Nomaden Sunyi

Cerita tentang Uwa Kining datang kepadaku bukan sebagai kisah utuh, melainkan sebagai serpih-serpih...

Nomaden Sunyi

24 Jan 2026
239 x Dilihat
Share :

Nomaden Sunyi

Cerita tentang Uwa Kining datang kepadaku bukan sebagai kisah utuh, melainkan sebagai serpih-serpih yang saling bergesekan di dalam kepala, seperti batu-batu kecil di saku celana anak yang terus berjalan. Aku dan Kak Laela memang pernah tinggal di rumahnya. Itu fakta. Tetapi berapa lama kami tinggal di sana, waktu tak pernah mau memberiku angka. Hari-hari melebur satu sama lain, tanpa tanggal, tanpa tanda. Uwa sendiri tak sempat menjelaskan apa pun. Ia keburu meninggal oleh kejadian yang tak pernah benar-benar bisa kusebut, seolah penjelasan hidupnya dipadamkan sebelum sempat diberi nama, bukti, dan catatan kronologisnya.

Yang tinggal hanyalah ingatan yang menyambung dengan cara aneh, meloncat tanpa permisi. Pada suatu waktu, yang mungkin pagi, mungkin sore, ibuku datang menjemput kami. Aku masih kecil, tubuhku ringan, mudah dipindahkan. Aku dipangkunya, dan kami berjalan menuruni jalan curam di sela batu-batu besar. Batu-batu itu diam, dingin, dan terasa lebih kekal dari manusia. Setiap langkah seperti melepaskan sesuatu, seperti meninggalkan sepenggal diriku di belakang, di rumah Uwa yang makin jauh dan akhirnya tak terlihat.

Di depan, jalan berbelok tajam, persis di tepi lubang jurang yang hitam dan dalam. Lubang itu ditumbuhi tanaman liar, seolah alam sendiri berusaha menutupinya agar orang tak terlalu lama menatap. Aku sempat menoleh. Hanya sebentar. Tapi kengerian itu menetap lama. Dalam benakku terngiang suara orang-orang, entah siapa, entah dari mana:

“Ibumu dibuang ayahmu, Haya.”

Kata dibuang itu kupahami secara harfiah, sesederhana cara anak kecil memahami dunia: seperti membuang sampah. Dilempar. Dijatuhkan. Dilupakan. Aku membayangkan ibuku jatuh ke lubang jurang itu, yang gelap, tak bersuara, dan tak dicari, karena orang-orang akan menghindari lubang seram di ingatan sejak kecil itu.

Namun ibuku nyata. Bukan bayangan, bukan cerita pengantar tidur, bukan pula nama yang diucapkan orang lain dengan nada iba. Ia masih ada. Tetap ada. Tubuhnya hangat, hangat yang tak bisa disalahartikan, seperti tanah yang menyimpan matahari seharian lalu memberikannya kembali pada sore yang letih. Ketika ia memelukku, pelukannya terlalu erat, nyaris menyesakkan, seolah ia memeluk bukan hanya tubuhku, melainkan juga ketakutannya sendiri: takut kehilangan lagi, takut aku terlepas dari lengannya seperti sesuatu yang terlalu lama dipinjam dunia.

Di dadanya aku menempel, mendengar napasnya naik-turun, berat namun sabar, seperti ombak yang menenangkan pantai setelah badai. Aku hidup di napas itu, yang setiap helaannya menjadi izin bagiku untuk tetap ada. Dan ia, tanpa banyak kata, hidup di degup dadaku, di jantung kecil yang berdebar cepat seolah ingin memastikan bahwa kami masih saling menemukan. Pada saat itu, tak ada janji, tak ada penjelasan, hanya dua tubuh yang saling memastikan keberadaan: bahwa meski dunia berkali-kali memisahkan, ada ikatan yang tak pernah benar-benar putus.

Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti makna cerita tentang ibuku yang disebut dibuang. Kata itu ternyata bukan kebenaran, melainkan alat: sebuah kisah yang sengaja dipelintir agar terdengar masuk akal bagi telinga orang dewasa, lalu disuapkan sebagai nina-bobo kepada anak kecil yang terlalu jujur untuk curiga. Cerita itu kejam bukan karena isinya, melainkan karena tujuannya: membuatku betah di rumah Uwa, membuat jarak terasa wajar, membuat kehilangan seolah sesuatu yang harus diterima sejak dini oleh pikiran masa kanak yang belum tahu apa-apa.

Karena belum tahu apa-apa, membuat hatiku menolak untuk tenang. Ia tak paham logika orang dewasa. Ia hanya tahu satu hal: rindu. Maka tangisku sering pecah, datang tanpa aba-aba, berulang seperti ombak yang tak pernah lelah menghantam karang yang sama. Tangis itu memantul di dinding rumah yang asing, bergaung di lorong-lorong yang tak kukenal, seolah mencari jalan pulang lewat gema suaranya sendiri.

“Ingin ke Emak. Ingin ke Emak.”

Tangisan itu memang tak pernah kreatif. Tak pernah berubah kalimatnya, tak pernah berkembang menjadi permohonan yang lebih rumit. Ia sederhana, mentah, dan telanjang. Tapi justru di situlah kejujurannya berdiri paling tegak. Tangis itu tak ingin ditenangkan, tak ingin dibujuk dengan janji atau cerita lain. Ia hanya ingin pulang kepada pelukan yang dikenalnya, kepada tubuh yang menjadi rumah pertamanya, kepada ibu yang baginya tak pernah benar-benar pergi.

Waktu kembali meloncat, seperti biasa. Tanpa aba-aba, tanpa jembatan. Ingatan lain terus menyala, bukan sebagai kenangan utuh, melainkan kilatan cahaya yang tiba-tiba menerangi satu sudut masa kecil itu. Aku melihat diriku berlari-lari di sawah kering dekat rumah Uwa Kamar, kakak ayahku yang lain. Sawah itu tak lagi hijau. Tanahnya pecah-pecah, keras, dan panas, seperti kulit yang lama tak disentuh air. Namun kami berlari di atasnya tanpa ragu, telapak kaki kecil kami menapak retakan-retakan itu seolah luka tanah tak ada hubungannya dengan keriangan anak-anak.

