Serundeng

Rumah, bagiku, selalu menyerupai sebuah dermaga tua, yang bisa membuatnya lapuk oleh waktu,...

Serundeng

26 Jan 2026
222 x Dilihat
Share :

Serundeng

Rumah, bagiku, selalu menyerupai sebuah dermaga tua, yang bisa membuatnya lapuk oleh waktu, berlumut oleh hujan, namun tak pernah lelah menunggu. Ia tabah berdiri, membentangkan lengannya yang retak-retak untuk menyambut kapal-kapal kecil yang pulang dengan badan lecet setelah bertarung melawan ombak dunia. 

Rumah bukan sekadar tumpukan batu yang disusun dengan sabar, bukan pula sekadar anyaman bambu yang berderit saat malam datang, melainkan ruang bernapas yang sunyi. Tempat setiap penghuninya melipat lelah seperti baju yang basah, lalu menyembunyikan luka agar tak perlu dipamerkan kepada siapa pun. Di sanalah dunia dikecilkan ukurannya, agar hati yang terlalu penuh bisa beristirahat sejenak tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Di masa kanak-kanak, aku adalah anak yang gemar berlari menjauh. Kaki-kaki kecilku sering menapaki tanah tanpa rencana, mengejar layang-layang impian yang terombang-ambing ke mana saja angin membawanya, seolah langit adalah halaman rumah kedua. Aku berlari tanpa rasa takut, sebab dunia kala itu terasa ringan dan mudah ditaklukkan. Namun, sejauh apa pun langkah kakiku, selalu ada seutas tali tak kasat mata yang melingkari pinggangku. Tarikannya halus yang memanggilku pulang. Dunia di luar sana, pelan-pelan, terasa terlalu luas dan asing, membuatku ingin kembali, ingin berlindung di ruang bernama privasi, di bawah atap rumah orang tua kami yang hangat dan damai, rumah yang tak pernah bertanya ke mana aku pergi.

Langkah kakiku akan semakin cepat ketika perut mulai menabuh genderang keroncongan, nyaring dan tak sabar. Rasa lapar adalah lonceng yang berbunyi tanpa kompromi, penanda bahwa petualangan harus dijeda, meski hanya sebentar. 

Bagiku waktu itu, makan bukan perayaan, melainkan kewajiban yang harus segera dituntaskan. Sebuah persinggahan singkat sebelum kembali melarikan diri ke dunia permainan. “Makan dulu,” suara ibu sering memanggil dari dalam rumah, datar tapi penuh kuasa. Aku mengangguk sambil setengah berlari, sebab hidup, dalam kepalaku yang masih kecil, bukan tentang mengunyah dan menelan, melainkan tentang membelanjakan waktu untuk bermain. Merayakan setiap detik napas yang dijatahkan langit sebelum malam datang memaksa: sekolah diniyah, mengaji sejak sore hingga gelap menutup hari.

Aku masih bisa membayangkan nikmatnya duduk bersila di atas tikar pandan yang beraroma tanah, aroma yang seperti menyimpan rahasia hujan dan matahari. Di hadapanku, sebuah piring kaleng, penyok di beberapa sisi, catnya mengelupas, menyimpan kehangatan yang tak pernah gagal menenangkan. Seciduk nasi putih dan lauk sederhana terhampar di sana, menunggu untuk dilahap hingga tandas. 

“Jangan disisakan,” ibu mengingatkan pelan. Setelah perut terasa penuh, dunia kembali memanggilku keluar. Aku melesat lagi, dan ketika lelah akhirnya mengalahkan kakiku, aku tahu ke mana harus pulang, seolah rumah adalah satu-satunya alamat yang tak pernah berubah.

Ritme itu berulang seperti detak jantung: pergi, pulang, pergi, lalu pulang lagi. Ada binar girang yang selalu meledak di dada setiap kali ujung atap rumah tertangkap pandangan dari kejauhan, di sela jalan setapak yang sempit dan berdebu. Namun kini, binar itu bercampur getir. Sebab rumah yang dulu berdiri utuh, kini hanya tinggal kenangan. Tak lebih reruntuhan yang tak lagi menyerupai pelukan. Yang tersisa hanyalah batu-batu fondasi, diam dan dingin, terbenam di antara belukar yang tumbuh setinggi pinggang, seolah alam perlahan menutup luka dengan caranya sendiri.

