Ambang Lamunan

Malam terus dan terus mengeram, seperti induk gelap yang enggan melepaskan telurnya, menindih...

Ambang Lamunan

23 Jan 2026
176 x Dilihat
Share :

Ambang Lamunan

Malam terus dan terus mengeram, seperti induk gelap yang enggan melepaskan telurnya, menindih jantung hidupku yang sejak tadi berdenyut pelan, letih, tapi belum mau menyerah pada mata terpejam. Sebenarnya aku sudah sangat lelah, lelah yang bukan sekadar lelah tubuh, melainkan letih yang menjalar sampai ke niat harus segera tidur. Sudah waktunya memang aku pergi tidur, menutup hari seperti menutup buku yang halamannya mulai kabur. Namun aku masih terjaga, terdampar di ambang sadar dan lelap, karena mataku menolak terpejam, seolah ada sesuatu di dalam dada yang belum selesai bicara dengan malam.

“Apa yang kau tunggu?” bisik diriku sendiri, lirih, nyaris tenggelam oleh dengus napas.

Daripada tak kunjung mata terpejam, aku pun membuka pintu dan duduk di lawang seperti dulu, seperti seorang anak yang menunggu cerita sebelum tidur. Di sana aku memandangi langit yang gelap gulita, memandang langit yang seolah tak bertepi, seperti pikiran yang tak tahu di mana harus berhenti. Taburan bintang menghiasi cakrawala, berjentik-jentik kecil, seperti seribu kunang-kunang yang berpendaran di angkasa, mengerubungi malam sebagai lentera-lentera sunyi pikiranku. Cahaya bulan memutih terang, separuh tubuhnya tertutup awan, seolah ia pun malu-malu menunjukkan wajah utuhnya. Kemilaunya menjentik lembut, hinggap di rerimbun daun yang digoyang angin menuju pagi, menimbulkan desir yang pelan, seperti doa yang tak selesai diucapkan.

Aku duduk lama di situ, membiarkan malam lewat tanpa kusapa, hingga hari diam-diam menginjak pagi. Tak lama setelah aku merebahkan badan kembali, masih tanpa mata yang benar-benar terpejam, suara kokok ayam bersahutan terdengar dari kejauhan. Datang satu per satu, lalu ramai, seperti suara-suara yang saling membangunkan ingatan.

“Sudah pagi rupanya,” gumamku, dengan suara yang terasa asing di telingaku sendiri.

Kokok itu cukup nyaring untuk membangunkan manusia-manusia yang terlelap dari kematian sementaranya. Suara itu seperti ajakan yang tak memaksa, tapi juga tak bisa diabaikan, membujuk kami sekampung untuk segera berkemas diri, menyambut hari yang selalu datang dengan warna dan tanya. Pagi, seperti hidup, tak pernah menjanjikan jawaban, hanya menyediakan kesempatan.

Kini aku berada jauh dari masa kecilku. Jauh bukan hanya oleh jarak, tapi oleh waktu yang pelan-pelan mengeras. Aku telah menempuh tempat-tempat terjauh semampuku, menjauh dari halaman rumah dan suara nenekku, menjauh dari masa lalu yang sederhana. Aku berjalan di lorong masa depan yang sempit dan panjang, sambil terus berbenah, merapikan diri demi menggapai apa yang disebut cita-cita dan impian hidup. Aku ingin gairah hidup kembali menyala di relung batinku, meski hanya seperti api kecil yang dijaga dari angin.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tanyaku pada bayangan sendiri yang samar di lantai, disuarakan pada daun-daun jambu dan rambutan yang tumbuh di halaman depan.

Pada semua serpihan harapan yang tersisa, yang tercecer seperti pecahan kaca di jalan sunyi, kukumpulkan satu per satu dengan tangan gemetar. Kurajut kembali serpihan itu, meski sering melukai jari, demi sebuah impian tentang alasan mengapa hidup harus terus dilanjutkan. Aku ingin menyatukan kembali harapan-harapan yang hampir hilang itu, membangunnya menjadi jembatan rapuh menuju masa depan. Sekalipun masa depan tak pernah pasti, bahkan sering menakutkan, aku tetap ingin mencoba membenahi diri, selangkah demi selangkah, tanpa janji apa pun pada siapa pun selain diriku sendiri.

