Di rumah nenek, waktu seolah berhenti berdetak dalam kepul asap teh hangat dan aroma kayu tua. Di sanalah aku, duduk bersila di lantai papan kayu yang dingin, menghadapi sebuah benda yang telah lama tertidur dalam peti kenangan.
Jari-jariku gemetar saat menyentuh sampul merah itu. Teksturnya yang kasar dan dingin terasa seperti kulit dari masa lalu yang baru saja terbangun dari hibernasi panjang. Aku membuka halaman pertama buku rapotku di masa SD, sebuah kegiatan remeh di kala siang yang terik, namun mendadak berubah menjadi gerak yang begitu sakral. Seolah-olah, aku bukan sedang membuka buku, melainkan mendorong pintu berat yang sudah lama terkunci dan diselimuti debu tebal.
Saat lembaran itu tersingkap, ada aroma kertas tua yang menyeruak, bau yang khas dan nostalgis, seperti wangi perpustakaan sekolah setelah hujan. Di sana, di atas kertas yang mulai menguning, aku menemukan diriku yang dulu. Nama yang tertulis kaku dengan huruf-huruf kapital yang dicetak tangan, dan keheningan menjalar, berbicara tentang garis-garis pembatas dalam biodata, yang tersimpan kecemasan masa kecil tentang apakah aku sudah "cukup baik" untuk orang tuaku?
Cahaya yang menyelinap dari jendela rumah nenek jatuh tepat di atas namaku, membuatnya seolah bersinar, memanggil kembali memori tentang seragam putih-merah yang sesak oleh mimpi. Di balik pintu halaman demi halaman yang kubuka ini, suara-suara yang dulu senyap kini riuh kembali. Aku mendengar derit kursi kayu di kelas, bisikan kawan sebangku saat ujian, dan detak jantung yang memburu ketika guru memanggil namaku. Halaman pertama ini bukan sekadar identitas; ia adalah titik nol dari perjalanan panjangku.
Di rumah nenek yang tenang ini, rapot tersebut menjadi mesin waktu yang paling jujur. Ia tidak hanya mencatat siapa orang tuaku atau di mana aku tinggal, tapi ia merekam getaran awal dari sebuah pohon kehidupan yang baru saja belajar mencengkeram tanah. Dari celah pintu lembaran-lembarannya, merayap keluar suara-suara kecil masa kanak-kanak, tawa yang tertinggal di lorong sekolah, aroma kapur tulis, dan kecemasan-kecemasan lugu yang dulu kuanggap remeh, namun kini menghujam sedalam ini.
Rapot itu bukan sekadar tumpukan kertas nilai yang kaku. Ia adalah cermin tipis yang magis, tempat kami di masa kanak-kanak yang belum mengerti kerasnya hidup. Lalu sekarang diam-diam mengintip untuk melihat siapa diri kami sebenarnya di mata sekolah dan di mata dunia yang luas.
Dulu, sebelum lembaran itu kuserahkan kembali untuk dikumpulkan, setelah berminggu-minggu ia mendekam dalam persembunyian yang sunyi di balik tumpukan baju, sempat aku menatapnya lama. Di bawah temaram lampu kamar, aku mencoba mendengar bisikan di balik angka-angka itu. Aku mencari makna yang lebih besar dari sekadar tinta hitam di atas kertas kusam. Aku ingin mencari jejak kakiku yang tertinggal di sana.
Pada halaman pertama, biodata itu terpampang seperti sebuah prasasti. Nama ayah dan ibuku tertulis dengan saksama, bersanding dengan kolom pekerjaan mereka yang diisi dengan kata-kata sederhana namun berat. Sebuah identitas berupa nama-nama yang bukan sekadar penanda administratif. Mereka adalah akar yang ditanam diam-diam di dalam tanah, bekerja dalam gelap dan sunyi tanpa pernah menuntut pujian. Itulah akar-akar yang memeluk erat nutrisi kehidupan, menentukan dengan tabah pohon seperti apa yang akan tumbuh, seberapa kuat ia menantang badai, dan seberapa rimbun daun-daun yang kelak akan menaungi masa depanku.
