Panggilan

Dari kisah tentang perpustakaan sekolah, cerita ini bergerak ke peristiwa lain yang tak kalah...

Panggilan

12 Jan 2026
262 x Dilihat
Share :

Panggilan

Dari kisah tentang perpustakaan sekolah, cerita ini bergerak ke peristiwa lain yang tak kalah menentukan dan mendebarkan kala itu: pemilihan siswa teladan. Di sanalah benang kisahku dengan Elisa mulai terikat lebih rapat, lebih spesifik, lebih sadar arah, dan perlahan menemukan bentuknya sendiri. Seolah-olah setiap cerita memiliki kehendaknya, memilih jalannya sendiri, lalu menuntunku ke peristiwa-peristiwa kecil yang kelak tumbuh besar dalam ingatan, seperti biji yang lama terpendam sebelum akhirnya pecah menjadi kenangan.

Pagi itu, matahari baru saja naik. Cahayanya menyusup di sela pepohonan halaman sekolah, menorehkan garis-garis tipis di antara dedaunan yang masih basah oleh embun. Udara pagi terasa ringan, seperti belum sepenuhnya terjaga. Aku berlari kecil menuju tujuan yang telah menjadi kebiasaan: perpustakaan. Membiarkan angin menyapu wajahku dan napasku tersengal ringan. Segalanya terasa biasa, nyaris datar, sampai pada suatu hari di dalam kebiasaan itu, sebuah suara nyaring memanggil namaku, mencungkil kesadaranku dari alur langkah yang sudah mapan.

Aku berhenti. Menoleh. Dan di sanalah kulihat sosok yang kukenal: Irfan, kawan sebangku yang kerap kami juluki “seniman sekolah”. Ia berlari ke arahku, tubuhnya condong ke depan, seolah dikejar sesuatu yang tak kasatmata. Panggilannya sebenarnya terdengar sejak awal, namun samar. Dan karena aku sedang tenggelam dalam kepentinganku sendiri. Melakukan ritual pagi sebelum jam masuk. Panggilan samar seperti itu sering kali kuhampiri dengan abai. Sebagaimana aku kerap mengabaikan meja kelas yang penuh coretan, kertas ujian kosong yang berubah jadi sketsa, atau papan tulis yang mendadak menjelma kanvas dadakan.

Pemaklumanku sederhana: dialah sang seniman, yang menurut kami tak boleh diganggu oleh ruang dan batas. Saat itu aku belum mengenal kata toleransi. Tapi aku paham betul apa artinya mendukung teman. Memberinya ruang seluas mungkin, bahkan di tempat yang, menurut aturan normal, tak semestinya. Dunia, bagiku, harus cukup lapang untuk menampung coretan siapa pun yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Namun kali ini berbeda. Ketika aku menoleh ke arahnya, langkah Irfan tampak patah-patah, seperti orang yang setengah mengejar waktu, setengah menyeret tubuhnya sendiri. Napasnya tersengal saat akhirnya sampai di depanku, tapi mulutnya masih sempat menyungut, meneriakkan namaku dengan nada geram yang tak disembunyikan.

“Hayaaa…! Kamu budek, ya? Sudah berapa kali saya panggil. Kamu dipanggil Pak Endang!”

Nada kesalnya terdengar jelas. Namun yang membuat dadaku tiba-tiba bergemuruh bukanlah kemarahan Irfan, melainkan dua kata yang menyusul setelahnya: Pak Endang.

Dua kata itu, bagi kami para siswa, sering terdengar lebih menyeramkan daripada nama-nama hantu dalam cerita rakyat.

Kegeraman Irfan seketika terabaikan. Seluruh perhatianku disedot oleh ketakutan yang memancar begitu nama kepala sekolah disebut, terlebih lagi ketika disandingkan dengan namaku. Mendengar namanya disebut bersama namaku terasa seperti berjalan melewati kuburan di malam gelap, hanya ditemani bunyi jangkrik, sementara setiap desir angin menjelma bayangan ancaman. Di kepalaku melintas adegan-adegan imajiner: lorong sunyi, tanah basah, dan rasa takut yang tumbuh tanpa sebab yang jelas.