Saat aku pulang menaiki tangga demi tangga menuju dataran tinggi, gerak tubuhku seperti mengulang kebiasaan lama. Aku teringat bagaimana dulu kaki-kaki kecilku berlari menaiki pijakan-pijakan itu. Melangkah dengan terburu-buru menjauh dari rumah untuk mengejar layang-layang impian, membiarkan angin menentukan arah. Tetapi kini, setiap kali menatap jalan pulang, yang menyambutku adalah dua bayangan yang saling bertabrakan: binar masa lalu dan lesunya masa kini. Keduanya berdiri berdampingan, meninggalkan jejak paradoks yang tajam tentang apa yang pernah ada, dan tentang apa yang kini hanya bisa dikenang tanpa bisa dipeluk kembali.

Dahulu, binar itu bukan sekadar pantulan cahaya yang singgah sebentar di kornea mata, melainkan sebuah doa yang dikabulkan bahkan sebelum sempat dirapalkan oleh bibir yang masih polos. Ia hadir tanpa diminta, jatuh begitu saja ke dada seperti kabar baik yang tak perlu dijelaskan. Ada beban yang perlahan terangkat dari pelupuk mataku setiap kali jarak menuju rumah kian mengkerut, mengecil ditarik oleh rindu yang tak paham logika, rindu yang bekerja seperti naluri paling purba. Aku ingat betapa ringan langkah kakiku saat berjalan meninggalkan jalan besar di dekat rumah nenek, lalu membelok menuruni puluhan anak tangga dari tanah dan batu. Jejak di tangga-tangga purba yang disangga ruas-ruas bambu agar bumi tak runtuh digerus hujan. Jalan setapak itu menjadi saksi bisu betapa terburu-burunya seorang anak kecil menuju muara kasih ibunya, seolah dunia tak lagi penting selama rumah sudah di depan mata.

Saat atap genting yang kusam mulai mengintip di balik rimbun pepohonan, dan dinding bilik dari anyaman bambu yang mulai lapuk itu menyapaku dengan keheningan yang ramah, aku tahu aku telah tiba di titik paling aman di semesta. Di sanalah segala ketakutan mengecil, dan tubuh boleh lengah tanpa rasa bersalah. Aku akan berdiri sebentar di depan pintu, membiarkan paru-paruku dipenuhi aroma kayu bakar yang merayap keluar dari celah-celah dinding. Mengendus bau asap yang bercampur tanah dan peluh, sebuah parfum kemiskinan yang justru terasa paling mewah di hidungku. Aroma itu menenangkan, seolah berkata: kau tak perlu menjadi siapa-siapa di sini. Namun kini, saat aku menatap reruntuhan, bau itu terasa hambar. Seolah asap telah membawa pergi seluruh nyawa rumah dam, meninggalkan puing kayu dan bambu yang kedinginan, serta sunyi yang menancap hingga ke sumsum tulang.

Langkah kaki yang dahulu cepat itu akan semakin cepat ketika perut mulai menabuh genderang keroncongan yang nyaring dan tak sabar. Rasa lapar adalah lonceng yang memanggil pulang, penanda bahwa petualangan harus dijeda sebelum hari benar-benar runtuh. Bagiku waktu itu, hidup bukan tentang mengunyah dan menelan, melainkan tentang bagaimana menggunakan tenaga untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu tawa ke tawa berikutnya. Aku tak pernah menyangka bahwa kelak, rasa lapar yang paling perih bukanlah perih perut yang kosong, melainkan kekosongan karena tiadanya sosok yang menyiapkan piring di atas tikar pandan. Kekosongan yang tak bisa diisi oleh makanan apa pun.

Aku masih ingat saat jemari kecilku menggenggam dua daun pintu kayu yang tertutup rapat. Kayunya kasar, menyisakan serpih-serpih kecil di telapak tangan. Begitu kubuka sebelah daun pintunya, aku berniat mengagetkan Ibu, membawa keriangan seperti hadiah murah yang kupungut dari jalan.

“Emak, lagi masak apa, Mak?” seruku nyaring. “Haya lapar, Ma.”

Ibu berdiri di depan tungku, punggungnya sedikit membungkuk, seolah sedang menahan berat dunia sendirian. Tangan kirinya memegang telinga ketel, sementara tangan kanannya menggenggam cerek, mengaduk isinya dengan irama teratur. Irama orang yang sudah terlalu akrab dengan kerja dan kesabaran.

