"Melakukan studi komparatif itu asyik," katanya, saat senja menumpahkan cahaya temaramnya ke atas meja diskusi yang berantakan, di antara buku-buku, catatan, dan cangkir kopi yang mulai dingin. Suaranya ringan, nyaris seperti desiran angin yang melewati daun-daun, tapi setiap kata menimbulkan gema di kepala, bergetar seperti batu kecil yang dilempar ke danau, menciptakan lingkaran-lingkaran yang meluas tanpa henti.
Aku bisa merasakan ketertarikannya bukan hanya pada fakta, tapi pada jiwa yang tersembunyi di balik setiap kata-katanya, seakan setiap kalimatnya adalah aliran sungai yang menembus lapisan tanah sejarah. Seperti aroma hujan yang menyerap ke tanah kering, membangkitkan kehidupan yang lama terlupakan, ada getaran di udara, di meja diskusi, di kepalaku, yang membuatku ikut terseret oleh alirannya, basah oleh pemahaman dan kagum yang tak terucap.
Temanku itu, duduk di hadapanku dengan sikap santai namun matanya selalu mencari sesuatu di horizon, menirukan Sujiwo Tejo dalam video viral yang baru ditontonnya:
“Pemimpin yang dinabikan membuat kita kehilangan nalar, pemimpin bertangan besi membuat kita kehilangan nyali. Pemimpin di abad lalu, oleh rakyatnya, kalau tidak dinabikan, ya bertangan besi.”
Kata-kata itu jatuh di udara senja seperti embun yang mendinginkan kulit sekaligus menusuk pikiran. Ada ironi yang samar, tajam, yang membuatku tersentak. Seolah sejarah manusia adalah gelas kaca yang mudah retak, diisi oleh tangan yang tak selalu lembut.
Aku memperhatikan cara matanya yang tidak berkedip, menahan tawa yang nyaris sinis, memberi kesan bahwa ia selalu berada di antara dunia nyata dan bayangan sejarah.
Aku menatapnya lama, menyerap setiap detil ekspresi, dari kerutan halus di keningnya hingga lekuk senyumnya yang samar. Kemudian kata-kataku keluar perlahan, berat seperti air yang dituang ke sungai yang tenang:
“Kenapa ketika kita membicarakan nabi dan rasul terasa sakral, namun membahas raja-raja dan para bijak Nusantara terdengar biasa, bahkan profan?”
Dia tersenyum tipis, matanya menembus jendela, menatap horizon kelabu yang sepi, seakan menunggu jawaban dari langit yang diam. Ada diam yang berbicara lebih keras daripada kata-kata, dan aku merasakannya menekan di dada, memberi ruang pada pertanyaan itu untuk bergaung sendiri.
“Melalui studi komparatif,” katanya, dalam menimbang kata-katanya seperti batu yang dilempar ke air, menciptakan riak yang menjalar ke semua arah. “Dengan kita belajar mensejajarkan semua kebudayaan manusia, di belahan bumi mana pun.”
Aku bisa merasakan kejujurannya yang tak berpihak, suaranya menembus ruang, seakan berkata bahwa ilmu bukan sekadar fakta, tapi perasaan yang dipahami dengan logika dan imajinasi. Seperti ucapnya kemudian, “Tanpa berat sebelah, tanpa memihak, tanpa membesarkan Arab hanya karena kita Muslim. Arab, tempat lahir peradaban Sapiens, tentu memiliki keunggulan dan kelemahan. Kedua sisi itu sama-sama nyata, sama-sama manusiawi.”
Seperti itulah ia berbicara, tenang tapi tegas, menghadirkan keseimbangan yang jarang kudengar di luar buku-buku sejarah. Aku mendengar nada lembut dalam penjelasannya, tapi setiap kalimat menimbulkan getaran yang membuat kesadaranku ikut bergetar.
