Ayah baru saja dipindahkan ke kota ini setelah bertahun-tahun mengajukan permohonan. Katanya, supaya aku mengenal hidup lebih luas, tidak terkurung dalam lingkungan dusun yang sempit. Sehari setelah kami pindah, ayah sudah mulai bekerja, dan sore hari baru ia kembali.
Ayahku tampak lebih segar sekarang. Badannya tinggi besar dan kukuh, tidak terlelahkan oleh kerja apa pun. Bukan main senang hati ayah mendapatkan pekerjaan di kota. Ayah sibuk dengan pekerjaannya, karena malas adalah musuh terbesar laki-laki, kata ayah.
Benar, di desa kami banyak tetangga, tetapi mereka membuat banci pikiran. Dan itu ayah tidak suka. Kesibukan ayah membuatnya tidak mengenal tetangga. Hanya ibu yang sudah mulai banyak kawan, seperti biasanya ibuku di mana pun kami ditempatkan.
Ayahku hanya mengangguk pada orang sekitar bila kebetulan berpapasan, lalu buru-buru masuk rumah. Ibu sudah sering mendesak agar ayah suka bergaul dengan masyarakat. Kita hidup bersama orang-orang lain, kata ibuku. Namun, kami sekeluarga belum mengenal tetangga terdekat kami.
Kabarnya, yang tinggal di rumah tua berpagar tembok tinggi ialah seorang kakek yang hidup sendiri. Rumah itu terletak di samping rumahku. Pagar tembok tinggi menutup rumahnya dari pandangan luar. Hanya ada satu pintu masuk dari depan, ditutup dengan anyaman bambu yang rapat.
Aku belum pernah melihat kakek itu. Setelah kucoba naik ke pagar tembok melalui pohon kates di pekaranganku, terbentanglah sebuah pemandangan: sebuah rumah Jawa, bersih seperti baru saja disapu, dan alangkah banyak bunga ditanam di sana. Hari itu aku belum berhasil melihat penghuninya.
Tidak pernah seharian penuh aku berada di rumah. Ibuku menyuruh aku pergi sekolah pagi hari dan sore harus mengaji. Hari-hari minggu pertama habis untuk mencari saudara-saudara baru di kota ini.
Keinginanku untuk mengenal kakek itu tidak pernah padam. Kau lihatlah lubang-lubang pada pagar anyaman bambu itu akibat perbuatanku. Aku mengerjakannya di siang hari sepulang dari sekolah.
Pernah ketika aku mengintip pintu pagar bambu itu, kawanku menegur, “Sedang apa kau ini? Hati-hati dengan dia. Sebentar lagi tanganmu sakit. Tunggu sajalah.”
Ketakutan menyerangku. Apakah aku akan sakit karena mencoba membuka pintu pagar rumah ini?
“Siapa bilang,” kataku berani.
“Semua orang,” jawabnya. “Kau kwalat. Dia keramat.”
Aku ditinggalkannya berdiri dekat pagar itu. Ketakutan mendesak-desak. Aku lari pontang-panting ke rumah. Ayahku sudah duduk di kursi dengan selembar koran. Aku tenang kembali.
Baru kusadari bahwa tas sekolahku tertinggal di pagar rumah samping itu. Sore hari aku memberanikan diri mengambil tas yang tertinggal. Dan tas itu masih di sana! Tidak di mana pun di dunia, kecuali di tempat pagar itu, sebuah tas berharga akan selamat dari incaran orang.
Tentang kejadian itu kawan-kawanku mengatakan, tidak seorang pun berani mengambilnya, itu sudah pasti. Siapakah orangnya mau membunuh diri hanya karena sebuah tas sekolah? Lebih susah mencari sebuah nyawa daripada sebuah tas sekolah. Tidak satu pun toko menjual nyawa, tetapi semua toko menjual tas. Tentu saja!
Sejak itu niatku untuk menyelidiki agak reda. Menyelidiki dengan mata sendiri berbahaya. Tinggallah aku bertanya pada orang-orang. Keterangan mereka tidak jelas. Ada yang mengatakan sekali seminggu ia keluar berbelanja. Ada pula yang mengatakan sekali sebulan. Ada yang berkata ia mempunyai anak di kota lain. Ada pula yang mengatakan ia tidak beristri. Tidak seorang pun tahu dengan pasti tentang dia.
Barangkali di antara kawan bermain hanya akulah yang mempunyai keinginan mengetahui lebih banyak tentang kakek itu. Kawan lain sudah tidak acuh lagi. Aku sudah bosan bertanya, selain mereka tidak memberi keterangan jelas, juga mereka akan mengejekku dengan mengatakan, “Biarlah kau jadi cucunya!”
Pernah pula aku bertanya pada ayahku. Ayah melemparkan koran dari tangannya dan meninggalkanku.
“Untuk apa, heh?” jawabnya. Itu adalah ucapan ayah yang sering kudengar. “Bertanyalah tentang lokomotif. Jangan tentang kakek-kakek sebelah rumah.”
Aku sendirian saja di dunia dengan keinginanku untuk mengetahui.