“Emak lagi bikin serundeng,” jawabnya singkat sambil menoleh sebentar, menghadiahkanku senyum yang cantik. Senyum yang tampak sederhana, tetapi diam-diam menjadi benteng terakhir melawan dunia yang keras dan tak pernah adil. 

Aroma rempah dan gurih perlahan memenuhi ruangan, membungkus udara dengan janji kehangatan. Kini aku mengerti, aroma serundeng itu sesungguhnya adalah aroma perpisahan yang disamarkan oleh bumbu-bumbu lezat, agar tak terasa pahit oleh anak kecil yang belum paham kehilangan.

“Haya lapar, Ma,” kataku lagi, lebih mendesak. “Haya mau makan pakai serundeng.”

Aku berjongkok di depan hawu, memainkan api dan abu bara dengan ranting kecil, menonton kesibukan Ibu dengan mata penuh harap, seolah harapanku bisa mempengaruhi keputusan dunia.

Ibu menoleh lebih lama kali ini. Suaranya lembut, bahkan lebih lembut dari desis api yang menjilat kayu bakar.

“Serundeng ini buat dijual, Nak,” katanya pelan. “Emak sudah siapkan lauk godeblag sama perkedel jagung. Sana ambil nasi secukupnya. Kalau belum kenyang, ambil lagi.”

Lalu ia kembali mengaduk parutan kelapa itu, membiarkan aroma rempah dan gurih memenuhi ruangan, menjanjikan kelezatan yang kala itu kupahami sebagai kebahagiaan. Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti, bahwa di balik wangi serundeng itu, ada pengorbanan yang digoreng perlahan, hangus sedikit demi sedikit, agar seorang anak bisa tumbuh tanpa pernah merasa benar-benar kelaparan.

Dengan duduk bersila di hadapan Ibu, aku menyantap makan petang dengan lahap sebelum berangkat mengaji. Tubuh kecilku condong ke depan, seolah takut waktu mencuri kesempatan terakhir untuk kenyang. Aku tahu, meski tak menoleh, Ibu sedang memandangku. Memandang anak bungsunya dengan tatapan yang ingin merangkum seluruh masa depan ke dalam satu sore yang singkat. Tatapan itu seperti tangan tak terlihat yang menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat. 

Perkedel jagung buatannya terasa begitu nikmat, hangat dan manis, seolah tiap butir jagung menyimpan niat baik yang digoreng bersama kesabaran. Setiap anak akan selalu percaya bahwa masakan ibunya adalah puncak dari segala rasa. Jika tidak, mungkin sang ibu tak pernah memasak dengan cinta, atau sang anaklah yang telah kehilangan kompas nuraninya.

Kebiasaanku saat makan adalah membungkukkan badan hingga wajahku nyaris menyentuh piring di atas tikar pandan. Ada rasa aman dalam posisi itu, seolah dunia bisa kugenggam hanya dengan menundukkan kepala. Di sela suara kunyahanku yang riuh dan terburu-buru, suara Ibu tiba-tiba menyelinap lirih, seperti angin yang lewat tanpa ingin didengar.

“Makanlah, Nak,” katanya pelan, suaranya lembut namun sarat beban. “Emak besok lusa akan berangkat ke Jakarta.”

Aku hanya mengangguk santai, tanpa benar-benar memahami makna kalimat itu. Anak kecil memang sering kali buta terhadap badai yang sedang merayap mendekat. Ia hanya tahu langit hari ini masih cerah. Namun kini, saat aku berdiri di hadapan reruntuhan tempat pintu rumah dam pernah berdiri, aku baru meraba betapa perihnya perasaan Emak saat itu. 

Perpisahan rupanya sudah berdiri di ambang pintu, menunggu giliran masuk, sementara Ibu telah menyiapkan tas kain lusuh dan janji yang menggantung seperti pakaian yang tak sempat dijemur.

“Paling Emak dua bulan sudah pulang,” bisiknya kala itu, sembari membelai rambutku. Telapak tangannya masih berbau kelapa parut dan asap kayu, bau kerja yang tak pernah benar-benar pergi. 

Di belakangku, Kak Laela mendekat, menyentuh bahuku. Tangannya terasa dingin, dingin yang lahir dari sesuatu yang ia tahu lebih dulu dariku. Kami berdiri menatap bayangan Ibu yang menjauh, makin kecil, makin rapuh di mata.