Aku menoleh ke jendela, membayangkan Nusantara, tanah yang telah lama menyimpan sejarahnya di lereng gunung, di aliran sungai, di tiap tarian, dan di tiap bait mantra yang diulang turun-temurun. Sejarah itu bukan sekadar catatan. Ia adalah denyut nadi yang masih terasa dalam langkah kaki, dalam suara gamelan, dalam riuh pasar, dan kesunyian hutan.
Dia menatapku, matanya lembut namun penuh keyakinan, “Sama seperti itu, tanah kita, terikat dalam cerita, tak pernah hanya satu warna, tapi berlapis, beraroma, hidup.”
Dia melanjutkan, “Saya paham, dalam pengertian mainstream, agama dan budaya dianggap berbeda. Tapi bagi saya, keduanya sama saja. Agama bisa disebut puncak budaya manusia dalam membangun tata peradaban. Ia seperti sungai yang menyalurkan nilai, moral, dan imajinasi, membentuk lembah-lembah kehidupan, bukan sekadar aturan tertulis. Sungai itu mengalir, meresap, memberi kehidupan dan kadang menimbulkan banjir, tapi selalu menjadi bagian dari lanskap manusia.”
Aku menarik napas panjang, mencoba menimbang kata-kata yang jatuh perlahan di antara kami. “Aku juga paham,” lanjutnya, matanya menyipit sedikit, “ketika ada orang bilang agama yang benar dibawa para nabi dan rasul setelah menerima wahyu Tuhan. Tapi sesungguhnya, klaim itu tak berbeda jauh dengan pengakuan Kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari, atau Kanun Hammurabi yang dianggap sebagai hukum dari Tuhan. Semua itu adalah cerita manusia yang mencoba memberi makna pada kekuasaan dan tata hidup, dalam bahasa yang mereka pahami, di waktu mereka berada.”
Aku memandangnya lama, merasakan keteguhan yang lembut itu. Ada sesuatu yang mengikatnya dengan masa lalu, namun matanya tetap menatap masa depan. Sementara aku, di sini, mulai menyadari bahwa diskusi ini lebih dari sekadar studi. Ini adalah obrolan perjalanan melintasi waktu, budaya, dan hati manusia, untuk belajar menempatkan semua keadilan, keagungan, dan kelemahan secara sejajar, tanpa bias dan tanpa takut pada kesakralan yang kaku.
Lalu ia menunduk sejenak, menarik napas panjang seolah menimbang kata-kata yang akan diucapkan, seolah setiap huruf menempel pada lidahnya sebelum jatuh ke dunia. Suaranya perlahan mengulang apa yang telah diucapkannya, tapi kini setiap kata terasa lebih padat, bergetar di udara seperti gelombang yang menelusuri danau senja.
“Orang bilang agama dibawa para nabi setelah menerima wahyu Tuhan. Tapi dengarkan ini: pengakuan itu tak berbeda jauh dengan Kaisar Jepang yang menyebut dirinya keturunan Dewa Matahari, atau Kanun Hammurabi yang dianggap hukum Tuhan.” Ia berhenti sejenak, matanya menatap jauh, seakan mencoba memetakan garis tak terlihat antara langit dan bumi, antara manusia dan cerita yang menata dunia.
“Dan semua klaim itu, pada intinya, adalah alat untuk menciptakan keteraturan, untuk menegakkan tatanan manusia, untuk menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kekacauan sosial. Agama,” katanya, suaranya turun lirih seperti aliran sungai yang menembus celah batu, “bisa disebut adalah puncak budaya manusia dalam membangun tata peradabannya.”
Aku diam, membiarkan setiap kata jatuh perlahan ke dasar pikiranku, menembus kesunyian seperti tetes hujan yang jatuh ke bumi kering, menumbuhkan genangan pemahaman yang tenang namun membuat hati berdesir, membawa rasa meriang yang hangat dan getir sekaligus.