“Dipanggil? Untuk apa? Apa salahku kali ini?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan universal setiap siswa yang menerima panggilan dadakan, atau bahkan sekadar mendengar rumor akan dipanggil. Terutama jika menyangkut pelanggaran tata tertib sekolah.

Pertanyaan itu pun menggelinding di kepalaku, tak bisa ditahan. Bergema seperti gong yang dipukul di ruang kosong. Namun entah bagaimana, aku masih berusaha menjaga kewarasan. Setidaknya, aku mencoba untuk tidak langsung panik, meski jantungku sudah mulai kehilangan iramanya sendiri.

Bagi setiap siswa, dipanggil kepala sekolah adalah perkara besar. Wajar jika di kepala kami menjalar pertanyaan yang sama: Ada apa aku dipanggil? Dosa apa yang sudah kuperbuat? Pertanyaan itu berputar-putar, menumbuhkan ketakutan yang diwariskan dari cerita ke cerita. Dari mulut ke mulut, jika kami mendengar kisah tentang Pak Endang yang sedang marah—katanya, ibarat melihat raja monster yang sedang kerasukan amarah. Kalau tidak, minimal penghapus papan tulis bisa meluncur ke kepala siswa yang tak memperhatikan arahan guru sedang mengajar.

Demikianlah kami hidup dari rumor. Siapa pun yang dipanggil beliau biasanya sudah siap menerima vonis. Di mata kami, kepala sekolah kerap menjelma sosok menakutkan: mata menyala, suara menggelegar, hukuman meluncur tanpa kompromi. Semua itu mungkin hanya cerita. Aku sendiri belum pernah menyaksikannya secara langsung. Dan kini, barangkali inilah saat pembuktiannya. Aku tidak tahu, dan justru karena itulah, aku harus tahu.

Aku pun berlari tergopoh-gopoh, meninggalkan pintu masuk perpustakaan. Koridor kelas mulai ramai. Dari jendela-jendela terbuka kulihat teman-teman baru saja masuk ruang kelas. Ada yang masih merapikan seragam sambil berjalan, ada yang bercakap sambil tertawa kecil, ada pula yang melangkah santai, seolah pagi tak menyimpan ancaman apa pun.

Namun pandanganku tak berhenti pada mereka. Mataku terus bergerak, menyapu halaman, lalu tertahan pada pagar sekolah yang sederhana, pada deretan bambu setinggi pinggang orang dewasa. Pagar itu selalu tampak rapuh, seakan siapa pun bisa melompati dan melarikan diri jika berani menantang aturan. Aku sempat membayangkan kemungkinan itu, lalu segera menepisnya. Tidak semua pelarian adalah jalan keluar.

Aku meninggalkan lorong kelas dan kembali menyapu halaman, seolah mencari wajah-wajah yang bisa memberiku kepastian. Hingga pandanganku tertuju lebih jauh, ke beranda gedung ruang guru yang terpisah dari gedung kelas.

Di sanalah sosok yang ditakuti itu berdiri. Pak Kepala Sekolah tampak tegap. Tubuhnya lurus, wajahnya sulit dibaca dari kejauhan. Dan jantungku makin berpacu ketika kulihat tangannya melambai. Tanda yang tak terbantahkan bahwa panggilan itu benar-benar untukku.

Semakin dekat langkahku, semakin terasa seperti berlari menuju tebing. Di kepalaku, bisikan-bisikan berputar: Ini pasti karena kesalahan. Hukuman apa yang akan menantiku? Dalam ingatan kami, panggilan beliau sering hanya punya dua makna: murka atau perintah. Dan murka, lebih sering, menjadi pilihan pertama.

Siswa yang tertangkap melanggar biasanya diperintah membersihkan toilet, menyapu halaman, mencabuti rumput, atau berlari mengelilingi lapangan. Setelah itu, selalu ada petuah yang terdengar seperti vonis akhir: bahwa setiap perbuatan akan berbuah dosa atau pahala, hukuman atau tepuk tangan.