Membaca biodata itu seketika meruntuhkan keangkuhanku terhadap deretan angka yang selama ini kupuja. Aku tersadar bahwa di balik kristalisasi nilai matematika yang kaku atau kelancaran nilai bahasa yang mengalir, terdapat lapisan-lapisan pengorbanan yang tak kasatmata. Ada peluh yang menetes dalam sunyi dan doa-doa yang dilangitkan di sepertiga malam. Hal-hal yang tidak pernah memiliki kolom khusus dalam daftar nilai, namun sesungguhnya adalah akar tunggang yang menjaga seluruh eksistensiku agar tidak tumbang diterjang badai.
Suasana pagi itu, sebelum rapot dikumpulkan dari tangan-tangan kami, sejenak pandanganku beralih ke rapot punya Ayif, teman yang duduk di depan meja kami. Pagi terasa seperti lembaran tipis yang baru dibuka, masih dingin, masih basah oleh sisa embun, dan ruang kelas belum sepenuhnya ramai oleh suara. Ada jeda yang sunyi, jeda sebelum segala sesuatu kembali menjadi rutinitas belajar di kelas, setelah rapot diserahkan ke tangan Dema yang mengumpulkan atas perintah Ibu Enok, dan suasana berjalan berjalan lagi seperti biasa.
Terlihat Ayif memegang rapotnya dengan hati-hati. Seolah benda itu bukan sekadar buku, melainkan sesuatu yang menyimpan rahasia tentang dirinya. Ia membuka-bukanya sekejap, membalik halaman dengan gerakan kecil yang hampir tak terdengar. Kertas-kertas itu mengeluarkan suara halus, seperti bisikan daun kering yang disentuh angin. Aku memperhatikannya diam-diam, seperti seseorang yang tanpa sadar sedang mengintip cermin hidup orang lain.
Di sana, pada baris pekerjaan orang tua, tertulis sebuah jabatan yang terasa begitu akrab namun sekaligus penuh wibawa: Guru. Kata itu berdiri sendiri, sederhana, tetapi memancarkan sesuatu yang besar. Guru. Sebuah kata yang bagi kami anak-anak kecil, terdengar seperti nama lain dari sekolah itu sendiri. Seperti tiang utama yang menyangga ruang kelas, seperti suara lonceng yang menentukan kapan kami duduk dan kapan kami pulang.
Ya, guru kelas kami, guru saat kelas satu. Sosok yang mengajari kami mengeja huruf pertama, yang menuntun tangan kami saat menulis nama sendiri, yang sabar menunggu ketika lidah kami masih gagap menyusun kata. Membaca jabatan itu di rapot Ayif membuatku merasa seolah ada dunia yang berbeda di balik meja depan. Dunia di mana sekolah tidak hanya tempat belajar, tetapi juga rumah, karena ibunya adalah bagian dari sekolah itu.
Aku membayangkan Ayif pulang ke rumah dengan seragamnya, lalu di rumah ada sosok ibu yang sama dengan yang berdiri di depan papan tulis. Ibu yang mungkin masih membawa bau kapur, masih menyimpan suara perintah lembut, masih memiliki tatapan yang sama ketika berkata, “Anak-anak, dengarkan.” Betapa aneh dan sekaligus hangat, pikirku, ketika ruang kelas bisa ikut pulang ke rumah seseorang.
Dan saat itu, tanpa aku sadari, rapot bukan lagi hanya buku nilai. Ia menjadi peta kecil tentang asal-usul kami. Tentang pekerjaan orang tua yang diam-diam memberi warna pada cara kami berdiri di dunia. Tentang bagaimana satu kata sederhana: guru, bisa terdengar begitu dekat, tetapi juga begitu tinggi, seperti langit yang terlihat jelas namun sulit disentuh.
Aku menatap rapotku sendiri sesaat, lalu kembali pada rapot Ayif, dan di dalam dada ada perasaan lirih: bahwa sejak kecil pun, kami sebenarnya sudah mulai membaca kehidupan, bukan hanya membaca huruf.
