Perpustakaan

Ada ruang-ruang tertentu yang membuat kata-kata enggan berlari. Ia memilih berjalan pelan,...

Perpustakaan

12 Jan 2026
252 x Dilihat
Share :

Perpustakaan

Ada ruang-ruang tertentu yang membuat kata-kata enggan berlari. Ia memilih berjalan pelan, menimbang tiap makna, seolah takut mengganggu sunyi yang telah lebih dulu menetap. Perpustakaan adalah salah satunya. Di sana, waktu seperti dilipat rapi di antara rak-rak buku, dan suara manusia berubah menjadi bisikan yang penuh kehati-hatian. Seakan setiap kalimat harus meminta izin sebelum lahir, agar tak merusak kesunyian yang telah lama berkuasa.

Di ruang seperti itulah Elisa kembali mengulang kisah yang sebenarnya sudah sama-sama kami ketahui. Namun entah mengapa, mendengarnya langsung dari bibirnya membuat segala yang dulu samar terasa lebih hidup, lebih bernapas. Kata-katanya tak lagi sekadar ingatan, melainkan menjelma pengalaman yang bergerak perlahan di udara. Barangkali karena percakapan itu berlangsung di sudut perpustakaan kota. Tempat di mana cerita-cerita lama biasa bersembunyi, menunggu untuk dipanggil kembali.

Ruang sunyi itu mengingatkanku pada peristiwa lain, yang juga bermula dari perpustakaan sekolah dulu. Seolah ada benang halus yang menghubungkan semua permulaan, dan benang itu selalu berujung pada rak buku dan halaman-halaman yang diam. 

“Dan semua bermula dari perpustakaan,” tambahnya, kali ini dengan nada yang lebih tegas, seperti seseorang yang akhirnya menemukan kalimat penutup bagi cerita yang lama ia simpan dalam dada.

Aku menatapnya, masih heran dengan keberaniannya mengucapkan hal-hal sebesar itu. Kami masih muda, tetapi caranya berbicara membuatku merasa ia telah menimbang dunia di telapak tangannya. Sekaligus menyadari beratnya, merasakan dinginnya, lalu tetap memilih untuk tidak melepaskannya. Mungkin, ada ragu di sana, tetapi keyakinan yang tumbuh diam-diam, seperti akar yang punya daya tahan untuk mencari air di bawah tanah.

Setiap kali berbincang dengannya, kami tak sekadar bertukar pandangan tentang kenyataan-kenyataan yang sedang kami hadapi sekarang. Percakapan kami jarang lurus, lebih sering berbelok, lalu kembali. Ia berubah menjadi lemparan kenangan lama, seperti dua orang yang saling melempar batu kecil ke permukaan air, menunggu riaknya melebar, lalu menyentuh tepi-tepi ingatan yang semula kami kira telah tenang dan selesai.

Bentuk percakapan dan ingatan itu sering meloncat-loncat, dari masa lalu ke masa depan, lalu kembali lagi. Barangkali benar bahwa masa lalu adalah sumur yang tak pernah habis ditimba. Barangkali juga benar pepatah lama yang mengatakan bahwa seseorang bertumbuh justru dengan menoleh ke belakang.

Kami selalu terpaut dengan masa silam. Bahkan saat membicarakan hari ini, yang muncul tetaplah bayang-bayang kemarin. Namun tugas kami sekarang adalah hasrat—hasrat yang perlahan menyingkap tabir keraguan dari kebingungan tahun-tahun silam, sekaligus melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih seru, sekaligus mengharukan.

Ingatan tentang perpustakaan itu pun muncul kembali. Tentang suatu pagi yang biasa. Setibanya aku di sekolah, setelah membenamkan tasku yang berisi buku tulis lusuh, pensil, dan penghapus ke bangku kelas, seperti kebiasaan, dalam menunggu dentang teng-teng-teng lonceng yang dipukul Mang Tapa. Bunyi itu selalu menjadi tanda agar semua siswa bergegas masuk kelas dan pelajaran dimulai.

Namun sebelum itu, sebelum jam pelajaran benar-benar dimulai, aku hampir selalu datang lebih pagi, setengah jam lebih awal, hanya untuk punya waktu lebih lama untuk singgah ke perpustakaan. Kadang bersama kawan, kadang sendirian, datang ke perpustakaan seperti untuk kutemui rahasia kecil yang sangat kukenal hanya olehku sendiri.

Setelah menyimpan tas, aku melenggang menuju sudut ruang yang terletak di pojok bangunan berbentuk siku gedung sekolahku. Ruang itu adalah sisa dari tujuh ruang gedung sekolah. Sebuah sudut yang seolah sengaja disisakan untuk sunyi untuk semua isi halaman buku.