Mataku sempat beralih ke pagar di sisi kanan gedung sekolah. Pada pagar bambu yang menyatu dengan pohon jambu di depan rumah Mak Inis. Pagar itu dipaku ala-kadarnya, tampak ringkih, seolah bisa roboh kapan saja. Lalu aku kembali mengarahkan pandang ke beranda ruang guru, menghindari sejenak tatapan Pak Kepala yang telah menghentikan lambaian tangannya.

Dari gerak tubuh dan mimik wajahnya, sebetulnya tak tampak tanda-tanda panggilan yang menyeramkan. Sepertinya bukan karena dosa. Namun ketakutan tetap berkuasa. Langkah kakiku masih terasa seperti berlari ke tepi jurang. Siap terjun, entah ke mana.

Sebab bisikan lama itu belum juga pergi: siapa pun yang menghadap beliau pasti karena kesalahan. Maka wajar jika bayangan hukuman terus mengintai, seperti bayang-bayang yang setia mengikuti tubuh di bawah matahari.

Dalam ingatan banyak siswa, panggilan beliau hanya punya dua makna: murka atau perintah. Murka lebih sering mendominasi. Hukuman-hukuman fisik menjadi bagian dari ritual pendisiplinan, disusul petuah yang harus diterima dengan kepala tertunduk.

Itulah pengalaman kebanyakan siswa. Padahal, sebetulnya, panggilan itu juga bisa bermakna lain. Kadang bukan karena dosa, melainkan karena keperluan sekolah—atau bahkan urusan pribadi. Namun cerita yang lebih sering beredar tetaplah cerita tentang kesalahan dan konsekuensinya.

Setelah menghadapnya, pelaku pelanggaran akan “dididik” dengan cara yang keras. Suara menggelegar, hukuman fisik, lalu panggilan ulang untuk menerima petuah. 

“Atas sikap dan perbuatanku akan berbuah dosa atau pahala dari Tuhan, saya telah menebus sikap dan perbuatan saya yang indisipliner, berharap dosa-dosanya diampuni Tuhan.” Di hadapannya, siswa harus mengucapkan penyesalan itu. Berharap perbuatannya ditebus dan dosanya diampuni.

Setiap kali mengingat cerita-cerita itu, kami lebih sering percaya bahwa siapa pun yang dipanggil pasti telah melakukan dosa. Dan aku berharap, sungguh berharap, panggilan untukku bukan termasuk yang pertama. 

Aku menelan ludah. “Semoga kali ini bukan karena dosa,” bisikku lirih.

Ketakutan itu, kusadari, mungkin lebih lahir dari imajinasi liar yang mencekam daripada kenyataan. Namun pagi itu, imajinasi terasa lebih nyata daripada apa pun yang pernah kualami sebelumnya. Lebih berat dari langkah kakiku sendiri, dan lebih keras dari suara bel sekolah yang sebentar lagi akan berbunyi.

Seperti biasa, Bapak Kepala kerap menyuruhku untuk suatu keperluan. Anehnya, ia tak pernah sekalipun memberiku hukuman. Namun, ketakutan tetap saja tumbuh di dalam diriku, menjalar pelan seperti kabut pagi yang datang tanpa diundang. Padahal, jika kupikirkan ulang, ketakutan itu lebih sering lahir dari kepalaku sendiri: tidak nyata, tidak berpijak pada fakta empiris apa pun. Ia hanya bayangan yang kubesarkan, hingga tampak lebih menakutkan dari kenyataan.

Dan benar saja, saat aku tiba di hadapannya, suara yang keluar dari mulutnya jauh dari teriakan murka yang selama ini kubayangkan. Bergegas aku melangkah, bahkan hampir berlari, mengambil posisi sedekat-dekatnya saat menghadap. Lalu yang terdengar kemudian hanyalah perintah dengan nada datar, nyaris tanpa tekanan, seolah itu perkara paling biasa di dunia.

“Kemasi tasmu. Pagi ini pergi ke Pancatengah.”

Aku menatapnya sejenak, kebingungan. Tak ada penjelasan lanjutan. Hanya kalimat singkat itu, seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air tenang, menimbulkan riak tanda tanya yang melebar ke mana-mana.