“Istilah nabi dan rasul lahir dari budaya Sinai, Eufrat, Tigris, dan Golan,” katanya, suaranya pelan tapi pasti, seolah memetakan sejarah dengan jari-jari imajinasi yang menulis di udara. “Baca lagi definisi nabi dan rasul, pada kata Basyiron wa Nadziron: pembawa kabar gembira dan peringatan.”
Aku membayangkan dua kata itu melayang di antara batu-batu purba dan pasir sungai yang panjang, seperti pesan yang menyeberang waktu, dari tangan manusia ke tangan manusia berikutnya, menegaskan bahwa tiap peradaban merasakan urgensi yang sama.
“Kabar gembira dan peringatan,” lanjutnya, matanya berkilat samar di bawah bayang senja, “di Nusantara telah dijalankan oleh yang kita kenal sebagai Resi, Maharesi, dan Begawan. Mereka adalah manusia-manusia utama yang menapaki lereng Tambora, Krakatau, Toba, Sunda, Siguntang, dan menyusuri aliran sungai Citarum, Musi, Bengawan, Brantas, Muara Jambi, Kapuas, dan masih banyak lagi.”
Aku membayangkan mereka, seperti bayangan yang menyeberangi kabut pagi, berjalan dengan langkah yang pasti namun lembut, menebar kearifan dan pemahaman tentang manusia, kehidupan, dan dunia yang luas.
“Mereka mengajarkan kearifan hidup, kepemimpinan, dan pemahaman tentang manusia itu sendiri,” katanya. Suaranya turun menjadi bisik yang hampir menyatu dengan desiran senja di luar jendela. “Demi keteraturan, demi kepatuhan, demi kemenangan, para pemimpin merajut satu cerita sebagai satu fiksi, yang disebut ‘Tuhan’ atau ‘aturan’—sehingga manusia belajar menata dirinya di tengah dunia yang kian luas dan kompleks urusannya.”
Aku bisa merasakan logika dan kehangatan dalam kata-katanya. Seolah ia sedang menenun benang sejarah dan budaya menjadi kain yang bisa kutarik, menghampar di ruang pikiranku sendiri.
“Jika titah atau sabda pandita itu dikatakan datangnya dari langit, bukan dari refleksi kesadaran setelah bergelut dengan alam dan sosialnya,” lanjutnya, “sama halnya dengan Kaisar Jepang, Hammurabi, dan para nabi lain setelah Revolusi Pertanian. Semua menyebutnya demi dan atas nama membentuk keteraturan manusia.”
Aku menelan setiap kata yang baru saja terucap, membiarkan kesunyian memenuhi ruang di antara kami, seperti udara yang menahan napas sebelum hujan turun.
Lalu suaraku keluar pelan, bergetar samar: “Apakah klaim nabi dan rasul, hanyalah kebohongan semata?”
Ia menatapku lama, matanya seperti menimbang apakah aku cukup siap menerima jawabannya. “Ingat baik-baik,” katanya, lirih tapi tegas, “bahwa kebohongan bukan selalu tidak perlu. Kadang, untuk kepatuhan dan keteraturan, kebohongan dibutuhkan.”
“Dalam rumah tangga, agar tetap utuh, boleh saja berbohong. Rakyat harus percaya pada fiksi yang sama, agar sang raja, atau pemimpin, dapat menciptakan tatanan. Berbohong di sana ada musuh, kata rajanya. Padahal itu agar rakyatnya tetap waspada. Agar mereka tidak hilang arah di tengah lautan kehidupan yang luas dan berombak.”
Aku menatapnya, dan dalam senyap itu, aku merasakan beratnya dunia, namun juga kehangatan manusia yang mencoba menata dunia dengan cerita, aturan, dan kadang, dengan kebohongan yang perlu.
Senja menumpahkan cahaya temaramnya di atas meja diskusi. Buku-buku berserak, catatan terbuka, dan cangkir kopi yang mulai dingin menjadi saksi diam atas percakapan yang menelusuri sejarah, budaya, dan hati manusia.