Saat kuceritakan kembali perpustakaan sekolah dasar itu kepada Elisa, aku sejenak menghentikan ceritaku dan tersenyum samar. “Kau ingat pertama kali kita ke perpustakaan sekolah?” tanyaku, sengaja menggantungkan rasa penasarannya pada kenangan lama.

“Di dalam perpustakaan itulah rasa takjub dan suka cita dulu memenuhi diriku,” lanjutku. Berbicara pengalaman kala jemari tanganku yang masih mungil menemukan buku-buku yang memikat mata. Membuka lembar demi lembar dengan khusyuk, memusatkan perhatian bukan pada huruf-hurufnya, melainkan pada gambar-gambar yang hidup di setiap halaman.

“Aku lebih sibuk mencari gambar-gambar lucu ketimbang membaca huruf-huruf,” kataku sambil tersenyum. “Sementara kau,” aku berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, “Pernah aku melihatmu duduk dengan rapi, menyalin paragraf demi paragraf. Seolah dunia huruf itu sejak awal memang ditakdirkan untukmu. Sibukmu tak mau diganggu.”

Elisa tertawa lirih. Suaranya terdengar seperti bunyi buku yang dibuka pelan. “Tapi kau juga selalu sibuk,” katanya. “Tak mau diganggu juga, karena sibuk mengoleksi gambar-gambar di kepalamu. Seakan semua itu bisa hidup di sana.”

Aku ikut tertawa, meski di dalam hati kenangan itu terasa begitu nyata. Dulu melihat gambar-gambar di buku memang seolah punya sayap. Dari sebuah ilustrasi kecil, mataku menjadi saksi dunia yang berputar, membesar, lalu pecah seperti bunga api di udara.

Aku merasa seolah gambar-gambar itu bisa lepas dari halaman, hinggap di jidatku, lalu terbang berputar-putar di atas kepala. Di sanalah mungkin imajinasiku mulai tumbuh liar, jauh sebelum aku mampu membaca kata-kata dengan baik.

Memang sejak awal, datang lebih pagi ke sekolah demi perpustakaan bukanlah untuk membaca, melainkan untuk melihat gambar-gambar, atau lebih tepatnya ilustrasi-ilustrasi yang memenuhi halaman buku. Di sanalah aku menemukan keasyikan tersendiri: mencari gambar yang lucu, yang menggugah suasana hati dan kepala, yang menumbuhkan imaji bertualang ke dunia baru, hanya dengan duduk atau berdiri sambil membuka-buka halaman secara acak.

“Lucu ya,” kataku kemudian, “huruf-huruf dulu tak lebih dari bentuk aneh yang berdiri berjajar, mirip prajurit kecil di lapangan upacara. Tapi lama-lama aku sadar, mereka juga punya suara. Dan ketika suara itu bisa kurangkai, aku merasa seperti kau yang merasa seakan pada buku ada pintu yang terbuka.”

Elisa mengangguk. Senyumnya sendu. “Mungkin itu sebabnya kita dipilih jadi perwakilan sekolah,” katanya. “Kau dengan imajinasimu, aku dengan ketekunanku. Dua hal yang tampak bertolak belakang, tapi ternyata saling melengkapi.”

Aku terdiam. Kenangan pagi itu kembali menelusup, ketika kepala sekolah memanggil kami berdua ke ruangannya. Dari sekian banyak murid, entah mengapa justru aku yang dipilih. Padahal aku lebih sering menghilang di perpustakaan untuk mencari gambar ketimbang menghafal rumus di kelas.

Memang hal yang paling kusukai adalah membuka-buka halaman buku, lalu menyimpannya di ingatan. Aku memburu gambar-gambar yang biasanya menjadi penengah atau pemisah di antara blok-blok huruf yang berbaris rapi seperti barisan kami saat upacara bendera setiap hari Senin.

Pengalaman itu menggugah. Terutama ketika menemukan gambar berukuran besar yang memenuhi satu halaman penuh, seperti gambar sampul yang melatari judul. Semua itu kukumpulkan diam-diam di dalam ingatan, sebab buku-buku itu tak boleh dipinjam dan dibawa pulang. Dan mungkin, sejak saat itulah aku belajar: ada hal-hal yang hanya boleh disimpan di kepala dan hati, bukan di tas sekolah.

Menemukan gambar-gambar, bukan huruf-huruf, adalah kegembiraan pertamaku. Gambar-gambar itulah yang lebih dulu membubungkan jiwa, seperti layang-layang yang tiba-tiba menemukan angin. Barangkali karena gambar-gambar yang terbenam di kepala adalah sumur kegembiraan: airnya menciprat, terus meluap, dan tak pernah benar-benar tenang. Dari sanalah hatiku meluber, pikiranku melayang ke wahana-wahana yang bahkan belum kupahami namanya, ke tempat-tempat yang jaraknya melampaui jangkauan kaki dan logika kanak-kanak.