Setelah perintah itu benar-benar kupahami, aku berbalik badan. Bergegas menuju ruang kelas, mengambil tas, lalu bersiap kembali menghadap. Aku akan berangkat ke Pancatengah. Sebuah nama tempat yang tiba-tiba hadir tanpa makna, tanpa alasan yang bisa kugenggam.

Dalam perjalanan singkat itu, dari hadapan Bapak Kepala menuju ruang kelas, sebenarnya hati dan jiwaku masih diliputi cemas. Tubuhku saja yang bergerak, digerakkan oleh sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut: kepatuhan. Kepatuhan yang bekerja diam-diam, seperti tangan tak terlihat yang mendorong punggungku agar tetap melangkah.

Aku menguntit arah langkah Bapak Kepala meninggalkan gedung dan halaman sekolah. Kami menyusuri jalan yang di kanan-kirinya hamparan persawahan terbentang luas, hijau dan tenang, seperti karpet agung yang digelar alam dengan kesabaran berabad-abad. Pemandangan itu kontras dengan kegelisahan di dadaku.

Tak lama kemudian, kami sudah berada di Terminal Cibantar. Di sanalah aku baru menyadari kehadiran Elisa. Wajahnya teduh, sedikit heran, namun tetap ramah. Ia mengajakku tersenyum, dan kubalas dengan senyum sederhana. Senyum yang lebih menyerupai upaya menenangkan diri sendiri.

Barulah kemudian kutahu tujuan perjalanan ini. Kami akan mengikuti ajang pemilihan siswa teladan di Kantor Kecamatan Pancatengah. Dari cerita Bapak Kepala, dan analisis yang kususun setelahnya, aku memahami bahwa perjalanan ini adalah mata rantai perintah yang panjang: dari kepala dinas pendidikan kecamatan, naik ke kabupaten, provinsi, hingga ke Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang biasa kami sebut singkat: P dan K. Sebuah perintah yang mengalir dari atas ke bawah, hingga akhirnya jatuh tepat di pundakku.

Setiap sekolah diwajibkan mengirim dua perwakilan: satu laki-laki dan satu perempuan. Dari sekolah kami, Bapak Kepala menunjuk aku dan Elisa. Penunjukan itu terasa seperti keputusan yang sudah selesai bahkan sebelum aku sempat bertanya.

Bus angkutan membawa kami menembus jalan berliku. Dari balik jendela, kulihat sawah-sawah terbentang, hijau seperti permadani yang tak pernah selesai dijahit. Bus yang penuh sesak itu berangkat dari Terminal Cibantar, lalu berhenti tepat di depan SD Tawang 1. Dua siswa seusia kami, laki-laki dan perempuan naik ke dalam bus. Tak lama kemudian, yang perempuan berdiri di dekatku. Bola matanya berbinar, dan sejenak seperti mengajakku tersenyum. Tanpa sadar, bibirku pun bergerak membalasnya.

Karena ia berdiri tepat di depanku, pandanganku kerap kembali padanya. Aku memandangi wajah-wajah penumpang lain, memandangi pohon-pohon yang berjalan mundur, memandangi sawah-sawah di kanan dan kiri jalan, namun selalu saja, pada akhirnya, pandanganku jatuh lagi ke wajahnya.

Sementara itu, Elisa duduk di jok bersebelahan dengan Bapak Kepala. Pandangannya terhalang oleh penumpang yang berdiri berdesakan. Hingga akhirnya, di pertigaan Cikatomas, kami berenam turun: aku, Elisa, Bapak Kepala sekolahku, serta dua siswa tadi bersama kepala sekolah mereka.

Kami melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Tasik–Buniasih. Bus melaju melewati gerumbul rumah-rumah padat, lalu berbelok ke kiri di sebuah pertigaan. Jalan menanjak, terus menanjak, kemudian menurun. Di kanan-kiri jalan tak lagi tampak rumah, hanya belukar dan pohon-pohon besar yang berdiri rapat, seperti penjaga sunyi.

Setelah beberapa kali tanjakan dan turunan, tampak sebuah plang bertuliskan “Kecamatan Pancatengah.” Gedung besar dengan plang serupa terlihat jauh di bawah jalan raya. Bus belum berhenti. Ia terus melaju, menyusuri jalan menurun, hingga akhirnya berhenti. Bapak Kepala mengajak kami turun. Kami berenam pun menuruni jalan itu.

