Di tengah kehidupan pragmatis, saya sering dihadapkan pada pertanyaan yang katanya apa yang dihasilkan dari terus-terusan berteori, bersusah-payah menelaah buku-buku wacana dan filsafat, sementara finansial belum kunjung mapan. Mengapa harus repot-repot memikirkan segala sesuatu yang “wah”, sementara diri dan masa depan masih di ambang persimpangan.
Pertanyaan semacam itu sebenarnya bukan pertanyaan baru. Di sebuah zaman yang semakin terbiasa mengukur sesuatu melalui hasil yang segera terlihat, standarnya berapa penghasilannya, apa pekerjaannya, di mana kantornya, berapa asetnya, seberapa tinggi jabatannya, dan sejauh mana pendidikan yang ditempuhnya dapat dikonversi menjadi pekerjaan mapan.
Pendidikan pun perlahan mudah dipahami sebagai investasi ekonomi. Buku menjadi berguna apabila menghasilkan keahlian, keahlian menjadi penting apabila menghasilkan pekerjaan, dan pekerjaan dianggap berhasil apabila menghasilkan pendapatan melebihi penghasilan rata-rata orang banyak, terutama jauh lebih layak daripada umumnya orang-orang di lingkungannya.
Cara berpikir demikian tentu tidak sepenuhnya keliru. Manusia membutuhkan makan, rumah, kesehatan, keamanan, dan kepastian hidup. Orang miskin tidak dapat disuruh hidup hanya dengan filsafat, sebagaimana orang lapar tidak mungkin kenyang hanya dengan membaca buku. Pendidikan memang memiliki fungsi ekonomi yang nyata. Bahkan laporan Bank Dunia mengenai pertumbuhan dan lapangan kerja Indonesia menegaskan bahwa peningkatan produktivitas, keterampilan, dan penciptaan pekerjaan berkualitas merupakan persoalan penting bagi perjalanan Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi pada 2045.
Tetapi persoalannya muncul ketika kegunaan ekonomi menjadi satu-satunya ukuran bagi pengetahuan. Kita mungkin lupa bahwa pendidikan tidak hanya bertugas membuat manusia siap memasuki pasar kerja. Pendidikan juga seharusnya membantu manusia memahami siapa dirinya, dunia yang ditinggalinya, orang lain yang hidup bersamanya, dan alasan mengapa kita harus menjalani kehidupan dengan cara tertentu.
Menanggapinya saya pun bingung harus menjawab apa. Saya tidak terlahir dari keluarga intelektual yang mapan. Tapi kenapa ada kesukaan pada kecenderungan mengurung diri untuk membolak-balik halaman buku. Dulu ketika memutuskan kuliah pun saya bertujuan untuk semata-mata mengejar ilmu pengetahuan. Meski tak dipungkiri terdapat juga alasan lain selain aku ingin seperti mereka yang dapat mencerap pengetahuan. Saat itu, mungkin saya hanya ingin menjawab tantangan ketika ada orang bilang bahwa menempuh pendidikan tinggi seolah mustahil kutempuh. Lalu pada akhirnya selalu ada jalan.
Barangkali memang tidak semua manusia ditakdirkan mempunyai kegelisahan yang sama dengan saya. Ada orang yang menemukan kepuasan ketika sesuatu dapat segera dikerjakan. Ada yang cukup bahagia ketika sudah punya pekerjaan dan penghasilannya sangat layak, rumahnya sudah tertata dan nyaman, keluarganya senantiasa rukun dan pasangan yg setia, pokoknya kehidupan berjalan dengan begitu teratur tanpa kegelisahan yang berlebihan.
Tetapi jangan dipungkiri ada sebenarnya orang yang tidak pernah benar-benar tenang sebelum ia memahami mengapa sesuatu terjadi, dari mana sebuah gagasan berasal, dan ke mana akibatnya akan membawa manusia. Barangkali, ya barangkali saya termasuk yang ini. Tapi bukan berarti menganggap kehidupan praktis tidak penting buat saya. Justru karena kehidupan praktis itu penting, saya merasa manusia perlu sesekali berhenti untuk bertanya untuk apa semua yang sudah kita lakukan itu. Jika pendidikan hanya diarahkan agar seseorang memperoleh pekerjaan, lalu bekerja hanya agar memperoleh uang, lalu uang pun sesungguhnya digunakan untuk mempertahankan kehidupan agar dapat terus berjalan, kita mungkin perlu juga bertanya apakah lingkaran itu sudah cukup untuk disebut kehidupan yang bermakna.