Saat pandangan mataku kembali terangkat ke langit kelam, kemerah-merahan cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Warna itu tipis, tapi tegas, seperti garis awal pada lembar baru. Tanda waktu subuh telah masuk. Tak lama kemudian terdengar kokol dan beduk dipukul dengan sepenuh tenaga, suaranya menggema, memantul di dinding-dinding pagi yang masih basah oleh sisa malam.

Aku teringat kokol dan beduk yang dulu tergantung di dekat tempat air wudu di Masjid Raya Citamiang. Jika tiba waktu subuh, kokol dan beduk itu ditabuh oleh siapa saja yang kebetulan paling dekat, atau oleh mereka yang baru selesai mengambil air. Orang-orang di dalam masjid hanya perlu memanggil, entah kepada siapa, yang penting suara itu sampai. Seruan itu diestafetkan dari satu mulut ke mulut lain, hingga akhirnya ada tangan yang mengangkat pemukul, dan kokol serta beduk pun ditabuh dengan tenaga secukupnya, seolah mengerti bahwa yang dibutuhkan bukan kekerasan, melainkan ketepatan.

“Pukul saja, pelan tak apa,” suara seorang tua sering terdengar, menenangkan, seperti datang dari lapisan waktu yang lebih dalam. Perintah itu hampir selalu berasal dari Wak Ajuk, orang yang paling pertama tiba di masjid. Setelahnya, satu per satu para tetua kampung menyusul. Semakin mendekati waktu subuh, jamaah kian penuh. Ruang masjid perlahan beralih dari sunyi menjadi siaga, dari gelap menjadi kesiapan yang hening, dan ruang sunyi itu perlahan berubah menjadi denyut kebersamaan yang hangat.

Aku ingat, dulu kami kanak-kanak sering berebut pemukul. Menjelang subuh kami terbangun bukan oleh satu orang saja, melainkan oleh beberapa orang dewasa yang datang lebih dulu ke masjid, membangunkan kami yang masih terlelap, sebagian masih berdengkur pelan. Kami tidur bertumpuk bagai ikan peda, di pojok kanan belakang ruang masjid, atau di ruang sebelah yang biasa dipakai mengaji. Kami yang di tempat paling belakang itu sering dibiarkan terakhir dibangunkan, makanya sering berebut memilih tempat itu, agar tidur kami tak terpotong terlalu cepat. Namun bila masjid penuh oleh tidur para pemuda dan sebayaku, kami yang belakangan kembali ke masjid setelah nongkrong di gardu, ruang tidur menyisakan ruang utama dan sebagian menumpuk di pojok kiri belakang, dekat pintu masuk, tempat lalu-lalang orang dewasa datang berduyun-duyun memasuki masjid.

Namun bagi kami yang ingin cepat bangun, dan menjadi yang pertama memegang palu kokol dan beduk, itu berarti harus terjaga lebih awal dari yang lain. Di ruang utama masjid, kami yang sudah bangun kerap berebut diam-diam yang dengan mata masih berat, dengan tangan yang setengah gemetar menahan kantuk. Tempat tidur di ruang utama itu sering menjadi lokasi yang paling awal dibangunkan: ada yang memilihnya dengan sukarela, demi peluang pertama memegang palu, ada pula yang mengalah karena terpaksa berpindah, digeser oleh orang-orang dewasa yang datang lebih dulu, yang kadang memaksa kami, anak-anak kecil untuk memberi ruang tidurnya, seolah tidur pun adalah hak yang bisa dipindahkan begitu saja.

