Mencintai Perempuan yang Pernah Kehilangan

Kecemburuan itu merayap diam-diam, lalu membangun pasak yang terasa sesak di dada. Ada perasaan...

Mencintai Perempuan yang Pernah Kehilangan

22 Agu 2026
312 x Dilihat
Share :

Mencintai Perempuan yang Pernah Kehilangan

Kecemburuan itu merayap diam-diam, lalu membangun pasak yang terasa sesak di dada. Ada perasaan ganjil sekaligus dingin ketika menatap wajah seseorang dalam sebuah foto bersama lelaki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Seseorang dengan lelaki yang pernah dicintainya, menjadi kekasihnya, bahkan kemudian menjadi suaminya.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan ketika foto itu dihadirkannya ke hadapan publik. Namun, bagaimanapun juga, foto itu adalah jejak dari sejarah dan pengalaman hidup yang pernah mereka jalani bersama. Sementara aku yang datang kemudian, memasuki hidupnya ketika sebagian perjalanan itu telah selesai. Bahkan sampai sekarang pun belum sepenuhnya jelas, apakah aku benar-benar dapat disebut kekasihnya atau hanya seseorang yang kebetulan kembali dikenalnya dalam kesendirian.

Yang pasti, perempuan itu pernah mencintai lelaki yang menjadi suaminya. Lelaki itu kini telah berpulang kepada keabadian, meninggalkan kenangan yang tidak mungkin dihapus begitu saja oleh hadirnya seseorang yang datang belakangan. Sedangkan perempuan yang sejak semula kucintai dan kembali kusapa dalam kesendiriannya itu, entah akan memilih jalan seperti apa untuk menyelesaikan seluruh jatah napasnya di bumi. Apakah kelak ia akan menua bersamaku atau tanpaku, tidak ada yang benar-benar dapat memastikan.

Ketidakpastian itu pula yang membuatku tidak pernah benar-benar tahu apakah cintaku akan bersambut. Namun, ada satu kepastian yang terasa begitu nyata saat dadaku sesak setiap kali melihatnya bersanding dengan lelaki itu, meskipun hanya momen kebisuan yang disebut foto kenangan dan yang kemudian diunggah di media sosial.

Padahal lelaki itu tidak mungkin kembali untuk merajut atau merebut lagi waktu yang kini ingin kubangun bersamanya. Ia telah menuntaskan amanat hidupnya, mengantarkan perempuan yang kucintai melewati sebuah bagian panjang dalam perjalanan hidupnya. Setelah itu, ia tidak akan pernah lagi mengetuk pintu rumah dengan jemari yang gemetar oleh rindu, mengirim pesan singkat di tengah kesunyian malam, atau mengajaknya menikmati makan malam di bawah temaram lampu kota sebagai hal-hal sederhana yang kini masih mungkin kulakukan bersamanya.

Bahkan lelaki itu sudah tidak memiliki daya untuk merebut sebutir pasir pun dari genggamanku. Jasadnya telah lebur, menyatu dengan rahim tanah, sementara namanya perlahan tinggal sebagai kenangan yang hanya dapat dipanggil kembali oleh ingatan perempuan yang kucintai itu sewaktu-waktu di momen-momen tertentu.

Lalu, mengapa kemunculannya dalam sebuah foto masih mampu memberati kepalaku, membuat kegelisahan tumbuh perlahan-lahan, mengusik ketenangan yang sebelumnya berusaha kujaga, bahkan membuatku linglung dan merasa terkungkung oleh sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki wujud dan tidak mungkin lagi datang menghampiri dan merebutnya dariku?

Mengapa hanya dengan melihat wajahnya yang diam di antara bingkai sebuah foto, seseorang yang telah lama selesai dengan kehidupan dan perjalanannya di dunia ini, dadaku justru dipenuhi perasaan yang sulit kuberi nama, seolah-olah ada sesuatu dari masa lalu yang tiba-tiba mengetuk ruang hidupku dan meminta untuk diperhitungkan, padahal aku tahu ia tidak mungkin datang mengambil apa pun dariku, tidak mungkin berdiri di hadapanku, tidak mungkin mengulurkan tangannya untuk menggenggam kembali tangan perempuan yang kucintai bahkan sebelum dia mencintainya?

