Teladan

Kehidupan yang terbuka adalah busur. Ia merentang perlahan dalam genggaman waktu, menunggu tarikan...

Teladan

08 Jan 2026
220 x Dilihat
Share :

Teladan

Kehidupan yang terbuka adalah busur. Ia merentang perlahan dalam genggaman waktu, menunggu tarikan yang tepat. Kehidupan seringkali menyerupai busur itu, yang lentur namun tegang. Sementara tanah adalah pijakan yang mengokohkan tulang-tulang: ada yang simetris, ada pula yang renggang, dan ada yang tak sepenuhnya seimbang. Tapi selama lutut masih sanggup menahan beban, dan kaki tetap menapak bumi untuk merasakan angin jiwa yang menderu, selama itu pula kita masih bisa memanah jauh ke langit mimpi, melesatkan hasrat yang ditarik dari busur tanah kelahiran.

Demikianlah, setiap langkah yang berkoherensi antara tulang dan kehendak, akan melahirkan panah-panah yang memburu lingkaran-lingkaran takdir, noktah-noktah pilihan dan peluang masa depan yang masih samar di cakrawala masa depan.

Demikian pula tanah kelahiran adalah semata muasal. Hamparannya menjadi pijakan awal untuk melakukan perjalanan sejauh-jauhnya, untuk semakin mengokohkan tulang-tulang diri yang simetris maupun yang asimetris. Selama tulang dengkul dan kaki masih menapak bumi dengan koherensi itu, di sanalah pangkal dari segala arah perjalanan: tempat tulang-tulang yang tercecer dipersatukan kembali oleh ingatan.

Demikianlah aku mengalami satu periode perjalanan hidup. Dari kampung kelahiran, seseorang yang tumbuh dan berkembang, menapaki bumi dan pengalaman diri menuju perantauan pada garis nasib dan takdirnya. Hingga tiba saatnya harus pulang kampung, untuk sejenak menepi.

Saat pulang kampung itulah kita baru mulai mengerti. Kita mencermati sudut pandang yang berbeda antara dulu dan sekarang: tentang diri, atau tentang kampung halaman. Menuliskan perjalanan pulang menjadi cara untuk kembali mengenali, sekaligus mengokohkan, tulang-tulang yang sempat berserakan di tanah perantauan.

Demikianlah ceritaku sampai hari ini sejak pulang kampung yang terakhir. Dari sejak kami melanjutkan sekolah menengah, dan saat sekolah menengah pertama, bagiku sudah merasa cukup bersekolah di desa kampung kelahiran saja. Cukup hidup di lingkaran teman-teman yang pergi dan pulang dari sekolah setaraf kampung halaman. Sekolah di desa sudah cukup—sederhana dan dekat dengan rumah. Seakan ada garis tak kasatmata yang menahanku, membatasiku agar tetap berada di pangkuan kampung halaman.

Sedangkan cerita Elisa adalah persoalan lain. Ia adalah kisah yang berbeda, sebuah anomali dari sejumlah teman-teman kami, setidaknya menurutku saat itu. Dengan keberanian yang bahkan melampaui usianya, ia memilih keluar dari lingkar aman. Ia pergi, bahkan berlari meninggalkan pagar rumahnya, menanggalkan manja peluk ayah dan ibunya, untuk menempuh sekolah jauh di luar desa dan kecamatan.

Elisa memilih sendiri sekolah di luar kampung halaman kami. Pergi ke tempat yang jauh, bahkan sangat jauh menurut ukuran anak seusia sekolah menengah pertama. Ia, seorang dara yang masih belia, telah mengkalibrasi dirinya, dan dalam kesadarannya memilih busur lain serta tanah pijakan lain.

Sejak belia ia sudah berani keluar kandang, berlari menjauh dari kemanjaan peluk ibu-ayahnya. Elisa yang masih belia itu mau mengkalibrasi dirinya, seolah ia paham sejak dini cara bertumbuh. Seolah hendak mengajarkan bahwa ketika seseorang berani berpijak di tanah asing untuk menegakkan busur lain, atau meneguhkan sayap lain, itulah sesungguhnya tantangan hidup. Hidup jauh dari keluarga, menempuh dewasa sejak belia. Sebab kelak, entah dipaksa atau dengan sukarela, seseorang akan tetap jauh atau terpisah dari keluarga setelah kawin dan berkeluarga.

Dan aku mengingat semua itu, dan segala hal tentang Elisa dengan perasaan takjub. Betapa sejak remaja ia telah mampu melangkah keluar kandang, menantang angin asing dengan wajah yang tak gentar. Menempuh dewasa sebelum waktunya.