Aku, Kak Iman, dan dua sepupu kami mengejar layangan yang terbang limbung di langit sore. Layangan itu naik-turun, sesekali nyaris jatuh, lalu terangkat lagi oleh angin yang tak terlihat tapi terasa. Benangnya bergetar di tangan, seperti urat tipis yang menghubungkan kami dengan langit. Angin mengibarkan rambut, baju, dan tawa kami. Kami menunggu magrib seperti menunggu isyarat berhenti dari dunia. Tanda bahwa permainan harus usai, bahwa keriangan punya batas yang tak bisa ditawar.

Lalu kami diajak ke dapur, ruang kecil yang hangat oleh api dan bau masakan. Di sanalah aku perlahan tahu ada satu peristiwa bernama berbuka puasa, yang datang tanpa kemegahan, hanya dengan kesederhanaan yang jujur. Dari kejauhan terdengar gema azan meluncur pelan, seperti suara yang menyeberangi sawah, atap, dan dada orang-orang yang menunggu. Suara itu disambut air yang diteguk tergesa, seakan waktu sendiri sedang dikejar, dan rasa syukur yang masih samar—belum sepenuhnya kupahami, tapi telah kuhirup aromanya.

Beberapa hari kemudian, aku pun mengenal apa yang disebut Lebaran. Ia datang sebagai puncak dari magrib-magrib yang harus dilalui dengan duduk melingkar, menunggu azan seperti menunggu lampu hijau dari semesta. Aku belajar tentang pakaian baru, kain yang bersih dan wangi, menyentuh kulit seperti janji akan sesuatu yang lebih baik. Aku tahu tentang pergi ke masjid, tentang tangan-tangan yang saling bertaut saat bersalaman, tentang senyum orang-orang yang tersusun rapi, seolah duka dan lelah disimpan sementara di lipatan baju.

Namun di antara semua itu, dan justru di balik semua itu, aku mulai mengenali pola yang berulang, seperti garis tak kasatmata yang menghubungkan hari-hariku. Sekali aku tinggal di rumah Uwa Kining, lain waktu aku berputar-putar berlari di rumah Uwa Kamar. Rumah-rumah itu ramah, pintunya terbuka, tapi tak satu pun benar-benar menetap di dalam dadaku sebagai rumahku sendiri.

Aku tahu sekarang, aku dipindahkan dengan niat baik, oleh niat yang rapi dan masuk akal bagi orang dewasa. Niat yang disusun dari pertimbangan dan kata “demi kebaikan”. Namun bagi seorang anak, perpindahan tetaplah perpindahan, tak peduli sehalus apa caranya. Aku seperti barang yang dibungkus hati-hati, dilapisi doa dan alasan, dijaga agar tak rusak, namun tetap saja diangkat atau diangkut. Kadang diletakkan, kadang dilempar pelan ke tempat lain.

Di situlah aku mulai mengenali irama hidupku sendiri. Irama yang tak selalu kupilih, tapi harus kuterima: berpindah tanpa banyak tanya, tinggal tanpa benar-benar menetap, dan perlahan belajar bahwa kebersamaan sering datang bukan hanya untuk mengajarkan arti pertemuan, melainkan juga cara berpisah pelan, berulang, dan diam-diam melukai.

Melekat juga kegembiraannya pada hari lebaran itu, Uwa Kamar memanggilku beberapa hari sebelumnya. Tangannya besar, suaranya berat. Ia menyodorkan uang dua ratus rupiah. Kuterima dengan tangan kiri, refleks anak kecil yang belum paham apa-apa.

“Bukan begitu.” Suaranya memotong.

“Pakai tangan kanan, Nak.”

Aku buru-buru mengganti tangan. Uang itu terasa dingin, tapi berat. Lebih berat dari nilainya.

“Masukkan ke saku. Jangan dipegang terus.”

Aku menurut. Tak berani bertanya. Di saat seperti itu, bertanya terasa seperti kesalahan.

Betapa besar uang itu bagiku, di masa ketika aku bahkan belum mengenal jajan. Aku belum tahu bahwa keinginan bisa diberi harga. Ketika Uwa menunjukkan benda kecil berbentuk lingkaran, atau kemudian tahu itulah namanya koin uang, aku sering menatapnya lama, seperti menatap sesuatu yang asing tapi menjanjikan. Terutama saat Kak Iman mendekat, matanya berbinar, suaranya penuh rencana:

“Haya, dengar. Dengan uang itu kamu bisa beli es.”

Aku diam. Kalimat itu jatuh di antara kami seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang, menimbulkan riak, tapi tak langsung kupahami artinya.

“Kamu mau, kan?”

Aku mengangguk pelan, anggukan yang lebih mirip gerak refleks daripada keputusan berlandaskan kemengertian. Aku ingin, tentu saja ingin, meski belum sepenuhnya tahu apa yang kuinginkan.

“Nanti habis dari Masjid Cisoka. Kita beli es. Di sini nggak ada warung,” ujarnya, ringan, seolah sedang menyebutkan arah angin.

Lalu hinggaplah di kepalaku satu kata: warung. Kata itu masuk lewat telinga, berputar-putar sebentar seperti lalat yang mencari tempat mendarat, lalu mengendap entah di sudut mana dalam kepala. Aku tak bertanya balik, tak menyela dengan kalimat polos, dengan berkata, “Di sini nggak ada warung, ya?” 

Aku hanya diam. Sebab di usia itu, pikiranku belum punya peta untuk kata bernama warung. Ia terdengar penting, tapi bentuknya kabur. Apakah ia rumah? Apakah ia orang? Atau tempat ajaib di mana es bisa dilahirkan?