Dulu saya kuliah memilih jurusan Manjemen Keuangan Syariah (MKS) pun tidak terpikir semata-mata karena ada unsur uangnya, dengan mengambil strata diploma bukan juga karena ingin cepat bekerja. Saya mengambil diploma, karena saat itu belum punya pengetahuan untuk mampu membedakan antara diploma dan sarjana. Dalam pikiran saya, sebagai lulusan SMA yang notabene sekolah sekuler, maka kuliah pun hanya masuk akal mengambil bidang yang sedikitnya ada unsur sekuler-nya ketika kampus Islam yang bisa saya masuki. Terkenal karena berbiaya murah dengan SPP per semesternya hanya 300 ribu, dan itu pun saya mengajukan lagi keringanan agar cukup membayar setengahnya.
Saat memilih jurusan kuliah, saya belum memiliki kosakata yang memadai untuk merumuskan pilihan sebagai sebuah perjalanan yang akan menentukan di hari-hari depan hidup saya. Hanya meyakini bahwa proses belajar harus berpaut erat dengan realitas kehidupan dan dapat membangun impian masa depan. Meski pada saat yang sama, realitas hidup tidak boleh juga mereduksi pengetahuan menjadi sekadar fungsi teknis yang kering makna.
Dan kenyataan hari ini cukup memprihatinkan ketika data BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 terdapat sekitar 7,46 juta penganggur terbuka di Indonesia. Dari jumlah itu, 904.440 merupakan lulusan universitas dan 146.324 merupakan lulusan akademi atau diploma. Menempuh pendidikan tinggi memang membuka peluang, tetapi ijazah dengan sendirinya bukan jaminan seseorang akan menemukan pekerjaan. Data ini seharusnya tidak dibaca sebagai alasan untuk meremehkan pendidikan, misalnya berkata sekolah dan kuliah saja tidak menjamin mendapatkan pekerjaan. Justru itu memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan jauh lebih kompleks daripada sekadar memperpanjang masa menempuh pendidikan.
Indonesia membutuhkan manusia yang memiliki keterampilan, tetapi juga kemampuan berpikir, memecahkan masalah, berkomunikasi, beradaptasi, dan memahami perubahan. Bank Dunia bahkan menempatkan kesenjangan keterampilan sebagai salah satu persoalan penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Maka persoalannya bukan memilih antara pendidikan yang praktis atau pendidikan yang teoritis. Persoalannya adalah bagaimana keduanya tidak saling mematikan.
Ketika saya akhirnya melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana alasannya tak berubah. Karena ingin terus mengejar ilmu pengetahuan, dengan jenis pengetahuan yang bisa mampu menjangkiti akal potensial dan akal aktual dalam bahasa filsafatnya. Meski kuliahnya tidak saya selesaikan, tapi dapat menjadi gambaran bahwa saya sedang berusaha untuk menjadi seorang yang sebaik-baiknya, menjadi seorang salik, sang penempuh jalan sunyi di tengah arus besar ketika banyak orang hanya menjalani hidup bersekolah dan berkuliah sebatas untuk melewati tumbuh remaja, lalu bekerja dengan mengandalkan koneksi, lalu kawin dan beranak, setelah itu mati tanpa memberi arti jejak-jejak perenungan hidup.
Maksud “salik” di sini bukan sekadar istilah sufistik, tapi gambaran bahwa saya ingin menjadi manusia yang bersedia menempuh perjalanan ke dalam dirinya sendiri, yang tidak puas hanya mengetahui dunia sebagaimana dunia tampak di permukaan. Ingin saya mengetahui apa yang berada di balik gejala, apa yang tersembunyi di balik kebiasaan, dan apa yang membuat manusia menjadi manusia dalam memahami fenomena di balik neumena.
Dalam tradisi intelektual Islam, pencarian ilmu memang tidak selalu dipisahkan secara tegas dari pencarian diri. William C. Chittick, misalnya, mengkritik kecenderungan pendidikan modern yang terlalu memisahkan pengetahuan tentang dunia dari pengetahuan tentang jiwa dan Tuhan. Dalam Science of the Cosmos, Science of the Soul, Chittick menekankan pentingnya kembali melihat pencarian pengetahuan tentang jiwa, alam dan Tuhan sebagai satu kesatuan disiplin intelektual dan spiritual.
Pandangan itu tidak berarti pendidikan modern yang menekankan nalar harus ditolak. Sebuah kajian tahun 2025 mengenai tujuan pendidikan Islam, misalnya, ada pengujian kembali gagasan Chittick tentang ketegangan antara pendidikan modern yang bersifat plural dan instrumental dengan visi pendidikan Islam yang berakar pada tauhid. Perdebatan semacam ini penting untuk terus dirawat, sebab hakikat pengetahuan yang hidup bukanlah kumpulan dogma yang berhenti pada satu kesimpulan mutlak. Sebaliknya, ilmu pengetahuan sejati harus menghidupkan dialektika, menantang kemapanan berpikir, dan selalu menyediakan ruang lapang bagi lahirnya pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih mendalam.
