Ulasan Pendek Film Sufiyum Sujatayum, Cinta Lintas Agama, dan Jalan Pulang Seorang Sufi

Jika Qais adalah perempuan bernama Sujata, maka Laila adalah pria bernama Sufi. Kisah klasik Laila...

Ulasan Pendek Film Sufiyum Sujatayum, Cinta Lintas Agama, dan Jalan Pulang Seorang Sufi

23 Agu 2026
305 x Dilihat
Share :

Ulasan Pendek Film Sufiyum Sujatayum, Cinta Lintas Agama, dan Jalan Pulang Seorang Sufi

Jika Qais adalah perempuan bernama Sujata, maka Laila adalah pria bernama Sufi. Kisah klasik Laila dan Majnun dari tanah Persia kini menjelma menjadi Sufiyum Sujatayum di India. Karya sastra abadi gubahan Nizami Ganjavi tahun 1188 Masehi ini diperbarui ke dalam medium sinema oleh sutradara Naranipuzha Shanavas pada tahun 2020.

Sufiyum Sujatayum adalah sebuah narasi cinta yang disatukan oleh seutas tasbih antara Sufi dan Sujata. Sufi digambarkan bukan sekadar seorang Muslim biasa, melainkan seorang salik, atau peziarah sunyi yang hidupnya diabdikan sepenuhnya kepada Sang Maha. Ia menghidupkan dan menyemarakkan masjid di pinggiran yang kerap tersisihkan di tengah megahnya masjid-masjid besar. Membaca karakter tokoh Sufi, ingatan kita mungkin akan terpaut pada jemaah Tabligh yang memang banyak berkembang di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh. Namun, Sufi lebih tampak sebagai seorang pengembara yang sendirian, hari-harinya dihabiskan untuk memakmurkan masjid dan bukan sekadar sebagai penjaga masjid (marbot), melainkan menjalani laku spiritual sebagai penari Darwish yang menari mengikuti alunan klarinet dari sang guru, Aboob.

Kunjungan kembali Sufi ke Masjid Jin merupakan sebuah perjalanan batin menuju sumber cintanya. Barangkali ini adalah sebuah firasat, atau buah dari kasyf (penyingkapan batin) dalam terminologi sufi, bahwa ia akan segera menemui ajalnya di tanah tempat ia pertama kali menambatkan hatinya pada Sujata.

Sujata adalah seorang perempuan dari keluarga Hindu yang tinggal di sekitar kawasan Masjid Jin, tempat Sufi menimba ilmu dari Guru Aboob. Meskipun beragama Hindu, Sujata kerap datang untuk berlatih tarian klasik Kathak yang diiringi tiupan klarinet oleh Guru Aboob. Dari ruang sinergi seni inilah pertemuan antara Sufi dan Sujata bermula. 

Pertemuan pertama mereka terbingkai romantis layaknya adegan sinema. Bermula sebagai penumpang di dalam sebuah bus, berlanjut ketika tasbih milik Sufi tertinggal di jok kendaraan, dan kemudian dikembalikan dengan penuh makna oleh Sujata.

Sebagai seorang perempuan tunarwicara yang memiliki kecakapan luar biasa dalam tarian Kathak, karakter Sujata dihidupkan dengan apik. Sutradara Naranipuzha Shanavas cukup berhasil mengolaborasikan Kathak, tarian klasik India, dengan tarian Darwish warisan Rumi. Kolaborasi ini berpuncak pada salah satu adegan paling ikonik dalam film: ketika Sufi mengumandangkan azan di Masjid Jin, sementara Sujata di rumahnya melakukan gerakan tarian Kathak yang berharmoni sempurna dengan alunan kalimat panggilan salat tersebut.

Penggunaan instrumen klarinet dalam film ini secara tidak langsung mengingatkan saya sebagai penonton pada film Rockstar, di mana tokoh Jordan diangkat derajatnya sebagai musisi tersohor yang sunyi dan sentimental, yang awal mula kariernya berutang budi pada seorang guru sufi peniup klarinet. 