Dia telah pergi, sementara aku yang masih hidup mengapa merasa terusik oleh seseorang yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengusikku. Barangkali yang membuatku gelisah bukanlah lelaki itu sebagai dirinya, melainkan kenyataan bahwa sebelum aku hadir, pernah ada seseorang yang menempati tempat yang begitu dalam di kehidupan perempuan yang kucintai, seseorang yang memiliki sejarah bersamanya, memiliki kenangan yang tidak pernah dapat kujalani ulang, dan pernah menjadi bagian dari hari-hari yang kini hanya dapat kusaksikan dari kejauhan melalui cerita, ingatan, atau selembar foto.

Mungkin karena di ruang-ruang batin yang paling sunyi, justru kepada lelaki yang bahkan tidak mungkin kembali secara utuh itulah aku merasa kalah. Sebuah kekalahan yang tidak lahir dari pertandingan, tidak pula disebabkan oleh perbuatan yang dilakukan seseorang kepadaku, melainkan tumbuh dari kesadaranku sendiri bahwa ada bagian dari kehidupan perempuan yang kucintai yang selamanya tidak akan pernah bisa kumasuki. Tidak peduli seberapa besar cintaku, seberapa lama aku menemaninya, atau seberapa banyak kenangan baru yang kelak mungkin kami bangun bersama.

Tetapi lelaki itu telah memiliki sesuatu yang tidak mungkin kumiliki: masa lalu bersamanya, tahun-tahun yang telah dilewati, percakapan yang mungkin tidak pernah kudengar, pertengkaran yang tidak pernah kusaksikan, tawa yang tidak pernah menjadi milikku, perjalanan yang tidak pernah kulalui bersamanya, dan barangkali juga sebuah bentuk cinta yang pernah membuat perempuan itu memilihnya sebagai seseorang yang ingin ditemani sampai pada sebuah ikatan bernama pernikahan.

Di titik itulah aku merasa kalah, bukan karena ia lebih baik dariku, bukan pula karena ia sedang berusaha merebut perempuan itu dariku, tetapi karena ada wilayah dalam hati perempuan yang kucintai yang telah lebih dahulu dihuni oleh kenangan tentang dirinya, dan wilayah itu tidak mungkin kutaklukkan dengan cara apa pun. Bahkan kematiannya pun tidak serta-merta menghapus keberadaannya dari ingatan perempuan itu. Sebaliknya, kematian justru membuatnya menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat berubah, tidak dapat berbuat salah, tidak dapat mengecewakan, dan tidak dapat kehilangan dirinya seperti manusia yang masih hidup.

Ia telah berhenti pada satu titik dalam ingatan perempuan yang kucintai, sementara aku masih harus berjalan bersamanya, akan menghadapi hari-hari ketika cinta bisa berubah, ketika manusia bisa kecewa, ketika hubungan bisa retak, dan ketika masa depan tidak pernah memberikan jaminan jadi atau tidaknya sampai di mahligai pernikahan. Maka tanpa pernah kusadari, aku bukan sedang bersaing dengan seorang lelaki yang telah pergi, melainkan sedang berhadapan dengan sebuah kenangan yang tidak mungkin menua, tidak mungkin berubah, dan tidak mungkin memberiku kesempatan untuk menang.

Rasa kekalahan itu terdengar ganjil, bahkan absurd. Sebab tidak pernah ada pertandingan yang benar-benar berlangsung di antara kami. Tidak ada lawan yang berdiri di hadapanku, tidak ada tatapan yang saling menantang, tidak ada tangan yang sedang berusaha merebut sesuatu dariku, dan tidak ada suara yang pernah mengatakan bahwa aku harus memenangkan perempuan yang kini kucintai dari seseorang yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari hidupnya.

Ia bahkan tidak pernah tahu tentang keberadaanku, tentang perasaanku, atau tentang kegelisahan yang tumbuh setiap kali masa lalunya muncul di hadapanku dalam bentuk sebuah foto, sebuah cerita, atau sekadar nama yang sesekali melintas dalam percakapan. Namun, entah bagaimana, hatiku tetap merasa telah dikalahkan olehnya secara telak, oleh seseorang yang telah lama pergi, yang tidak mungkin kembali, yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk mempertahankan tempatnya, dan yang bahkan tidak pernah tahu bahwa setelah kepergiannya masih ada seseorang yang merasa sedang berdiri di belakang bayang-bayangnya.

