Membaca sejarah pendiri bangsa Amerika Serikat melalui film Young Washington seketika mengingatkan saya pada buku Soekarno Muda. Keduanya menawarkan cermin perbandingan tentang bagaimana lecutan pemikiran dan lintasan perjalanan awal seorang tokoh muda mampu membidani kelahiran sebuah negara merdeka. Ada benang merah yang menghubungkan gelora kebangsaan lintas benua bahwa mimpi kemerdekaan atau kebebasan selalu lahir dari pergulatan jiwa manusia yang menolak tunduk pada sebuah keadaan.
Film ini seolah merefleksikan kegelisahan zaman, terutama di bawah bayang-bayang era kepemimpinan Donald Trump yang kerap dinilai telah menjauhkan Amerika dari cita-cita luhur para pendirinya, terutama terkait kebijakan imigrasi yang sempat menutup pintu bagi mereka yang hendak merajut masa depan di tanah harapan baru. Melalui medium sinema, sutradara mengajak penonton menengok kembali akar identitas Amerika yang sebetulnya justru dibangun di atas keringat dan harapan kaum pendatang.
Dikisahkan George Washington muda berasal dari Virginia. Meskipun orang tuanya merupakan imigran asal Eropa, ia lahir dan tumbuh di "dunia baru" yang kelak bertransformasi menjadi Amerika Serikat. Secara psikologis, ia sepenuhnya adalah anak dari dunia baru tersebut. Kesadaran ini membedakannya secara tajam dari rekan-rekan sesama tentara Inggris yang masih memandang dunia dengan mentalitas kolonial, di mana salah seorang dari mereka dengan bangga menyatakan, "Tanah airku ada di seberang lautan."
Bagi Washington, tanah air bukanlah warisan nostalgia di seberang samudra, melainkan tanah tempat ia menjejakkan kaki pertama kali, pertama menghirup udara, dan tempat menempa masa depannya. Ia berambisi keluar dari jerat kemiskinan hidup sebagai petani biasa dan jiwanya memiliki keterbukaan mental untuk bekerja sama dengan siapa saja, bahkan merangkul masyarakat adat Indian demi membela tanah tempat ia dilahirkan.
Tentu perjalanan itu tidak berjalan mulus. Selepas ayahnya wafat, Washington kecil harus menghadapi kenyataan pahit ketika ia harus putus sekolah. Ketika ia mendatangi gerbang sekolah dengan sisa-sisa harapan, institusi tersebut menolaknya karena ketiadaan jaminan biaya hidup, adalah sebuah kemewahan yang lenyap bersama kepergian sang ayah. Ayahnya sendiri wafat sebagai milisi sukarelawan Virginia, sebuah pengorbanan yang kemudian diikuti oleh abang tirinya, Lawrence Washington. Lawrence, yang usianya terpaut jauh, kelak menjadi figur mentor sekaligus kompas moral yang membentuk jalan hidup George.
Dalam sebuah dialog yang getir, Washington kecil bertanya kepada Lawrence, "Ibuku bilang aku tak bisa melanjutkan sekolah." Sang abang menjawab dengan realistis, "Tak ada yang salah dengan menjadi petani penyewa. Itu profesi yang terhormat." Namun jawaban itu ditolak mentah-mentah oleh jiwa mudanya yang berontak, "Tapi bukan itu yang kuinginkan.?"
Setelah Washington kecil tetap nekat berjalan kaki sejauh dua mil demi menembus gerbang sekolah, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa sekolah menolak kehadirannya. Di tengah kekecewaan itu, Lawrence hadir memberikan petuah yang kemudian membelokkan arah hidup adiknya. Sang abang mengingatkan bahwa waktu dan keadaan telah berubah, dunia kerap bersikap tidak adil bagi mereka yang lahir tanpa privilese, dan tugas utama seorang pemuda bukanlah meratapi nasib, melainkan merebut apa yang dunia tawarkan untuk dijadikan miliknya.
Dari sanalah ia memulai proses belajar secara mandiri. Ia melahap buku-buku tentang tata aturan, pembentukan karakter, dan cara menjadi lelaki sejati yang pantas sebagaimana diwariskan oleh abang tirinya. Ia mendalami karya-karya klasik tentang kebajikan dan kepemimpinan, menyerap kebijaksanaan dari Cato hingga Plutarch, dari Seneca hingga Cincinnatus. Dari bacaan-bacaan itu, ia menyerap doktrin fundamental jika seseorang ingin menjadi hebat, ia harus mempelajari riwayat hidup orang-orang besar, dan jika dunia enggan mengajarkannya, ia harus belajar langsung dari sejarah.