Aku menatapnya lagi, teman yang duduk dengan tubuh setengah menunduk, matanya selalu mencari sesuatu di luar jendela, ke langit horizon kelabu yang sangat jauh, seperti hendak mengambil sesuatu dari tempat jauh itu.
“Agama pun demikian,” katanya, suaranya turun perlahan, seakan tiap kata menempel di udara sebelum jatuh ke ucapannya. “Dalam setiap budaya, tujuannya sama: kepatuhan, keteraturan, kelangsungan hidup bersama. Jika tanpa kepercayaan itu, manusia mungkin akan tersesat dalam anarki dan kebingungan.”
Aku mengangguk, tapi pikiranku tetap berputar, bergulung dan melingkar seperti arus dasar sungai yang tak terlihat, tak terdengar, namun terus mengalir ke arah yang tak pasti. Setiap kata yang ia ucapkan menimbulkan gema samar di kepalaku, seperti hujan yang menetes perlahan di tanah kering, membangkitkan genangan pemahaman yang tenang, tapi membuat hatiku berdesir dan sedikit meriang.
“Lalu, mengapa budaya Sinai, Eufrat, Tigris, Golan, yang kini kita kenal sebagai Arab, beserta Romawi dan Persia begitu kuat memengaruhi Nusantara?” tanyaku, dengan suara hampir hanyut di antara desiran angin senja.
“Karena ekspansi mereka luas dan masif,” jawabnya, suaranya mengalir seperti sungai yang menepi, lembut tapi pasti. “Kekurangan sumber daya membuat mereka bergerak, menjelajah daerah-daerah lain, sebagaimana Sapiens dahulu meninggalkan Afrika—dalam teori The Lost Out of Africa.”
Aku membayangkan peta tak terlihat yang ia gambarkan di udara, menelusuri benua, samudra, dan zaman, setiap langkah manusia meninggalkan jejak yang samar namun nyata.
“Nusantara berada di jalur perdagangan utama,” lanjutnya, mencondongkan tubuh seakan menekankan kata-kata itu. “Budaya mana pun pasti masuk, saling memengaruhi, dan tidak ada yang bisa menghindar. Bahkan manusia Sapiens dari lereng gunung Padang, Sunda, Sinabung, Toba, Singgalang, Krakatau, Merapi, Bromo, yang menyusuri sungai-sungai besar seperti Citarum, Musi, Bengawan, Brantas, Kapuas, Muara Jambi, semuanya tak terlepas dari arus itu.”
Aku membayangkan mereka berjalan di tanah Nusantara, langkah-langkah mereka mengukir cerita, menanam warisan yang tak kasat mata, tapi terasa di udara, di tanah, di aliran sungai. Setiap tarikan napas mereka seolah menyerap sejarah, dan aku merasa ikut terseret oleh arus itu, ingin memahami, ingin menyentuh bayangan yang hilang itu.
“Dengan semua itu,” katanya, suaranya menurun, lirih seperti desir angin di pepohonan senja, “tercipta peradaban akulturasi dan kompromi: berpadu antara yang lekat dan yang luntur, antara menjaga tradisi lama yang baik dan menerima tradisi baru yang juga baik. Peradaban kita senantiasa berayun di antara dua kutub: meneguhkan akar, sekaligus merengkuh dunia.”
Ia menarik napas, lalu menambahkan dengan lirih tapi tegas: “Al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah—agar akar tetap, cabang berubah. Peringatan bahwa tradisi boleh lestari, tetapi selalu terbuka untuk penyesuaian dan dialog.”
Aku menarik napas panjang, membiarkan kata-katanya menyusup ke dalam dada. Perlahan, aku berbisik: “Mungkin masalah kita sederhana. Kita begitu mudah meniru hal buruk dari luar, sementara meninggalkan warisan baik nenek moyang, karena takut dituduh syirik dan bid’ah. Padahal, bahkan syirik dan bid’ah itu sendiri, jika ditelaah lebih dalam, bisa mendorong kita berpikir rasional, menimbang, dan memilih.”