Di dalam ruang-ruang dialog yang dinamis inilah akal budi diasah, di mana setiap jawaban tidak dipandang sebagai titik akhir, melainkan sebagai gerbang pembuka menuju pemahaman yang jauh lebih luas dan membumi. Maka inilah saya sebagai anak zaman ketika arus besar keumuman orang dalam menempuh pendidikan lebih memilih bidang-bidang teknis dan praktis, yang dapat dikuasai dengan agak cepat dan relatif menawarkan jaminan kehidupan nyaman, atau supaya nanti segera memperoleh pekerjaan atau prasyarat naik jabatan, orang pun berpikir mau tak mau harus melanjutkan kuliah. Saya menempuh kuliah tujuannya bukan itu.
Saya tidak hendak menghakimi pilihan semacam itu. Dunia memang membutuhkan dokter, insinyur, akuntan, programmer, guru, teknisi, perawat, pengusaha, petani, nelayan, pekerja industri dan begitu banyak profesi lain. Peradaban tidak mungkin berdiri hanya dengan orang-orang yang gemar berfilsafat. Tetapi peradaban juga tidak akan bertahan hanya dengan manusia-manusia yang pandai mengoperasikan sesuatu tanpa pernah bertanya ke mana sesuatu itu akan membawa manusia.
Tetapi tentu saja beruntunglah mereka yang memiliki peluang untuk bisa bersekolah dan berkuliah setinggi-tingginya, atau dapat meniti karir profesional di lembaga dan perusahaan bonafit yang tentu gajinya besar, atau “terkondisikan” menjadi pengusaha muda yang jumlah masih seret di lingkup Indonesia. Namun baik memilih jalur profesional, akademisi, atau pengusaha, semuanya butuh jiwa entrepreneurship sebagai sebuah keterampilan.
Di sinilah pendidikan menghadapi paradoksnya. UNESCO dalam World Education Statistics 2025 menempatkan bukan hanya pendidikan dasar dan tinggi yang harus ditempuh, tetapi juga bagaimana pendidikan mampu melatih keterampilan baru untuk kemudian nanti memperoleh kemudahan dalam pekerjaan, guna membangun literasi, memahami numerasi, kewargaan global, lingkungan belajar, dan bahwa faktor guru adalah bagian utama dari persoalan pendidikan khususnya di Indonesia.
Pendidikan sejati tidak pernah berhenti pada fungsi mekanis untuk mencetak tenaga kerja yang siap diserap oleh pasar. Namun memikul tugas eksistensial yang jauh lebih radikal untuk membongkar struktur kesadaran yang usang dan membangun tata pikir baru yang merdeka. Dengan kata lain, pendidikan tidak dapat direduksi hanya menjadi persiapan memasuki pasar kerja, tapi pendidikan yang mampu membangun dan membongkar tata pikir lama menjadi baru.
Proses transformasi kesadaran tersebut sering menemukan akarnya yang paling jujur ketika seseorang ditarik kembali ke dalam memori asal-usulnya. Saya yang lahir dari keluarga petani dimana orang modern menyebutnya kami ini orang tradisional yang dalam arti konotasinya negatif (baca: udik, kampungan, tak berkemajuan) mengenai tradisional itu, sesungguhnya disitulah adanya atau masih terpeliharanya “kemurnian” kita sebagai manusia. Di tengah kesederhanaan hidup agraria yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat urban, tersimpan kearifan yang belum terkontaminasi oleh kalkulasi transaksional dunia modern, mampu menghadirkan sebuah ruang kontemplasi yang jernih bagi pembentukan karakter manusia yang utuh.
Tradisional tentu tidak selalu identik dengan kemurnian, sebagaimana modern juga tidak selalu identik dengan kemajuan. Keduanya perlu diperiksa dengan akal. Memang ada tradisi yang harus dipertahankan karena mengandung kebijaksanaan. Tetapi ada pula tradisi yang harus dikritik karena melanggengkan ketidakadilan. Sebaliknya, ada modernitas yang membebaskan manusia dari keterbelakangan, tetapi ada pula modernitas yang justru menjadikan manusia sekadar angka, konsumen, tenaga kerja, atau target pasar.
Karena itu, saya tidak ingin romantis terhadap masa lalu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kehidupan yang sederhana tidak otomatis lebih rendah daripada kehidupan modern. Orang yang bekerja di sawah mungkin tidak membaca Heidegger, Ibn Rusyd atau Kant, tetapi bukan berarti ia tidak mempunyai pengetahuan tentang kehidupan. Ia dapat mengenal musim, tanah, hujan, benih, kesabaran, kegagalan, dan waktu dengan cara yang mungkin tidak ditemukan di ruang kuliah.
Orang tua masing-masing tentu berupaya memberikan pendidikan bagi anaknya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana yang terumuskan dalam pikirannya dan dalam jangkauan kemampuannya, dengan berkata, “Nak, belajarlah yang rajin. Jadilah orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Begitulah kira-kira nasihatnya, yang saat remaja sering saya kutip saat membuat pesan dan kesan dalam menulis kenang-kenangan di Diary teman-teman.
