memanggil. Elisa. Namanya menempel di kepalaku seperti bait pertama lagu lama yang selalu terhenti sebelum selesai. Setiap kali kuingat, selalu ada bagian yang hilang.

Sebelum berangkat, aku sudah mengabarinya. Aku akan ada di Yogyakarta untuk audit kantor cabang. Kalimat itu kususun rapi, seperti meja kerja yang dibersihkan sebelum atasan datang. Tak boleh ada celah, tak boleh ada debu yang menyingkap maksud lain. 

“Kebetulan minggu depan aku ke Yogya,” kataku, ringan di permukaan, datar seperti laporan bulanan. Padahal di balik kalimat biasa itu, ada maksud yang kusembunyikan rapat-rapat. Seperti surat yang kutulis berkali-kali lalu kusimpan di laci, tak pernah benar-benar kukirim, tapi juga tak sanggup kubuang.

“Serius, Haya?” suaranya terdengar ragu. Keraguan itu berjalan pelan, berhati-hati, seperti kaki yang masih mengingat sakitnya jatuh. Ada jeda di antara kata-katanya, jeda yang bukan kosong, melainkan penuh oleh pengalaman yang membuat seseorang belajar menimbang setiap langkah. Keraguan itu bukan tuduhan, lebih mirip pagar tipis yang ia pasang agar hatinya tak kembali tersandung.

“Sejak kapan kamu tak percaya?” jawabku. Nada bercanda itu kuberi senyum tipis, tapi senyum yang tak sepenuhnya jujur. “Kita sudah lama tidak bertemu.” Kalimat itu meluncur pelan, namun beratnya terasa seperti koper yang kutarik sendirian. Aku tahu betul, pertemuan tak pernah sekadar soal jarak atau jadwal. Ia selalu membawa sisa-sisa yang tak selesai dibicarakan.

Ada jeda panjang setelah itu. Sunyi yang menggantung seperti napas yang tertahan. “Oh, jadi kamu menganggap kita tak pernah bertemu?” katanya akhirnya. “Padahal mulut kita sudah berbusa-busa bercerita lewat kanal udara. Kamu terjebak epistemologi indrawi, Haya.” Ia selalu begitu. Kata-katanya terdengar main-main, tapi menyimpan bilah tipis di dalamnya. Ia tahu di mana harus menusuk tanpa membuatku berdarah, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa aku masih bisa merasa sakit.

“Lagi pula,” katanya lagi, seolah baru teringat sesuatu yang sejak awal ingin ia tanyakan, “kamu ke sini untuk pekerjaan, kan? Bukan untuk Elis.” Nada manjanya diselipkan tipis, nyaris tak terlihat, seperti gula yang larut sempurna di teh panas. Ia terdengar santai, tapi di baliknya ada seseorang yang sedang menunggu pengakuan, sambil berpura-pura tak peduli pada jawabannya sendiri.

“Dua-duanya sama penting,” jawabku. Kalimat itu terdengar jujur, tapi juga kabur, seperti cermin yang berembun. Aku sendiri tak yakin mana yang lebih dulu hadir di kepalaku saat menyebut Yogyakarta: laporan audit atau wajahnya. Kejujuran kadang tak datang dalam bentuk kepastian, melainkan dalam kebimbangan yang tak bisa disangkal.

“Sepenting apa aku buat kamu?” tanyanya lirih. Pertanyaan itu tak mendesak, tak memaksa. Ia dibiarkan menggantung di udara, seperti daun yang menunggu jatuh dengan sendirinya. Aku memilih diam. Dalam diam itu, ada pengakuan yang tak sanggup kusebutkan. Kadang, diam adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa ketika kata-kata justru terasa terlalu sempit.

Sejak saat itu, nama-nama perlahan menghilang. Dari “Haya” dan “Elisa”, kami menyusut menjadi “aku” dan “kamu”. Kata yang sederhana, hampir anonim, tapi menyimpan beban panjang. Di dalamnya ada harapan kecil yang tak berani disebutkan keras-keras: agar suatu hari, tanpa banyak pengumuman, “aku” dan “kamu” berubah menjadi “kita”. Harapan itu kecil, tapi keras kepala, bertahan di sudut yang jarang kusentuh.

Namun waktu tak pernah memberi janji. Ia berjalan seperti kereta yang setia pada relnya sendiri, tak pernah menoleh ke peron. Ia tak peduli siapa yang menunggu, siapa yang tertinggal, siapa yang berharap terlalu lama sambil menghitung jam. Waktu hanya lewat, dan kita yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kepergiannya.

Malam nanti, Yogyakarta mungkin akan membawaku ke angkringan di Malioboro, atau ke sudut kota yang lebih sepi. Nasi kucing, wedang jahe, suara gamelan yang datang dari kejauhan. Semuanya akan bercampur dengan percakapan yang mungkin hanya terjadi sekali. Kota itu pandai menyimpan kenangan dalam hal-hal kecil. Setelah malam itu berlalu, semua akan menjadi ingatan yang tak bisa diulang dengan cara yang sama, betapapun aku ingin mencobanya.

Aku tahu, pertemuan dengan Elisa tak pernah sederhana. Ia selalu datang membawa masa lalu yang belum selesai, sekaligus janji masa depan yang tak pernah benar-benar pasti. Ia adalah jeda yang tak pernah kututup, celah yang sengaja kubiarkan terbuka meski angin sering masuk tanpa permisi.

Dan di antara kabut, hujan, serta lampu kota yang bergetar seperti bintang palsu, aku bertanya pelan pada diriku sendiri yang nyaris berbisik, nyaris takut mendengar jawabannya: apakah perjalanan ini sungguh tentang audit kantor cabang, atau tentang mencari potongan jiwa yang dulu tercecer, tertinggal pada cinta lama yang, mungkin saja, belum benar-benar selesai? (Bersambung)

Perspektif

Scroll