Ia tersenyum, senyum yang hangat tapi dalam, seakan memahami seluruh kegelisahanku yang tak terucapkan, menenangkan arus batin yang bergolak di kepalaku. “Namun kita sering fokus pada larangan-larangan, bukan pada anjuran. Larangan bukan sekadar menekankan batas, tapi ajakan untuk memahami, menganalisis, dan meresapi tiap hal.”
“Termasuk ketika kita merayakan tahun baru dengan piknik, mengadakan kenduri, festival. Di peradaban Sinai–Golan pun ritual serupa ada, yang kini kita sebut Haji, dan dianggap sakral. Apa proses haji sebenarnya? Buya Syakur bilang, haji adalah semacam local wisdom. Pada hakikatnya, manusia sebagai Homo Economicus selalu mencari cara agar fluida pundi-pundi tetap mengalir, agar hidup tetap berjalan.”
“Ritual, perayaan, doa-doa sakral, semua itu cara manusia mengelola dirinya. Agar tetap harmonis dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan dunia.”
Ia menatapku lama, matanya lembut, menahan gelombang kata-kata yang hampir tumpah, seakan menunggu aku siap menerima semua kebenaran yang tersimpan di balik logika, sejarah, dan imajinasi manusia.
“Demikianlah segala yang menyerang akal,” katanya, suaranya pelan tapi menggema. “Bernama ziarah, pergi ke mana saja bisa kita maknai sakral maupun profan. Semua tergantung seberapa dalam kita merenungi kebermaknaan. Termasuk, dan mungkin terutama, gunanya kebohongan. Kebohongan yang mampu menata manusia, agar manusia dapat menata dirinya sendiri.”
Aku menutup mata, membiarkan sunyi menelan suara, membiarkan kata-kata itu mengalir di dalam, menembus hati seperti sungai yang tenang tapi dalam. Alirannya membawa serpihan sejarah, budaya, filsafat, dan pengalaman manusia, menuju muara pemahaman yang tak kunjung habis.
Dari setiap ucapannya membuka mataku perlahan, dan aku mungkin menyadari: bahwa pemahamannya bukan kilatan tiba-tiba, melainkan perjalanan panjang tanpa ujung setelah membaca banyak buku dan merenungkannya. Sampai ia berkata setiap kebohongan, setiap fiksi yang menata manusia, setiap legenda dan ritual yang diwariskan, adalah arus di sungai peradaban, telah membentuk lekuk, pusaran, meninggalkan jejak di dasar hati yang merenungkan.
Ya, benar menurutnya, kita hanyalah pengamat sekaligus peserta. Berjalan di antara akar dan cabang, sakral dan profan, nalar dan keyakinan. Belajar menata diri di tengah derasnya sejarah, kompleksitas dunia, dan aliran budaya yang tak pernah berhenti.
Dalam sunyi yang menebal itu, aku menangkap satu hal: memahami manusia, peradaban, bahkan kebohongan, adalah memahami sungai itu sendiri. Tenang di permukaan, bergolak di dasar, selalu mengalir, tak pernah sama, tak pernah berhenti.
Dan di antara riak-riaknya, aku merasa terseret ke dalam kesadaran yang luas: bahwa hidup manusia adalah arus, dan kita hanyalah penumpang yang belajar menata diri, menyeberangi waktu, dan belajar memahami sejarah dalam setiap tarikan napasku.
** Saladin Sofyan, adalah lulusan manajemen keuangan syariah, pernah bekerja sebagai akuntan, menggeluti bidang media di Haluan Kepri, dan seorang pegiat literasi yang melakukan aktivitas kepenulisannya di kanal media Saladin-Institute.com