Saat mengeja huruf demi huruf yang membentuk kata guru, aku membayangkan dunia kecil Ayif. Ada rasa hangat yang sederhana dan jujur di sana seperti secangkir teh di sore hari yang masih mengepulkan uap. Bagi Ayif, sekolah bukanlah tempat yang ia tinggalkan di balik gerbang pagar besi setiap pukul satu siang. Ia adalah anak yang pulang dengan bayangan sekolah yang masih dengan setia mengekor di belakangnya. Aroma kapur tulis mungkin menjadi parfum alami yang menetap di gorden rumahnya.
Ibunya bukan sekadar orang tua yang menyiapkan sarapan, melainkan sosok yang juga menuntun jemari teman-temannya mengeja huruf A hingga Z. Di rumah Ayif, pendidikan bukan sekadar tugas, melainkan nafas yang dihirup bersama aroma masakan ibu. Dunia yang menyatu tanpa batas antara "Ibu" dan "Ibu Guru", batas menjadi kabur bagi temanku bernama Ayif, yang menciptakan sebuah ruang aman tempat kasih sayang dan ilmu pengetahuan tumbuh di meja makan yang sama.
Rapot Ayif bukan sekadar laporan kemajuan belajar. Itu adalah saksi bisu tentang sebuah pengabdian yang dibawa pulang ke rumah, diselimuti oleh cinta seorang ibu yang setiap harinya merajut masa depan bagi banyak anak, termasuk anaknya sendiri.
Lalu pandanganku beralih pada rapot milik Dema. Di sana, pada baris pekerjaan orang tua, mungkin tidak tertera gelar pendidik seperti ibu Ayif, namun ada aura berbeda yang memancar dari balik nama besarnya. Di sekolah kami, nama keluarga Dema adalah sebuah legenda yang diucapkan dengan nada segan oleh para guru. Kakak-kakaknya adalah deretan bintang yang jejak prestasinya masih membekas di dinding aula sekolah.
Seolah-olah, prestasi di dalam keluarga mereka bukanlah sesuatu yang harus dikejar dengan napas terengah-engah, melainkan sebuah sungai kecil yang telah lama menemukan jalurnya. Keunggulan itu mengalir tenang dalam darah mereka, mengikuti gravitasi takdir yang sudah tertata rapi dari generasi ke generasi.
Tentu saja, Dema tidak mengecewakan aliran sungai itu. Ia terlahir dengan kecerdasan yang tajam, sebuah bakat alamiah yang membuatnya dipercaya memegang tongkat kepemimpinan sebagai ketua kelas sejak tahun pertama kami berseragam merah-putih. Ada sesuatu yang ganjil namun mengagumkan pada dirinya. Ia menjalani tugas-tugas berat itu dengan wajah yang ganjil pula. Begitu tenang, begitu jernih. Ia tampak seperti seorang anak yang sudah terbiasa memikul tanggung jawab besar di pundak mungilnya, seolah beban itu adalah bagian dari pakaian yang ia kenakan sehari-hari.
Dema tidak perlu berteriak untuk didengar. Ia hanya perlu berdiri di depan kelas, dan keributan akan surut dengan sendirinya, tunduk pada karisma seorang pemimpin kecil yang tahu persis ke mana arah sungai prestasinya akan bermuara.
Melihat rapot Dema, aku menyadari bahwa setiap lembaran biodata menyimpan beban sejarah yang berbeda. Jika Ayif tumbuh dalam kehangatan bimbingan, maka Dema tumbuh dalam ketenangan sebuah tradisi yang menuntutnya untuk selalu tegak, meski badai ujian datang menerpa.
Lalu mataku tertuju pada rapot Irfan, teman sebangkuku yang duduknya tak pernah bisa tenang. Ia adalah putra seorang kyai tersohor di kampung kami, pewaris sebuah pesantren besar yang menjadi muara bagi orang-orang dari berbagai desa untuk menimba ilmu langit.
Pesantren itu bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah rumah besar bagi doa-doa. Di sana, udara terasa lebih berat oleh khidmat, tempat suara ayat-ayat suci bergema melintasi fajar dan senja, menciptakan simfoni spiritual yang tak pernah putus. Namun, membaca biodata Irfan membuatku tersenyum tipis. Ada kontras yang jenaka sekaligus puitis antara garis keturunannya dengan jiwanya yang liar.
