Membaca sejarah pendiri Amerika lewat film Young Washington, mengingatkan saya pada buku Soekarno Muda dan pada satu hal yang perlu kita ketahui tentang bagaimana awal lecutan pemikiran, kisah awal perjalanan, atau pengalaman masa muda seseorang turut membentuk dimulainya sebuah perjuangan menuju negara merdeka.
Barangkali karena itu pula Young Washington terasa lebih menarik jika tidak semata-mata dilihat sebagai film perang atau biografi seorang tokoh besar. Film yang disutradarai Jon Erwin ini membawa kita mundur ke masa ketika George Washington sebelum menjadi presiden pertama Amerika Serikat, atau sebelum menjadi simbol revolusi, bahkan sebelum menjadi sosok yang kelak disebut sebagai Father of His Country.
Film ini berfokus pada masa remaja hingga awal kedewasaannya seorang George Washington. Dimulai dari masih seorang anak Virginia yang sedang mencari jalan hidupnya di tengah dunia kolonial yang penuh pertentangan. Film ini dirilis pada 3 Juli 2026, bertepatan dengan momentum peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Lalu demikian muncul pertanyaan apakah semata memperingati dua abad setengah kemerdekaan Amerika, atau bersinggungan dengan era kepemimpinan Donald Trump.
Menjawab kenapa sang sutradara harus membuat Young Washington? Apakah karena era kepemimpinan Presiden Trump saat ini telah menjauhkan cita-cita Amerika dari cita-cita awalnya, dari cita sang pendirinya, yang salah satu di antaranya karena Trump telah menghalangi imigran untuk masuk sebagai soko guru masa depan Amerika?
Pertanyaan itu memang lebih tepat dibaca sebagai pertanyaan reflektif daripada kesimpulan tentang maksud sutradara. Sebab, tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa Young Washington dibuat sebagai kritik langsung terhadap pemerintahan Donald Trump. Secara resmi film ini diposisikan sebagai kisah tentang masa muda Washington, perang, pengkhianatan, pilihan-pilihan moral, dan proses pembentukan karakter seorang pemimpin.
Perlunya membuat film ini barangkali karena sebuah karya sejarah memang sering memperoleh makna baru ketika dibaca dalam konteks zamannya. Dan konteks Amerika pada 2026, jika kita membuat pertanyaan tentang siapa yang sepantasnya disebut sebagai orang Amerika, itu sebuah pertanyaan yang relevan.
Pada Agustus 2026, pemerintahan Trump kembali memperketat kebijakan imigrasi. Pemerintah bahkan mengumumkan penghentian sementara sejumlah jadwal wawancara visa imigran di kedutaan dan konsulat Amerika di berbagai negara, dengan alasan perlunya pelatihan ulang petugas konsuler mengenai penilaian kemampuan pemohon untuk hidup mandiri secara ekonomi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengetatan imigrasi pada masa jabatan kedua Trump.
Sehari sebelum tulisan ini dibuat, 28 Agustus 2026, seorang hakim federal Amerika Serikat juga mempertanyakan dasar konstitusional dari kebijakan baru pemerintahan Trump yang berusaha membatasi kewarganegaraan berdasarkan kelahiran. Perkara itu belum selesai dan pengadilan belum memberikan putusan akhir. Tetapi perdebatan tersebut memperlihatkan betapa menguatnya kembali pertanyaan tentang batas-batas identitas Amerika, kewarganegaraan, kelahiran, dan imigrasi.
Di titik inilah Young Washington menjadi menarik untuk dibaca melampaui filmnya. Sebab Amerika yang kita kenal sekarang adalah negeri yang dibangun oleh orang-orang yang datang, berpindah, bertemu, berperang, berdagang, menguasai tanah, dan kemudian berdebat tentang siapa yang berhak menyebut dirinya bagian dari negeri itu.
Washington sendiri berasal dari keluarga keturunan Inggris. Ia bukan keturunan penduduk asli Amerika. Ia lahir di Virginia pada 22 Februari 1732, di sebuah dunia kolonial yang telah terbentuk melalui migrasi Eropa, ekspansi kekuasaan Inggris, dan penguasaan tanah yang sebelumnya telah dihuni masyarakat adat selama berabad-abad.