Datang ke perpustakaan, pada mulanya, bukanlah untuk mengeja huruf-huruf. Aku datang untuk melihat, untuk menatap, untuk membiarkan mata berkelana. Namun, tanpa kusadari, huruf-huruf itu tetap ikut tercerap. Ia hadir sebagai pagar tipis di antara satu ilustrasi dan ilustrasi lainnya, sebagai jembatan sunyi yang menghubungkan gambar demi gambar. Huruf-huruf itu menyelinap pelan, tanpa memaksa, tanpa meminta perhatian.

Barangkali dalam tumbuh-kembang imaji masa kanak itu, dalam nalar kami yang masih polos, huruf-huruf pun tak berbeda dengan gambar. Mereka sama-sama bentuk. Sama-sama garis. Sama-sama punya rupa. Bedanya, huruf-huruf lebih sabar menunggu. Ia tak segera memikat jiwa masa kanakku, tapi setia berdiri berjajar, memenuhi halaman-halaman buku, dan menunggu untuk memikat perhatianku. 

Sebab dari sanalah secara perlahan aku terbiasa: melihat deretan huruf yang membentuk kata, kata yang menjadi kalimat, kalimat yang menyusun paragraf. Sedikit demi sedikit, seiring waktu yang berjalan pelan, cakrawala pun terbuka. Sejak itu, apa pun yang tertera di halaman buku terasa sayang untuk dilewatkan.

Karena telah terbiasa melihat huruf-huruf, benakku mulai merekamnya. Dari sekadar melihat, aku belajar meniru. Di ruang kelas dalam kegiatan belajar, pekerjaan kami adalah menyalin apa yang ditulis guru di papan tulis, seolah sedang memindahkan dunia kecil dari satu permukaan ke permukaan lain.

“Masih ingat hari itu?” Elisa menatapku. “Saat kegiatan belajar di kelas? Terutama hari-hari pertama kita masuk sekolah?”

“Bagaimana mungkin lupa,” jawabku. “Saat guru menyuruh kita menulis di buku catatan masing-masing, untuk meniru tulisan di papan tulis, supaya kami terus melatih merangkai huruf-huruf yang tersusun rapi.”

“Supaya tidak seperti waktu kelas satu,” sambung Elisa dengan senyum renyahnya, “yang hanya terus-menerus melatih saraf sensorik dan motorik dengan menulis satu huruf atau satu angka saja yang sama, agar memenuhi garis demi garis buku leces.”

Aku tersenyum mengingatnya kala belajar menulis dulu. “Saat satu huruf sudah berdiri tegak yang berusaha kurangkai, tapi huruf berikutnya malah miring-miring. Seperti tubuh yang belum seimbang. Karena saraf sensorik dan motorik belum benar-benar bercakap-cakap.”

Seperti belum baiknya percakapanku dengan Elisa saat itu, batinku. Kalimat itu urung kuucapkan di hadapannya. Karena suka tak enak kala mengingat ada jarak yang tak kasatmata di antara kami kala itu. Jarak yang lebih rumit daripada sekadar bangku kelas. Meski begitu, nasib pernah mempertemukan kami dalam satu perjalanan yang sama: berangkat ke kantor kecamatan.

“Saat itu,” kataku melanjutkan cerita kebersamaan itu, “aku bahkan belum sempat menghapus debu di ujung sepatu. Baru sampai ruang kelas, baru menaruh tas di bangku, lalu seperti biasa langsung kabur ke perpustakaan. Aku sedang berlari menuju pintunya, ketika tiba-tiba dipanggil Pak Kepala Sekolah. Dari langkah yang lurus, aku harus berbelok ke ruang guru.”

Elisa tertawa kecil. “Aku melihatmu dari jauh. Kau kelihatan gugup sekali. Sementara aku setelah tahu maksud panggilan itu justru merasa seperti diberi tugas besar. Padahal aku juga takut.”

Aku mengangguk pelan. Kami sama-sama tahu: dari sanalah arah hidup mulai digiring oleh hal-hal yang tak pernah kami rencanakan. Sejak pengalaman bersama ke kantor kecamatan itu, banyak pintu lain terbuka, dan tak semuanya kami pahami maknanya saat itu.

“Setiap kali pergi ke perpustakaan sekarang,” kataku, “aku selalu teringat perpustakaan masa SD itu. Entah karena panggilan kepala sekolah yang tak terduga, atau karena dari sanalah kegandrunganku pada buku bermula.”

Semula hanya kegandrungan melihat-lihat gambar. Lalu belajar membaca. Setelah itu, belajar menulis huruf demi huruf. Dari banyak membaca, muncul keharusan untuk menulis. Menulis dengan buku yang tak lagi miring karena ditarik-tarik tangan. Menulis dengan badan tegak membusung, tidak bongkok. Seolah tubuh pun harus belajar disiplin agar pikiran bisa mengalir. Tulang-tulang iga merenggang dan merapat mengikuti tarian halus seni menulis tangan, seperti zapin kecil yang dilakukan diam-diam di atas meja.