Selama tiga tahun penuh pada fase permulaannya, ia menekuni ilmu di bangku sekolah menengah, sementara aku menjalani hari-hariku di desa. Di jenjang sekolah yang sama, kami menjalani hidup yang berbeda. Berbeda pengalaman, berbeda tantangan. Meski menekuni pelajaran yang serupa, pengalaman antara aku dan Elisa telah berjalan di jalur yang tak sama.

Takdir pun seolah tak berpihak padaku. Selama masa itu aku tak pernah bertemu dengannya. Takdir tidak mempertemukan aku dengannya, yang entah sengaja atau kebetulan dapat sampai pada satu kemungkinan berpapasan di jalan dekat rumahnya ketika musim liburan sekolah.

Mungkin karena masa sekolah menengah pertama itu aku sibuk dengan teman-teman baru, berbeda dari teman sekolah dasar, hingga ingatan tentang Elisa perlahan tenggelam. Seakan ia hanya menyisakan siluet yang menempel di dinding kenangan masa kanak-kanak.

Singkat cerita, dari sekolah menengah pertama menuju sekolah menengah atas itulah, pada tiga tahun selanjutnya aku baru mulai mengkalibrasi diri seperti Elisa. Mengawalinya pun aku merasakan kehilangan—kehilangan teman-teman lama. Pergi ke tempat yang sepenuhnya asing sering kali menorehkan rasa kehilangan yang mengukir di kepala. Meski di sekolah menengah atas aku menemukan teman-teman baru, dan pubertas telah matang dalam diriku.

Namun kehadiran teman baru tak sanggup memupus kenangan lama. Tak sanggup membuatku lupa, bahkan untuk sejenak. Teman lama telah menyentuh jantung pengalaman istimewa yang menghangatkan jiwa. Tapi entah jika usia usia 12 tahun aku sudah merantau ke kota. Seperti yang Elisa lakukan apakah akan benar merasakan kehilangan? Kehilangan yang lain dan sangat berarti ketika menginjak masa pubertas terjadi.

Tapi pada prinsipnya semua teman selamanya adalah teman. Sebab demikianlah semestinya. Setiap teman adalah keistimewaan yang kenangannya menempati lokus semesta jiwa masing-masing. Namun tentang Elisa seringkali membawa pertanyaan yang berbeda. Ingatan padanya sering menderukan tanya-tanya baru tentangnya dan tentang hidup dalam keterjangkauannya.

Perasaan kehilangan ini sebenarnya adalah cerita kedua. Kehilangan pertama telah kuceritakan di kisah lain sebagai kehilangan yang mengguncang diri. Saat kami masih di sekolah dasar, salah satu teman kelompok belajar kami meninggal dunia di kelas empat karena sakit. Itu mengguncang kesadaran tentang makna kehilangan dalam pertemanan.

Namun pada Elisa alasannya berbeda. Pada Elisa, kemungkinan untuk bertemu masih ada. Maka perpisahannya wajar saja dapat menjelma menjadi kerinduan yang tertahan. Dalam denyut di dada setiap kali bayangannya muncul.

Meski aku dikelilingi teman-teman baru, tapi kehadiran mereka tak pernah benar-benar memadamkan nyala kenangan lama. Benar, setiap teman adalah istimewa, masing-masing membawa cahaya sendiri. Namun Elisa bukan sekadar nama di rak ingatan. Ia telah melahirkan gema pertanyaan baru. Karena langkahnya terasa anomali dari kami yang lain saat itu.

Berbeda, maka menjadi perhatian seterusnya. Terlebih ketika rumahnya selalu terlewati bus yang mengantar kami ke sekolah atau ke perjalanan jauh. Dalam riuh anak-anak OSIS dan teriakan kondektur yang berkata “masih kosong” padahal bus telah sesak, telingaku seakan menutup diri.

Semua kebisingan lenyap, menyisakan pandangan yang terpaku pada sebuah rumah di pinggir jalan—rumah Elisa. Setiap kali bus melintas, waktu seolah berhenti. Hatiku bertanya-tanya: jika ia ada di sana, apakah ia sedang membaca, atau menatap halaman? Di masa sekolah dasar, ia pasti ada. Namun di masa sekolah menengah, mungkin hanya saat liburan panjang.

Lalu begitu menginjak SMA baru aku mulai seperti dirinya. Pada usia itu, kesadaran datang perlahan seperti cahaya pagi yang menyelinap melalui celah-celah jendela bambu: tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk membuatku melihat bahwa hidup tak harus berhenti pada batas pagar kampung. 

Aku mengkalibrasi diri agar tak terus terkurung dalam lingkar kampung yang hangat namun membatasi. Lingkar itu seperti selimut tebal. Memberi rasa aman, tetapi juga menahan gerak, membuat langkah-langkah kecil terasa cukup, padahal dunia terbentang lebih luas dari yang bisa dijangkau mata kanak-kanak. Aku ingin seperti Elisa yang berani melangkah keluar sebelum dewasa benar-benar menuntutku. Sebelum waktu menjelma algojo yang memaksa tanpa memberi ruang belajar.