Meskipun Irfan adalah anak kyai, ia seolah tidak sedang dipersiapkan untuk duduk di atas sajadah sambil memegang kitab dan tasbih. Jiwanya bukan terbuat dari hening, melainkan dari ritme. Ia memiliki bakat seni yang aneh namun memikat. Mungkin sebuah naluri purba yang mengubah benda-benda kaku di kelas menjadi instrumen bernyawa bagi dirinya. Jemarinya adalah pemukul kendang yang ulung. Permukaan meja kayu yang keras bisa ia sulap menjadi suara kulit yang elastis dan bertenaga. Kakinya tak kalah lincah. Tendangan-tendangannya pada kolong meja menciptakan dentum bass yang presisi, terdengar begitu easy listening hingga seringkali kami lupa bahwa kami sedang berada dalam pelajaran yang membosankan.
Musik kecil itu lahir dari tangan dan kaki yang tak bisa diam, seperti seekor burung yang selalu ingin mengepakkan sayap meski ia berada di dalam sangkar ruang kelas yang sempit. Kehadirannya di tengah-tengah kami, Irfan adalah anomali yang indah. Jika di rumahnya ia dikelilingi oleh pagar-pagar tradisi dan kitab-kitab kuning yang tebal yang dipegang ayahnya, di sekolah ia melepaskan semuanya melalui ketukan demi ketukan. Ia tidak sedang memberontak. Ia hanya sedang merayakan irama yang berdenyut di dalam nadinya.
Melihat rapotnya, aku menyadari bahwa setiap anak, entah dia tumbuh di bawah naungan guru seperti Ayif, di tengah sungai prestasi seperti Dema, atau di tengah gema doa seperti Irfan, memiliki lagu sendiri yang ingin mereka nyanyikan. Dan bagi Irfan, lagu itu bukan datang dari lisan, melainkan dari gemuruh kecil di bawah meja sekolah kami.
Selagi sang ibu guru belum datang atau sedang keluar kelas, atau ketika jam istirahat, bila kami ingin mencari hiburan cukup dengan diam di kelas, ulahnya akan menjadikan ruang kelas sangatlah riang, untuk tak menyebutnya sebagai kegaduhan apalagi keributan. Kelas yang tadinya sunyi mendadak berubah seperti panggung kecil yang penuh tawa. Kadang aku menatapnya sambil tersenyum, dan Irfan akan berkata pelan, “Kalau jadi kyai itu harus serius terus ya?”
Aku menjawab seadanya, sebuah jawaban yang meluncur begitu saja di tengah keriuhan ritme yang ia ciptakan di bawah meja. “Entahlah, Fan. Tapi kalau kamu jadi seniman, mungkin pesantren ayahmu juga tetap bangga.”
Kalimatku menggantung di udara, bersaing dengan sisa-sisa bunyi tetabuhan dari kakinya yang baru saja berhenti. Irfan hanya nyengir, sebuah senyum khas anak yang tahu bahwa dunianya mungkin tidak akan pernah searah dengan barisan kitab kuning di rak perpustakaan ayahnya, namun ia tidak peduli. Kata-kataku bukan sekadar penghibur, melainkan sebuah pengakuan tulus. Aku membayangkan sebuah masa depan yang mungkin terasa ganjil namun indah. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai rumah doa, mungkin suatu saat nanti akan memiliki warna baru. Bukan hanya gema ayat yang melangit, tapi juga dentum nada yang membumi.
Ayahnya mungkin seorang kyai yang menjaga tradisi dengan ketat, namun bukankah setiap orang tua pada akhirnya hanya ingin melihat anaknya "menjadi sesuatu"? Jika Irfan bisa menyentuh hati orang dengan musiknya sebagaimana ayahnya menyentuh jiwa dengan doanya, bukankah itu jenis kebanggaan yang sama?