“Haya, ayo berangkat mengaji,” kata Kak Laela. Suaranya serak, ada getaran yang ia sembunyikan di balik ketegaran yang dipaksakan, seolah jika ia bersuara terlalu jujur, segalanya akan runtuh.

“Kenapa Emak harus ke Jakarta, Kak?” tanyaku polos, seperti bertanya kenapa hujan harus turun.

Kak Laela menghela napas panjang, napas orang dewasa yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.

“Karena serundeng ini butuh harga yang lebih pantas daripada sekadar ucapan terima kasih di warung tetangga, Haya,” kata Kak Laela akhirnya. “Biar kamu bisa sekolah.”

Kini, yang kurindukan bukan lagi kepulangan, melainkan binar yang dulu meletup di mataku. Binar yang lahir dari ketidaktahuan, dari keyakinan bahwa rumah akan selalu ada. Yang tersisa hanyalah reruntuhan dan lesu yang menggelayut, sebuah paradoks tentang rumah yang dahulu penuh aroma serundeng, namun kini hanya ditumbuhi belukar dan pohon pisang. Tak ada lagi pintu. Tak ada lagi bilik bambu. Tak ada lagi hawu, tak ada lagi dipan kayu. Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan yang tak pernah kenyang, meski telah berkali-kali kukunyah dalam ingatan.

Rumah itu dulu adalah sebuah kejujuran yang telanjang. Satu pintu langsung mempertemukan dapur dan ruang tengah, tanpa sekat, tanpa rahasia. Telapak kakiku bersentuhan langsung dengan lantai tanah yang lembap, dingin, dan jujur. Begitu melangkah masuk, pandanganku selalu tertuju pada hawu pembakaran, dengan para, berupa anyaman batang bambu di atasnya, menghitam oleh jelaga. 

Di sanalah jagung-jagung digantung untuk diasapkan, bersanding dengan baskom berisi singkong yang difermentasi menjadi tape. Ibu gemar membuat tape, sebuah siasat sunyi untuk memperpanjang napas di meja makan. Cara sederhana untuk bertahan, sambil diam-diam menyiapkan anak-anaknya agar kelak tak perlu menggoreng perpisahan seperti dirinya.

Saat aku kembali menapaki jejak itu. Jejak yang sama, di tanah yang sama yang datang silih berganti adalah dua pemandangan yang saling bertubrukan: belukar liar dengan daun-daun pelepah pisang yang berdesis diterpa angin, dan bayangan hawu dengan tangan Ibu yang dulu sibuk di depan tungku. Di satu waktu, mataku menatap reruntuhan, di waktu lain, ingatanku menyalakan kembali dapur yang telah lama padam. Aku melihat tangan kirinya memegang telinga ketel, sementara tangan kanannya menggenggam cerek, membolak-balik isinya dengan irama yang teratur. Irama orang yang memasak bukan hanya dengan tenaga, tetapi dengan doa. Di situlah serundeng lahir, dari kelapa parut, rempah, dan kesabaran yang digoreng perlahan.

Kadang Ibu menjawab bahwa ia sedang membuat serundeng untuk dijajakan di warung-warung. Di lain waktu, ia memasak saun singkong dan sambal gurihnya, dua rasa yang barangkali masih bisa kutemukan di tempat lain, di kota-kota jauh setelah aku dewasa. Namun tak ada tempat lain yang mampu menyimpan makna dari tangan yang mengolah makanan itu: tangan yang memasakkan apa yang kukunyah dengan lahap, tangan yang menyelipkan doa di setiap adukan, tangan yang kemudian dipaksa pergi oleh keadaan. 

Ibu meninggalkan kami di rumah dam setelah menghadiahkanku senyum yang cantik. Senyum yang berdiri seperti benteng terakhir melawan kemiskinan yang tak kenal iba.

Ketika kabar tentang keberangkatan Ibu ke Jakarta sampai ke telingaku, hatiku tak bergetar. Aku hanya mengangguk santai, sebab pergi ke Jakarta baginya adalah sesuatu yang terasa biasa. Sebagai rutinitas yang datang dan pergi seperti musim. Namun kini, setelah waktu memaksaku belajar banyak hal, aku baru mampu meraba betapa perih perasaan Emak. Jakarta bukanlah kota impian baginya, melainkan medan perang tempat ia mempertaruhkan harga diri demi biaya sekolah empat anaknya. 

Aku yang baru kelas satu, Kak Laela kelas tiga, Kak Iman kelas lima, dan Kak Tahar yang sedang mondok di pesantren. Kami semua adalah beban yang ia pikul sendirian, tanpa keluh, tanpa jeda.

Puncak kegetiran itu terjadi di depan pintu, sesaat sebelum ia melangkah pergi. Ibu berdiri di ambang pintu, memegang tas kain lusuh yang telah menyerap banyak perjalanan. Ia menatap ke dalam rumah, menatap kami satu per satu, seperti seseorang yang sedang menghafal letak setiap benda sebelum semuanya berubah menjadi kenangan. Ia mendekapku erat. Aroma keringat dan asap hawu dari bajunya meresap ke pori-poriku, tinggal lebih lama daripada pelukannya sendiri.

“Paling Emak dua bulan akan pulang,” bisiknya. Kalimat itu terdengar seperti janji, tetapi lebih mirip doa yang ia ucapkan untuk dirinya sendiri. Ia lalu melangkah keluar, melewati pintu kayu itu. Bunyi langkah kakinya di tanah setapak terdengar seperti detak jam yang melambat, menunda perpisahan yang tak bisa dibatalkan. Ibu pergi membawa janji, meninggalkan aroma serundeng yang masih menggantung di udara dapur, adalah sisa-sisa kehangatan yang tak ikut berangkat.

Aku terpaku di ambang pintu, menatap bayangannya yang kian mengecil, ditelan rimbun pepohonan. Kak Laela mendekat, menyentuh bahuku dengan tangan yang terasa dingin. Ia telah mengenakan mukenanya, siap berangkat mengaji, tetapi matanya masih tertambat ke arah yang sama denganku, seolah berharap Ibu berbalik satu kali lagi.

Dulu aku sempat bertanya, dengan kepolosan yang belum mengenal perhitungan nasib, “Kak, kenapa Emak harus jualan serundeng jauh-jauh ke Jakarta? Kenapa nggak cukup di warung dekat rumah saja?”

Kak Laela menghela napas panjang. Dengan napas yang seolah memikul beban berkuintal-kuintal. “Karena di sini orang-orang cuma punya selera, tapi nggak punya uang, Haya,” katanya pelan. 

“Di Jakarta, uang lebih banyak daripada belas kasihan. Itu satu-satunya jalan supaya piringmu tetap berisi nasi.”

Kata-kata itu dulu lewat begitu saja. Baru sekarang aku mengerti: serundeng bukan sekadar makanan, melainkan jalan panjang yang ditempuh Ibu agar kami tetap bisa pulang pada hari esok.

Aku terdiam. Ada kekosongan yang tiba-tiba merayap pelan dari lantai tanah, naik melalui telapak kaki, menyusup ke betis, lalu berhenti di ulu hatiku seperti dingin yang lupa jalan pulang. Kekosongan itu tak bersuara, tapi beratnya membuat dadaku sesak.

“Dua bulan itu lama ya, Kak?” tanyaku akhirnya, dengan suara yang lebih kecil dari bayanganku sendiri.

Kak Laela tersenyum tipis. Senyuman yang tak benar-benar lahir dari bahagia, melainkan dari usaha keras untuk terlihat kuat. Senyum itu, entah kenapa, terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. Ia mengusap pipiku pelan, seolah ingin menghapus pertanyaan yang terlanjur keluar.

“Lama atau sebentar itu bukan soal jam,” katanya lembut. “Tapi soal seberapa sering kita merindukan masakan Emak di atas tikar ini.”

Ia menarik napas sejenak, lalu menambahkan, seperti mengunci percakapan agar tak runtuh, “Sudah, jangan dipikirkan. Emak pasti pulang. Ayo, kita berangkat.”

Kami pun berjalan beriringan meninggalkan rumah, melangkah di tanah setapak menuju tempat mengaji, atau pergi sekolah. Namun separuh jiwaku tertinggal di dalam sana, di dekat hawu yang apinya mulai meredup, disiram air hingga tinggal kepulan asap tipis. Api itu seperti perpisahan yang dipadamkan terlalu cepat, belum sempat memberi hangat yang cukup, sudah harus menjadi abu.