Bagi kami, menjadi yang pertama memegang palu kokol berarti harus bangun paling awal. Di antara kami kerap terjadi rebutan kecil, siapa yang lebih dulu menjadi tukang pukul kokol dan beduk. Kami ingin memukulnya sekeras-kerasnya, sepuas-puasnya, tanpa tahu arti waktu, tanpa memahami makna panggilan. Suara yang dilepaskan dari kokol dan bedug hanyalah letupan kegembiraan, bagi kami yang masih kanak-kanak tak ubahnya sebagai dentang yang menggema di dada sendiri, dan mungkin do’a dan kesadaran bagi orang dewasa.

Baru setelah itu jauh dari pengalaman itu, ketika kami tak lagi tidur di pojok-pojok masjid, ketika tangan kami tak lagi memegang palu, aku mulai mengerti maksud suara Wak Ajuk. Bahwa panggilan itu bukan soal keras atau pelan, melainkan tentang kesabaran menunggu waktu, tentang tahu kapan harus mendahului dan kapan mesti menahan diri. Sesuatu yang dulu kami pukul tanpa makna, ternyata diam-diam sedang memukul kami balik, yang berdenyut pelan, agar kelak kami belajar mendengar.

Dari bunyi yang gaduh itu, kami yang mendapatkan kepuasan kecil di masa kanak-kanak, kepuasan yang kini terasa jauh dan asing. Lalu kini, ketika bunyi itu kembali kudengar, ia tak lagi sekadar suara, melainkan kenangan yang mengetuk pelan, mengingatkanku pada diri yang pernah begitu sederhana, dan entah bagaimana, begitu utuh.

Waktu salat di masjid kampung biasanya ditandai oleh jadwal waktu yang dipajang di dinding masjid. Pajangan kotak persegi panjang berisi lingkaran-lingkaran sebanyak lima, enam, atau tujuh. Benda sederhana yang bagi kami dulu terasa seperti penentu irama hidup ketika orang-orang dewasa sering melihatnya, berulang-ulang terutama menjelang tiba waktu salat dan azan dikumandangkan. 

Rupanya benda itu adalah jadwal waktu salat. Berupa replika jam yang tersusun berjajar rapi, dengan jarum pendek dan panjang yang bisa diatur, diputar-putar sesuka tangan. Jam bohongan itu disusun berurutan: magrib, isya, subuh, imsak, zuhur, dan ashar. Kenapa dimulai dari magrib? Kata orang-orang tua, pergantian waktu bagi orang Islam dimulai dari magrib, sekitar jam enam petang, ketika siang benar-benar melepaskan diri dari malam. 

Jarum-jarum jam itu mudah disetel, disesuaikan dengan jadwal waktu salat keluaran Departemen Agama. Terlalu mudah, bahkan. Oleh kami, anak-anak yang belum paham batas antara main dan makna, jam itu sering dijaili dengan jarumnya diputar-putar sembarangan, sekadar untuk melihat perubahan. 

Sampai suatu hari pernah azan berkumandang di waktu yang keliru. Sejak itu, saat pengajian, kami dimarahi habis-habisan. Dimarahi bukan hanya karena keusilan, tapi karena kami dianggap bermain-main dengan waktu, dengan sesuatu yang seharusnya dijaga.

Jam dinding yang lain, digantung pada sebuah paku di tembok serambi masjid, berdetak pelan dan setia. Ia tak pernah ikut kami jahili. Bukan karena kami menghormatinya, melainkan karena letaknya jauh, tak terjangkau, dan selalu berada di bagian serambi yang gelap. Ia seperti penjaga waktu yang diam, mengawasi tanpa suara. Setiap kali terjadi kesalahan saat seseorang mengumandangkan azan, biasanya karena jam itu tak sempat dilihat. Di masjid memang ada dua jam, dipasang sebagai saling kendali, agar jika satu keliru, yang lain bisa mengingatkan. Namun manusia kerap terburu-buru: jarum yang berhenti berputar, yang sekilas tampak belum masuk waktu, disangka masih berjalan, padahal diam-diam telah mati. Baterai habis, mesin jam rusak, dan dari situlah kesalahan muazin bermula, bukan dari niat, melainkan dari kepercayaan yang tergesa-gesa pada sesuatu yang tampak hidup, padahal sudah lama berhenti.