Meskipun orang tuanya merupakan imigran asal Eropa, Washington lahir dan dibesarkan di "dunia baru" yang kelak bertransformasi menjadi Amerika Serikat; di tanah inilah ia sepenuhnya menempa kesadaran sebagai anak zamannya. Perbedaan identitas ini menciptakan jurang pemisah yang tajam antara dirinya dan rekan-rekan sesama serdadu Inggris. Ketika para prajurit kolonial itu memandang Virginia sekadar sebagai pos terdepan imperium dan menganggap “tanah airku ada di seberang lautan,” Washington melihat tanah tempat ia menjejakkan kaki adalah satu-satunya rumah dan masa depan yang harus dibela.
Perbedaan dalam cara memandang tanah air terasa seperti inti psikologis film ini. Membuat kita merenungkan lagi soal pribumi dan pendatang, dan kapan seorang generasi pendatang berhenti merasa sebagai orang dari tempat asal leluhurnya, dan mulai merasa bahwa tanah kelahirannya adalah rumahnya yang sedang dipijaknya.
Persoalan ini penting karena nasionalisme Amerika tidak lahir dalam ruang kosong, yang sama halnya dengan kita menjadi Indonesia yang terdiri dari bermacam suku dan golongan pribumi dan pendatang. Mereka tumbuh dari masyarakat kolonial yang pada awalnya masih merasa terikat kepada Inggris. Dalam perjalanan waktu, kepentingan ekonomi, pengalaman politik, konflik militer, dan berkembangnya gagasan tentang hak serta pemerintahan sendiri perlahan mengubah cara sebagian penduduk koloni melihat hubungan mereka dengan Inggris.
Washington Muda secara psikis adalah anak dunia baru itu, yang berambisi ingin meningkatkan taraf hidupnya yang tak cuma jadi petani, siap bekerja sama dengan siapa pun saja, untuk membela tanah lahirnya, termasuk dengan orang-orang Indian. Film ini menghadirkan sebuah gambaran Washington sebagai anak muda yang memiliki ambisi sosial. Ia tidak ingin kehidupannya berhenti sebagai petani. Ia ingin melihat dunia lebih luas. Ia ingin memperoleh pengetahuan, kedudukan, dan kesempatan yang lebih besar.
Tetapi ada sesuatu yang perlu kita ingat bahwa Washington bukanlah anak miskin dalam pengertian modern. Ia berasal dari keluarga pemilik tanah dan kelak menjadi pemilik perkebunan besar. Kehidupannya memang mengalami keterbatasan dibandingkan keluarga elite Virginia tertentu masa itu. Tetapi ia tetap berasal dari kelas pemilik tanah kolonial dan keluarganya menggunakan tenaga orang-orang yang diperbudak.
Ketika ayahnya, Augustine Washington, meninggal pada 1743, George baru berusia sebelas tahun. Kakak tirinya, Lawrence, mewarisi Mount Vernon, sedangkan George memperoleh Ferry Farm. Kematian ayahnya ikut mengubah jalur pendidikan Washington. Library of Congress mencatat bahwa pendidikan formalnya tampaknya berhenti sekitar usia lima belas tahun dan ia tidak pernah masuk perguruan tinggi.
Dikisahkan dalam film saat Washington kecil semenjak ayahnya meninggal, membuatnya putus sekolah. Namun ia ngotot berangkat sekolah dan sampai di sekolah, mungkin karena sudah tak ada jaminan biaya, atau jaminan hidup seperti saat ayahnya masih ada, sekolahnya tak menerima. Padahal ayahnya mungkin mati karena jadi milisi sukarelawan Virginia, seperti halnya abang tiri Washington yang usianya terpaut jauh dengan George Washington, yang kemudian ikut mempengaruhi jalan hidup George Washington.
Bagian ini perlu diberi catatan sejarah. Tidak ada bukti kuat bahwa Augustine Washington meninggal karena menjadi milisi sukarelawan Virginia. Ia meninggal pada 1743, ketika George berusia sebelas tahun. Yang dapat dipastikan adalah bahwa kematian ayahnya membuat George tidak memperoleh jalur pendidikan seperti kakak-kakak tirinya yang lebih tua. Library of Congress mencatat bahwa pendidikan Washington berlangsung melalui sekolah lokal, tutor, atau pendidikan di rumah, tetapi rincian lengkapnya memang tidak diketahui.
