"Kalau kita tahu, kita tidak akan pernah belajar." Begitulah kutipan dialog dari Siti Walidah atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, tokoh sentral di balik lahirnya organisasi 'Aisyiyah yang berada di garis depan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Kalimat yang menjadi penggalan film Sang Pencerah tetap melekat kuat di benak saya, bahkan jauh setelah pertama kali menontonnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan sebuah paradoks yang menarik bahwa pengetahuan seharusnya tidak membuat manusia berhenti belajar. Justru karena mengetahui sesuatu, manusia semestinya menyadari betapa luas wilayah yang belum diketahuinya. Maka di situlah salah satu makna penting dari kisah K.H. Ahmad Dahlan dan gerakannya yang kemudian berkembang menjadi Muhammadiyah.
Dengan itu, untuk dapat memahami seorang pembaharu, kita tidak cukup hanya melihat organisasi yang ditinggalkannya. Dari penggalan dialog tadi, kita bisa melihat kegelisahan intelektual yang melatarbelakangi perjuangannya, lingkungan sosial yang hendak diubahnya, dan keberanian untuk menguji kembali sesuatu yang sudah dianggap selesai. Itulah yang terpenting dari peninggalannya, sebuah mentalitas pembelajar sejati ialah yang menolak kemapanan berpikir.
Film Sang Pencerah mengokohkan perjuangan seorang pendiri organisasi sosial Islam terbesar di Indonesia, bahkan konon terbesar di dunia jika melihat nilai aset-aset materialnya saja, belum kalau dihitung aset spiritualnya untuk pergerakan Islam yang berkemajuan. Tentu ungkapan tentang "terbesar di dunia" memang perlu digunakan secara hati-hati. Tidak mudah membandingkan organisasi keagamaan lintas negara hanya berdasarkan jumlah anggota atau nilai aset, karena sistem kepemilikan, struktur organisasi, dan metode pencatatan asetnya berbeda-beda. Namun secara skala Muhammadiyah memang luar biasa besar dilihat oleh anak didik kultural NU seperti saya.
Jika merujuk pada catatan resmi organisasi, Muhammadiyah mengelola sekitar 6.000 sekolah dari tingkat dasar hingga menengah, 163 perguruan tinggi, dan puluhan ribu amal usaha dan unit pelayanan lainnya. Jaringan rumah sakit Muhammadiyah-Aisyiyah bahkan telah berkembang menjadi sekitar 150 unit di berbagai daerah strategis Indonesia. Karena itu, mungkin lebih tepat melihat kebesaran Muhammadiyah bukan semata-mata dari jumlah aset fisik atau finansialnya, melainkan dari bagaimana gagasan keagamaan mampu diterjemahkan menjadi institusi yang hidup. Mulai dari sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, lembaga sosial, kegiatan pemberdayaan, hingga berbagai inisiatif ekonomi kerakyatan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, warisan Ahmad Dahlan bukan hanya bangunan fisik. Warisannya adalah sistem kerja dan tata kelola modern yang berkelanjutan. Dan sistem itulah yang membuat gagasannya mampu bertahan, relevan, dan terus melintasi zaman melewati lebih dari satu abad. Maka pantas kiranya sepak terjang perjuangannya diangkat ke layar lebar, dan pantas menyandang nama dan judul filmnya: Sang Pencerah.
Dalam merayakan Maulid Nabi, saya ingin berbicara tentang film ini, Sang Pencerah, film drama biografi karya sutradara Hanung Bramantyo yang tayang dan sukses di bioskop pada 2010 lalu. Film ini dirilis perdana pada 8 September 2010 dan menampilkan Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan, Zaskia Adya Mecca sebagai Siti Walidah, serta Slamet Rahardjo sebagai Kyai Penghulu Kamaludiningrat. Film ini berdurasi sekitar 112 hingga 123 menit menurut sejumlah basis data film, dan menjadikan perjalanan Ahmad Dahlan sebagai medium untuk berbicara tentang pembaruan Islam, toleransi, koeksistensi, serta poin penting perjuangannya tentang ketegangan antara tradisi yang kaku dan kebutuhan akan perubahan yang progresif yang dilakukan Ahmad Dahlan.
Ada sesuatu yang menarik dari pilihan kreatif Hanung Bramantyo ini. Ia tidak semata-mata membuat film biografi linier tentang seorang pendiri organisasi Islam. Ia mencoba menghadirkan kembali atmosfer sosiologis ketika sebuah gagasan baru muncul di tengah masyarakat yang sudah mapan dengan tradisi, kebiasaan, dan cara pandang turun-temurun.
Di situlah karya sutradara yang pendidikan dasar dan menengahnya di sekolah Muhammadiyah ini, Sang Pencerah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar film sejarah biasa, melainkan menjadi sebuah narasi sinematik tentang bagaimana sebuah lompatan sebuah peradaban hampir di belahan dunia manapun, adalah selalu dimulai dari keberanian seseorang untuk melontarkan pertanyaan yang menggelisahkan kemapanan.
Film ini secara umum mengangkat kisah tokoh Muslim Kiai Haji Ahmad Dahlan yang berjuang meluruskan pemahaman dan praktik keislaman di Yogyakarta agar selaras dengan sumber otentik Al-Qur'an dan Sunnah. Namun istilah "meluruskan" juga perlu dipahami secara bijak dalam konteks zamannya. Ahmad Dahlan hidup pada masa ketika masyarakat Muslim Nusantara menghadapi berbagai persoalan multidimensional sekaligus. Menghadapi tekanan kolonialisme, keterbatasan akses pendidikan modern, kemiskinan struktural, keterbelakangan institusi pengajaran tradisional, dan perdebatan teologis yang tidak jarang berlangsung keras dan eksklusif.
Muhammadiyah sendiri menjelaskan bahwa gerakan pembaruan yang berkembang pada masa itu berhadapan langsung dengan problem internal umat Islam, termasuk praktik keagamaan yang tercampur dengan takhayul, bid'ah, dan khurafat, di samping budaya taqlid buta dan stagnasi pemikiran yang akut. Di kancah dunia Islam yang lebih luas, arus pembaruan serupa juga disuarakan oleh para pemikir besar seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Membaca sejarah hidup Ahmad Dahlan melalui film ini, tidak semata ia seorang ulama karismatik yang menjadi panutan masyarakat luas, bahkan menariknya, ia bukanlah tipikal ulama menara gading yang hanya menghabiskan waktunya di dalam ruang pengajian tertutup. Ia adalah seorang pembaca zaman yang tajam.
Ia melihat bahwa karut-marut persoalan umat tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbanyak kuantitas ceramah moral. Kalau kemiskinan struktural tidak disentuh, akses pendidikan tidak dibangun, kesehatan publik tidak diperhatikan, dan kaum dhuafa serta anak-anak yatim dibiarkan terlantar, maka agama lambat laun akan berhenti sekadar menjadi kata-kata kosong tanpa daya transformatif. Di sinilah titik balik pemikiran Ahmad Dahlan yang konon datang ketika merenungkan pesan transformatif dari Surat Al-Ma'un. Baginya, iman yang sejati tidak cukup berhenti pada keyakinan ritual personal, tetapi harus termanifestasikan secara nyata ke dalam kerja-kerja tindakan sosial yang membebaskan.
Alasan inilah yang menjadikan sekolah modern, panti asuhan, balai pengobatan, dan layanan sosial sebagai pilar utama tradisi Muhammadiyah. Kini, dalam diskursus kontemporer, berkembang gagasan progresif untuk memaknai "amal usaha" sebagai "amal perubahan," yang artinya, institusi keagamaan tidak boleh hanya berorientasi pada layanan administratif, tetapi harus menjadi motor penggerak transformasi sosial yang terukur bagi masyarakat.
Ajaran dan kerangka pemikirannya sering dirujuk bersentuhan dengan pembaruan Islam klasik, seperti gagasan Ibnu Taimiyyah yang menekankan kembali pada sumber-sumber otentik Islam. Tetapi peta hubungan intelektual Ahmad Dahlan sebenarnya jauh lebih kaya, luas, dan kompleks daripada sekadar satu kutub pemikiran saja. Ahmad Dahlan belajar dan menimba ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka Nusantara dan Makkah. Ia tercatat berguru kepada Kiai Sholeh Darat di Semarang dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di tanah suci.
Dalam pengembaraan intelektualnya di Makkah, ia juga bersentuhan langsung dengan jaringan pemikiran modernis Islam melalui majalah Al-Manar yang diasuh oleh Muhammad Abduh dan diteruskan oleh murid setianya, Rasyid Ridha. Dokumen dan catatan mengenai kitab-kitab yang dikaji menunjukkan cakrawala berpikir Ahmad Dahlan yang sangat luas melintasi khazanah fikih klasik, tasawuf, hingga diskursus pembaruan sosial Timur Tengah.
Karena itu, mereduksi Ahmad Dahlan ke dalam satu kotak mazhab tunggal tentu merupakan sebuah penyederhanaan yang keliru. Sesungguhnya ia berdiri pada titik silang berbagai arus intelektual besar dunia. Ia membaca tradisi secara kritis tanpa terperangkap di dalam romantismenya, sekaligus melihat modernitas secara terbuka tanpa menelannya secara mentah-mentah. Ia menyerap metode rasional yang berguna untuk memperkuat sistem pendidikan umat.
Untuk itulah Muhammadiyah sebagai gerakan modernis Islam cukup berhasil digambarkan oleh sutradara dengan sangat apik dan epik, memperlihatkan benang merah keterpautan gagasan dengan jurnal pembaruan Al-Manar. Hubungan itu bukan sekadar kedekatan nama atau kebetulan historis semata. Al-Manar menjadi saluran penting penyebaran ide-ide pemurnian akidah, rasionalitas berpikir, ijtihad, pentingnya ilmu, dan emansipasi umat Islam di awal abad ke-20. Sejumlah sumber sejarah mencatat perjumpaan langsung antara Ahmad Dahlan dan Rasyid Ridha di Makkah, telah memperkaya wawasan geopolitik keagamaannya.
Maka, modernisme Islam ala Ahmad Dahlan tidak pernah lahir dari ruang hampa sosial. Ia merupakan bagian integral dari jaringan intelektual transnasional yang menghubungkan Makkah, Kairo, dan kantong-kantong pergerakan di Nusantara. Ketika gagasan besar itu tiba di perkampungan Kauman, Yogyakarta, ia tidak ditelan mentah-mentah, melainkan didialogkan secara kritis dengan problem konkret masyarakat lokal yang dihadapinya setiap hari. Dari sinilah karakter unik Muhammadiyah terbentuk yang bukan sekadar menyalin mentah-mentah model pembaruan Timur Tengah, melainkan mentransformasikannya menjadi sekolah rakyat, rumah sakit, klinik kesehatan, panti asuhan, dan gerakan penyadaran publik yang membumi.
Dari film ini kita juga mendapati fakta historis yang menarik bahwa K.H. Ahmad Dahlan sempat bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1909, sebelum akhirnya mendirikan wadahnya sendiri. Keikutsertaan tersebut tentu tidak berarti ia menanggalkan identitas keagamaannya atau berubah menjadi seorang yang sekuler. Ia melihat Boedi Oetomo sebagai ruang strategis untuk memperluas jangkauan pendidikan agama dan agar dapat berinteraksi langsung dengan kelompok priyayi terdidik. Kemudian melalui organisasi pergerakan nasional awal tersebut, Ahmad Dahlan berkesempatan memberikan pelajaran budi pekerti dan agama kepada para siswa di sekolah-sekolah pemerintah kolonial.
Di sinilah tampak kecerdikan taktis seorang pembaru visioner. Ahmad Dahlan tidak selalu mengawali agenda perubahan dengan mendirikan lembaga baru dari nol. Ia berani masuk ke ruang-ruang publik yang sudah tersedia, membaca peluang, merajut jejaring lintas kalangan, dan menguji efektivitas gagasan pembaruannya. Namun, ketika ruang tersebut dirasakan memiliki batasan struktural, barulah lahir kebutuhan mendesak untuk mendirikan organisasi otonom yang mampu menopang cita-cita dakwah berkemajuan secara mandiri. Tepat pada 18 November 1912, Muhammadiyah resmi didirikan di Yogyakarta sebagai kendaraan strategis untuk mengintegrasikan pendidikan modern, dakwah pencerahan, dan pelayanan sosial kemasyarakatan.
Namun, ada dimensi krusial yang sering terabaikan dalam diskursus arus utama tentang sejarah pembaharuan, bahwa transformasi besar tersebut tidaklah pernah dikerjakan sendirian oleh seorang tokoh pria di atas panggung sejarah. Di samping K.H. Ahmad Dahlan, berdiri sosok perempuan luar biasa bernama Siti Walidah. Ia bukan sekadar pendamping hidup dalam artian domestik semata, melainkan arsitek pergerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang memelopori lahirnya Aisyiyah. Organisasi Aisyiyah secara resmi dideklarasikan pada 19/20 Mei 1917, meskipun embrionya telah bersemi sejak perkumpulan Sapa Tresna pada 1914 yang merangkul para remaja puteri terdidik di Kauman.
Ahmad Dahlan secara aktif mendorong kaum perempuan agar mendapatkan hak belajar yang setara, sementara Siti Walidah memimpin langsung operasional pengajaran dan pembinaan akhlak bagi perempuan. Menariknya, Siti Walidah memberikan teladan kepemimpinan yang demokratis dengan mempercayakan posisi ketua umum pertama Aisyiyah kepada Siti Bariyah pada tahun 1917, sebelum ia sendiri kemudian memimpin dan membawa organisasi perempuan tersebut menjadi kekuatan sosial yang masif.
Koreksi historis ini memperkaya pemahaman kita bahwa sejarah kemajuan bangsa bukanlah narasi tunggal tentang pahlawan laki-laki yang dikelilingi pengikut pasif, melainkan sebuah kerja kolektif yang melibatkan kesetaraan peran gender. Siti Walidah merintis pengajian khusus perempuan, memberantas buta aksara di kalangan buruh batik, mendirikan asrama putri, dan membekali kaum hawa dengan kemandirian intelektual dan ekonomi.
Dengan demikian, ketika Sang Pencerah disaksikan kembali, film tersebut dapat berfungsi sebagai portal reflektif untuk menyadari bahwa pembaruan Islam sejak hari pertama kelahirannya tidak hanya berurusan dengan koreksi tata cara ibadah ritual, tetapi juga menyangkut perluasan akses terhadap ilmu pengetahuan, pengentasan kebodohan, dan pemuliaan martabat kemanusiaan secara utuh.
Di titik inilah frasa "Sang Pencerah" menemukan spektrum maknanya yang paling luas. Pencerahan sejati bukanlah sekadar transfer informasi yang membuat seseorang mengetahui sederet fakta baru. Pencerahan adalah proses radikal di mana pengetahuan tersebut merombak cara pandang seseorang dalam memperlakukan dirinya sendiri, sesama manusia, dan alam semesta di sekitarnya.
K.H. Ahmad Dahlan wafat pada usia relatif muda yaitu 54 tahun pada 23 Februari 1923, sementara Siti Walidah menyusul ke Rahmatullah pada 31 Mei 1946 dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 042/TK/Tahun 1971. Namun, wafatnya kedua tokoh sentral ini tidak pernah berarti surutnya api perjuangan. Muhammadiyah dan Aisyiyah bahkan bertransformasi menjadi pilar civil society yang mengakar kuat melalui sistem kelembagaan, jaringan amal usaha, dan jutaan kader yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Lebih dari satu abad berselang, jejak fisik dan spiritual dari gagasan tersebut masih berdiri kokoh memayungi republik. Angka ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, dan ratusan rumah sakit yang dikelola jaringan Muhammadiyah-Aisyiyah tentu merupakan pencapaian kuantitatif yang mengagumkan. Kendati demikian, angka-angka statistik yang besar itu tidak boleh membuat kita terlena atau melupakan esensi terdalam dari misi pendiriannya: untuk apa semua infrastruktur megah itu dihadirkan?
Sebuah lembaga pendidikan tinggi dapat merosot menjadi sekadar pabrik pencetak ijazah apabila kehilangan nurani akademiknya. Sebuah rumah sakit modern dapat berubah menjadi entitas bisnis murni apabila kehilangan keberpihakannya pada kaum papa. Karena itu, tantangan terbesar Muhammadiyah di era kontemporer bukan lagi sekadar mempertahankan skala kebesarannya, melainkan bagaimana menjaga agar ruh pencerahan tetap menyala di tengah gelombang materialisme global.