Saat segala sesuatunya berjalan normal, saat jarum pendeknya telah menunjuk angka enam tepat. Azan subuh pun menggema, memecah sisa malam dan menyebar ke seantero kampung yang sebagian besar penghuninya sudah terjaga. Orang-orang kampung memang terbiasa bangun sebelum azan subuh, sebuah kebiasaan yang kelak terasa asing ketika aku hidup di kota, di mana subuh sering datang seperti tamu yang tak diundang, bahkan tak disadari.

“Geus waktuna,” suara seseorang berbisik, sering terdengar di masjid. Dulu kalimat itu adalah aba-aba: pengingat agar segera meraih mikrofon, agar azan tak terlambat, agar waktu tak terlewat. Ia ditujukan ke luar diri, kepada tugas, kepada orang lain. Kini, kalimat yang sama terdengar berbeda. Ia seperti kembali ke dalam, menjadi pengingat bagi diri sendiri, dan barangkali juga bagi orang dewasa yang mengucapkannya, bahwa ada saat-saat tertentu yang tak bisa lagi ditunda, bahwa waktu bukan sekadar soal jam dan jarum, melainkan tentang kesiapan menerima panggilan, entah kepada siapa ia sesungguhnya ditujukan.

Seusai kumandang azan, anak-anak berdiri satu per satu untuk melaksanakan salat qabla subuh. Mereka yang sudah bangun dari duduknya sejak sejam lalu lekas-lekas mengambil saf. Di antara mereka ada yang masih menguap, matanya berat, tubuhnya setengah sadar. Pagi masih terlalu muda, dan dingin masih menempel di kulit. 

Setelah salat didirikan dan wirid dilaksanakan, kemudian kegiatan anak-anak mengambil duduk melingkar, khusyuk dengan latihan bacaan masing-masing. Bibir bergerak pelan, suara lirih bertumpuk satu sama lain. Mata mereka megap-megap, berjuang antara harus terjaga dan godaan kantuk yang datang berlapis-lapis, seperti kabut tipis yang enggan pergi.

Lalu bandul jam mulai berayun kiri-kanan, bunyinya teratur: enam hitungan. Denting itu seperti tanda tak kasatmata bahwa satu sesi hidup kecil kami sedang berjalan menuju riang. Kami anak-anak yang duduk melingkar di ruang utama masjid, mengeja alif ba ta di hadapan gurunya satu per satu, mendadak terhenti. Setelah baru saja mendengarkan setiap kata sang guru dengan sepenuh takzim, ketika tiba-tiba jam berdentang enam kali, suasana mencair. Beberapa saling bertatapan, ada yang tersenyum kecil, ada yang menghela napas. 

Lalu tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mendarat di tubuhku. Sebuah lengan rupanya, lengan kawanku, Mamat, menyikut pinggangku pelan, cukup untuk membuyarkan lamunanku yang terlanjur melangkah jauh. Sentuhan kecil itu mengembalikanku ke ruang masjid, ke lantai dingin yang kami duduki, di pagi yang sudah tiba.

“Haya, iraha balik?” sapa Mamat, salah seorang di antara kawan masa kecilku. Suaranya pelan, nyaris berbisik, tapi sarat rasa ingin tahu.

“Baru semalam. Kumaha, damang?” jawabku, masih setengah tertinggal di lorong-lorong ingatan yang belum sepenuhnya kutinggalkan.

“Keur naon yeuh, isuk-isuk ngalamun?” Mamat ikut menimpali. Mamat adalah kawan mainku dulu. Kawan sekolah dan kawan mengaji. Kawan yang sering bersama sepulang dari ladang mencari kayu bakar, lalu berangkat ke sekolah Madrasah Diniyah, dan malamnya kembali duduk bersila di musala. Hidup kami dulu seperti lingkaran kecil yang berulang, sederhana, tapi terasa penuh.