Dan ternyata, ini bukan pertama kalinya takdir memberiku cawan kepedihan yang serupa. Jika aku menoleh cukup jauh ke belakang, sudah tiga kali dalam bentangan hidupku yang ringkih ini aku berada begitu dekat dengan perempuan-perempuan yang datang kepadaku dengan sejarah cintanya yang hampir serupa atau yang telah lebih dahulu selesai bersama lelaki lamanya. Tiga pertemuan yang berlangsung pada waktu dan keadaan yang berbeda, dengan cerita yang tidak pernah sama, tetapi selalu membawa satu kesamaan sebagai kenyataan yang membuatku harus sungguh-sungguh belajar memahami dengan penuh kesadaran bahwa seseorang tidak pernah benar-benar datang kepada kita sebagai halaman yang sepenuhnya kosong.

Ada yang sebelumnya hanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, meninggalkan kenangan tentang masa muda, percakapan, perpisahan, dan luka yang mungkin telah lama disimpan di tempat yang tidak lagi terlihat. Ada pula yang pernah merasakan bagaimana rasanya membangun mahligai rumah tangga, menjalani hari-hari sebagai seorang istri, berbagi meja makan, tempat tidur, percakapan, pertengkaran, harapan, dan mungkin juga impian tentang masa depan, sebelum kematian datang tanpa permisi dan merenggut suami dari kehidupannya. Lalu kemudian aku datang setelah semua itu berlalu, membawa perasaan yang baru, tetapi harus berhadapan dengan cerita yang telah memiliki akar jauh sebelum kehadiranku.

Cerita tentang tiga perempuan dengan raut wajah yang berbeda, tiga samudra kehidupan yang tidak sama luas dan dalamnya, dan tiga lembar cerita duka yang tidak pernah saling bertautan, tetapi entah mengapa selalu meninggalkan gema yang serupa di dalam perjalanan batinku. Dan aku tidak ingin menyamakan mereka, sebab masing-masing memiliki kehidupannya sendiri dengan jenis luka yang berbeda, kenangan yang tidak dapat dibandingkan, dan cara masing-masing memandang cinta setelah segala sesuatu yang pernah ia miliki harus berakhir.

Namun, di antara ketiganya, selalu ada satu garis takdir yang terasa berulang bagiku, seperti musim gugur yang datang setiap tahun dengan aroma, warna, dan kesunyian yang hampir serupa. Daun-daunnya mungkin jatuh dari pohon yang berbeda, anginnya mungkin bertiup dari arah yang tidak sama, dan langitnya mungkin memiliki warna yang berubah-ubah, tetapi perasaan yang ditinggalkannya di dalam diriku selalu menyerupai sesuatu yang pernah kukenal sebelumnya. Seolah-olah hidup sedang mengulang sebuah pertanyaan yang sama dalam bentuk yang berbeda: sanggupkah aku mencintai seseorang yang di dalam dirinya masih membawa jejak orang lain, tanpa merasa harus menghapus jejak itu agar aku dapat memiliki tempat di sampingnya?

Mungkin di situlah bagian paling sulit dari perjalanan ini. Aku tidak sedang berhadapan dengan perempuan yang belum pernah mencintai siapa pun, melainkan dengan perempuan-perempuan yang pernah memberikan sebagian dirinya kepada seseorang sebelum akhirnya perjalanan itu terhenti di hadapanku. Dan setiap kali aku datang setelahnya, aku harus menerima bahwa ada cerita yang tidak kutulis, kenangan yang tidak kubentuk, dan masa-masa yang tidak akan pernah bisa kuulangi bersamanya.

Barangkali itulah yang membuat setiap persimpangan terasa begitu akrab sekaligus menyakitkan. Aku selalu datang membawa harapan tentang sesuatu yang belum terjadi, tentang kemungkinan-kemungkinan yang ingin kubangun bersama seseorang, tetapi pada saat yang sama harus belajar menerima bahwa sebelum kehadiranku, telah ada bagian panjang dari hidupnya yang tidak pernah kukenal dan tidak mungkin kuubah.

Dulu, pada masa-masa awal ketika pengetahuanku tentang cinta masih begitu terbatas, aku pernah membiarkan amarah membakar jiwaku. Aku pernah membiarkan kecemburuan tumbuh menjadi pertengkaran-pertengkaran kecil yang pada akhirnya hanya menyisakan keheningan panjang dan menyesakkan. Pernah pula terlintas dalam pikiranku sebuah keyakinan yang sekarang terasa begitu kekanak-kanakan: jika seorang perempuan sedang merajut kasih bersamaku, bukankah semestinya ia menutup rapat lemari masa lalunya dan tidak lagi membuka kembali potret lelaki lain yang telah berpulang? Saat itu aku merasa bahwa cinta yang baru seharusnya memiliki ruang yang bersih dari bayang-bayang sebelumnya, seolah-olah seseorang yang datang kemudian berhak meminta seluruh halaman lama dilipat dan disimpan jauh-jauh agar tidak lagi terlihat.