Aku menutup rapot itu. Ada perasaan aneh yang menyesak di dada. Semacam rasa lega sekaligus sedih yang halus. Di rumah nenek yang tenang ini, aku menyadari bahwa saat itu kami semua sedang berdiri di garis start yang sama, namun dengan bekal yang sangat berbeda. Ayif dengan kehangatan pendidikan ibunya. Dema dengan aliran sungai prestasi keluarganya. Irfan dengan kepakan sayap seninya di tengah rumah doa. Dan aku? Aku hanyalah saksi dari keberagaman itu, seseorang yang baru saja menyadari bahwa hidup adalah tentang bagaimana kita merawat akar kita sendiri, tak peduli tanah seperti apa yang menopangnya. Aku memasukkan kembali buku rapotku ke dalam lemari, membiarkan debu-debu itu kembali tenang, sementara di kepalaku, ritme kendang meja Irfan masih terus berdenyut, mengiringi langkahku menuju kedewasaan yang sebentar lagi akan menjemput.
Saat mengingat Irfan yang tertawa kecil menanggapi jawabanku. Kami memang anak yang belum tahu bahwa hidup sering menuntut agar kita menjadi sesuatu yang tak kita rencanakan. Tetapi kami tak membeda-bedakan masing-masing kami anak siapa, orang tua bekerja apa, karena kami belum mengenal strata dan kasta. Kami adalah anak-anak yang bermain di tanah lapang tanpa pagar, tanpa papan nama, tanpa aturan tentang siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah.
Dunia masa kanak-kanak kami masih sederhana tentang siapa yang mau berbagi bekal, siapa yang pandai bercerita, siapa yang lucu di kelas. Kecuali kemudian setelah dicekoki orang dewasa bahwa pekerjaan begini uangnya besar dan pekerjaan itu membikin tangan kasar. Kata-kata orang dewasa itu pelan-pelan masuk seperti asap, halus, tetapi lama-lama memenuhi ruangan.
Tak masalah perasaan ketika pekerjaan ayah teman-teman ada yang sebagai petani, pedagang, PNS, dan aku sendiri tertulis: wiraswasta. Pada usia itu, pekerjaan hanyalah kata-kata asing yang panjang, seperti mantra yang tak sepenuhnya kami mengerti. Padahal yang kutahu ayahku tukang kredit. Ada jarak antara bahasa rapot dan bahasa kenyataan, jarak yang membuatku sering diam, seolah aku berdiri di antara dua dunia.
Menjelaskan pekerjaan ayahku sebagaimana tertulis di buku rapot, singkatnya ayahku orang biasa sebagaimana orang dewasa di kampung kami. Kalau tak sebagai petani mengurus sawah dan ladang garapan, kalau tak membuka warung sembako di rumah atau kiosnya di terminal, ayah-ayah kami pergi ke kota berdagang gemolan dan gerabah sebagai tukang kredit. Mereka seperti roda-roda kecil yang terus bergerak agar rumah tetap hidup, agar dapur tetap mengepul, agar anak-anak bisa tetap bersekolah meski dunia tidak pernah benar-benar murah.
Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa rapot menulisnya dengan kata yang begitu rapi, sementara hidup ayahku penuh debu jalanan dan suara tawar-menawar. Aku pernah berkata pada Irfan, “Ayahku bukan wiraswasta seperti di rapot. Ayahku tukang kredit.”
Irfan menatapku, lalu menjawab sederhana, “Yang penting ayahmu pulang, kan? Yang penting kamu bisa sekolah.” Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke dalam air, membuat lingkaran-lingkaran tenang di dadaku. Kalimat itu meluncur begitu saja, dari mulutku dan mulutnya yang memecah ritme tetabuhan Irfan di ruang kelas yang riuh oleh obrolan kami seisi kelas membicarakan topiknya masing-masing.
Mengingat itu menjadi ada semacam ganjalan yang sejak lama tersangkut di tenggorokanku setiap kali mataku menumbuk baris pekerjaan orang tua di halaman pertama itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa birokrasi sekolah harus membungkus kenyataan dengan kata-kata yang begitu rapi dan steril? Di sana tertulis "Wiraswasta", sebuah kata yang terdengar mapan dan berjarak. Padahal, kenyataan hidup ayahku jauh dari diksi yang mengkilap itu. Hidupnya adalah debu jalanan yang menempel di jaket lusuhnya, suara tawar-menawar yang sengit di pasar dan gang yang memanggul beban barang dagangan di bawah terik matahari.