Kalimat itu cukup sederhana. Tetapi di dalamnya terkandung sebuah konsep pendidikan yang sangat dalam bahwa menjadi orang yang berguna bukan semata menjadi orang kaya, bukan semata menjadi pejabat, bukan semata menjadi profesional. Tetapi menjadi manusia yang kehadirannya mempunyai arti bagi kehidupan di sekitarnya.
Dan bagi William C. Chittick, semangat itulah yang saat ini seolah hilang dari pikiran yang sudah mengalami modernisasi. Tidak sedikit orang tua memberikan “cetakan” pada anaknya bahwa sang anak harus bersekolah di sana dan les tambahan macam-macam untuk nanti agar menjadi ini dan ahli pekerjaan itu. Mereka lebih suka “mengarsiteki” anaknya dengan tanpa sadar dan lupa bahwa setiap anak memiliki bakat dan minat yang tak selalu terdeteksi sejak dini oleh orang tuanya, atau bahkan bertentangan dengan keinginan orang tuanya.
Karena itulah kritik Chittick menjadi menarik karena tidak semata-mata berbicara tentang sekolah, melainkan tentang cara sebuah peradaban dalam memahami manusia. Jika manusia hanya dipandang sebagai calon pekerja, maka pendidikan akan cenderung diarahkan untuk menghasilkan pekerja. Jika manusia dipandang sebagai makhluk yang mencari kebenaran, maka pendidikan akan membuka ruang bagi pencarian, keraguan, kontemplasi dan kebebasan berpikir. Jika manusia dipandang sebagai makhluk spiritual, maka pengetahuan tentang dunia semestinya tidak memutus hubungannya dengan pertanyaan tentang jiwa dan Tuhan.
Di sinilah saya merasa bahwa perdebatan tentang pendidikan sebenarnya adalah perdebatan tentang manusia. Karena hidup saya sangat berhasrat pada ilmu pengetahuan, laku keseharian saya adalah demi dan untuk menempuh perjalanan menuju cahaya keilmuan. Meski katanya untuk apa terus beretorika sementara satu tindakan saja tidak ada, setidak-tidaknya untuk urusan cinta. Namun pembelaan saya, bagi saya adalah termasuk tindakan nyata juga yang saya lakukan selama ini.
Baik pembelaan atau penolakan sebenarnya hanya tentang bagaimana mempersepsi apa yang tercerap oleh pancaindra dan akalnya masing-masing saja. Tentu saya memahami keberatan itu. Berpikir memang mudah berubah menjadi alasan untuk tidak berbuat. Buku dapat menjadi tempat persembunyian dari kenyataan. Filsafat dapat menjadi kemewahan bagi seseorang yang sebenarnya sedang takut mengambil keputusan. Demikian memaparkan dengan lihainya sebuah teori hanya menjadi tirai untuk menutupi ketidakmampuan menjalani kehidupan nyata.
Karena itu, ilmu tidak boleh berhenti sebagai koleksi istilah dalam kepala. Pengetahuan harus mengubah cara seseorang dalam melihat, menimbang dan bertindak. Jika setelah membaca banyak buku seseorang justru semakin sombong, semakin merasa paling benar, semakin merendahkan orang lain, maka mungkin yang bertambah hanyalah informasi, bukan kebijaksanaan.
Manusia harus adil sejak dalam pikiran, begitu kata Pram. Saya pun harus bersikap adil dalam menimbang perbuatan saya yang tentu banyak kekurangan dan orang lain yang menuduh saya belum melakukan apa-apa. Tentang mengapa harus bersusah-payah kita berpikir seperti yang saya lakukan, karena setiap orang harus berpikir dan setiap orang pasti berpikir. Tidaklah disebut manusia jika tidak berpikir. Disuruh tidak berpikir pun itu perintah berpikir. Maka tidak ada pilihan lain kecuali berpikir dengan penuh kesadaran, dan karena Allah telah memberi kita akal dan pikiran. Kalau mengambil pijakan Alquran banyak sekali ayat yang memerintahkan untuk berpikir dan menggunakan akal pikiran.
Berpikir, karena itu, bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga merupakan tanggung jawab moral. Ketika manusia menerima informasi, ia mempunyai kewajiban untuk memeriksanya. Ketika mendengar tuduhan, ia mempunyai kewajiban untuk menimbangnya yang bukan sekadar pembelaan. Ketika menerima ajaran, ia mempunyai kewajiban untuk memahami dengan menyeimbangkan antara dogma dan nalar. Ketika melihat penderitaan, ia mempunyai kewajiban untuk bertanya mengapa penderitaan itu terjadi dan apa yang semestinya dilakukan.
Dalam konteks zaman digital, kewajiban itu menjadi semakin penting. Manusia hari ini hidup di tengah limpahan informasi yang belum tentu sama dengan limpahan pengetahuan. Kita dapat memperoleh ribuan informasi dalam satu hari, tetapi belum tentu memahami satu persoalan secara mendalam. Kita dapat mengetahui banyak hal tanpa dengan sungguh-sungguh mengerti sesuatu.
Maka untuk berpikir dengan benar, seseorang harus benar-benar berpikir. Tidak bisa laku hidup hanya dijalani saja tanpa semangat dan kehendak, tanpa mimpi dan harapan, dan setiap orang akan memiliki mimpi dan harapan berbeda-beda dari jalan hidup yang ditempuhnya. Dalam menemukan kesimpulan-kesimpulan itu harus dicapai dengan perjuangan intelektualnya sendiri, bukan melalui kesimpulan dan asumsi-asumsi orang lain.
Tetapi berpikir sendiri tidak berarti juga agar berpikir sendirian. Kita tetap membutuhkan orang lain, buku, pengalaman, guru, tradisi, data, kritik, bahkan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Pikiran yang tidak pernah diuji akan mudah berubah menjadi keyakinan yang keras kepala. Maka di sinilah pentingnya tradisi ilmiah. Ilmu tidak berkembang karena semua orang sepakat, tetapi karena argumen terus diuji, hipotesis dapat dibantah, dan kesimpulan dapat dikoreksi. Bahkan seorang pemikir besar tetap dapat keliru pada bagian dan bidang tertentu.
Dengan demikian, membaca bukan berarti kegiatan untuk menemukan pembenaran atas apa yang sudah kita yakini. Membaca semestinya menjadi latihan untuk menemukan kemungkinan bahwa kita mungkin salah. Meski tidak setiap orang memiliki peluang yang sama dalam memasuki telaah dan refleksi pada bidang ilmu-ilmu intelektual, tapi janganlah larang bila ada orang yang memiliki kecendrungan demikian.
Setiap orang mempunya bakat, kapasitas, dan keadaan yang diperlukan untuk menjadi ini atau menjadi itu. Terpenting gagasan dasarnya adalah kewajiban moral dan agama menekankan untuk menggunakan pikiran yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Kita memang harus mengakui ketidaksetaraan kesempatan. Tidak semua orang memiliki perpustakaan di rumah. Tidak semua orang dapat melanjutkan kuliah. Tidak semua anak tumbuh dalam keluarga yang mempunyai buku. Tidak semua orang mempunyai waktu untuk duduk berjam-jam membaca karena sebagian harus bekerja sejak pagi hingga malam.
Karena itu, kecintaan kepada ilmu tidak boleh berubah menjadi kesombongan kelas intelektual. Orang yang membaca seratus buku tidak otomatis lebih manusiawi daripada orang yang tidak membaca satu buku pun. Pengetahuan seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa yang tidak diketahuinya jauh lebih luas daripada yang diketahuinya.
Mungkin bagi mereka dalam kehidupan ini lebih baik menjalani rutinitas sehari-hari, beribadah mahdah dengan rajin yang pokok utamanya menjalankan syariat secara kaffah. Tetapi bagi saya itu bukan argumen bagi siapa yang memiliki kemampuan berpikir. Siapapun yang memiliki kemampuan dan bakat untuk merenungkan Tuhan, alam semesta dan jiwa manusia, ia diberi mandat untuk melakukan olah pikirannya dan merenungkannya. Jika tidak melakukannya adalah mengkhianati wataknya sendiri dan tidak menaati perintah-perintah Allah untuk merenungkan tanda-tanda.
Di sini saya tentu perlu berhati-hati bahwa berpikir tidak boleh diposisikan sebagai lawan beribadah. Demikian pula ibadah tidak semestinya ditempatkan sebagai lawan berpikir. Dalam tradisi intelektual Islam, keduanya pernah dan harus berjalan berdampingan dalam berbagai bentuk. Pertanyaan tentang Tuhan, alam dan manusia juga pun bukan monopoli filsuf dan ulama. Ia merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun ketika pertanyaan itu ingin dijawab secara lebih serius, seseorang membutuhkan disiplin dengan membaca, meneliti, membandingkan, berdialog, memahami konteks dan bersedia menerima koreksi.
Meski Al-Ghazali pernah berkata bahwa kausalitas (sebab-akibat) adalah ilusi dan karena itu rasionalitas adalah sia-sia. Ini dibantah oleh Ibnu Rusyd yang meyakini bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta yang logis dengan sebab-akibat. Baginya orang yang menolak kausalitas bisa saja sebenarnya sedang menolak mengakui akal.