Sekarang, ketika kutarik napas panjang dan mencoba memandang kembali diriku yang dahulu melalui cermin, aku bertanya dengan lirih. Sebenarnya kepada siapa amarah itu bernaung? Kepada perempuan lembut yang sedang kucintai, yang hanya sedang mengenang bagian dari hidupnya sendiri? Kepada mendiang suaminya, yang bahkan tidak lagi memiliki tubuh untuk membela diri dari perasaan cemburuku? Ataukah sesungguhnya amarah itu tidak pernah benar-benar tertuju kepada siapa pun di antara mereka, melainkan kepada sesuatu yang jauh lebih besar dan tidak mungkin kusentuh?

Mungkin kepada kematian itu sendiri, kepada kenyataan bahwa ada perpisahan yang tidak memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk memperbaiki keadaan, meminta penjelasan, mengucapkan maaf, atau sekadar mengatakan, "Tunggu, aku belum siap kehilanganmu."

Barangkali memang kematianlah yang diam-diam menjadi sasaran dari kemarahanku. Sebab kematian adalah satu-satunya dinding karang yang tidak dapat kita runtuhkan, sekaligus lawan yang tidak pernah bisa kita ajak berunding. Ia tidak mengenal tawar-menawar, tidak dapat disuap oleh air mata, tidak luluh oleh permohonan, dan tidak akan mundur meskipun kita memeluk seseorang seerat-eratnya. Kepada kematian, manusia hanya memiliki satu pilihan pada akhirnya: menerima, meskipun penerimaan itu sering datang setelah penolakan yang panjang, setelah kemarahan yang melelahkan, dan setelah berkali-kali bertanya mengapa seseorang harus pergi ketika masih begitu banyak hal yang belum selesai di antara mereka.

Jika seseorang pergi meninggalkan kita karena memilih pelukan orang lain yang masih bernapas, mungkin rasa sakit itu tetap terasa menyakitkan, tetapi setidaknya masih tersedia sebuah penjelasan yang dapat dipahami oleh akal. Kita masih memiliki kemewahan untuk mengetahui kepada siapa amarah itu harus diarahkan. Kita bisa merasa dikhianati, bisa kecewa, bisa menumpahkan kemarahan, bahkan mungkin membenci untuk beberapa waktu. Luka semacam itu memang dalam, tetapi ia memiliki sebab yang dapat ditunjuk dan memiliki seseorang yang secara sadar membuat pilihan untuk pergi.

Tetapi bagaimana mungkin aku melayangkan amarah kepada seseorang yang telah direnggut dari kehidupan, oleh kematiannya yang mutlak? Ia tidak pernah memilih untuk pergi meninggalkan dunia. Ia tidak pernah memilih untuk melepaskan tangan perempuan yang pernah dicintainya. Kepergiannya bukan sebuah keputusan yang dapat diperdebatkan, melainkan sebuah akhir yang dipaksakan oleh sesuatu yang tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengatakan tidak.

Maka, jika aku benar-benar mencintainya, sudah waktunya aku berhenti mempertanyakan mengapa masih ada sebuah foto yang menyimpan masa lalu. Sudah saatnya mulai memahami bahwa foto itu bukanlah pintu yang hendak membawanya kembali kepada seseorang yang telah tiada. Bisa jadi, ia hanya sebuah cara sederhana bagi seseorang yang pernah kehilangan untuk mengakui bahwa pernah ada cinta yang begitu berarti dalam hidupnya dan bahwa kehilangan tidak selalu berarti harus melupakannya.

Barangkali kesalahan terbesar kita sebagai manusia yang sering dipenuhi tuntutan adalah menganggap hati seseorang seperti sebuah kamar sempit yang hanya menyediakan satu kursi untuk diduduki, seolah-olah ketika seseorang baru datang, orang yang pernah tinggal sebelumnya harus segera dikeluarkan agar tidak terjadi perebutan tempat. Kita sering berpikir bahwa cinta harus bekerja seperti itu. Jika ada seseorang yang baru, maka seseorang yang lama harus dilupakan. Jika sebuah hubungan baru ingin tumbuh, maka seluruh jejak hubungan sebelumnya harus dihapus. Padahal, jika kita mau berhenti sejenak dan merenung, hati manusia jauh lebih luas dan lebih rumit daripada sekadar sebuah kamar yang hanya memiliki satu pintu dan satu kursi.