Melihat diamku yang panjang, Kak Iman sekali lagi menerangkan apa itu warung. Ia menyusunnya dengan kata-kata sederhana, seolah sedang mengajarkan dunia versi mini: tempat membeli sesuatu, tempat orang datang dan pergi, tempat uang berubah menjadi rasa manis di lidah.

“Makanya,” katanya kemudian, nadanya tiba-tiba serius, “itu istimewa. Uang itu sangat berharga.”

Kata berharga pun ikut hinggap. Dua kata baru dalam satu waktu: warung dan berharga. Keduanya berdiri bersebelahan di benakku, seperti dua pintu yang belum bisa kubuka. Tapi aku tahu, dari cara Kak Iman menggenggam uang itu. Dari caranya berbicara pelan tapi tegas, bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak sekadar bisa dipegang, melainkan harus dijaga. 

Dan sejak saat itu, aku mulai belajar pelan-pelan bahwa keinginan, uang, dan janji kecil tentang es, semuanya memiliki bobot yang tak selalu terlihat, tapi terasa berat di dada seorang anak yang sedang belajar memahami arti dengan cukup dan istimewa.

Aku menyimpan koin itu lebih dalam di saku, menekannya dengan ujung jari, seolah aku sedang mengunci sebuah masa depan kecil yang bisa mencair di lidah, yang dingin, manis, dan sebentar saja. Di dadaku tumbuh perasaan yang belum punya nama. Ia bukan sekadar senang, bukan pula takut semata, melainkan campuran harap dan cemas yang saling berpelukan, seperti dua anak kecil yang belum tahu cara berpisah.

Perasaan itu rupanya tak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kebiasaan yang diam-diam membentukku sejak belia: hidup yang tak pernah menetap terlalu lama di satu tempat. Aku berpindah dari rumah ke rumah, dari pelukan ke pelukan, dari suara yang kukenal ke suara yang harus kupelajari ulang. Setiap perpindahan meninggalkan jejak halus. Bukan luka yang menganga, melainkan garis-garis tipis yang mengajari tubuhku untuk selalu siap berkemas. Seperti layangan yang terus ditarik angin, aku belajar menjadi pengembara kecil, menjadi nomaden bahkan sebelum tahu arti kata itu, bahkan sebelum tahu bahwa ada orang-orang yang benar-benar pulang ke satu alamat.

Dari situ pula, pelan-pelan, pemahamanku tentang cahaya terbentuk. Cahaya dalam hidupku jarang datang untuk tinggal. Ia tidak membangun rumah, tidak menaruh koper. Ia hanya singgah sebentar, cukup lama untuk membuatku percaya bahwa kehangatan itu mungkin, lalu pergi dengan tenang. Dan yang ditinggalkannya bukan tujuan, melainkan arah. Sebagai sebuah isyarat samar agar aku terus berjalan, terus bergerak, dan belajar menerima bahwa dalam hidupku, kepergian sering kali adalah bentuk lain dari ajaran.

Kutunggu hari yang dijanjikan Kak Iman, seperti anak kecil menunggu hujan turun dari langit yang sama setiap hari. Setiap pagi pertanyaanku tak pernah berubah, tak pernah cerdas, tapi jujur sepenuhnya:

“Kapan Haya bisa makan es?”

Kak Iman selalu menjawab dengan kata yang sama, ringan dan mudah, seolah waktu bisa dilipat sesukanya:

“Nanti.” Atau, “Iya, nanti.”

Kata nanti itu mengendap lama di kepalaku. Ia tumbuh menjadi janji, menjadi bayangan rasa manis yang belum pernah kucicipi. Aku menyimpannya seperti menyimpan koin di saku. Tak terlihat, tapi selalu kuraba keberadaannya. Hingga suatu pagi, Kak Iman memakaikanku sarung. Gerakannya tergesa, tapi wajahnya yakin.

“Sekarang kita pergi ke masjid,” katanya.

Ia menatapku sebentar, lalu menambahkan, seolah tahu ini satu-satunya kalimat yang kubutuhkan:

“Sepulang salat, kita makan es. Ayo, berangkat.”

Dadaku bergetar. Hari itu terasa lebih terang dari hari-hari sebelumnya. Aku berjalan tertatih-tatih membuntuti Kak Iman di jalan setapak yang berkelok, di sela antara batu dan belukar. Kakiku kecil, langkahku pendek, tapi harapanku berlari jauh mendahului tubuhku. Di belakangku dua sepupuku mengikuti, tertawa-tawa. Saat sudah sampai di jalan besar berbatu putih, Uwa Kamar, Uwa Iyah, dan rombongan berjalan lebih rapi, lebih dewasa, yang kutahu kemudian itulah sedang menuju tempat salat Ied. 

Dunia pagi itu terbelah: antara jalan kecilku dan jalan besar mereka. Langkahku mengikuti mereka, memasuki sebuah bangunan bercat putih, yang di dalamnya terdapat ratusan orang. Sesudah salat, kami berdiri melingkar di dalam masjid. Orang-orang pun bersalaman, wajah-wajah saling memaafkan, dengan suara takbir mengendap di langit-langit. Di sela keramaian itu, Kak Iman menunduk ke arahku dan berbisik, suaranya rahasia dan mendesak:

“Mana uangnya? Sekarang kita jajan es.”

Aku tersenyum, yakin. Tanganku segera merogoh saku kanan celana. Kosong. Pindah ke saku kiri. Kosong. Lalu ke saku baju. Juga kosong. Senyumku runtuh pelan. Jantungku berdetak lebih cepat.

“Tadi dibawa nggak?” tanya Kak Iman, suaranya mulai berubah.

Aku tak menjawab. Aku hanya meraba-raba lagi, lebih keras, seolah tekanan bisa memunculkan benda yang hilang. Kak Iman mulai berkeliling, menunduk, menatap lantai masjid, mengikuti jejak langkah kami barusan. Dua sepupu datang menghampiri.

“Ketinggalan di rumah kali,” kata salah satu dari mereka cepat.

“Atau jatuh di jalan. Yuk, kita cari sambil pulang.”