Ya, mungkin beras kami tak pernah benar-benar kekurangan, sebab jatah ladang keluarga Ayah selalu datang tepat waktu. Namun makan bukan semata soal perut kenyang oleh karbohidrat. Tubuh kecil kami memerlukan protein, lemak, dan vitamin agar bisa tumbuh utuh, agar kepala kami cukup kuat menampung mimpi. Susu adalah mimpi yang terlalu jauh, terlalu mahal untuk diucapkan. Maka daun singkonglah yang setia menjadi penyelamat. Ia direbus menjadi lalap, ditumis dengan bawang, atau dimasak bersantan, diramu sedemikian rupa untuk mengelabui lidah yang diam-diam merindukan kemewahan.

Sebab yang kami butuhkan, sesungguhnya, hanyalah energi, adalah sari-sari makanan untuk membesarkan daging tubuh, agar kami cukup tenaga untuk terus berjalan, terus bergerak, dan suatu hari kembali masuk ke pelukan rumah dam. Rumah kecil di dekat pemandian umum itu, rumah yang aromanya tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Meski pemilik senyum ibuku, senyum dan perihku, senyum dan perih saudara-saudaraku, satu per satu telah beranjak menjemput takdirnya masing-masing, rumah itu tetap tinggal di dalam dada. Sebagai rasa lapar yang tak ingin sembuh, dan sebagai rindu yang belajar bertahan.

Kemudian aku pun mengerti bahwa rumah bukanlah bangunan yang bisa runtuh dan ditinggalkan begitu saja. Ia adalah ingatan yang terus bekerja diam-diam, menumbuhkan rindu bahkan ketika kita merasa sudah kenyang oleh dunia. Rumah adalah cara seseorang mengingat dari mana ia berasal, dan kepada siapa ia pernah sepenuhnya bergantung tanpa syarat. Ia hidup di aroma serundeng yang tak lagi dimasak, di hawu yang tak lagi menyala, di tikar pandan yang tak lagi digelar, namun tetap hangat dalam ingatan.

Ibu, bagiku, bukan sekadar sosok yang melahirkan dan membesarkan. Ia adalah perjalanan panjang yang ditempuh tanpa peta, tanpa jaminan pulang tepat waktu. Ia adalah tubuh yang lelah namun enggan mengeluh, tangan yang terus bekerja sambil menyelipkan doa pada makanan sederhana. Kepergiannya ke Jakarta bukanlah langkah menuju mimpi, melainkan keberanian untuk kalah lebih dulu agar anak-anaknya kelak punya kesempatan menang. Ia pergi bukan untuk mencari hidup yang lebih baik, melainkan agar kami tak perlu terlalu cepat memahami pahitnya hidup.

Serundeng, daun singkong, perkedel jagung, semua itu kini tak lagi sekadar makanan. Mereka menjelma bahasa sunyi tentang pengorbanan. Tentang bagaimana cinta tak selalu hadir dalam bentuk pelukan panjang, tetapi dalam keputusan-keputusan berat yang diambil sendirian. Tentang bagaimana perut yang kenyang sering kali dibayar oleh dada yang lama menahan sesak. Dan tentang bagaimana kemiskinan bukan hanya soal ketiadaan, melainkan tentang kecerdikan untuk bertahan tanpa kehilangan martabat.

Kini, saat aku berdiri di hadapan reruntuhan dan belukar, aku sadar bahwa yang benar-benar hilang bukanlah rumah, melainkan kesempatan untuk kembali menjadi anak kecil yang tak tahu apa-apa. Namun justru dari kehilangan itulah aku belajar: bahwa rindu tak selalu meminta untuk dipenuhi, cukup dikenang agar kita tahu ke mana harus pulang, meski hanya dalam doa-doa yang kupanjatkan, dan harapan-harapan yang panjang.

Dan jika kelak aku terus melangkah menjauh, menempuh hidup dengan segala kebisingannya, aku ingin percaya bahwa sebagian diriku akan selalu duduk bersila di tikar pandan itu. Menunggu. Mendengarkan desis api hawu. Menghirup aroma serundeng. Sambil percaya, dengan cara yang paling sederhana dan paling manusiawi, bahwa cinta seorang ibu tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat, dari dapur kecil ke dalam dada anak-anaknya, untuk hidup lebih lama di dunia. Dengan menjalani, menghadapi, dan menerima segala tantangannya. (Bersambung)

Perspektif

Scroll