Bagian ini sebenarnya lebih rumit daripada yang sering dibaca dalam ringkasan-ringkasan populer. Al-Ghazali memang tidak sesederhana mengatakan bahwa semua hubungan sebab-akibat adalah ilusi dan kemudian menyimpulkan rasionalitas sia-sia. Perdebatan utamanya berkaitan dengan apakah hubungan antara sebab dan akibat itu bersifat niscaya atau tidak. Dalam Tahafut al-Falasifa, ia mempertanyakan anggapan bahwa hubungan kausal di alam memiliki keniscayaan yang berdiri sendiri, terutama demi mempertahankan kemahakuasaan Tuhan dan kemungkinan terjadinya mukjizat.
Kajian Stanford Encyclopedia of Philosophy menunjukkan bahwa para sarjana bahkan masih memperdebatkan sejauh mana posisi Al-Ghazali dapat disebut sebagai occasionalism penuh. Kemudian Ibnu Rusyd tampil dengan pembelaan kuat terhadap rasionalitas, demonstrasi dan keteraturan alam, juga sebenarnya tidak sekadar “membela sebab-akibat” dalam pengertian sederhana, melainkan mempertahankan kemungkinan pengetahuan demonstratif tentang alam. Bagi Ibnu Rusyd, alam bukan sesuatu yang kacau dan tidak dapat dipahami oleh akal. Justru keteraturan alam memungkinkan manusia dapat melakukan penyelidikan rasional.
Perdebatan ini menjadi penting bagi kita sekarang karena dapat memperlihatkan bahwa tradisi intelektual Islam tidak pernah sesederhana pertentangan antara “agama” dan “akal”. Dalam tradisi Islam pernah terjadi perdebatan panjang tentang batas akal, wahyu, pengalaman, kausalitas, bahasa, alam dan Tuhan. Bahkan dalam pandangan Ibnu Rusyd bahwa ada tiga jalan menuju ilmu pengetahuan: retoris agama, dialektis, dan dan filosofis (empiris). Jalan pertama melayani kebutuhan orang-orang yang berpikiran sederhana, jalan kedua dan ketiga adalah jalan yang harus ditempuh oleh kaum terpelajar. Ibnu Rusyd tidak menekankan mana yang lebih dahulu dan unggul, yang pasti ketiganya sama-sama penting.
Namun klasifikasi itu juga perlu dipahami secara hati-hati. Ibnu Rusyd memang membedakan berbagai bentuk argumentasi demonstratif, dialektis, retoris, puitis dan sofistik berdasarkan karakter premis dan tingkat kepastian yang dapat dihasilkannya. Saat menempatkan demonstrasi sebagai bentuk penalaran paling kuat bagi filsafat, tetapi bukan berarti bentuk-bentuk argumentasi lain sama sekali tidak berguna. Retorik dan dialektik memiliki fungsi tertentu sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan orang yang menggunakannya.
Di sini kita menemukan pelajaran yang sangat penting bahwa tidak semua orang harus berbicara dengan bahasa yang sama untuk mencapai kehidupan yang baik. Tetapi ketika seseorang memilih jalan intelektual, ia mempunyai tanggung jawab untuk memahami metode, bukti, argumentasi dan batas pengetahuannya. Demikian saya sebagai Muslim, tidak tahu sehebat apa ranah keilmuan Ibnu Rusyd di tengah-tengah dunia Muslim semasa atau setelah hidupnya. Saya mungkin hanya mengetahui kehebatan beliau karena Barat merasa sangat berhutang budi pada gagasan-gagasannya sehingga mencapai renaisans.
Bagi saya, Barat yang rasionalis, yang mengutamakan berpikir, sejalan dengan Ibnu Rusyd yang dianggap guru keduanya setelah Aristoteles. Tetapi kalimat tentang “Barat berutang kepada Ibnu Rusyd hingga mencapai Renaisans” juga sebaiknya tidak dipahami secara tunggal. Sejarah Renaisans Barat sebagaimana Renaisans Islam terbentuk karena sesuatu jauh lebih kompleks. Sesungguhnya ia lahir dari pertemuan banyak tradisi warisan Yunani-Romawi, pemikiran Kristen abad pertengahan, perkembangan kota-kota Eropa, perubahan ekonomi, percetakan, jaringan perdagangan, dan transmisi pengetahuan melalui dunia Islam dan berbagai pusat intelektual lainnya.
Hal yang lebih penting bagi saya bukanlah siapa yang lebih unggul antara Barat dan Timur, melainkan bagaimana pengetahuan bergerak melintasi batas-batas peradaban. Ibnu Rusyd merupakan contoh bahwa gagasan tidak selalu tinggal di tempat kelahirannya. Ia dapat menyeberangi bahasa, agama dan zaman. Di dunia Muslim, rasionalitas memiliki peranan penting, tapi ia bukanlah keseluruhan jalan ilmu pengetahuan. Sementara bagi Barat mungkin berpikir rasio itu sebagai rasionalisme, sebagai isme, sebagai satu-satunya jalan. Tapi bagi Islam hanya salah satu jalan saja di antara jalan-jalan lain.