Aku merasa ada ketidakjujuran yang dipaksakan oleh tinta hitam itu. Kata "Wiraswasta" seolah malu mengakui tangan ayahku yang kasar karena setiap hari mencatat cicilan panci atau kain di buku saku yang kumal. Saat Irfan menghentikan gerakan kakinya, ia menatapku dengan sorot mata yang tak biasa. Bukan tatapan anak seorang kyai kepada jelata, melainkan tatapan seorang sahabat yang sudah lebih dulu paham tentang hakikat syukur.
"Yang penting ayahmu pulang, kan? Yang penting kamu bisa sekolah," jawabnya sederhana. Jawaban Irfan seperti air dingin yang membasuh wajahku di siang yang gersang itu. Sederhana, namun menghujam. Membuatku menyadari bahwa kepulangan sosok ayah di sore hari dengan sisa debu di keningnya adalah sebuah kemenangan. Tiap rupiah yang ia tagih di jalanan adalah batu bata yang menyusun ruang kelas anaknya. Meskipun rapot menggunakan istilah yang "sopan", keberadaan siapapun di sekolah adalah bukti bahwa kerja keras ayahnya, seberapa pun berdebu sebutannya telah berhasil memenangkan masa depan anak-anaknya.
Angka-angka nilaiku mungkin hasil dari belajarku, namun kesempatan untuk mendapatkan nilai itu sepenuhnya adalah milik keringat orang tuaku yang tak pernah tercatat di kolom mana pun. Saat aku kembali menatap sampul merah itu, mungkin "Wiraswasta" memang kata yang paling dekat yang bisa ditemukan sekolah untuk menggambarkan seorang petarung jalanan seperti ayahku. Di rumah nenek yang tenang ini, aku mulai belajar menerima bahwa terkadang, hidup memang harus disederhanakan agar bisa dimengerti oleh mereka yang hanya melihat kita dari selembar kertas.
Demikian pekerjaan ibuku. Kalau di buku pelajaran kami membaca, “Ibu pergi ke pasar untuk membeli bumbu buat memasak sayur lodeh.” Sedangkan aku membaca kenyataan, “Ayahku pergi ke pasar grosir untuk membeli gerabah buat dijual lagi secara kredit. Ibuku pergi ke warung-warung buat menitipkan bungkus-bungkus serundeng.”
Buku pelajaran terasa seperti cerita yang bersih dan harum, sementara kenyataan adalah cerita yang lebih berat, lebih berdebu, tetapi justru lebih nyata. Di situlah aku mulai mengerti, pelan-pelan, bahwa hidup tak selalu sama dengan kalimat di buku sekolah. Hidup lebih seperti rapot yang sebenarnya: penuh angka, penuh nama, penuh pekerjaan, tetapi juga penuh kisah yang tak tertulis.
Dan mungkin, di antara meja kelas yang dipukul Irfan seperti kendang, rapot yang kubaca diam-diam, dan ayah-ayah kami yang pergi ke kota membawa gerabah, masa kecil kami berjalan seperti cahaya yang belum sepenuhnya terang, namun sudah cukup untuk membuat kami saling melihat sebagai teman, bukan sebagai anak siapa-siapa.
Di balik dinding kelas yang kusam itu, identitas kami melebur menjadi satu harmoni yang aneh. Di antara meja kelas yang dipukul Irfan dengan ritme kendang yang liar, di antara lembaran rapot yang kubaca diam-diam dengan penuh tanya, dan di balik punggung ayah-ayah kami dengan pekerjaannya masing-masing, dan cerita tentang ayahku yang pergi ke Karawang membawa pikulan gerabah, itulah masa kecil kami yang berjalan dengan caranya sendiri.
Masa itu terasa seperti cahaya fajar yang belum sepenuhnya terang. Masih ada kabur dan bayang-bayang, namun sinarnya sudah cukup untuk menyinari wajah kami masing-masing. Di bawah cahaya yang berpendar malu-malu itu, sebuah keajaiban kecil terjadi. Kami saling melihat sebagai teman, murni sebagai manusia yang duduk sebangku, bukan lagi sebagai "anak siapa-siapa" sebagai jenis persahabatan di titik nol.