Dunia tiba-tiba berlari lebih cepat dariku. Tadi kami mau makan es, kini kami diburu pulang. Janji itu patah sebelum sempat kugigit. Di rumah, orang-orang sibuk mencari, suara mereka bertumpuk, langkah mereka hilir-mudik. Aku duduk bengong, diam di sudut, kesal dan bingung, bukan pada uang, tapi pada es yang tak jadi ada. Pada janji yang tiba-tiba menguap.

Uang pemberian Uwa Kamar. Uang yang pertama kalinya kugenggam, uang yang membuatku tahu apa itu uang, melayang entah ke mana dari saku bajuku. Pertanyaan datang dari segala arah, seperti tudingan yang tak kutahu harus kujawab bagaimana.

“Uangnya disimpan di mana?”

“Tadi siapa yang pegang?”

“Coba ingat-ingat lagi!”

Aku hanya menunduk. Tak ada yang bisa kujelaskan pada mereka. Yang hilang bagiku bukan koin itu sendiri, melainkan rasa manis yang terlanjur tumbuh di imajinasi. Dingin es yang pernah kurasakan kembali terbayang mencair di lidah, seolah kebahagiaan kecil itu sempat hadir lalu ditarik kembali tanpa pamit. Di situlah aku mulai merasakan arti kehilangan. Kehilangan yang ganjil, sebab belum pernah benar-benar kumiliki, tapi sudah kurasakan sakitnya dengan utuh.

Perasaan itu turun perlahan ke dadaku, seperti hujan tipis yang tak terlihat namun cukup untuk membasahi tanah. Di sana mungkin aku belajar, tanpa sadar, bahwa ada hal-hal yang tak perlu hadir lama untuk meninggalkan bekas. Cukup dijanjikan, cukup dibayangkan, lalu dibatalkan, dan hati kecilku sudah tahu cara mencatatnya sebagai luka.

Di sekelilingku orang-orang dewasa sibuk bertanya dan menebak-nebak, seolah kehilangan selalu harus punya bentuk yang bisa diangkat dan ditunjukkan. Mereka mencari koin, menyusuri saku, mengingat-ingat jalan yang kami lewati. Sementara aku diam, karena yang kucari tak jatuh di tanah mana pun. Ia hilang di tempat yang tak bisa dijangkau tangan: di harap yang sempat tumbuh lalu dipatahkan.

Mungkin sejak saat itu aku mengerti bahwa hidup tak selalu mengambil sesuatu yang sudah kita genggam. Kadang ia hanya membiarkan kita berharap sebentar, lalu mengajarkan betapa mudahnya harapan itu dicabut. Dan aku, bocah kecil yang berdiri di antara orang-orang dewasa, mulai mengenal satu pelajaran awal yang akan berulang sepanjang hidup: bahwa kehilangan sering datang lebih dulu daripada atau tanpa kepemilikan dulu sebelumnya.

Mungkin karena melihat wajahku yang jatuh, atau karena ingin menghiburku di hari lebaran yang semestinya penuh senyum, Kak Furqan mendekat. Ia merogoh saku, lalu menyodorkan satu koin dengan gerakan pelan, hati-hati, seakan takut suaranya melukai perasaanku yang sudah rapuh.

“Nih, buat kamu.”

Koin itu berkilat sebentar di telapak tangannya, menangkap cahaya sore seperti mata yang sedang menatap penuh harap. Aku memandanginya lama. Tanganku tak segera bergerak, seolah ada jarak tak kasatmata antara keinginanku dan benda kecil itu. Aku sudah tahu itu namanya uang, bahkan sudah mulai tahu fungsinya, meski belum pernah benar-benar akrab dengannya.

“Aku nggak mau uang,” kataku lirih, hampir seperti mengaku pada diri sendiri.

Aku mengangkat wajah sedikit, menatap Kak Furqan dengan mata yang mungkin terlalu jujur untuk seorang anak kecil.

“Aku mau es.”

Kalimat itu sederhana, nyaris sepele. Namun di dalamnya terkandung seluruh kerinduanku: pada rasa manis, pada janji kecil yang ditepati, pada kebahagiaan yang tak perlu ditunda atau ditukar dengan penjelasan. Es, bagiku, bukan sekadar minuman. Ia adalah wujud paling nyata dari keinginan untuk merasa dipedulikan, meski hanya sebentar.

Sejak hari itu aku mulai mengenal arti kehilangan. Bukan kehilangan dalam arti besar yang dibicarakan orang dewasa, tapi kehilangan yang ganjil: ketika pemilik sejatinya tak merasa rugi apa-apa, tak peduli uang itu jatuh di mana, ke tangan siapa. Sementara yang bukan pemiliknya justru memikul kecewa yang berlebihan, mencintai sesuatu yang bahkan belum sempat dimilikinya.

Orang-orang meributkan sesuatu yang bukan urusan mereka sepenuhnya. Padahal yang benar-benar punya tak mengerti apa itu kehilangan. Aku tak merasa miskin karena uang itu hilang. Aku hanya kecewa karena Kak Iman berjanji. Dan janji itu, untuk pertama kalinya tak ditepati.

Mungkin sejak saat itu aku belajar, pelan-pelan: bahwa yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan benda, melainkan kehilangan kepercayaan pada kata nanti. Dan sejak kecil, aku mulai tahu, hidup sering memberiku harapan hanya untuk mengajarkanku cara melepaskannya.

Akhirnya mereka hanya memberiku kue. Bukan es, bukan dingin yang manis, melainkan sesuatu yang renyah dan rapuh di tangan.

“Ini saja kita makan,” kata seseorang.

“Ini kue kancing, ini kue kuping gajah namanya.”

Aku mengangguk. Kunyahanku pelan, seperti sedang mencoba mengerti bentuk dunia. Aku makan sebanyak-banyaknya kue lebaran, bukan karena lapar, tapi karena ingin melupakan. Rasa manis yang kering itu perlahan menutup bayangan es yang tak jadi ada. Seperti hidup, rupanya: sering memberi pengganti, bukan yang dijanjikan.