Lalu pagi benar-benar datang. Kami pulang dari pengajian subuh, bersiap untuk berangkat sekolah. Bagi yang sudah masuk sekolah. Mengajiku sendiri sudah dimulai jauh sebelum aku mengenal bangku SD. Mamat, yang dua tingkat di atasku, adalah seniorku di pengajian. Lebih dulu lancar, lebih dulu tahu cara duduk, cara membaca, dan cara diam.

Ketika usiaku akhirnya masuk SD, barulah kami berangkat sekolah bersama. Saling menunggu di jalan kecil depan rumah, saling memanggil dari kejauhan, seperti memastikan tak ada yang tertinggal dari pagi yang masih basah oleh embun.

Ketika aku sudah masuk SD, yang paling kuingat adalah upacara bendera setiap Senin pagi. Sebelum masuk kelas, kami berbaris di depan pintu, kuku diperiksa satu per satu. Setelah jam pulang, kami pergi ke hutan, pura-pura mencari kayu bakar sambil mengejar burung atau mengintai sarang madu. Kadang kami pulang dengan tangan kosong, kadang dengan cerita. Lalu kami berenang di Sungai Cimedang, membiarkan arusnya membawa lelah kami pergi. Airnya dingin, tapi jujur, seperti masa kecil itu yang tak pernah bertanya ke mana arah hidup akan membawa kami.

Aku dan teman-temanku biasa bermain bersama setelah pulang dari sekolah atau dari pengajian kala libur sekolah. Ketika tubuh masih ringan dan kepala belum penuh oleh apa-apa selain tawa. Kami bermain sepak bola di tanah luas yang orang dewasa menyebutnya Lapang Kalong, karena di dekatnya ada pohon besar, atau kami dulu menyebutnya pohon raksasa dan sebagai sarang kuntilanak yang biasa berdiam di tempat gelap.

Karena tanah di sekitar pohon-pohon tua itu cenderung datar, entah sejak kapan sebagiannya mulai dibersihkan, dan akhirnya membentang area padang rerumputan tempat angon kerbau dan sapi sejak pagi sampai menjelang sore sebelum asar, lalu sore menuju magrib dijadikan lapangan sepakbola.

Tanah lapangan itu ditumbuhi rerumputan liar, tanah yang licin dan berlumpur, lapangan tanpa garis, dan gawang seadanya dari bilah bambu. Di antara kerbau dan sapi yang diangonkan di situ, sebagian lokasinya kami jadikan untuk bermain sepakbola. Terus bermain meski dalam hujan turun begitu saja. Kami membiarkannya permainan terus berlangsung, berlari sambil hujan-hujanan, dengan pakaian basah melekat di tubuh, kaki penuh lumpur, seolah hujan adalah bagian dari permainan itu sendiri. Tidak ada yang mengeluh, sebab basah adalah hal biasa, dan kotor bukan sesuatu yang harus disesali.

Pada hari-hari lain, kami turun ke sawah, bermandi lumpur seperti anak-anak yang baru belajar mengenal tubuhnya sendiri. Kami menyusuri galengan sawah, menyempil di pematang yang sempit, mencari lubang-lubang kecil tempat belut bersembunyi. Kami mengorek dengan tangan telanjang, berharap menemukan tutut, udang kecil, atau ikan benter yang licin dan lincah. Dari rumah, sengaja kutenteng saringan, seolah itu jimat keberuntungan. Namun sering kali kami pulang dengan tangan hampa, saringan kosong, hanya berisi bau lumpur dan tawa yang tertinggal di jari-jari. 

Ketika matahari mulai condong ke barat, cahayanya menguning dan memanjang, kami pun pulang dari ladang, dari lapangan, dari galengan pesawahan, mulai melangkah pelan menuju rumah, dengan tubuh lelah tapi menyimpan bara semangat, dan hati entah kenapa terasa penuh untuk menyongsing hari-hari.