Hanya saja karena sebagai salah satu jalan, perkembangannya semakin terlupakan, bahkan terpupuskan atau sengaja ingin ditiadakan. Maka di sinilah saya kira persoalan kita hari ini bukan sekadar tentang rasio versus iman. Kita hidup dalam situasi yang lebih rumit. Kita menghadapi sains, teknologi, kecerdasan buatan, kapitalisme, agama, tradisi, media sosial dan politik dalam satu ruang yang sama. Manusia hari ini bahkan tidak hanya dituntut mampu berpikir, juga dituntut agar mampu memilah siapa yang sedang berpikir untuk dirinya.
Misalnya algoritma sudah dapat menentukan apa yang kita lihat, pasar dapat menentukan apa yang kita inginkan, industri dapat menentukan keterampilan apa yang harus kita pelajari, media sosial dapat menentukan siapa yang kita anggap penting, dan bahkan kecerdasan buatan dapat membantu menghasilkan teks, gambar, suara dan gagasan dalam hitungan detik. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan berpikir justru menjadi semakin penting. Sebab manusia tidak kehilangan informasi. Manusia justru berisiko kehilangan kemampuan membedakan mana informasi yang layak dipercaya dari informasi yang sekadar menarik perhatian.
Barat yang sudah fokus pada satu jalan, jika boleh dikatakan begitu, yairu jalan rasional, ia sudah mencapai hasil-hasil gemilang bagi kemajuan. Meski tak dipungkiri efek negatifnya di mana-mana terjadi malapetaka sosial dan bencana ekologis. Tapi bagi dunia Muslim kini, atau bagi lingkungan saya saat ini, seolah-olah berpikir saja tak diperbolehkan.
Tentu yang namanya hasil pikiran bisa salah atau benar, atau sikapnya terkadang berbuah menjadi pribadi nyentrik, nyeleneh, atau dikafirkan. Tetapi itulah resiko jalan berbeda dari orang biasa. Namun kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa rasionalitas modern telah memberikan pencapaian luar biasa. Ilmu kedokteran memperpanjang kehidupan. Teknologi komunikasi menghubungkan manusia dari benua yang berbeda. Pengetahuan tentang alam memungkinkan manusia memahami iklim, energi, genetika, ruang angkasa dan begitu banyak hal yang sebelumnya berada di luar jangkauan.
Tetapi kemajuan teknis tentu tidak otomatis menghasilkan kemajuan moral. Kita dapat memiliki teknologi yang sangat canggih tetapi tetap menghasilkan ketimpangan. Kita dapat memiliki kecerdasan buatan tetapi tetap menyebarkan kebencian. Kita dapat mengetahui perubahan iklim tetapi tetap menggunakan sumber daya alam secara berlebihan. Kita dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi tetap tidak mampu mendengarkan apa kata orang lain.
Maka kritik terhadap modernitas bukan berarti penolakan terhadap ilmu pengetahuan. Tapi kritik dapat menjadi usaha untuk menyelamatkan ilmu pengetahuan dari penyempitan makna. Maka barangkali inilah alasan mengapa saya tetap membaca buku, meskipun tidak selalu menghasilkan uang. Saya membaca bukan karena menganggap uang tidak penting. Saya membaca karena saya tidak ingin hidup hanya menjadi rangkaian transaksi antara waktu dan uang.
Saya bekerja tentu saja agar bisa melanjutkan hidup. Tetapi saya juga ingin memahami kehidupan yang sedang saya jalani ini. Ketika saya mencari uang karena tentu tubuh membutuhkan makanan. Tetapi saya mencari pengetahuan karena bahwa manusia bukan hanya tubuh. Saya juga ingin mempunyai masa depan yang lebih baik, bisa kawin, dan punya anak. Tetapi saya tidak ingin masa depan itu hanya berarti rumah yang lebih besar, rekening yang lebih banyak, atau pekerjaan yang lebih bergengsi.
Sebab pada akhirnya, minimal dalam sekejap pernah terlintas pada diri seseorang sering muncul pertanyaan krusial yang sangat sederhana dan penting bahwa setelah semua yang dikejar itu diperoleh, lalu apa? Pertanyaan itu mungkin tidak menghasilkan uang. Tetapi karena tidak menghasilkan uang secara langsung, ia sering menjadi pertanyaan yang paling jarang kita berani ajukan.
Dan mungkin di situlah letak paradoks ilmu pengetahuan. Tidak selalu membuat seseorang lebih kaya, tetapi dapat membuat seseorang lebih sadar. Tidak selalu membuat seseorang lebih berkuasa, tetapi dapat membuat seseorang memahami batas kekuasaannya. Tidak selalu membuat seseorang memperoleh jawaban, tetapi dapat membuat seseorang belajar mengajukan pertanyaan yang lebih baik.