Dalam ketidaklengkapan pendidikan formal itulah yang kemudian menjadi salah satu ciri penting perjalanan intelektual Washington. Washington kecil bertanya kepada abang tirinya, Lawrence Washington, “Ibuku bilang aku tak bisa melanjutkan sekolah,” lalu dijawab oleh abang tirinya, “Tak ada yang salah dengan menjadi petani penyewa. Itu profesi yang terhormat.” Tapi dijawab oleh Washington Cilik, “Tapi bukan itu yang kuinginkan.”
Abangnya menjawab lagi, “Waktu dan keadaan telah berubah. Jika temanmu masih bersekolah karena mereka dari kalangan atas. Dengan keberuntungan yang tidak kita miliki, dunia seringkali tidak adil. Dan kau harus mengambil apa yang dunia berikan dan menjadikannya milikmu.”
Tetapi Washington Kecil itu masih ingin tetap pergi ke sekolah yang ia tempuh dengan jarak 2 mil jauhnya. Setelah jelas bahwa sekolah tak menerimanya, ia lampiaskan jadi petani yang tak disukainya karena menjadi petani tetaplah menjadi miskin. Pada ibunya berkata kita tak punya apa-apa. Lalu ibunya menjawab, “Kau tak punya apa-apa? Kita punya 250 hektar tanah dan 10 tenaga budak yang cukup kita beri makan. Siapa bilang kita tidak punya. Kau anak laki-laki dan kau punya tanggung jawab terhadap itu.”
Tetap George Washington menjawab. “Bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin lebih dari itu. Tuhan telah tidak adil.” Lalu ibunya mengingatkan, “Tuhan menumbuhkan apa yang ditanam dengan baik,” atau bahasa mudahnya, “Mulai saja dengan satu langkah. Biarlah langkah selanjutnya Tuhan yang menyelesaikan,” dan benarlah kemudian takdir George Washington dikenang sebagai Bapak Pendiri Amerika.
Dialog-dialog tersebut sebaiknya kita pahami sebagai bagian dari dramatisasi film, bukan sebagai transkrip sejarah yang seluruhnya dapat diverifikasi. Namun di situlah film bekerja untuk sebuah sejarah yang kering harus diberi suara, wajah, konflik keluarga, dan emosi agar dapat dirasakan penontonnya.
Namun gagasan yang berada di balik adegan tersebut memiliki dasar sejarah yang menarik. Washington memang mengembangkan dirinya melalui pendidikan mandiri. Setelah putus sekolah, maka ia mulai belajar mandiri. Membaca buku-buku tentang tata aturan dan perubahan diri sebagaimana yang diberikan abang tirinya. Tentang bagaimana menjadi lelaki sejati yang pantas.
Dari peninggalannya, ia memiliki buku-buku latihan sekolah yang memperlihatkan bahwa sejak muda ia belajar matematika, geometri, pengukuran tanah, etika pergaulan, dan berbagai keterampilan praktis. Salah satu manuskrip terkenalnya adalah salinan Rules of Civility and Decent Behaviour in Company and Conversation, yang terdiri dari 110 aturan mengenai perilaku dan tata krama.
Dengan kata lain, ketika sekolah formal tidak menjadi jalan utama baginya, kehidupan justru menjadi ruang kelasnya. Tetapi sebelum itu, dalam rangka menanam itu, George Washington telah mendidihkan ambisinya sejak kecil. Berawal dari nasib dirinya tak mampu bersekolah, lalu menemukan pelajaran-pelajaran baru dari buku-buku, lalu sebagaimana yang terjadi sebagai lingkaran setan nasib, ia mengulang juga nasib seperti ayah dan abang tirinya, menjadi tentara sukarelawan di bawah kekuasaan Inggris yang menguasai tanah baru yang kelak bernama Amerika itu.
Hanya saja, ada satu hal yang membuat perjalanan Washington berbeda dari sekadar kisah anak muda yang bangkit dari keterbatasan pendidikan. Ia memiliki kemampuan membaca kesempatan. Ia belajar mengukur tanah, belajar membaca peta, belajar memahami bentang alam, dan dari sana, dunia yang lebih luas terbuka kepadanya.
Pada usia muda, Washington mulai menekuni survei tanah. Library of Congress mencatat bahwa ia menggunakan instrumen survei dan belajar geometri dan pengukuran tanah di Ferry Farm. Pada 1748 ia ikut ekspedisi survei ke wilayah perbatasan Virginia, dan pada 1749 ia memperoleh jabatan sebagai surveyor Culpeper County.
