Saya mengenal nama biolog evolusioner Richard Dawkins bukan dari ruang kuliah biologi, melainkan dari serangkaian perjumpaan yang nyaris sepenuhnya tak disengaja. Ada jejak personal di sana. Dulu, saya sempat bercita-cita masuk jurusan Biologi di Universitas Padjadjaran, dengan alasan yang sederhana: nilai mata pelajaran Biologi saya cukup tinggi. Namun, seleksi SPMB mengubur mimpi itu—mimpi untuk mempelajari biologi di perguruan tinggi. Ia kandas sebelum sempat tumbuh lebih jauh, apalagi berharap bisa sejajar dengan nama besar seperti Richard Dawkins.
Menimbang antara harapan dan kenyataan, biologi seolah menjadi wilayah yang jauh dan perasaan nostalgia pada pencapaian nilai ujian di SMA. Tetapi mungkin karena jarak dan harapannya, keinginan untuk dapat memahaminya tak pernah benar-benar padam dalam diri. Bacaan saya yang sejak mula hanya buku-buku agama dan motivasi, kemudian tumbuh menjadi buku-buku agama dan pemikiran yang saya pilih cukup hati-hati. Menimbang cap liberal amat menakutkan. Tapi kemudian karena haus dan dahaga, perlahan ingin sebebas-bebasnya saja merambah ke hampir semua aspek keagamaan di haluan kiri dan kanannya.
Ingin menggali kedalaman agama sampai semua aspeknya, dan sejauh-jauhnya, serta sedalam-dalamnya, itulah barangkali yang menumbuhkan frekuensi hingga mengenal orang semacam Richard Dawkins. Sebab keinginan untuk “menguliti” sampai sejauh dan sedalam cara Richard Dawkins membedahnya. Ingin tahu dari dua sudut berseberangan: dari yang paling membela dan yang paling mencerca, ingin saya pahami jalan pikirannya.
Perkenalan pertama saya dengan Dawkins terjadi tanpa saya sadari. Saat membaca Masa Depan Tuhan karya Karen Armstrong, perhatian saya tertuju pada caranya memetakan sejarah Tuhan dan agama dalam pusaran modernitas. Saya tidak menyangka bahwa di dalam buku itu Armstrong juga menyebut Richard Dawkins, terutama sebagai bagian dari kritiknya terhadap ateisme baru yang ia nilai terlalu sederhana dan konfrontatif. Nama Dawkins lewat begitu saja, belum meninggalkan kesan berarti.
Beberapa waktu kemudian, dalam sebuah diskusi daring tentang fenomena “Empat Penunggang Kuda Ateisme Baru” yang diadakan Caknur Society, nama Richard Dawkins kembali muncul. Ia disandingkan dengan Daniel Dennett, Sam Harris, dan Christopher Hitchens. Diskusi itu saya ikuti sambil lalu, tetapi pengulangan nama tersebut membuatnya perlahan mengendap di kepala, seperti gema yang terus muncul di sudut kesadaran.
Ketertarikan itu benar-benar menguat ketika saya kembali memungut Masa Depan Tuhan dari rak buku, berniat memprioritaskannya untuk ditulis ulasannya. Kali ini saya membaca dengan lebih sadar dan lebih pelan. Di sanalah saya menangkap dengan jelas posisi Dawkins dalam perdebatan besar antara agama dan sains. Sejak titik itu, rasa ingin tahu saya tak lagi sekadar lewat, melainkan mulai menuntut jawaban ada apa sebenarnya dengan Dawkins.
Tak lama berselang, secara tak sengaja pula, saya menonton beberapa video ceramah dan debat Richard Dawkins. Ia tampil lugas, yakin, dan nyaris tanpa ragu berhadapan dengan para pemuka agama, baik dari Kristen maupun Islam. Dawkins berbicara seperti seseorang yang telah mengambil posisi final: tenang, elegan, dan kerap berhasil menghadang argumen para pemuka agama, termasuk dalam debatnya di Colorado yang memperlihatkan kontras sikap dan cara berpikir.
Sejak saat itu, saya mulai ingin tahu: apa saja yang telah ia tulis, dan mengapa gagasannya begitu berpengaruh sekaligus diperdebatkan. Richard Dawkins, yang nama lengkapnya Clinton Richard Dawkins, lahir 26 Maret 1941, berlatar belakang akademik sebagai etolog dan biolog evolusioner, selain dikenal sebagai penulis sains populer dan pengkritik agama asal Britania Raya.
Ia pernah menjabat sebagai Professor for Public Understanding of Science di Universitas Oxford dan melalui buku-buku dan ceramahnya, Dawkins menjadi dikenal luas sebagai figur yang membawa teori evolusi dan sains modern ke ruang publik dengan bahasa yang tegas, jernih, dan mudah diakses.
Rasa ingin tahu saya makin terdorong ketika saya mendapati David Christian, penulis Origin Story dan Future Stories, juga mengutip Dawkins dalam karya-karyanya. Saya pun berkesimpulan bahwa Dawkins adalah sosok besar dan berpengaruh, sehingga rasanya jangan saya melewatkan karya-karyanya begitu saja.