Perpustakaan, baik perpustakaan sekolah kami dulu, maupun yang kemudian kami datangi di sudut kota Yogyakarta, menjadi ruang waktu yang melipat masa. Rak-rak bukunya serupa pintu rahasia, tempat masa lalu dan masa depan saling menyelinap tanpa saling mengganggu.

Di sanalah kami berbincang. Bertukar pandangan tentang kenyataan yang sedang kami hadapi kini, namun ujung-ujungnya selalu jatuh pada kenangan lama saat pertama mengenal perpustakaan. Saat awal membaca buku hanya untuk melihat-lihat gambarnya. Namun di sana, pergi ke perpustakaan adalah cara membiasakan diri pada ingatan itu.

Pergi ke perpustakaan berarti menemukan lebih banyak gambar, lalu tulisan-tulisan yang berserakan di buku-buku. Buku-buku yang kemarin telah kami acak-acak, hari ini kami acak-acak lagi. Sampai lembar-lembar terlepas dari sampulnya. Sampai buku-buku terbaring seperti tubuh lelah yang tak sempat dirawat.

Tak ada yang merapikan. Tak ada yang menyuruh merapikan. Perpustakaan sekolah kami tak punya penjaga. Jarang pula didatangi guru saat aku ada di dalamnya. Tidak seperti perpustakaan-perpustakaan lain yang kukenal kemudian di sekolah atas, di kampus, dan sudut-sudut kota dalam kembara dewasa yang selalu memiliki penjaga, seseorang yang mengawasi sunyi.

Termasuk perpustakaan di sudut kota Yogyakarta ini, tempat aku kembali bertemu Elisa. Sebuah ruang yang tak sekadar menyediakan rak dan meja, melainkan juga menyimpan gema langkah-langkah lama. Di sinilah perpustakaan menjelma bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai saksi yang diam; saksi yang mengingat lebih banyak daripada yang sanggup kami ucapkan.

Setiap kali berbicara tentang perpustakaan, ujung percakapan kami selalu kembali pada kenangan pertama, kenangan yang diam-diam membentuk arah hidup kami tanpa pernah meminta izin. Seperti aliran air bawah tanah, ia bekerja sunyi, namun menentukan ke mana sebuah sumur akan digali. “Aku merasa masa lalu itu sumur yang tak pernah habis,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri ketimbang kepadanya.

Elisa mengangkat alis, seolah menimbang kalimat itu di kepalanya. “Kau percaya pepatah itu?” tanyanya pelan. “Bahwa kita tumbuh justru dengan pertumbuhan ke belakang?”

Aku mengangguk. “Iya. Kita memang melangkah maju, tapi sesungguhnya sambil menoleh. Setiap langkah hari ini sering kali hanyalah upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan lama yang dulu kita tinggalkan. Pada pertanyaan yang tak selesai, tapi terus memanggil.”

Elisa menunduk. Pandangannya kembali pada halaman buku yang terbuka di hadapannya, sementara jarinya memainkan ujung meja kayu yang penuh coretan pensil—jejak tangan orang-orang sebelum kami, yang mungkin juga pernah datang dengan pertanyaan serupa. Coretan-coretan itu tampak seperti peta kecil dari kegelisahan yang berulang.

“Kalau begitu,” bisiknya tanpa menoleh, “apa yang masih belum kau jawab dari masa lalu?”

Pertanyaan itu menancap di dadaku, seperti paku yang mengetuk ingatan paling dalam. Aku tahu ia tak sedang bicara tentang sekolah, atau pemilihan siswa teladan, atau bahkan tentang perpustakaan itu sendiri. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini kami simpan rapi di antara halaman-halaman sunyi, di sela kata-kata yang tak pernah benar-benar kami ucapkan.

Aku menatapnya lama, seolah mencari keberanian di wajahnya. Lalu, ketika ia akhirnya mengangkat kepala dan mata kami bertemu, aku berkata lirih, hampir seperti pengakuan, “Mungkin… tentang kita. Tentang percakapan-percakapan yang dulu tak pernah selesai.”

Ia terdiam. Matanya berkilat, seperti menahan sesuatu yang hendak runtuh, tetapi mulutnya tak segera menjawab. Perpustakaan pun mendadak sunyi. Seolah rak-rak buku, meja-meja tua, dan halaman-halaman yang tertutup ikut menahan napas. Menunggu apakah percakapan yang tertunda itu akhirnya akan menemukan ujungnya, atau kembali disimpan di antara debu dan ingatan. (Bersambung)

Perspektif

Scroll