Ini penting menjadi perhatian. Karena kadang-kadang jalan hidup seseorang tidak dibuka oleh pintu yang sejak awal ia inginkan. Pintu itu sering muncul dari kemampuan yang pada mulanya tampak sederhana. Seperti Washington menjadi pemimpin bukan karena sejak kecil telah ditakdirkan menjadi presiden. Ia hanya menjalani nasib hidup yang berputar. Dimulai dari belajar mengukur tanah, lalu kemampuan mengukur tanah itu kemudian membawanya ke wilayah perbatasan. Dari perbatasan, lalu ia masuk ke dunia militer. Dari militer, ia memperoleh pengalaman perang. Dan dari perang, namanya mulai dikenal. Dan dari pengalaman politik serta militer itulah kelak ia masuk ke dalam sejarah revolusi di dunia baru.
Hal yang baru dari Washington Muda untuk menjadi pelajaran kita dalam cara mempelajari orang hebat. Ia semenjak membaca bacaan-bacaan wajib dari abang tirinya, dari bacaan Cato sampai Plutarch, dari Seneca sampai Cincinnatus, dan berpesan jika seseorang ingin menjadi hebat dia harus mempelajari mereka yang sudah hebat. “Jika tak ada orang yang mau mengajarimu, aku yang akan langsung mengajarimu,” kata Lawrence, abang tirinya, yang artinya seorang hebat tetap harus punya mentor.
Gagasan belajar kepada orang-orang besar menjadi penting karena Washington tidak memperoleh pendidikan universitas seperti sejumlah pemimpin Amerika generasi berikutnya. Ia belajar dengan cara yang lebih tidak teratur, tetapi sekaligus sangat praktis. Buku menjadi gurunya, pengalaman menjadi laboratoriumnya, dan dunia perbatasan menjadi ruang ujinya.
Termasuk pula abangnya mengajarkan tentang sikap rasa hormat yang harus diraih. Bahwa rasa hormat itu berbeda dengan kepatuhan. Kepada orang yang kita hormati membuat kita mau mendengarkan atau mematuhinya. Tetapi kepatuhan sering hanya diperintahkan atau bahkan dipaksakan, sedangkan rasa hormat harus diperjuangkan untuk meraihnya.
Jika orang-orang diberikan strata kebangsawanan, ingatlah kata abang tirinya, bangsawan itu hanya permainan. Dan kau bisa memainkannya. Dan kita sebagai pion kaum jelata terbuka kemungkinan atau bisa dan mampu mengalahkan raja dari singgasananya.
Gagasan dalam kalimat itu mungkin merupakan konstruksi dramatik film. Tetapi gagasannya terasa dekat dengan perubahan besar yang sedang berlangsung di masyarakat kolonial Amerika yang mengalami ketegangan antara masyarakat yang mengenal hierarki sosial Eropa dan sebuah dunia baru yang secara perlahan membentuk identitas politiknya sendiri.
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan Washington sebagai tokoh egalitarian modern. Sebab ia hidup dalam masyarakat yang bertingkat, ia memiliki tanah garapan yang luas, dan hidup menjadi bagian dari sistem perbudakan. White House Historical Association mencatat bahwa perkebunan-perkebunan tempat Washington hidup dikelola dengan tenaga orang-orang yang diperbudak.
Inilah salah satu paradoks terbesar dalam sejarah Washington dan Amerika yang sejak awal memang membawa paradoks. Berbicara tentang kebebasan sambil hidup berdampingan dengan perbudakan. Sebagai krang yang kemudian menjadi simbol perjuangan kebebasan hidup dalam masyarakat, tetapi rupanya di sepenggal sejarah hidupnya menyangkal kebebasan bagi banyak orang. Sebagai orang yang kelak memimpin perjuangan melawan pemerintahan yang dianggap sewenang-wenang rupanya juga merupakan bagian dari tatanan sosial yang mengandalkan kerja paksa.
Seseorang lahir dan tumbuh dalam hidupnya memang tak bisa sepenuhnya bebas dari belenggu ruang hidupnya. Ia hanya menjalani apa segala kemungkinannya dan harapan hidupnya. Seperti harapan seorang George Washington muda bahwa, “untuk menjadi pria sejati yang pantas,” kata Washington dalam renungan dirinya, “adalah dengan kepuasan yang tulus,” dengan meraih kemerdekaan dan kebebasan. “Hanya dengan cara memantaskan diri itulah harapan tertinggiku.”