Selebihnya, ingatan kembali terputus-putus. Dan yang tersisa hanya penggalan-penggalan kecil yang menyembul ke permukaan kesadaran, lalu tenggelam lagi sebelum sempat kucatatkan di masa dewasa. Aku hanya tahu waktu itu berpindah dari satu rumah Uwa ke rumah Uwa yang lain, seperti aku barang titipan yang harus tetap hidup. 

Ayahku mungkin sedang di kota. Entah bekerja, entah menghilang dalam urusan orang dewasa. Tanggung jawab mengurus anak akhirnya diambil alih saudara-saudaranya. Sementara ibuku, pada masa itu, mungkin sedang di Jakarta, jauh, dan hanya hadir sebagai nama yang sering kusebut dalam doa hafalan masa kanak-kanak.

Hingga suatu hari, ibuku kembali datang, benar-benar datang. Bukan kabar yang tertunda, bukan janji yang diselipkan agar aku tenang. Kak Iman yang pertama kali memberi tahu. Suaranya terdengar tergesa, seolah ia sendiri takut kabar itu terlambat sampai padaku. Saat itu aku sedang bermain air di bak kecil padasan di depan rumah dan tajug Uwa Kamar. Airnya dingin dan jernih, memantulkan langit yang siang itu tampak lebih biru dari biasanya, seolah dunia sedang berbaik hati.

“Haya, ada Emak,” katanya cepat.

Tak ada jeda untuk berpikir. Kata “Emak” langsung menjalar dan menarik tubuhku ke depan. Aku berlari. Kakiku masih basah, licin oleh air, sementara jantungku seperti berlari lebih dulu, mendahului tubuh yang kecil dan terburu-buru. Di ambang pintu, tempat tembok luar lebih rendah dari lantai ruang dalam, kakiku tersangkut. Dalam satu detik yang terlalu cepat, tubuhku terlempar ke depan. Dunia berputar singkat, seperti gambar yang tersentak dari bingkainya.

Dengkul dan daguku menghantam lantai. Ada bunyi tumpul yang kuingat sampai kini. Darah mengalir, hangat, merah, dan rasa perihnya datang belakangan, setelah kesadaran menangkap apa yang baru saja terjadi. Aku menangis, bukan hanya karena sakit, tetapi karena takut: takut pertemuan itu kembali tertunda, takut aku tak sempat sampai padanya.

Ibuku menangis. Pertemuan kami dimulai bukan dengan pelukan yang tenang, melainkan dengan luka yang terbuka, dengan darah dan air mata yang bercampur di lantai rumah Uwa.

“Ya Allah, Haya…” suaranya pecah, seperti doa yang jatuh terlalu cepat.

Aku dipangkunya. Tubuhku gemetar, antara sakit dan lega. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis sambil memeluk orang yang kucari.

“Sakit, Mak…” kataku di sela tangis, suara itu kecil, rapuh, seperti sisa tenaga yang masih kupunya.

Uwa Iyah datang membawa kunyahan beras dan kencur. Tangannya cekatan, seperti sudah terbiasa menolong luka yang tak terhitung jumlahnya. Ia menempelkannya ke dengkul dan daguku. Dinginnya menenangkan, baunya tajam dan asing, seperti obat yang dibuat bukan hanya dari bahan alam, tetapi dari kesabaran orang-orang lama yang tahu cara merawat luka tanpa banyak bicara.

Tangisku perlahan mereda. Menangis, rupanya, adalah pekerjaan yang melelahkan. Tubuhku mengendur, napasku memanjang. Aku tertidur di pangkuan ibu. Di tempat yang sejak lama kucari, seolah seluruh perjalanan berpindah-pindah itu hanya ingin membawaku kembali ke satu titik: pelukan yang tak perlu dijelaskan.

Ingatan berikutnya melompat lagi, seperti biasa, ke beberapa pekan setelah hari itu. Daguku tak kunjung sembuh. Malah berubah menjadi bisul, daguku membengkak, mengeras, dan nyeri setiap kali tersentuh. Rasa sakit itu datang diam-diam, tumbuh perlahan, seperti kenangan yang tak mau pergi meski telah melewati beberapa waktu.

Suatu hari, saat aku bermain ayunan di bawah pohon jambu di depan rumah nenek—tanda yang sederhana namun pasti bahwa ibuku telah membawaku pulang. Saat angin sore mengayunkan tubuhku ke depan dan ke belakang, saat daun-daun jambu berdesir pelan, dan cahaya matahari jatuh di tanah dengan sisa-sisa kehangatan. Di puncak ayunan itu, ketika tubuhku melayang sesaat, tiba merasakan bisul di daguku pecah. Nanah keluar, lengket, panas, dan menyakitkan, seperti rahasia tubuh yang akhirnya tak sanggup lagi disimpan.

Aku terkejut, lalu menangis, bukan hanya karena perih, tetapi karena sesuatu yang tak kumengerti ikut luruh bersama cairan itu. Seperti sebuah ingatan yang dilepaskan dengan paksa. Orang-orang dewasa bergegas menghampiri, membersihkan lukanya, menenangkan aku dengan suara-suara yang lembut dan terburu-buru. Namun bekasnya tak benar-benar pergi.

Hingga kini, garis noda itu masih menetap di daguku, samar tapi setia, seperti tanda tangan waktu. Ia menjadi penanda bahwa tubuhku menyimpan arsip perjalanannya sendiri, bahwa sebelum aku pandai mengingat dengan kata-kata, tubuhku telah lebih dulu mencatat semuanya dengan luka, tentang luka.

Entah karena ibuku harus kembali ke Jakarta, atau karena hidup memang tak pernah memberi jeda lama, suatu ketika aku kembali diajak pergi. Kali ini oleh Kak Tahar.

“Kita main ke Uwa Kamar!” katanya ringan.