Sesampainya di rumah, waktu tak memberi jeda panjang. Kami berganti pakaian seadanya, lalu pergi lagi untuk belajar di madrasah, dan malamnya mengaji di musala. Hari bergerak seperti roda yang tak pernah berhenti, tapi roda itu terasa ringan, tak menindih. Begitulah rutinitas masa kecil: berulang, sederhana, namun tak pernah benar-benar membosankan, karena setiap pengulangan selalu membawa rasa yang sedikit berbeda.

Rumah, sekolah, madrasah, tajug, musala, masjid, hutan, sungai, dan ladang—semua itu menyatu dalam keseharian kami, seperti ruas-ruas jalan yang saling bertaut tanpa jarak. Orang-orang kampungku adalah petani. Sejak pagi buta mereka sudah berangkat ke ladang, memikul cangkul dan harapan. Kami, anak-anak, menunggu mereka pulang dengan cara kami sendiri: mandi dan berenang di dam pemandian atau sungai Medang, membiarkan airnya menghapus peluh, lumpur, dan sisa lelah yang belum kami mengerti maknanya.

Alamku adalah alam desa. Pikiranku adalah pikiran orang-orang desa. Aku tumbuh dari tanah yang sama, dari air yang sama, dari bahasa yang sederhana dan langsung. Aku tak bisa melepaskan diri dari pergumulan pedesaan dengan segala tekek-bengeknya. Dari keterbatasan yang kadang memalukan, dari kebiasaan yang terasa lambat, dari hidup yang berjalan apa adanya. 

Di kampung, keluargaku bukan keluarga terhormat. Ayah dan ibuku telah bercerai. Aku tinggal di rumah nenek dari pihak ibu, dan sebelumnya berpindah-pindah dari satu uwa ke uwa lain dari pihak ayah. Hidupku seperti barang titipan, berpindah tangan dengan doa yang pendek dan harapan yang tak pernah diucapkan keras-keras.

Kini aku telah lari dari alam desa. Aku berdiri sendiri di satu tempat yang begitu jauh dari desa hatiku. Jauh bukan hanya oleh jarak, tapi oleh cara berpikir dan caraku merasa. Namun justru dari kejauhan itu, aku ingin memandangnya lagi secara utuh, ingin bercengkrama kembali dengan mereka yang kutinggalkan. 

Dulu aku tak banyak mengerti hidup, pun sekarang sama saja. Tapi barangkali sekarang, semakin kupahami, semakin kusadari bahwa hidup—ya, hidup memang begini adanya. Tak selalu adil, tak selalu terang, tapi terus berjalan tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Di dalam diriku telah bercampur keharuan yang merindukan, kerinduan yang mendalam, dan keperihan yang mengoyak-ngoyak batin. Semuanya hadir bersamaan, seperti arus sungai yang saling berkejaran, tak bisa dipisahkan mana yang lebih dulu datang.

Seharusnya, aku sudah meninggalkan masa lalu. Seharusnya aku bekerja lebih keras di masa kini, menegakkan harapan untuk menyongsong masa depan. Mengubur yang getir, dan mengambil yang indah serta manisnya saja. Sari-sari masa lalu semestinya diolah sekarang, dicampur dengan ceruk pengalaman kemarin sore, lalu dihidangkan esok pagi sebagai bekal hidup.

Namun nyatanya, hingga kini belum setetes pun sari masa lalu itu kutuangkan ke dalam kuali pengalaman. Aku belum mengadonkannya dengan wajah-wajah manis dan gelap yang pernah singgah. Aku belum memasaknya dengan api pengetahuan. Pengetahuan yang kelak melahirkan teknologi, yang konon bisa membuat hidup lebih mudah, lebih cepat, lebih jauh. Aku masih berdiri di ambang dapur ingatan, memegang bahan-bahan itu dengan ragu, bertanya dalam hati: siapkah aku memasak hidupku sendiri?