Hati manusia lebih menyerupai sebuah rumah tua peninggalan leluhur yang telah melewati begitu banyak musim. Di dalamnya ada kamar-kamar yang tirainya telah lama berdebu karena penghuninya pergi, tetapi kenangan tentang mereka masih tertinggal di beberapa sudut. Ada ruang tengah yang masih hangat oleh gelak tawa orang-orang yang hidup hari ini. Ada meja makan tempat cerita-cerita baru dibicarakan, jendela tempat cahaya pagi masuk, dan halaman tempat bunga-bunga baru mulai tumbuh. Ada pula pintu yang mungkin tidak akan pernah berani dibuka lagi seumur hidup, bukan karena di baliknya masih ada seseorang, tetapi karena di sana tersimpan kenangan yang terlalu dalam untuk disentuh sembarangan. Dan mungkin, di bagian rumah yang lain, terdapat sebuah ruangan baru yang baru saja disapu bersih, dicat ulang, lalu perlahan dipersiapkan untuk menyambut seseorang yang belum lama datang dari perjalanan jauh.

Maka kita tidak perlu membakar seluruh isi rumah itu, merobohkan fondasinya, atau menghanguskan sejarah yang telah membentuknya hanya karena di salah satu kamar kecilnya masih tergantung potret seseorang yang telah tiada. Kita tidak perlu memaksa seluruh masa lalu menjadi abu agar merasa lebih aman di masa kini. Sebab rumah itu adalah miliknya, dan seluruh ruangan di dalamnya adalah bagian dari perjalanan yang membuatnya menjadi manusia yang kini kita cintai. Jika kita benar-benar ingin tinggal di dalamnya, yang perlu kita lakukan bukan merobohkan kamar-kamar lama, melainkan mengetuk pintu dengan rendah hati, menghormati setiap ruang yang ada, lalu perlahan-lahan menciptakan kehangatan baru di ruangan yang masih terbuka bagi kita.

Dan mungkin, mencintai seseorang dengan masa lalu yang panjang berarti belajar hidup berdampingan dengan rumah itu tanpa merasa harus menjadi satu-satunya penghuni yang pernah ada di dalamnya. Kita tidak datang untuk menghapus jejak kaki orang-orang yang pernah berjalan di lantainya. Kita datang untuk meninggalkan jejak kita sendiri dengan cara yang lembut, tanpa merusak apa yang telah ada. Sebab suatu hari nanti, jika cinta kita pun menjadi bagian dari masa lalu, mungkin kita juga berharap untuk dikenang bukan sebagai seseorang yang pernah menuntut seluruh rumah itu menjadi miliknya, melainkan sebagai seseorang yang pernah datang, tinggal dengan tulus, menghangatkan salah satu ruangnya, dan membuat penghuninya merasa bahwa hidup masih menyediakan alasan untuk membuka jendela dan menyambut cahaya pagi.

Ketika hiruk-pikuk dunia mereda dan malam kembali menyisakan kesunyian, mungkin kita semua sedang membaca pelajaran yang sama bahwa mencintai seorang manusia di dunia fana ini adalah berarti menyadari bahwa tidak seorang pun akan pernah sepenuhnya menjadi milik mutlak kita. Kita dapat berjalan beriringan menyusuri pematang kehidupan, tidur di sisi bahunya ketika malam terasa berat, mengenali kebiasaan-kebiasaan kecilnya, mengetahui bagaimana ia menyeruput kopi atau menyembunyikan kesedihan di balik senyum, menjadi tempat ia bercerita, bahkan mungkin menjadi seseorang yang dipilihnya untuk menua bersama.

Tetapi di balik semua keintiman itu, kita tetap tidak berhak merampas seluruh isi batin dan rahasia jiwanya. Selalu ada bilik-bilik tertentu dalam diri seseorang yang mungkin tidak pernah dibuka untuk kita, bukan karena kita kurang dicintai, melainkan karena setiap manusia memiliki wilayah batin yang sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Dan wilayah itulah yang harus kita hormati dengan jarak yang cukup.