Kalimat itu terasa seperti jantung moral film, bahwa kemerdekaan bukan hanya persoalan membebaskan sebuah bangsa dari kekuasaan bangsa lain. Kemerdekaan juga mengandung pertanyaan apakah orang yang memperjuangkan kemerdekaan benar-benar mampu memberikan kebebasan kepada orang lain? Pertanyaan ini kemudian menjadi salah satu persoalan paling panjang dalam sejarah Amerika hingga sekarang, teruatama dalam memandang Dunia Ketiga.
Tentang nasib hidup George Washington, tentu saja karena koneksi abang tirinya ia dapat merintis karier sebagai perwira atau tentara atau sukarelawan pada mulanya. Lalu menghadapi batu sandungan untuk menjadi perwira harus pakai uang sogok 700 poundsterling. Berkata bahwa keluarganya sebagai petani penyewa pun tak ada harganya di mata administrator negara. Sekolah pun tak diteruskan karena tak ada jaminan. Bahkan telah menulis semua yang telah dipelajarinya, dianggapnya itu hanya karya plagiasi. Katanya, “Meniru orang hebat tak kan menjadikanmu juga hebat.”
Karier Washington harus berputar dahulu dengan menjadi surveyor pengukur tanah. Ia menawarkan diri untuk mengukur tanah kepada yang dipertuan di Belvoir Estate, dengan alasan pertama sekadar ingin pergi ke perpustakaannya Lord Fairfax. Tentu cara masuknya tidak mudah. Terkadang seperti cerita-cerita lama tentang keberhasilan harus juga melalui jalur belakang, jalur yang tidak normal-normal saja.
Sejarah menunjukkan bahwa hubungan Washington dengan keluarga Fairfax memang sangat penting. Pada 1748, George William Fairfax mengundangnya dalam ekspedisi survei ke wilayah barat Virginia. Pengalaman itu membuat Washington mengenal wilayah perbatasan secara langsung. Ia tidak lagi sekadar membaca dunia dari buku. Ia berjalan di dalamnya, mengukur tanahnya, menggambar petanya, dan memahami medan yang kelak menjadi arena perang.
Barangkali di sinilah letak salah satu pelajaran paling penting dari masa muda Washington. Tentang seseorang yang kadang-kadang tidak mengetahui bahwa pekerjaan yang sedang ia lakukan sekarang justru sedang mempersiapkan dirinya untuk pekerjaan yang jauh lebih besar di masa depan. Sebagaimana nasib George Washington, setelah diberi kesempatan mempelajari “tanah tak bertuan” di lembah Ohio yang belum dipetakan antara Inggris dan Prancis.
Langkah awal perjalanannya ditemani rekan perjuangannya, sahabatnya dari kumpulan para urakan di Virginia, yang kemudian akhirnya gugur dalam pertempuran dengan tentara Perancis yang juga telah menguasai tanah perbatasan “dunia baru” itu dengan kekalahan pasukan George Washington yang sudah diberi pangkat mayor dalam pertempuran sekitar 3 Juli 1754.
Di sinilah sejarah menjadi lebih rumit daripada cerita kepahlawanan sederhana. Tanah yang dalam narasi kolonial Inggris disebut sebagai wilayah yang harus dipertahankan sebenarnya bukanlah tanah kosong. Lembah Ohio telah menjadi ruang hidup dan politik berbagai bangsa pribumi. Inggris dan Prancis sama-sama memperluas kepentingan mereka di wilayah itu, sementara masyarakat adat memiliki kepentingan, aliansi, dan agenda mereka sendiri.
Pada 1753, Gubernur Virginia Robert Dinwiddie mengirim Washington ke wilayah tersebut untuk menyampaikan tuntutan agar Prancis meninggalkan benteng-benteng mereka. Pengalaman Washington sebagai surveyor dan hubungannya dengan keluarga Fairfax ikut membuatnya dipilih. Setahun kemudian, konflik itu berkembang menjadi pertempuran terbuka yang membawa kekalahannya, pertempuran tanpa bantuan suku Indian.
Menarik dialog dengan salah seorang suku Indian yang akhirnya tak mau berperang melawan Perancis. Kata salah seorang suku Indian, Tanacharison dari bangsa Seneca, berkata kepada George Washington, “Ini bukan tanahmu. Di antara kalian kaum pendatang saling bunuh. Suatu saat kami akan merebutnya kembali,” atas jawaban George Washington yang menyatakan, “aku lahir di sini, sama sepertimu. Mari kita sama-sama menjaga tanah air ini,” untuk membujuk suku Indian membantu peperangannya.