Lawrence juga menanamkan pemahaman filosofis yang mendalam mengenai perbedaan esensial antara rasa hormat (respect) dan kepatuhan (obedience). Kepatuhan kerap kali lahir dari paksaan atau perintah struktural, sementara rasa hormat harus direbut melalui integritas dan keteladanan. Mengenai strata kebangsawanan yang diagungkan zamannya, Lawrence berpesan bahwa status sosial hanyalah sebuah permainan peran belaka, bahwa seseorang bisa saja memainkannya, dan meskipun mereka lahir sebagai pion kaum jelata, keteguhan karakter bisa sanggup meruntuhkan singgasana seorang raja.
Namun tentu saja batu sandungan realitas dirinya seolah sudah bertindak kejam. Keinginan Washington untuk merintis karier militer sebagai perwira sukarelawan terbentur tembok tebal birokrasi dan tuntutan uang sogokan sebesar 700 poundsterling. Latar belakang keluarganya sebagai petani penyewa pun dipandang sebelah mata oleh para administrator negara. Naskah-naskah catatan belajarnya bahkan sempat diremehkan sebagai karya plagiasi belaka, dengan cemoohan bahwa meniru orang hebat tidak akan serta-merta menjadikannya menjadi seorang yang hebat.
Gagal menempuh jalur konvensional, roda karier Washington berputar melalui jalur yang lebih terjal. Ia banting setir menjadi seorang juru ukur tanah (surveyor), sebuah profesi lapangan yang memperluas horison pengetahuannya tentang peta geografis koloni. Ia bahkan menawarkan jasanya kepada Lord Fairfax di Belvoir Estate, semata-mata demi mendapatkan akses legal ke perpustakaan pribadi sang bangsawan. Perjalanan ini membuktikan bahwa mobilitas sosial kerap menuntut seseorang untuk menempuh jalan tidak biasa (jalan belakang) demi menembus dinding pembatas kemapanan dan penolakan.
Puncak dari ujian kepemimpinannya terjadi ketika ia diberi mandat memetakan "tanah tak bertuan?" di Lembah Ohio, wilayah sengketa strategis antara Kekaisaran Inggris dan Prancis. Di tengah ekspedisi tersebut, ia ditemani oleh sahabat setianya dari kalangan pemuda pinggiran seperti dirinya, yang pada akhirnya harus gugur dalam pertempuran tragis melawan pasukan Prancis pada tanggal 3 Juli yang bagi Washington akan selalu diingat sebab kepedihannya karena menjadi mayor yang gagal.
Dalam krisis tersebut, terselip sebuah dialog filosofis dengan Tanacharison, seorang pemimpin suku Seneca dari bangsa Indian yang menolak bersekutu dengan Prancis. Tanacharison berkata kepada Washington dengan nada memperingatkan, "Ini bukan tanahmu. Di antara kalian kaum pendatang saling bunuh. Suatu saat kami akan merebutnya kembali." Washington menjawab dengan keteguhan nurani yang melampaui zamannya, "Aku lahir di sini, sama sepertimu. Mari kita sama-sama menjaga tanah air ini."
Menariknya, di tengah kecamuk perang berikutnya, suku-suku Indian yang semula berpihak kepada Prancis mulai memerhatikan gerak-gerik Washington di medan laga. Mereka terpesona melihat bagaimana Washington selalu berhasil selamat dari hujan peluru, padahal dalam pandangan mereka, bidikan senjata mereka nyaris tidak pernah meleset. Di mata penduduk asli, ketahanan fisik dan keberuntungan taktis ini diterjemahkan sebagai tanda perkenan langit, sebuah restu dewa-dewi yang mengutus seorang satria muda untuk membebaskan tanah air mereka dari cengkeraman penjajah seberang lautan.
Apakah kisah faktual sejarah benar-benar mencatat George Washington sebagai sosok "titisan" berkekuatan supranatural, ataukah narasi tersebut sekadar mitologisasi yang melekat atau dilekatkan pada setiap tokoh besar? Mungkin sejarah sering bekerja dengan cara demikian. Sejarah melahirkan manusia-manusia biasa yang, karena keteguhan ambisi, keberanian moral, dan momentum sejarah, berhasil diangkat oleh kolektivitas zamannya menjadi simbol pembebasan. Lalu di tangan Washington di dunia baru yang kemudian menjadi Amerika itu, ambisi personal bertransformasi menjadi takdir kolektif, membuktikan bahwa seorang anak petani penyewa dari Virginia pada akhirnya mampu mengubah peta peradaban dunia. (Red)