Sementara teknologi yang masuk ke kampung kami kala itu hanyalah benda-benda sederhana, datang perlahan seperti tamu yang ragu-ragu mengetuk pintu. Paling jauh, radio transistor bermerek Nasional, atau tape kaset dengan suara yang kadang cempreng, kadang putus-putus. Sesekali, kami menonton televisi hitam putih, itu pun bukan di rumah sendiri. Jika ada tetangga yang memiliki TV, kami menonton dari jarak sepuluh meter, berkerumun di halaman, berdiri atau jongkok, saling bertindih bayangan. Menonton TV adalah peristiwa langka, bisa sebulan sekali, bahkan setahun sekali, dan karena itulah ia terasa seperti pesta kecil yang tak pernah benar-benar direncanakan.

Dari radio, yang paling kuingat adalah dongeng Wakepoh si Ajo dan si Rawing. Suara itu datang dari kejauhan, seperti cerita yang berjalan sendiri tanpa wajah. Aku sering mendengarnya, meski tak rutin, sebab di rumah nenekku juga tak ada radio. Jika kebetulan mendengar, aku akan duduk diam, menajamkan telinga, membiarkan imajinasi bekerja lebih keras daripada mata. Dari radio pula, dan dari kaset-kaset yang sesekali dibeli selanjutnya, kami mendengarkan lagu-lagu. Dan yang paling sering terdengar adalah dangdut, atau lagu-lagu Malaysia-an yang mendayu, mengalun seperti angin sore di pematang sawah.

Pernah suatu kali kulihat di antara koleksi kaset pamanku, ada kaset Iwan Fals. Cangkangnya sudah kusam, labelnya hampir tak terbaca. Suaranya terdengar fals di telingaku waktu itu, mentah, seperti belum selesai. Kakakku sangat menyukainya, tapi aku tidak. Lagu-lagu Iwan Fals dulu tak pernah benar-benar menyentuhku. Yang lebih mengena di hatiku justru dangdut, adalah Pangeran Dangdut dari Abiem Ngesti. Setiap Minggu pagi, ketika menonton Album Minggu Kita di TVRI, aku akan melototi klip Pangeran Dangdut dengan penuh takzim, seolah dari situlah dunia hiburan bermula dan berakhir.

Kini, pelan-pelan, aku mulai merambah teknologi baru yang ingin kukenali dan kuasai: komputer. Ada hasrat yang tumbuh diam-diam dalam diriku. Aku ingin mahir komputer. Mulanya cerita pernah aku mengambil komputer punya kakakku dari rumah Uwa Liyah di Cipadung. Aku meminta Mang Uyep, pamanku, untuk mengantarku dengan motornya untuk mengambil monitor dan CPU itu. Masih ada beberapa barang-barangnya yang tertinggal di sana, tapi yang benar-benar kubutuhkan hanyalah seperangkat komputer. Selebihnya bisa menyusul, atau tak usah sama sekali.

Begitu sampai di rumah nenek, karena kampung kami sudah dialiri listrik, aku segera memasang kabel-kabelnya. Tanganku gemetar sedikit, antara cemas dan berharap. Ketika kutekan tombol daya, lampu CPU dan monitor menyala. Alhamdulillah. Cahaya kecil itu terasa seperti pernyataan diam-diam bahwa usahaku pulang tak sia-sia. Komputer Pentium I ini memang sudah tua, generasi lama, tapi bagiku ia cukup. Cukup untuk menjadi perkakas kuliah, cukup untuk membuka pintu lain yang belum pernah kusentuh.

Masuknya listrik ke kampung kami telah membawa kemungkinan baru. Kampung pun, pelan-pelan, merasa berhak menyalakan komputer, meski dengan segala keterbatasan. Aliran listrik sering mati. Keamanan menyalakan perangkat elektronik masih berbahaya. Tegangan naik-turun membuat komputer dan alat-alat lain cepat rusak. Tapi jangankan komputer, lampu-lampu saja sering harus diganti, karena cepat putus akibat listrik yang datang dan pergi sesuka hati. Matinya listrik bukan hanya merugikan orang kota, penduduk kampung pun sama dirugikannya, hanya saja keluhan kami sering tak terdengar.