Ternyata, tempat itu adalah sebuah sekolah yang letaknya tak jauh dari kantor kecamatan. Halamannya riuh oleh siswa-siswa tuan rumah yang sedang belajar di kelas masing-masing. Baru setelah masuk lebih ke dalam, menyusuri lorong-lorong kelas, aku melihat siswa-siswa lain dari sekolah yang berbeda.

Saat siswa-siswa tuan rumah sibuk belajar, aku sempat berkenalan seperlunya dengan para pendatang. Selebihnya, kami tenggelam dalam diam masing-masing. Termasuk dengan siswa perempuan yang tadi satu bus denganku. Sekali lagi kami saling melempar senyum. Aku mulai tertarik pada bentuk matanya, pada binarnya yang terasa hidup, seolah menyimpan cerita sendiri.

Tak lama kemudian, kami diarahkan menyusuri lorong panjang dan dikumpulkan di sebuah ruangan. Di sana, wajah-wajah asing dari berbagai sekolah berkumpul. Kupandangi mereka sekilas: ada yang tampak percaya diri, ada pula yang tegang, mungkin setegang diriku. Sesekali terdengar perkenalan singkat, namun lebih banyak keheningan yang kaku.

Di ruangan itulah kami akan menjalani ujian. Sebagai perwakilan sekolah-sekolah se-Kecamatan Pancatengah, kami harus mengisi lembar-lembar soal yang jumlahnya tak sedikit. Setelah penjelasan singkat, panitia masuk dan memberi instruksi: ujian akan dilaksanakan dalam dua sesi—teori dan praktik.

Penjelasan itu membuatku tercekat. Aku hanya membawa pulpen yang baru saja kubeli di warung dekat terminal. Dua buah. Satu untukku, satu untuk Elisa. Itu pun karena pesan Bapak Kepala sebelum berangkat.

“Tak boleh memakai pensil,” katanya. “Ingat, sekali melingkari jawaban, tak boleh salah. Hidup itu seperti itu. Tidak setiap kesalahan bisa dihapus.”

Kalimat itu membekas di benakku. Sederhana, namun menghantam seperti palu kecil yang tepat mengenai paku. Sejak saat itu, aku mulai mengerti bahwa berpikir matang sebelum bertindak adalah bagian dari hidup yang lebih besar dari sekadar mengerjakan soal ujian.

Kemudian yang jadi pikiranku, ketika pertama masuk ruangan, aku melihat sebagian siswa membawa benda-benda di tangan mereka. Mungkin hasil keterampilannya, barangkali. Ada yang membawa kerajinan tangan, karya seni, miniatur rumah, kaligrafi, bahkan seorang siswa di depanku meletakkan perahu dari lilitan kertas yang rapi dan penuh detail.

Sementara aku datang dengan tangan kosong. Benar-benar kosong. Hanya pulpen murahan yang baru dibeli. Bapak Kepala seperti membisikan dari kejauhan, “Kita tidak persiapan. Pemberitahuannya mendadak.”

Hatiku menciut. Perahu kertas di depanku seolah bukan sekadar benda, melainkan badai. Perahu jiwaku sendiri oleng, nyaris karam, dihantam gelombang ketidaksiapan. Aku merasa dikirim ke medan perang tanpa senjata, cukup membawa badan dan kepala, berharap semuanya selesai di lembar jawaban.

Aku tahu, mudah menunjuk kesalahan pada orang lain. Mudah menyalahkan sistem, panitia, surat undangan yang mendadak. Namun tetap saja, perasaan kalah sebelum bertanding telah merayap ke dadaku.

Aku menatap Elisa. Ia duduk tak jauh dariku. Wajahnya tenang, meski di matanya tersimpan tanda tanya yang sama.

“Ya sudahlah, Hay,” bisiknya lembut. “Kita lakukan saja sebisanya.”

Dan di situlah aku belajar lagi satu hal: kadang kemenangan bukan soal siapa yang paling siap, melainkan siapa yang tetap berani melangkah, meski hatinya sudah gemetar di detik demi detik menghadapinya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll