Potret Buram Bukan Anak Presiden

Mereka bukan anak presiden. Tak lahir dari meja kekuasaan, tak tumbuh di rumah yang kegagalannya...

Potret Buram Bukan Anak Presiden

09 Jan 2026
233 x Dilihat
Share :

Potret Buram Bukan Anak Presiden

Mereka bukan anak presiden. Tak lahir dari meja kekuasaan, tak tumbuh di rumah yang kegagalannya bisa dimaafkan oleh sejarah, atau ditutup-tutupi oleh nama besar sang ayah. Mereka hanya anak-anak negeri, yang sejak terlalu dini belajar bahwa cinta orang tua sering datang bersama syarat-syarat yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu ditagihkan.

Anzahyar Laadjim, yang dipanggil Anca, lelaki dari Sulawesi, terlempar dari bangku kuliah. Bukan karena ia tak punya mimpi, melainkan karena hidup kerap bersikap kasar pada mereka yang rapuh dan tak punya bantalan. Ketika kegagalan tak menemukan ruang untuk dijelaskan, ia memilih hutan Madasari sebagai altar pengakuan dosa—pada dunia, pada orang tua, dan pada dirinya sendiri.

Setahun lamanya ia mendem jero di antara akar dan semak. Menyimpan malu pada empasan daun-daun, bersandar pada batang pohon yang tajam dari duri menyakiti diri, menahan lapar yang tak sekejam bayangan wajah orang tuanya bila tahu ia “gagal” meninju masa depan.

Di hutan itu, Anca bukan sekadar bersembunyi dari dunia. Ia sedang lari dari penghakiman-penghakiman yang tak pernah menyediakan ruang pulang, apalagi ruang untuk sembuh dari pesakitan gagal kuliah. Sebab di negeri ini, pulang tanpa prestasi seringkali lebih menakutkan daripada tersesat sendirian di rimba pergulatan.

Kahirun Nisya, yang akrab disapa Nisa, gadis cantik asal Palembang, gugur di seleksi pramugari. Langit personalia belum memilih namanya, tetapi ia lebih dulu memilih berbohong demi menjaga senyum orang tua tetap utuh.

Seragam Batik Air ia beli daring. Name tag digantungkan dengan bangga. Koper ala cabin crew diseret ke mana-mana sebagai simbol masa depan yang belum benar-benar datang.

Ia tahu itu dusta. Namun ia juga tahu betapa perihnya menjadi anak yang pulang tanpa kabar membanggakan. Maka ia memilih afirmasi yang menyamar sebagai kebohongan, berharap semesta suatu hari tergerak oleh hukum kompleksitasnya, agar ia kembali menatap masa depan dengan tenang, dan lebih baik lagi cara mengambil keputusan.

Ada pula seorang perempuan dari NTT, yang selama empat tahun mengabarkan dirinya kuliah di Universitas Santo Paulus. Empat tahun cerita dirajut rapi, dijaga dari lubang-lubang kebenaran. Hingga hari wisuda tiba dan panggung kejujuran tak lagi bisa disuap.

Namanya tak ada di daftar. Ia tak bisa masuk ruang wisuda. Orang tuanya, yang telah datang jauh-jauh, harus dipapah panitia untuk menerima kenyataan: anak mereka lulus dari kebohongan, bukan dari universitas.

Potret-potret ini bukan kisah kriminal. Ini fragmen negeri di mana orang tua sering diposisikan seperti dewa. Dan ketika mereka tak lagi mampu menjadi dewa, anak-anaknya dipaksa naik ke altar pengorbanan, menebus segala keterbatasan dengan tubuh dan jiwanya sendiri.

Ini negeri yang alergi pada kata gagal. Di ruang tamu dan meja makan, kegagalan dianggap aib—lebih busuk dari bangkai. Ia harus disembunyikan, dikubur hidup-hidup, agar tak mencemari silsilah keluarga. Kita hidup dalam ketakutan kolektif yang absurd: seolah jika satu anak petani tak jadi sarjana, atau satu gadis tak lolos jadi pramugari, Indonesia akan runtuh. 

Padahal yang runtuh pelan-pelan adalah kejujuran. Yang terkikis adalah keberanian untuk mengaku kalah tanpa harus kehilangan cinta. Tapi negara terkadang lebih memilih, memberi peluang mereka menjadi penipu yang rapi—necis, penuh basa-basi, dan pandai menjilat kekuasaan daripada manusia yang kalah dengan jujur.

Anak-anak masa depan akhirnya memilih luka yang disamarkan, ketimbang kegagalan yang diakui. Dan barangkali, di situlah kegagalan terbesar kita sebagai negara, sebagai orang tua dalam mendidik manusia untuk menjadi manusia.

Perspektif

Scroll