Di ruang kelas itu, kasta dan pekerjaan orang tua seolah luruh bersama debu kapur tulis. Dunia yang mengajarkan arti kesetaraan. Tidak peduli apakah ayah kami seorang kyai, tukang kredit, atau penjual gerabah, kami semua memiliki rasa cemas yang sama saat ujian matematika tiba. Itulah jenis persahabatan sebagai cahaya yang menyatukan. Cahaya masa kecil yang tidak membeda-bedakan siapa yang rumahnya berlantai ubin atau siapa yang rumahnya berlantai tanah. Ia hanya memastikan bahwa saat kami tertawa, tawa itu terdengar sama renyahnya.
Sementara biodata di halaman pertama rapot sekolah mungkin mencoba mengotakkan kami dalam kolom-kolom administratif, namun interaksi kami di ruang kelas atau bawah kolong meja saat main petak umpet, telah merobek sekat-sekat itu.
Dan aku menarik napas panjang, lalu menutup sampul merah itu dengan perlahan. Suara derit pintu lama di rumah nenek seolah mengamini perenunganku. Aku menyadari bahwa rapot ini hanyalah catatan teknis tentang sebuah perjalanan, sementara jiwanya ada pada kami sebagai anak-anak yang tumbuh dengan akar yang berbeda, namun bercita-cita menyentuh langit yang sama.
Masa kecil kami mungkin tidak gemerlap, namun ia memiliki kehangatan yang cukup untuk kami kenang saat nanti hidup benar-benar menjadi rumit. Kami adalah para musafir kecil yang saling meminjam pundak, berjalan di jalur masing-masing tanpa harus merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.
Aku mengusap sampul merah itu untuk terakhir kalinya, merasakan butiran debu yang tertinggal di ujung jariku sebagai sisa-sisa waktu yang telah mengendap. Di luar, matahari siang di rumah nenek mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang pepohonan ke lantai papan kayu. Bayangan itu tampak seperti garis-garis hidup kami yang kelak akan memanjang, bercabang, dan mungkin menjauh satu sama lain, namun tetap berasal dari titik pangkal yang sama: halaman pertama biodata yang kembali kubaca.
Kusimpan kembali buku itu ke dalam lemari baju, menyelipkannya di antara lipatan kain yang beraroma kamper. Ada kelegaan yang ganjil saat pintu lemari itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan. Aku menyadari bahwa rapot ini bukan sekadar laporan tentang seberapa pintar aku dalam membaca huruf dan menghitung angka, melainkan sebuah saksi bisu tentang bagaimana kami, menyebut di antaranya adalah Ayif, Dema, Irfan, dan teman lainnya yang tak dapat kuceritakan semuanya, bahwa kami pernah berdiri sejajar di sebuah garis start yang penuh dengan doa dan keringat orang tuanya masing-masing.
Dunia mungkin aku akan terus membaca pelabelan itu. Melabeli ayah-ayah di rapot anaknya dengan istilah-istilah lama dan baru, dari wiraswasta, guru, atau kiai, dan jenis pekerjaan baru yang diakui dalam sistem administrasi. Namun bagi kami, di ruang kelas yang pengap dan di bawah meja yang bergetar oleh tetabuhan Irfan, kami telah lulus dari ujian yang paling sulit, yaitu belajar untuk tidak saling menghakimi atas beban yang dipikul pundak ayah-ayah kami.
Kami adalah anak-anak dari akar yang berbeda, yang hanya ingin tumbuh tinggi mencari matahari tanpa peduli tanah mana yang lebih subur. Ketika setiap aku mendengar derit motor tukang kredit di kejauhan atau melihat seseorang memikul gerabah ke arah kota, aku tak lagi melihat debu sebagai noda. Aku melihatnya sebagai tinta emas yang menuliskan masa laluku.
Aku beranjak meninggalkan kamar nenek, melangkah keluar menuju cahaya sore, membawa pemahaman baru bahwa namaku yang tertera di sana bukan sekadar identitas, melainkan sebuah janji untuk tumbuh menjadi pohon yang rimbun, bagi mereka yang telah menanamku dengan penuh cinta dalam diam, dan untuk mereka atas kesepahaman tentang arti kesetaraan. (Bersambung)