Misalnya, membaca data pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia sendiri menunjukkan bahwa dunia membutuhkan keterampilan praktis sekaligus kemampuan manusia untuk terus belajar dan beradaptasi. Pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka tertinggi justru berada pada kelompok pendidikan menengah, terutama SMA umum dan SMK, sekitar 7,58 persen. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan pekerjaan tidak sesederhana semakin tinggi sekolah maka otomatis semakin mudah memperoleh pekerjaan. Hal semacam ini perlu menjadi pertanyaan.
Karena itu, mungkin kita perlu membebaskan pendidikan dari dua kesalahpahaman sekaligus. Pertama, pendidikan bukan sekadar jalan mendapatkan ijazah. Kedua, pendidikan juga bukan alasan untuk melarikan diri dari kehidupan nyata. Sebab ilmu harus turun menjadi tindakan. Tetapi tindakan yang baik juga membutuhkan ilmu.
Saya juga tidak tahu apakah semua buku yang pernah saya baca akan menjadi sesuatu yang dapat dihitung sebagai keuntungan. Mungkin sebagian besar akan hilang dari ingatan. Mungkin sebagian hanya akan tinggal sebagai serpihan kalimat yang suatu hari muncul kembali ketika saya menghadapi sebuah persoalan. Tetapi saya percaya bahwa tidak semua yang bernilai harus segera menghasilkan. Seperti sebuah pohon tidak akan langsung menghasilkan buah ketika ditanam. Butuh waktu lama untuk membangun dan menumbuhkan akar, butuh hujan untuk penggemburan tanahnya, sampai tibanya datang musim panen. Demikian pula pikiran manusia membutuhkan bacaan, pengalaman, kesunyian, perdebatan, kesalahan, kegagalan dan waktu untuk tumbuh.
Mungkin selama ini kita terlalu cepat bertanya kepada ilmu, “Apa yang bisa kau hasilkan untukku?” Padahal sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Manusia seperti apa yang sedang sedang kau bentuk melalui ilmu itu?” Pertanyaan kedua jauh lebih sulit. Sebab jawabannya tidak dapat ditulis dalam angka gaji, gelar akademik, jabatan atau jumlah pengikut di media sosial.
Ilmu yang sejati mungkin bekerja secara diam-diam untuk mengubah cara kita memandang seorang petani, mengubah cara kita mendengarkan orang miskin, membuat kita lebih berhati-hati ketika menghakimi, membuat kita tidak mudah percaya kepada berita yang belum diperiksa, mmembuat kita mampu berkata “saya tidak tahu” tanpa merasa hina. Dan yang paling penting, membuat kita menyadari bahwa dunia tidak sesederhana kesimpulan yang pernah kita buat kemarin.
Maka jika ada yang bertanya kepada saya, untuk apa terus membaca, terus berpikir, terus menelaah buku-buku wacana dan filsafat sementara kehidupan finansial belum juga mapan, mungkin sekarang saya mempunyai sedikit jawaban. Saya membaca karena saya ingin tetap menjadi manusia yang bertanya. Saya berpikir karena Tuhan memberikan akal, dan saya tidak ingin mengkhianati pemberian itu.
Saya belajar bukan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan supaya semakin sadar betapa sedikit yang saya ketahui. Saya menempuh jalan sunyi ini bukan karena menganggap jalan orang lain salah, tetapi karena setiap manusia memiliki jalan yang harus dipertanggungjawabkannya sendiri. Dan kalau pada akhirnya perjalanan intelektual ini tidak membuat saya kaya, semoga ia setidaknya membuat saya tidak miskin dalam memandang kehidupan.
Maafkan pada kawan, karena ini hanyalah satu sudut pandang. Mungkin saya memang hanya seorang manusia biasa yang terlalu banyak bertanya kepada kehidupan. Tetapi barangkali menjadi manusia memang dimulai dari keberanian untuk bertanya. Bertanya tentang Tuhan, bertanya tentang diri sendiri, tentang dunia, tentang benar dan salah, tentang mengapa kita hidup, dan akhirnya bertanya, setelah kehidupan ini selesai, apakah kita pernah sungguh-sungguh hidup sebagai manusia?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya berjalan sedikit lebih lambat daripada orang lain, biarlah. Sebab tidak semua perjalanan harus diperlombakan. Sebab ada perjalanan yang memang harus ditempuh dengan sunyi. Bukan untuk melarikan diri dari dunia, melainkan agar ketika kembali kepadanya, kita dapat melihat dunia dengan mata yang sedikit lebih jernih.
Mungkin itulah arti menjadi seorang salik yang saya maksud bukan sebatas istilah sufistik. Salik yang bukan berarti seorang yang telah sampai, melainkan orang yang tidak pernah berhenti berjalan dan selalu mengajukan pelbagai pertanyaan. (Sal)