Tantangan peradaban dunia hari ini telah bergeser secara radikal. Jika Ahmad Dahlan pada awal abad ke-20 harus berjibaku melawan kolonialisme fisik, buta aksara, dan kejumudan berpikir, generasi masa kini dihadapkan pada medan juang yang jauh lebih kompleks seperti tsunami informasi, disinformasi algoritmik, jurang ketimpangan ekonomi digital, krisis ekologi global, polarisasi identitas di media sosial, hingga degradasi etika publik.
Dalam lanskap yang penuh distraksi inilah paradigma Islam Berkemajuan kembali menawarkan kompas moral yang sangat relevan, agar sebuah dakwah transformatif yang tidak hanya berhenti pada retorika mimbar, melainkan mewujud dalam solusi nyata atas krisis kemanusiaan, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.
Maka, pertanyaan paling esensial setelah kita merenungkan kembali kisah Sang Pencerah bukanlah sekadar menilai siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik historis masa lalu. Pertanyaan yang jauh lebih mendesak bagi kita hari ini apa sebenarnya langkah nyata yang akan kita ambil ketika menjumpai ketimpangan dan kebodohan di lingkungan sekitar? Apakah kita memiliki keberanian moral untuk terus belajar? Apakah kita masih bersedia mendengar sudut pandang yang berbeda? Apakah kita sanggup menerjemahkan keyakinan spiritual menjadi kerja-kerja kemanusiaan yang konkret? Dan yang paling berat dari semuanya menjawab apakah kita mampu melakukan kerja-kerja perbaikan tanpa dihinggapi kesombongan intelektual?
Sebab, seperti yang diingatkan oleh Siti Walidah melalui paradoks indahnya, orang yang telanjur merasa dirinya paling tahu segala hal adalah mereka yang justru telah menutup pintu untuk belajar. Perjalanan hidup Ahmad Dahlan membuktikan bahwa seorang pembelajar sejati tidak pernah berhenti membaca zamannya. Ia gelisah melihat ketimpangan, aktif mencari ilmu ke berbagai pusat peradaban, merajut kolaborasi lintas kalangan, membangun institusi pendidikan, dan mewariskan gerakan sosial yang hidup mandiri. Siti Walidah menempuh jalan perjuangan yang serupa namun melalui jalur emansipasi perempuan, merawat kesadaran kritis kaum hawa, dan memastikan bahwa denyut peradaban tidak dibangun secara pincang oleh satu gender saja.
Di sinilah letak keindahan makna filosofis dari Sang Pencerah. Film ini bukan sekadar panggung hagiografi tentang manusia super yang datang membawa lampu terang bagi masyarakat yang hidup dalam kegelapan pekat. Ia adalah potret keteladasan tentang manusia-manusia biasa yang memilih untuk menyalakan api kecil kepedulian di tengah gelapnya zaman mereka, lalu dengan ikhlas estafet api itu diserahkan kepada generasi penerusnya.
Sebab setiap era peradaban pasti membawa tantangan dan kegelapannya sendiri. Dan setiap generasi selalu akan dihadapkan pada satu pertanyaan fundamental ketika menyaksikan ketidakadilan dan ketidaktahuan, lalu apakah kita memilih untuk sekadar mengeluh meratapi keadaan, atau bangkit menyalakan pelita penerangan.
Ahmad Dahlan telah menunaikan amanah sejarahnya. Siti Walidah telah menorehkan tinta emas pengabdiannya. Kini, lebih dari seratus tahun sejak panji Muhammadiyah dikibarkan, giliran kita yang harus menjawab panggilan zaman tersebut. Barangkali, Sang Pencerah bukanlah sekadar tontonan nostalgia masa lalu. Ia adalah cermin jernih penilai nurani. Dan di balik pantulan cermin itu, wajah yang sedang kita tatap bukanlah lagi wajah K.H. Ahmad Dahlan, melainkan wajah kita sendiri yang sudah sejauh mana kita masih mau belajar setelah merasa pintar, sejauh mana kita masih mau bertanya setelah merasa benar, dan sejauh mana kita berani bertindak setelah selesai beretorika.
Sebab pada titik akhir perjalanan hidup manusia, pencerahan tidak diukur dari seberapa banyak tumpukan cahaya teori yang tersimpan di dalam kepala kita. Pencerahan sejati diukur dari seberapa jauh cahaya kebajikan itu mampu merambat, menghangatkan, dan menerangi kegelapan di dalam kehidupan sesama manusia dengan totalitas sepenuhnya. (Sal)