Dialog tersebut sangat menarik karena ia mengandung persoalan yang sampai sekarang belum selesai tentang siapa sebenarnya yang dapat mengatakan, “Aku lahir di sini, maka ini tanah airku”? Washington memang lahir di Virginia. Tetapi bagi Tanacharison dan bangsa-bangsa pribumi lainnya, dunia itu telah menjadi tanah mereka jauh sebelum koloni Inggris berkembang.
Tanacharison sendiri bukan sekadar tokoh pendamping dalam perjalanan Washington. Ia adalah pemimpin Seneca yang memiliki kepentingan politik sendiri. Ia bekerja sama dengan Inggris karena konflik kepentingannya dengan Prancis yang juga mendapat dukungan sebagian suku Indian lainnya. Tetapi hubungan tersebut bukan berarti bahwa masyarakat adat secara sederhana menjadi “pengikut” Washington. Mereka membuat perhitungan politik sendiri dan memilih aliansi berdasarkan kepentingan mereka.
Karena itu, percakapan dalam film tersebut menjadi semacam cermin sejarah tentang dua orang yang sama-sama menganggap suatu tempat sebagai rumah, tetapi berasal dari dua sejarah yang berbeda. Meski kemudian suku-suku Indian lain yang semula ikut bertempur di barisan Perancis, melihat cara bertahan George Washington yang selalu selamat, padahal kata salah seorang dari suku Indian itu bahwa selama ini tak pernah meleset dirinya ketika menembak seseorang. Berarti orang yang tak mempan ditembak itu sudah memperoleh perkenan langit, perkenan Dewa dan yang diutusnya sebagai satria pembebas tanah airnya dari belenggu penjajahan orang-orang yang datang dari seberang lautan.
Entah apakah catatan sejarah benar-benar merekam George Washington sebagai sosok “titisan” yang ditakdirkan memerdekakan sebuah negara baru, ataukah itu sekadar mitos yang dilekatkan oleh generasi kemudian. Sejarah kerap mendandani manusia-manusia masa lalu dengan karisma, kesaktian, dan perkenan langit yang luar biasa, seolah restu ilahi itulah yang akhirnya menggalang dukungan masif bagi perjuangan mereka.
Pada bagian terakhir inilah kita perlu memisahkan mitos dari sejarah. Washington memang memiliki reputasi luar biasa setelah beberapa pengalaman perang. Ia selamat dari sejumlah pertempuran yang mematikan dan kemudian berkembang menjadi figur militer yang penting. Tetapi sejarah tidak menunjukkan bahwa seluruh masyarakat adat melihatnya sebagai seorang “titisan” atau utusan langit yang pasti akan membebaskan tanah air.
Secara faktualnya yang terjadi jauh lebih manusiawi sekaligus lebih rumit. Sebagaimana digambarkan dalam film, pada 28 Mei 1754, pasukan Washington bersama sekutu pribumi di bawah Tanacharison menyerang sebuah kelompok Prancis yang dipimpin Joseph Coulon de Villiers de Jumonville. Jumonville tewas dalam peristiwa itu karena serangan brutal suku Indian yang ingin membalas dendam.
Beberapa minggu kemudian, pasukan Prancis dan sekutu pribumi mereka menyerang Washington di Fort Necessity yang kemudian pada 3 Juli 1754, Washington menyerah. Peristiwa itu menjadi bagian penting dari rangkaian konflik yang berkembang menjadi perang melawan Prancis dan Indian di lokasi yang kemudian menjadi Amerika Utara, swbagai rangkaian dari Perang Tujuh Tahun yang lebih luas.
Dengan demikian, awal karier militer Washington sebenarnya tidak dimulai dengan kemenangan gemilang. Ia pernah salah, pernah kalah, dan bahkan pernah menyerah. Bahkan pula membuat keputusan yang kemudian diperdebatkan secara serius karena kematian Jumonville dan isi dokumen penyerahan Fort Necessity. Mount Vernon mencatat bahwa pengalaman perang tersebut menjadi proses penting yang mengubah Washington dari pemimpin muda yang belum berpengalaman menjadi seorang komandan yang semakin matang, sekalipun pada tahap awal ia melakukan sejumlah kesalahan taktis.
Dan mungkin di situlah Young Washington menjadi lebih penting daripada sekadar film tentang hal ihwal seorang pahlawan. Sebab seorang pendiri bangsa tidaklah lahir sebagai pendiri bangsa sejak awalnya, melainkan telah belajar dari pengalaman kegagalannya.
Ia lahir sebagai anak, lalu tumbuh dengan keterbatasan, lalu memiliki ambisi. Lalu membaca situasi, tapi kemudian gagal juga. Namun tak berhenti, masih ia mencari jalan lain, masuk ke dunia kerja, belajar membaca tanah, dan masuk ke dunia militer meski awalnya kalah. Setelah itu tetap bangkit dan bertemu orang-orang dari kebudayaan yang berbeda, lalu membuat keputusan-keputusan yang kemudian membentuk hidupnya dan sejarah sebuah bangsa.
Dari perjalanan itu kita dapat memahami bahwa sebuah negara juga tidak lahir sekaligus. Negara lahir dari rangkaian keputusan manusia yang seringkali tidak sempurna. Demikianlah sejarah Amerika yang meraih merdeka pada 1776 yang tak bisa dilepaskan dari garis hidup seorang George Washington yang menjadi panglima tentara revolusioner, memimpin perjuangan yang panjang, dan akhirnya menjadi presiden pertama Amerika Serikat.
Tetapi perjalanan menuju posisi tersebut tidak pernah sesederhana kisah seorang pahlawan yang sejak kecil sudah ditakdirkan menjadi penyelamat bangsa. Bahkan Washington sendiri membawa kontradiksi yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan. Ia menjadi simbol kebebasan, tetapi hidup sebagai pemilik budak. Ia berbicara tentang republik, tetapi hidup dalam masyarakat dengan kesenjangan kelas yang tajam. Ia berperang melawan kekuasaan imperium Inggris, sementara ekspansi kolonial yang melahirkan Amerika juga menekan masyarakat pribumi.
Di kemudian hari, pandangannya terhadap perbudakan memang mengalami perubahan. Mount Vernon mencatat bahwa pertimbangan ekonomi dan moral membuat Washington semakin mempertanyakan sistem tersebut setelah Revolusi Amerika. Dalam wasiatnya, ia memerintahkan pembebasan 123 orang yang secara hukum menjadi miliknya setelah istrinya Martha meninggal. Namun perubahan pandangan itu tidak menghapus kenyataan bahwa sepanjang hidupnya Washington tetap menjadi bagian yang turut memelihara sistem perbudakan.
Maka membaca Young Washington pada 2026 tidak cukup hanya dengan bertanya apakah George Washington seorang pahlawan? Pertanyaan yang lebih menarik barangkali adalah tentang bagaimana seseorang menjadi pemimpin, dan bagaimana sebuah bangsa menentukan siapa yang layak disebut sebagai bagian dari dirinya.
Di sinilah Young Washington secara tidak langsung bertemu dengan Soekarno Muda. Membaca Soekarno ketika masih muda juga membuat kita memahami bahwa seorang pendiri bangsa tidak muncul tiba-tiba di podium sejarah. Ada masa ketika ia masih membaca, mencari guru, bertemu gagasan, berdebat, mengalami kegagalan, dan membentuk dirinya sendiri.
Sebelum menjadi simbol, seseorang terlebih dahulu adalah manusia yang sedang mencari bentuk dirinya. Washington membaca Plutarch dan Cato. Demikian Soekarno membaca Marx, Hegel, Rousseau, dan pemikiran para tokoh pergerakan. Keduanya lahir dalam konteks sejarah yang berbeda. Keduanya juga memiliki kontradiksi dan keterbatasan masing-masing. Tetapi keduanya menunjukkan satu hal yang sama bahwa peejuangan sebuah bangsa sering dimulai terlebih dahulu di dalam kepala seseorang sebelum kemudian diwujudkan menjadi gagasan politik.
Dan barangkali karena itulah film tentang Washington muda menjadi relevan ketika Amerika sedang kembali memperdebatkan siapa yang boleh datang, siapa yang boleh tinggal, siapa yang disebut warga, dan siapa yang dianggap cukup Amerika. Jika sebuah bangsa dibangun oleh generasi yang datang dari berbagai tempat, maka pertanyaan tentang imigrasi tidak pernah sekadar soal perbatasan. Ia adalah pertanyaan tentang identitas.