Tiba-tiba aku pun mengenalnya dari dekat. Begini. Pada musim layang-layang, angin bertiup kencang. Jalanan di depan rumahku tidak banyak kendaraan. Polisi membiarkan anak-anak bermain layang-layang di situ. Kami suka berkumpul pada sore hari. Di bagian ini angin berjalan bebas, pepohonan tidak banyak.
Jumat sore hari aku tidak pergi mengaji. Di tanganku sebuah layang-layang buatanku yang terbagus, dengan benang gelasan. Udara meruah menerbangkan layang-layangku. Dari kampung lain menyembul pula layang-layang. Layang-layangku terputus.
Kawan-kawan bersorak dan lari mengejar. Itu layang-layangku terbagus. Aku berdiri saja memandanginya. Tiba-tiba pundakku terasa dipegang. Aku terkejut. Seorang laki-laki tua berambut putih, mengenakan piyama, berdiri di sampingku. Ia tersenyum padaku.
“Jangan sedih, Cucu,” katanya. Suaranya serak dan berat. Sebentar darahku tersirap. Aku teringat rumah tua berpagar tembok tinggi. Mataku melayang padanya. Di tangannya setangkai bunga berwarna ungu. Tubuhku menjadi dingin.
“Jangan sedih, Cucu. Hidup adalah permainan layang-layang. Setiap orang suka layang-layang. Setiap orang suka hidup. Tidak seorang pun lebih suka mati. Layang-layang bisa putus. Engkau bisa sedih. Engkau bisa sengsara. Tetapi engkau akan terus memainkan layang-layang. Engkau akan terus mengharap hidup. Katakanlah, hidup itu permainan. Tersenyumlah, Cucu.”
Ternyata ayah mengetahui tingkahku. Jambangan bunga pecah. Bunga tercecer. Air mengalir ke seluruh kamar. Aku tersenyum menyaksikan semuanya. Ayahku sudah berdiri dekat.
“Aku yang memecahkan, Buyung. Untuk apa, heh? Manusia tidak bisa hidup dengan hanya bunga. Ke sini!”
Aku menurut dengan ketenangan yang mengagumkan diriku sendiri. Ayah memerintah, “Engkau harus berdiri di sini. Aku akan membuat sebuah sekrup. Lihatlah. Dan besok kau harus mengerjakannya sendiri. Awaslah kalau tidak bisa.”
Aku mengawasi. Masuk ke dalam kepalaku apa yang kulihat. Ayah tahu. Ia menatapku. “Apa yang kau pikirkan, heh?”
Aku harus berani mengatakan sesuatu, bahkan pada ayahku. Maka kukatakan dengan tergagap, “Ayah, sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan-”
“Diam! Untuk apa, hehe? Ayo, pegang palu ini!” Ia menyodorkan palu. “Pukullah besi ini sampai menjadi kepingan tipis. Kerjakan!”
Aku mengalah. Palu kupegang. Sesore keringatku bercucuran. Tanganku bengkak. Aku terus bekerja, takut pada ayah. Sore hari ayah menyuruhku berhenti. Ibu menyambutku dengan ramah.
“Jangan membantah ayahmu, Nak. Cepatlah mandi. Ah, hampir lupa. Engkau harus mengaji.”
Ayah ialah sebangsa laki-laki kasar. Ia menyita seluruh waktuku. Aku mengunjungi kakek hanya pagi hari sebelum sekolah, dan itu pun sebentar. Ketika itu kakek sedang menyiram bunga.
Aku menegur, “Sedang apa, Kek?”
“Menyiram kehidupan, Cucu,” katanya.
Aku bertanya lagi, “Apa kerja Kakek sebenarnya?”
“Sekarang menyiram bunga, Cucu.”
“Ya, tetapi apa sebenarnya kerja Kakek?”
“O, ya. Mencari hidup sempurna.”
“Di mana dicari, Kek?”
“Dalam ketenangan jiwa.”
“Di mana?”
“Di sini. Dalam bunga-bunga.”
Aku teringat harus ke sekolah, lalu cepat minta diri. Pulang sekolah, ayah menyuruhku bekerja di bengkel. Ia tidak membiarkanku berhenti sekejap pun.
“Bekerjalah. Jangan biarkan tanganmu menganggur, Buyung.” Aku teringat pada kakek. “Kenapa tidak mencari hidup sempurna?” tanyaku.
Ayah berhenti dan menatapku. “Aku mencari itu, Buyung.”
“Di mana dicari, Yah?”
“Dalam kerja.”
“Di mana?”
“Di bengkel, tentu.”
Ia berdiri kukuh, wajahnya membakar. Aku teringat lokomotif hitam berdiri kuat di atas rel. “Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk melunakkan besi harus didirikan. Terowongan digali. Dam dibangun. Gedung didirikan.”
Ia meraih tanganku. “Untuk apa tangan ini, Buyung?”
“Kerja,” kataku.
Ayah tertawa gelak. Ia mencium tanganku, lalu menampar pipiku keras—mengguncang tubuhku. Aku melihat seorang laki-laki perkasa di hadapanku. Ia adalah ayahku.
Malam hari aku tidur dengan kenangan di kepala: kakek-ketenangan jiwa, kebun bunga; ayah-kerja, bengkel; ibu-mengaji, masjid.
Aku merasa harus memutuskan sesuatu. Hingga jauh malam aku baru tertidur. Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku. (Kuntowijoyo)