Termasuk di dalamnya selembar foto yang bisu, sebuah nama yang sesekali hadir dalam doa, sebuah kenangan yang bersemayam di balik kelopak mata, atau seorang manusia yang telah lebih dahulu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik kehidupan. Semua itu tidak selalu menjadi ancaman bagi cinta yang sedang kita bangun. Kadang-kadang, ia hanya bagian dari sejarah yang harus kita biarkan tetap berada di tempatnya.

Aku tidak tahu apakah waktu kelak akan menyembuhkan seluruh sisa rasa sakit yang masih menusuk ini. Mungkin tidak pernah sembuh sepenuhnya. Mungkin, ketika kita memilih mencintai seseorang yang membawa bagasi masa lalu yang begitu panjang, sesekali kita tetap akan merasakan sensasi aneh seperti menjadi pendatang di dalam sebuah rumah yang fondasinya telah dibangun jauh sebelum kita datang.

Namun, di dalam proses itu, aku ingin memegang satu kebijaksanaan bahwa aku tidak perlu membakar rumah tua itu sampai rata dengan tanah hanya agar aku bisa masuk ke dalamnya dengan perasaan aman. Aku hanya perlu menunggu di depan pintu dan memastikan satu hal: apakah perempuan itu, dengan kerelaan hatinya sendiri bersedia membukakan pintu dan mempersilakanku masuk?

Jika jawabannya ya, aku tidak perlu menjadi pengganti siapa pun. Aku tidak perlu berdiri di atas bayang-bayang orang lain untuk membuktikan bahwa aku lebih besar. Aku hanya perlu hadir sebagai diriku sendiri, dengan segala kekurangan, ketulusan, dan kemampuan mencintai yang kumiliki. Sebab hubungan yang sehat tidak dibangun dengan menghapus seseorang dari masa lalu, melainkan dengan menciptakan sesuatu yang baru di masa kini.

Dan mungkin, jika cinta itu benar-benar dirajut dengan benang ketulusan yang kuat, suatu hari nanti foto lama yang tergantung di dinding itu tidak lagi menjelma sebagai hantu yang mengancam. Ia akan melunak dalam pandanganku menjadi bagian yang syahdu dari sebuah kehidupan yang pernah ada. Aku akan mampu menatapnya sekilas, menarik napas panjang, lalu berkata dalam hati, "Aku tidak pernah datang ke sini untuk menghapusmu dari lembar masa lalunya. Aku datang hanya untuk melihat apakah setelah semua yang telah terjadi, masih ada hari-hari yang dapat kami tulis bersama."

Sebab orang-orang tercinta yang telah berpulang tidak membutuhkan kita untuk mengalahkan mereka dalam perlombaan kenangan. Dan perempuan yang kita cintai pun tidak seharusnya dipaksa menjadi algojo bagi masa lalunya sendiri. Yang kita perlukan hanyalah keberanian untuk menerima kenyataan bahwa cinta tidak selalu tentang menjadi orang pertama, apalagi menjadi satu-satunya penguasa dalam hati seseorang.

Kadang-kadang, cinta yang paling agung justru sesederhana menjadi seseorang yang datang setelah badai reda. Hadir setelah air mata kehilangan perlahan mengering, setelah kerasnya kehidupan mengajarkan seseorang cara berdiri kembali, lalu datang tanpa membawa tuntutan untuk menghapus apa pun. Datang dengan tangan terbuka, bukan untuk menggenggam terlalu erat, melainkan untuk menawarkan perjalanan baru.

"Aku tahu hidupmu tidak dimulai bersamaku. Aku tahu ada halaman-halaman yang tidak pernah kutulis dan tidak akan pernah bisa kuubah. Tetapi jika hatimu berkenan, biarkan sisa perjalanan setelah badai ini kita jalani berdua, berdampingan, sampai sejauh yang masih diizinkan waktu."

Mungkin di sanalah bentuk cinta yang paling sunyi sekaligus paling dewasa. Bukan ketika kita berhasil memiliki seseorang sepenuhnya, melainkan ketika kita mampu mencintainya tanpa menuntut seluruh sejarahnya menjadi milik kita. Bukan ketika kita menghapus masa lalu, melainkan ketika kita cukup lapang untuk menghormatinya dan cukup berani untuk membangun masa depan yang baru. 

Dan barangkali kedewasaan dalam mencintai bukanlah tentang bagaimana menjadi satu-satunya nama dalam kehidupan seseorang, tetapi tentang bagaimana menjadi seseorang yang hadir dengan tulus di halaman yang memang dipilihkan kehidupan untuk kita tulis bersama. (Red)

Perspektif

Scroll