Namun kita juga tidak boleh membuat kesimpulan yang terlalu sederhana bahwa Amerika adalah semata-mata “bangsa imigran” yang sejak awal terbuka kepada semua orang. Sejarah Amerika juga merupakan sejarah kolonisasi, pengusiran masyarakat adat, perbudakan orang Afrika, dan segregasi serta perjuangan panjang untuk memperluas makna kebebasan.
Tetapi mungkin karena sejarahnya penuh kontradiksi itulah, Amerika terus-menerus harus mendefinisikan kembali arti kebebasan. Dan itu mungkin menjadi alasan mengapa masa muda para pendiri bangsa tetap menarik untuk dibaca oleh generasi kemudian. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka tidak sempurna. Sebab mereka adalah manusia yang hidup di zamannya, membawa prasangka zamannya, keuntungan sosial zamannya, tetapi sekaligus menghasilkan gagasan yang melampaui sebagian batas zamannya.
Washington mungkin tidak pernah membayangkan Amerika seperti yang kita lihat sekarang sebagai negara yang dihuni oleh orang-orang dari hampir seluruh penjuru dunia, dengan identitas yang jauh lebih beragam daripada koloni-koloni Inggris pada abad ke-18. Tetapi ia hidup dalam sebuah zaman ketika pertanyaan tentang tanah, kebebasan, kekuasaan, dan identitas sedang berubah.
Dan mungkin sejarah selalu dimulai seperti itu. Bukan dengan jawaban, melainkan dengan kegelisahan, yairu kegelisahan seorang anak yang berkata, “Bukan itu yang kuinginkan.”
Kita perlu belajar pada kegelisahan seorang pemuda yang tidak puas dengan batas hidup yang telah diberikan kepadanya. Kegelisahan seseorang yang memilih membaca ketika sekolah formal tidak lagi menjadi jalan. Kegelisahan manusia yang melihat dunia lebih luas daripada tanah tempat ia berdiri. Dari kegelisahan semacam itulah kadang-kadang lahir perubahan.
Tetapi ada pelajaran lain yang tidak kalah penting bahwa kita tidak boleh hanya mewarisi mitos para pendiri. Kita harus berani membaca mereka secara utuh, termasuk keberhasilan, kegagalan, keberanian, ambisi, privilese, kekeliruan, dan kontradiksi mereka. Sebab sebuah bangsa yang hanya memuja pendirinya akan mudah berubah menjadi museum. Sebaliknya, bangsa yang berani membaca ulang para pendirinya akan terus belajar tentang dirinya sendiri.
Mungkin itu pula yang paling menarik dari Young Washington. Film ini bukan hanya bercerita tentang bagaimana seorang pemuda bernama George Washington tumbuh menjadi pemimpin. Film ini mengajak kita bertanya bagaimana seorang manusia harus belajar mengenali tanah airnya, dan tentang bagaimana ambisi pribadi berubah menjadi cita-cita publik, bagaimana kebebasan diperjuangkan sekaligus dibatasi, dan bagaimana sebuah bangsa yang mengaku lahir dari kebebasan harus terus-menerus menguji apakah kebebasan itu benar-benar diberikan kepada semua orang.
George Washington tidak lahir sebagai “Bapak Bangsa” sejak awal. Ia menjadi Bapak Bangsa melalui rangkaian perjalanan yang panjang, penuh kebetulan, kesempatan, koneksi, keberanian, kesalahan, kekalahan, dan pengalaman. Dan mungkin begitu pula sebuah negara. Tidak ada bangsa yang selesai ketika kemerdekaan diproklamasikan. Kemerdekaan hanyalah permulaan dari pekerjaan yang jauh lebih sulit dalam membuat kebebasan menjadi kenyataan.
Barangkali itulah yang membuat kita masih perlu membaca Washington muda hari ini. Bukan untuk mencari manusia sempurna dari masa lalu, melainkan untuk mengingat bahwa setiap bangsa pernah memiliki masa muda para founding father-nya, masa ketika cita-cita belum menjadi institusi, ketika kebebasan belum menjadi hukum, dan ketika masa depan masih berupa kemungkinan.
Dan setiap generasi, pada akhirnya, akan menghadapi pertanyaan yang sama bahwa setelah menerima dunia yang diwariskan kepada kita, apakah kita hanya akan menjalaninya sebagaimana adanya, atau berani mengambil apa yang diberikan dunia, lalu menjadikannya sesuatu yang lebih baik dan melampaui mereka? (Sal)