Bahkan, aku memilih sekolah di kota yang jauh dari kampung asal. Keputusan itu bukan sekadar soal jarak geografis, melainkan jarak batin: keinginan memisahkan diri dari kebiasaan lama agar aku bisa bercermin pada wajah yang baru. Sebab awal ingin tahu rasanya menegakkan kaki di tanah asing, menjadi perantau, dan menaklukkan gegar budaya yang kala itu masih terdengar samar. Gegar itu seperti gema di lorong panjang. Belum jelas bentuknya, tetapi cukup menimbulkan getar yang membuat jantung belajar berdetak lebih berani.

Meninggalkan kenyamanan kampung halaman. Berani bertandang agar tak sekadar jago kandang. Kalimat-kalimat itu seperti mantra yang kuulang diam-diam, seolah keberanian bisa tumbuh dari pengucapan yang terus-menerus. Meski kemudian kusadari, mungkin itu juga dorongan keadaan sebagai kemauan kakakku agar aku menjangkau masa depan yang lebih luas. Dorongan itu seperti angin punggung yang tak terlihat, tetapi mendorong layar perahuku bergerak lebih jauh dari dermaga asal.

Sebab pokok cerita Elisa yang sejak sekolah menengah pertama telah berani mengembara, menjadi salah satu teladan untukku dalam menempuh masa depan.

Ia hadir dalam ingatanku bukan sebagai tokoh yang sempurna, melainkan sebagai kemungkinan, bahwa seseorang dari latar yang sama bisa memilih jalan yang berbeda. Agar kelak tak terkejut menghadapi dunia dewasa yang kian mengglobal. Dunia yang tak lagi bertanya dari mana kau berasal, melainkan seberapa jauh kau siap melangkah.

Hingga akhirnya takdir tak sekejam yang kubayangkan. Waktu memberi restu. Keinginan yang dilemparkan ke alam bawah sadar menemukan jalannya sendiri. Seperti sungai yang lama tertahan bebatuan, lalu tiba-tiba menemukan celah untuk mengalir, tenang namun pasti.

Setelah hampir lima tahun kami dipisahkan kembali dipertemukan. Saat itu kami kelas tiga SMA. Pertemuan itu datang tanpa gembar-gembor, seperti hujan sore yang turun tanpa petir. Aku bertandang ke rumahnya. Dalam nuansa telah berubah, saat kami telah tumbuh. Wajah-wajah kami membawa garis waktu yang baru, garis yang tak ada ketika kami masih anak-anak.

Pertemuan itu seperti membuka buku lama yang berdebu. Halamannya masih menyimpan aroma masa lalu. Aroma yang tak sepenuhnya bisa dinamai: antara kenangan, penyesalan kecil, dan harapan yang belum sempat diberi bentuk. Ada canggung, yang halus seperti angin ragu memasuki jendela. Namun ada hangat yang tak hilang. Hangat yang bertahan seperti bara kecil di tungku ingatan.

Sampailah kemudian ia berkata lirih tentang mimpinya: kuliah di UGM, Fakultas Pertanian.” Ucapan itu meluncur sederhana, tanpa nada heroik, tetapi justru di situlah kekuatannya. Kata-katanya bagiku seperti panah dari busur waktu untuk menancap tepat di lingkar ingatan. Sekali menancap, sulit dicabut, dan terus bergetar setiap kali masa depan disebutkan.

Aku pulang membawa satu keyakinan: mimpi bisa menjadi teladan. Bukan hanya karena terwujud, tetapi karena keberanian mengucapkannya. Karena ada daya magis ketika seseorang berani menyebutkan masa depan dengan suara sendiri, seolah alam semesta dipanggil untuk mendengar.

Dan sejak itu, setiap kabar tentang Elisa datang seperti angin yang mengetuk jendela. Kadang lembut, kadang sekadar singgah, tetapi selalu cukup untuk membuatku menoleh. Sampai kemudian terdengar kabar Elisa kini di Yogya, kota tempat mimpi mencari tanah landai pengetahuan. Kota yang seperti ladang luas, tempat benih-benih harapan diuji kesabarannya.

Cerita Elisa seperti benih yang bersabar menunggu hujan. Benih yang tak tergesa tumbuh, percaya bahwa waktunya akan tiba. Dan entah mengapa, kabar itu membuatku kembali memikirkannya, hingga kelak sampai pada cerita yang bersambung waktu keberangkatanku ke Jakarta. Sebuah persimpangan lain, tempat langkah-langkah lama dan mimpi-mimpi baru kembali saling menyapa.

Perspektif

Scroll