Aku senang saja. Aku selalu senang diajak pergi. Aku membuntuti Kak Tahar berjalan menaiki dan menuruni lereng bukit, melewati jalan berbatu dan setapak tanah yang basah, berkilo-kilo meter jauhnya. Kakiku kecil, tapi langkahku dipaksa dewasa. Tak ada hitungan jarak saat itu, hanya ikut dan ikut.

Baru sekarang, ketika kuhitung dengan pikiran orang dewasa, kusadari betapa jauhnya perjalanan itu untuk bocah, untuk anak yang belum sekolah. Tapi betapa kuat tubuh kecil menempuhnya. Mungkin karena sejak dini aku terbiasa dipindahkan, diajak berjalan jauh tanpa banyak tanya, kini aku tak pernah benar-benar takut pada jarak. Ke mana pun harus melangkah, aku selalu siap menekadkan kaki. Seperti anak kecil yang dulu, yang belajar berjalan bukan untuk sampai, melainkan untuk bertahan.

Tak di kota, tak pula sepenuhnya di desa, sejak belia aku seperti diciptakan sebagai pejalan. Kakiku lebih dulu belajar jarak sebelum mengenal tujuan. Dulu, bila bukan bersama Kak Laela, aku berjalan dengan Kak Iman atau Kak Tahar. Kami pergi menyusuri pematang dan jalan tanah untuk meminta padi, hasil garapan sawah yang diurus saudara-saudara ayah kami. Padi itu bukan sekadar beras, melainkan tanda bahwa kami masih diingat, masih terhitung dalam lingkar keluarga yang luas dan longgar.

Lambat-laun, langkah itu kulakukan sendirian saat sudah masuk sekolah. Aku berjalan dengan semangat yang aneh: semangat untuk mengulang keceriaan yang pernah singgah sebentar, seperti ingin mengunjungi kembali masa lalu meski tak tahu alamatnya. Maka sejak awal aku selalu mengira setiap ajakan pergi adalah pintu menuju permainan, tawa, dan layangan yang menari di langit sore.

Maka ketika Kak Tahar mengajakku lagi, aku bersukacita. Dalam pikiranku, kami akan sampai di rumah Uwa Kamar, bertemu sepupu-sepupu, dan bermain layangan seperti dulu. Namun ketika kami hampir dekat, langkah Kak Tahar justru berbelok. Jalan yang diambilnya menjauh dari rumah yang pernah kutinggali bersama Kak Iman, rumah yang telah kukenal dinding dan sudut-sudutnya.

“Kita main ke Uwa Liyah,” serunya ringan, seolah perubahan arah itu tak berarti apa-apa.

Aku diam. Siapa Uwa Liyah? Baru kemudian aku tahu, ayahku masih punya saudara perempuan yang lain. Uwa Liyah. Rumahnya di Cisoka, tak jauh dari masjid jami—masjid yang menyimpan ingatan tentang uang lebaran yang hilang, tentang es yang tak pernah kumakan.

Kami tiba menjelang asar. Rumah itu asing. Halamannya berbeda. Baunya berbeda. Suaranya pun berbeda. Aku terus menempel pada Kak Tahar, seperti anak kucing yang takut dilepaskan di tempat baru. Aku tak ingat pasti apa yang diucapkan Uwa Liyah, tapi nadanya terasa seperti keputusan yang tak bisa ditawar.

“Biarkan Haya di sini bermalam,” katanya.

Kak Tahar terdiam sebentar. Ia tahu besok pagi harus sekolah. Ia harus pulang ke rumah nenek, di kampung lain, di desa lain. Ketika akhirnya ia berbalik pergi, aku baru menyadari apa yang sedang terjadi. Tubuhku bereaksi lebih cepat dari pikiranku.

“Kakak! Kakak!” teriakku.

Aku menangis sambil berlari kecil mengejarnya.

“Ingin ke Emak! Ingin ke Emak!”

Kak Tahar tak menoleh. Ia malah berlari. Mungkin Uwa menyuruhnya begitu. Agar ia segera hilang dari pandanganku, agar perpisahan tak berlangsung lama. Tapi bagiku, justru di situlah perpisahan terasa paling kejam. Aku terus menangis, memanggil ibu, memanggil sesuatu yang tak hadir.

Namun aku tetap bocah. Tangisku punya batas. Lelah menggerus suara. Air mata mengering sendiri. Aku berhenti menangis karena Uwa Liyah berjongkok di depanku dan berkata dengan suara yang dibuat sehangat mungkin:

“Nanti malam Emakmu datang.”

Ia menambahkan, seolah janji itu butuh hiasan:

“Di sini malam ini ada pengajian. Ramai.”

Kata ramai itu seperti umpan. Dan benar saja, menjelang malam, rumah itu perlahan dipenuhi orang. Suara langkah, salam, dan bacaan ayat mulai mengalir. Lampu-lampu penerang dinyalakan di sana-sini. Cahaya kuningnya membuat bayangan bergerak di dinding. Aku melongo, teralihkan. Setelah lelah menangis, keramaian itu menenangkanku, seperti dunia yang kembali bergerak.

Namun malam punya caranya sendiri untuk mengajari sepi. Semakin larut jam merayap, semakin sunyi dadaku, seperti rumah yang lampunya satu per satu dipadamkan tanpa sempat berpamitan. Keramaian di sekeliling, suara orang-orang, langkah kaki, tawa yang sesekali pecah, tak pernah benar-benar mampu menggantikan satu sosok yang kutunggu. Mereka yang hadir, tetapi kehadiran mereka terasa seperti bayangan: ramai, namun tak memeluk.

Aku duduk sendiri, tubuh kecilku terlipat di sudut ruang, memeluk lutut seperti memeluk harapan agar tak jatuh. Aku menunggu. Menunggu ibu. Menunggu janji yang katanya akan datang bersama malam. Setiap bunyi langkah membuatku menoleh, setiap pintu yang berderit membuat jantungku melonjak, lalu kembali jatuh ketika yang muncul bukan ia.