Dalam tradisi spiritual, alat musik tiup ini membawa resonansi tersendiri, seakan terhubung dengan warisan seruling Nabi Dawud. Sebagaimana dimajaskan oleh Jalaluddin Rumi, suara seruling adalah rintihan kerinduan sebuah suling bambu kepada akar, asal, dan sumber kehidupannya setelah ia tercerabut dari pohon asalnya.

Demikianlah gambaran besar film Sufiyum Sujatayum yang merefleksikan kembali tragedi Laila dan Majnun. Seperti yang dikatakan oleh Rajeev, suami Sujata, hubungan antara Sujata dan Sufi bukan lagi sekadar relasi antarmanusia, melainkan sebuah bentuk kegilaan cinta. Rajeev, yang dalam banyak hal adalah pahlawan sejati dalam hidup Sujata, dengan besar hati menerima "cinta sisa" sang istri. Bahkan setelah kematian Sufi, demi menuntaskan seluruh sisa gelora cinta Sujata pada masa lalunya, Rajeev dengan tulus sudi mengantar istrinya untuk merajut kedamaian batin atas cinta pertamanya.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa untuk berbahagia secara utuh dalam sebuah pernikahan, seseorang harus terlebih dahulu "selesai" dengan masa lalunya. Entah itu cinta pertama, kedua, atau ke sekian, agar tidak ada lagi ikatan emosional yang menggantung. Pernikahan yang matang menuntut tuntasnya berbagai persoalan cinta yang belum terselesaikan di masa lampau.

Lalu, mengapa cinta Sujata dan Sufi harus kandas oleh dinding tebal penolakan? Selain perbedaan keyakinan yang tajam, kecurigaan orang tua menjadi batu sandungan utama. Ayah Sujata bahkan mendatangi Guru Aboob, tidak hanya untuk memberitahu bahwa putrinya telah dijodohkan dengan Rajeev yang bekerja di Dubai, tetapi juga melontarkan prasangka bahwa cinta Sufi kepada Sujata hanyalah "modus agama" berkedok "nikah dakwah" demi memperbanyak populasi umat Islam.

Ayah Sujata sempat berkata, "Jangan memulai jihad menggunakan dia. Orang-orang akan menuduhmu dan kaummu yang mencoba mengubahnya menjadi agamamu... Ini adalah perang untuk meningkatkan populasi kaummu." Padahal, benih cinta yang tumbuh di antara Sujata dan Sufi murni didorong oleh dimensi biologis, psikologis, dan sosiologis yang manusiawi. Namun, bagi sang ayah yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan rentannya gesekan horizontal antara Muslim dan Hindu di India, hubungan tersebut dianggap sebagai kamuflase politik identitas yang bermisi konversi agama.

Menanggapi tuduhan tersebut, Guru Aboob dengan bijak menyatakan bahwa agama pada dasarnya adalah pandangan hidup seseorang. Ia bahkan meyakinkan ayah Sujata bahwa baik Sujata maupun Sufi tidak berniat memaksakan pandangan keyakinan mereka kepada orang lain. Walaupun pada suatu momen Sujata pernah mendatangi bilik Sufi dan melakukan gerakan serupa saat Sufi menunaikan salat. Sebuah adegan bentuk perenungan sunyi atau khalwat sebagai terma kesufian, atau khalwat dalam arti berduaan antara laki-laki dan perempuan yang akhirnya diketahui oleh Guru Aboob.

Sebagai seorang penempuh jalan tasawuf, Guru Aboob mengingatkan tentang jalan pencarian spiritual yang jujur. Mengingatkan Sufi dengan sebuah petuah mendalam, "Kalau memang menginginkan teman dan keluarga, ada cara yang lebih tepat untuk melakukannya." Nasihat ini menyadarkan bahwa jalan kerahiban atau kezuhudan ekstrem, meskipun dalam Islam tidak mengenal tradisi kerahiban formal, toh banyak pula ulama yang memilih hidup sendiri hingga akhir hayat, tentu memiliki jalurnya sendiri yang menuntut pengorbanan batin yang tidak mudah. (Sal)

Perspektif

Scroll