Buku pertama yang saya miliki adalah The Selfish Gene, karya yang mengantarkan Dawkins pada ketenarannya. Meski hingga kini belum saya baca sampai tuntas dan belum pula saya ulas secara khusus, beberapa bab yang saya baca terasa sudah menawarkan sudut pandang yang radikal tentang evolusi. Dengan menempatkan gen sebagai unit utama seleksi alam, Dawkins memperkenalkan istilah “meme” sebagai unit replikasi budaya. Dari sana, terlihat jelas sosok besar Dawkins sebagai pemikir.
Menariknya, buku Dawkins yang paling terkenal adalah The God Delusion, justru buat saya tidak memberi efek menyentak yang kuat. Meski saya membacanya secara selektif, dan meski untuk mendapatkan buku ini cukup sulit karena diterbitkan oleh penerbit minor, kesan yang saya tangkap bukanlah penolakan ontologis yang mutlak terhadap Tuhan. Bahkan, bagi Dawkins sendiri, ibaratnya masih tersisa sezarah kemungkinan untuk percaya, sejauh ada bukti yang sangat kuat.
Dari pemahaman saya terhadap The God Delusion, Dawkins lebih banyak menyerang cara beragama yang rusuh: agama yang dipakai sebagai pembenar kekerasan, fanatisme, dan tindakan irasional. Buku ini terasa lebih sebagai kritik sosial dan moral ketimbang pernyataan metafisik terakhir tentang ada atau tidaknya Tuhan. Sebuah persoalan yang sebenarnya, dan pada akhirnya, kembali pada pengalaman dan pilihan individu.
Guncangan yang lebih halus, namun justru lebih dalam, saya rasakan saat membaca The Magic of Reality dan River Out of Eden (Sungai dari Firdaus). Melalui gaya narasi yang tenang, mengalir, dan nyaris puitik, Dawkins menjelaskan asal-usul kehidupan dan alam semesta dengan bahasa sains yang memikat. Tanpa menyerang keyakinan secara frontal, ia perlahan menggeser cara saya memandang kisah-kisah penciptaan.
Di titik inilah kegelisahan sesungguhnya muncul. Setelah membaca kedua buku itu, saya tak lagi sepenuhnya bisa menerima kisah Adam dan Hawa sebagai peristiwa faktual dalam pengertian sejarah-biologis. Bukan karena Dawkins memaksa kesimpulan tersebut, melainkan karena cara ia bercerita tentang evolusi membuat penjelasan ilmiah terasa lebih koheren dan meyakinkan. Guncangan itu tidak datang sebagai ledakan, melainkan sebagai retakan kecil yang perlahan melebar di dalam keyakinan yang selama ini saya pegang.
Pengalaman ini menyadarkan saya akan perbedaan penting dalam karya-karya Dawkins. The God Delusion bersifat polemis dan menyerang praktik beragama yang destruktif, sementara The Magic of Reality dan River Out of Eden bekerja di tingkat yang lebih dalam: mengubah cara kita memahami realitas itu sendiri. Buku yang satu menggugat, yang lainnya membujuk; yang satu keras, yang lain nyaris kontemplatif.
Dalam diskursus publik, Dawkins kerap ditempatkan sebagai salah satu dari “The Four Horsemen of New Atheism”, bersama Daniel Dennett, Sam Harris, dan Christopher Hitchens, bahkan beberapa pengamat menambahkan nama Victor Stenger dan Ayaan Hirsi Ali.
Mereka dikenal sebagai figur-figur yang membawa ateisme ke ruang publik dengan gaya rasionalistik dan kerap konfrontatif. Namun pengalaman membaca beberapa karyanya, menunjukkan bahwa Dawkins tidak selalu berbicara dengan nada yang sama. Ada Dawkins yang keras, tetapi ada pula Dawkins yang lembut dan penuh kekaguman terhadap keindahan alam semesta.
Membaca Richard Dawkins akhirnya menjadi pengalaman intelektual sekaligus spiritual, yang dalam pengertian paling personal. Ia tidak serta-merta membuat saya meninggalkan iman, tetapi memaksa saya meninjau ulang cara saya mempercayainya. Dari sana saya belajar bahwa iman, jika ingin bertahan di zaman sains, tidak cukup hanya diwarisi; ia harus dipikirkan ulang, dirawat dengan kesadaran, dan diuji dengan kejujuran.
Dan barangkali, di situlah nilai paling tajam dari membaca Dawkins: bukan pada kesimpulan yang ia tawarkan, melainkan pada keberaniannya—dan keberanian yang ia tuntut dari pembacanya untuk dapat menggugat yang mapan, seperti kata pengantarnya di buku Ali A. Rizvi, The Atheist Muslim, untuk meragukan yang dianggap pasti, dan berdamai dengan ketidaknyamanan berpikir.
Mengutip Imam Al-Gazali sebagai penutup, "Keraguan adalah jalan menuju kebenaran. Barangsiapa yang tidak ragu, maka ia tidak akan melihat; barangsiapa yang tidak melihat, maka ia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan." Demikian jika iman tak pernah disentuh oleh keraguan, mungkin terasa tenang, tetapi bisa jadi rapuh. Sebaliknya, iman yang berani berhadapan dengan pertanyaan justru berpeluang tumbuh lebih matang, lebih dewasa dalam cara beragama. Selebihnya, Wallahu a‘lam.