Waktu berjalan pelan, menyeret dirinya sendiri, dan malam semakin tua. Udara semakin dingin, dan mataku mulai berat, tetapi pintu tak juga terbuka untukku. Seperti ada jarak yang tak bisa ditembus oleh tangis maupun doa bocah. Di situlah aku belajar, diam-diam, bahwa menunggu adalah bentuk lain dari berharap, dan berharap, pada usia sekecil itu, bisa terasa lebih melelahkan daripada berlari seharian.

 

Malam itu aku menangis lagi. Tangisku lebih keras, lebih lama, lebih putus asa. Bukan lagi tangis kaget, tapi tangis rindu yang tak tahu harus ke mana. Ibuku tak kunjung datang. Dan aku kembali belajar pelajaran yang sama, untuk kesekian kalinya: bahwa janji sering kali dibuat agar anak-anak tenang, bukan agar ditepati.

Di situlah aku tertidur, di rumah orang lain, dengan air mata yang belum kering. Seorang bocah pejalan, yang sejak dini diajari dunia bagaimana rasanya ditinggal, lalu diminta kuat sebelum sempat memilih.

Dalam tangis sesunggukan itu, yang datang bertubi-tubi tanpa jeda antara gerak mulut dan terus-menerus mataku mengeluarkan airnya, dan Uwa Liyah barangkali sudah kehabisan cara untuk meredakannya. Tangisku terlalu panjang untuk ditenangkan dengan bujuk sederhana, terlalu jujur untuk dibungkam dengan janji. Di tengah kebingungan itu, seseorang yang tak kukenal menghampiri. Wajahnya samar, terpotong-potong oleh cahaya lampu yang temaram dan bayangan orang-orang yang berlalu-lalang. Suaranya terdengar seperti suara orang dewasa pada umumnya: ingin cepat selesai, ingin segera sunyi kembali.

“Ini Emak,” katanya.

Namun yang muncul dan memangkuku adalah perempuan yang sama sekali asing. Tubuhnya memang hangat, tetapi bukan kehangatan yang kukenal. Bukan hangat yang tumbuh dari dada yang pernah menjadi tempatku bersandar. Lengannya memeluk, tetapi pelukannya tak punya alamat dalam ingatanku, seperti rumah yang bentuknya mirip, namun pintunya selalu salah.

Aku tahu ibuku. Aku hafal wajahnya, bau bajunya, cara tangannya memegangku. Semuanya tersimpan rapi di dalam tubuhku, bahkan sebelum aku pandai menyebutkan namanya saat dipanggil orang-orang. Naluriku lebih tajam dari kata-kata. Ia langsung menolak, seketika itu juga, tanpa perlu berpikir. Karena bagi seorang anak, ibu bukan soal siapa yang datang, melainkan siapa yang dikenali oleh seluruh tubuhnya.

Kontan aku menjerit lebih keras. Tangisku pecah, suaraku patah-patah. Kakiku menerjang-nerjang, tanganku memukul-mukul tubuh perempuan itu, seperti anak kecil yang melawan gelombang yang salah datang.

“Bukan! Bukan Emak!”

Aku berteriak tanpa kalimat utuh, hanya suara dan air mata.

Kini, ketika kuingat kembali, kasihan juga perempuan itu. Ia hanya ingin menolong, tapi menjadi sasaran amuk seorang bocah yang hatinya sedang kehilangan pusat. Ia menerima tendangan, pukulan kecil, dan tangis yang tak bisa dijelaskan. Dunia memang sering begitu: orang baik kadang salah waktu datangnya.

Tangisku akhirnya padam. Bukan karena tenang, tapi karena habis. Seperti hujan yang berhenti bukan sebab langit cerah, melainkan karena awannya kosong. Dan yang kuingat setelah itu adalah pagi. Aku terbangun sendiri. Sunyi. Duduk terpaku, memeluk lutut kembali, sambil menatap ruang yang asing.

Bangun dari tidur di tempat yang tak kukenal, tanpa suara ibu, tanpa langkah semua kakakku, yang rasanya seperti dilempar ke dunia lain tanpa peta. Aku diam. Tak menangis. Tak memanggil. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang terpotong, terpenggal, lalu jatuh entah ke mana. 

Mungkin sejak saat itu aku mulai sering diam. Aku seperti belajar satu pelajaran pahit: menangis sekeras apa pun tak selalu mendatangkan apa yang diinginkan. Tangis tak memanggil ibu. Tangis tak mengembalikan pelukan. Ketika aku ingin ibuku memangkuku, yang ada justru orang-orang baru dengan wajah asing, dan satu-satunya yang sedikit kukenal hanyalah Uwa, pun sesungguhnya masih terasa jauh, sebab baru bertemu sejak mulai tumbuh kesadaranku.

Akhirnya aku bangkit. Langkahku pelan, ragu-ragu, seperti anak kecil yang belajar berdiri di dunia yang tak ramah. Aku menghampiri Uwa yang sedang di dapur. Ia membolak-balik sesuatu di ketel di atas hawu pembakaran. Minyak mendesis, api kecil menyala sabar. Bau hangat menyebar di udara.

Uwa menengok sebentar. “Haya, sudah bangun?” Suaranya biasa saja, tak berlebihan, tapi cukup menenangkan.

Ia lalu menyodorkan piring berisi beberapa potong goreng pisang. “Makanlah, Nak. Ini goreng pisang namanya.”

Aku ragu sejenak, lalu memberanikan diri mengambil satu. Perutku keroncongan. Sejak sore hingga semalaman, tenagaku pasti habis untuk berteriak dan menangis. Gigitan pertama terasa panas, manis, dan berat. Kunyahan demi kunyahan masuk perlahan, seperti dunia yang memaksa diri diterima.

Bersamaan dengan itu, satu perasaan merangsek masuk, lalu disusul perasaan lain, hingga akhirnya mengendap menjadi satu kesimpulan yang sunyi: aku telah diasingkan. Bukan diusir dengan kasar, melainkan dipindahkan dengan niat baik, yang justru lebih sulit dipahami oleh anak kecil.