Sekitar tahun 1996, listrik masuk ke desa kami. Belum lama, dan gangguannya masih sering terjadi. Tapi begitulah listrik di kampung. Di kota saja yang kabel-kabelnya sudah lama malang-melintang di atas jalan raya pun, aliran listrik masih saja sering padam. Di kota, setiap mati listrik berarti hitungan rupiah yang hilang, kerugian bagi perusahaan dan negara sebagai penyedia. Maka seharusnya ada pembenahan. Bukan hanya untuk kota, tapi juga untuk desa.

Aku sering bertanya dalam hati: di manakah kini slogan itu disimpan—LMD, Listrik Masuk Desa? Apakah ia hanya berhenti sebagai spanduk dan pidato, atau benar-benar menyala sampai ke rumah-rumah kecil seperti rumah nenekku, tempat sebuah komputer tua baru saja dinyalakan dengan harap-harap cemas?

Malam itu, setelah semua kabel terpasang dan komputer tua itu berdiri diam di sudut rumah nenek, aku duduk lama di depannya tanpa melakukan apa-apa. Layar masih gelap, memantulkan bayang wajahku sendiri. Wajah yang separuh diterangi lampu minyak, separuh lagi tenggelam dalam sisa gelap kampung. Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan cermin lain: bukan cermin untuk melihat rupa, melainkan untuk mengukur jarak antara siapa aku dulu dan siapa aku ingin menjadi.

Komputer itu berdengung pelan, suaranya halus namun asing, berbeda dengan bunyi jangkrik, berbeda dengan desir angin yang menyentuh dinding bambu. Di dalam dengung itu, aku mendengar semacam panggilan, tapi juga peringatan. Seolah ia berkata: kau boleh masuk, tapi kau tak akan pernah keluar sebagai orang yang sama. Dan aku ragu bukan pada kemampuan, melainkan pada keberanian meninggalkan sesuatu yang telah lama membesarkanku.

Aku tahu, dengan menguasai teknologi berarti membuka pintu ke dunia yang lebih luas, dunia yang bergerak cepat dan jarang menoleh ke belakang. Namun di sisi lain, aku takut kehilangan cara-cara lama memandang hidup: kesabaran orang-orang kampung, ritme pagi dan petang, keheningan yang tak tergesa-gesa. Aku takut suatu hari nanti, lumpur sawah hanya tinggal cerita, dan Sungai Medang hanya tinggal nama yang kusebut tanpa getar.

Nenek sudah tidur ketika aku masih terjaga. Rumah itu sunyi, kecuali bunyi listrik yang kadang mendesis tak menentu. Dalam sunyi itu, aku menyadari sesuatu yang selama ini kuabaikan: bahwa kemajuan selalu menuntut sesuatu sebagai gantinya. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong, dan tak pernah pergi tanpa membawa bagian dari diri.

Aku berdiri di antara dua dunia, yang satu mengajarkanku bertahan, yang lain menjanjikan kemungkinan. Desa memberiku akar, teknologi menjanjikan sayap. Tapi aku belum tahu apakah aku cukup kuat untuk menumbuhkan keduanya tanpa harus memotong salah satunya. Konflik itu berputar-putar di dadaku, seperti listrik yang tak stabil, menyala dan padam, menyisakan terang yang tak pernah benar-benar utuh.

Malam semakin larut. Di luar, kampung tertidur dalam kesederhanaannya. Di dalam, aku terjaga dengan pertanyaan yang tak bisa segera dijawab. Barangkali inilah makna sebelum cahaya: sebuah jeda, sebuah kebimbangan, saat di mana seseorang harus memilih, atau belajar hidup dengan pilihan yang belum ia ambil. (Bersambung)

Perspektif

Scroll