Aku mulai terbiasa tanpa ibu di sampingku. Tanpa kakak yang menggenggam tanganku. Seolah hidup berkata pelan tapi tegas: hidup harus dan akan dijalani sendirian. Bukan karena ingin, melainkan karena tak ada pilihan lain.

Saat malam sebelumnya, saat orang-orang berlalu-lalang di depanku, membawa doa, suara, dan keramaian, dan aku duduk terpaku. Di tengah riuh itu, ada satu hal yang tak datang: ibuku. Dan ketika yang paling kuinginkan tak hadir, keramaian berubah menjadi hampa.

Sejak malam itu, kesunyian lahir di dalam diriku. Bukan kesunyian ruangan, melainkan kesunyian batin. Kesunyian yang tak bersuara tapi terus berbunyi. Dan sejak bocah, aku telah merasakannya: bahwa sendirian itu bukan sekadar keadaan. Ia menikam, perlahan, dan tinggal lama.

Sejak hari itu, aku belajar berjalan dengan sunyi sebagai teman. Sunyi tak selalu berarti sepi. Kadang hanya ruang kosong yang tak terisi suara ibu, tak dipenuhi tawa semua kakakku. Di ruang itulah aku tumbuh, pelan-pelan, seperti rumput yang memilih hidup di sela batu. Tak terlihat kuat, tapi keras kepala untuk mati.

Aku menjadi anak yang tak banyak bertanya, sebab pertanyaan sering berakhir tanpa jawaban. Aku menjadi anak yang mudah diajak pergi, sebab tinggal atau pindah tak lagi memiliki perbedaan yang jelas. Rumah bukan lagi tempat, melainkan keadaan sementara. Sebuah persinggahan yang bisa berganti sewaktu-waktu, tanpa aba-aba.

Barangkali di situlah asal kebiasaanku kelak: berjalan jauh tanpa mengeluh, bertahan tanpa mengadu, dan menerima tanpa banyak menuntut. Bukan karena aku kuat, melainkan karena aku sudah lebih dulu lelah berharap. Harapan bagiku bukan cahaya, melainkan beban yang harus dibawa dengan hati-hati agar tak jatuh dan melukai diri sendiri.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap hidup, meski kecil dan rapuh: ingatan. Ingatan tentang dipangku, tentang dijanjikan, tentang ditinggal. Ingatan itulah yang kelak menuntunku menulis, merangkai kata seperti meraba luka lama. Bukan untuk membukanya kembali, tapi untuk memastikan bahwa aku pernah ada, pernah merasa, dan pernah mencintai kehadiran seseorang dengan sepenuh masa kanak-kanak.

Mungkin hidup memang tak pernah bermaksud adil sejak awal. Ia hanya mengajarkanku satu hal yang paling dasar: bahwa cahaya tidak selalu datang dari arah yang kita tunggu. Kadang ia datang dari luka yang dibiarkan sembuh sendiri. Dan dari situlah aku melangkah sebagai seorang pejalan kecil yang sejak dini belajar berdamai dengan kehilangan, sembari terus berjalan, menjemput hari-hari yang belum bernama.

Di sanalah cerita ini berhenti sejenak. Bukan karena selesai, melainkan karena napas perlu diambil. Sebab hidup, seperti ingatan, tak pernah benar-benar tamat, tapi ia hanya berpindah halaman.

Akhirnya aku memahami sesuatu yang tak pernah diajarkan secara lisan oleh siapa pun: bahwa kehilangan pertama dalam hidup sering kali bukan tentang orang yang pergi, melainkan tentang diri yang ditinggalkan untuk belajar bertahan. Di malam itu, di rumah orang lain, aku bukan hanya kehilangan ibu untuk sementara, tetapi kehilangan keyakinan bahwa dunia akan selalu datang saat kupanggil.

Sejak saat itu, aku tumbuh sebagai anak yang tahu caranya menunggu tanpa berharap, berjalan tanpa digandeng, dan mencintai tanpa menggenggam terlalu erat. Aku belajar menyimpan rindu di tempat yang tak terlihat, agar ia tak mudah terjatuh dan pecah. Aku belajar berdiri di tengah keramaian tanpa benar-benar merasa ditemani.

Dan mungkin di situlah titik kulminasinya: aku menjadi pejalan bukan karena ingin menjauh, melainkan karena tak pernah benar-benar punya tempat untuk menetap. Setiap langkah adalah cara menyelamatkan diri, setiap perpindahan adalah usaha kecil agar luka tak sempat mengeras. Aku berjalan bukan untuk pergi, melainkan agar tetap hidup.

Saat kutengok kembali masa bocah itu, aku seperti memutar tubuh ke arah bayangan yang lama mengikutiku tanpa suara. Aku memeluk kembali jiwa bocah yang masih hidup di dalam tubuh orang dewasa ini. Bocah yang mungkin tetap menangis, tetap memanggil ibunya di rumah-rumah asing yang berganti nama dan aroma. Tangis itu tak pernah benar-benar reda; ia hanya belajar menunggu di tempat yang lebih dalam, di ruang yang tak mudah dijangkau oleh keramaian.

Aku tahu kini, bocah itu tak pernah pergi. Ia tinggal di dalam diriku, diam namun waspada, setia seperti penjaga malam yang tak pernah tertidur. Ia menunggu bukan lagi kedatangan siapa pun, bukan pintu yang terbuka, bukan langkah yang mendekat. Ia menunggu aku sendiri. Menunggu saat aku cukup kuat untuk menoleh, mengakui keberadaannya, dan menyebut namanya tanpa rasa malu.

Dan di sanalah aku akhirnya memahami: dari sunyi yang menikam itulah aku belajar bernapas, belajar bertahan tanpa jaminan. Dari kehilangan yang tak pernah benar-benar selesai itulah aku merangkai diriku, perlahan, rapuh, namun utuh. Aku menjadi aku. Bukan meski pernah kehilangan, melainkan karena kehilangan itu telah lebih dulu membentuk caraku hidup, berjalan, dan tetap menyala meski tanpa janji. (Bersambung)

Perspektif

Scroll