Tak Jadi 'Penipu', Tak Jadi Menikah: Membaca Ulang Janji dalam Hubungan

Tulisan ini lahir dari percakapan panjang, dari serangkaian wawancara informal dengan beberapa...

Tak Jadi 'Penipu', Tak Jadi Menikah: Membaca Ulang Janji dalam Hubungan

15 Feb 2026
503 x Dilihat
Share :

Tak Jadi 'Penipu', Tak Jadi Menikah: Membaca Ulang Janji dalam Hubungan

Tulisan ini lahir dari percakapan panjang, dari serangkaian wawancara informal dengan beberapa perempuan yang telah menikah. Lalu dikembangkan sebagai refleksi sosial yang mungkin berguna terutama bagi para perempuan agar tidak mudah tertipu oleh romantisme kosong, dan bagi laki-laki berhentilah menjadikan janji sebagai alat manipulasi. Kita sering lupa bahwa di balik setiap janji yang diucapkan di bawah temaram lampu warung tongkrongan, atau pada pesan singkat yang manis, ada konsekuensi hidup yang akan dipikul selama puluhan tahun ke depan. Pernyataan saya barangkali terdengar keras, tetapi realitas sosial kita memang sering kali lebih keras daripada kata-kata saya.

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, kita menyaksikan berita yang datang silih berganti. Deretan kriminalitas yang berulang, pelajar yang kehilangan arah, pejabat yang terjerat korupsi, penegak hukum yang menjual pasal, hingga kaum terpelajar yang melacurkan ilmu demi kepentingan sesaat. Semuanya adalah krisis integritas yang sebabnya tidak hanya persoalan di ruang publik, tapi harus melihat ke ruang-ruang privat yang paling intim. Dalam pusaran angka kriminalitas dan banalitas itu berawal dari pembentukan keluarga yang seharusnya menjadi fondasi moral dan benteng terakhir nilai-nilai kejujuran, justru sering menjadi ruang pertama di mana kekecewaan dan luka bermula. Ketika kejujuran tidak lagi menjadi mata uang yang laku di meja makan, maka runtuhnya tatanan sosial yang lebih besar hanyalah tinggal menunggu waktu.

Temuan saya berawal dari pertanyaan sederhana, lalu jawaban yang muncul membuka cakrawala berat seperti senja yang sebentar lagi gelap. Saya bertanya kepada mereka tentang pernikahannya, dan mengapa pada akhirnya banyak rumah tangga terasa lebih sengsara daripada bahagia? Mengapa ada perempuan yang harus bekerja keras menjadi tulang punggung sendirian sementara suami menganggur dengan sengaja atau bahkan berselingkuh? Apa sebenarnya yang dijanjikan sebelum menikah sehingga perempuan tetap bertahan, bahkan ketika kenyataan jauh dari harapan?

Jawaban mereka tentu beragam, tetapi mengarah pada kesimpulan yang mirip: merasa tertipu. Bukan tertipu dalam arti kriminal yang melibatkan hukum pidana, tetapi tertipu oleh harapan yang dibangun dari tumpukan kata-kata. Karena janji-janji yang dulu terdengar indah akan membahagiakan, akan setia, akan bertanggung jawab, akan menjadi imam yang membimbing, berubah menjadi kenyataan yang berlawanan. 

Setelah terjebak dalam struktur sosial dan emosional bernama pernikahan itu, menghindar melalui jalur perceraian seringkali mereka merasa bukanlah pilihan yang mudah seperti membalik telapak tangan. Mereka sering dihadapkan pada pertanyaan tentang anak-anaknya yang masa depannya dipertaruhkan. Berpikir akan ada stigma sosial yang siap menghakimi lewat bisik-bisik tetangga. Ada tekanan keluarga yang menuntut ketahanan demi "nama baik". Ada rasa takut memulai ulang dari nol apalagi di usia yang tak lagi muda. Dan akhirnya, sebagian memilih bertahan di dalam “kenyamanan yang pahit”, menjalani hidup dalam mode bertahan hidup tanpa gairah (survival mode).

Dari cerita-cerita itu, muncul satu renungan yang ironis mengenai bagaimana cinta sering dikomodifikasi, dari obrolan penipuan sampai pada jebakan perkawinan. Jika pola yang sama terus berulang, saat laki-laki mengucapkan janji, perempuan percaya, lalu kenyataan berubah, apakah janji romantis telah berubah menjadi strategi sosial? Apakah rayuan menjadi semacam taktik persuasi yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk sekadar mendapatkan "persetujuan" menuju pelaminan?

Dalam bayangan sinis, seseorang bisa saja berpikir: Jika ingin menikah, cukup tiru pola lama. Ucapkan seribu janji. Lemparkan gombalan yang membuat hati melambung. Dari seribu perempuan, pasti ada satu yang percaya. Namun, kita harus berani menatap cermin dan bertanya: apakah strategi itu berhasil? Jika keberhasilan hanya diukur dari terlaksananya akad tanpa memedulikan keberlanjutan kebahagiaan, maka itu adalah kemenangan yang semu. Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah strategi itu berhasil, melainkan apakah cara itu bermoral?

Pernikahan yang dimulai dengan 'pemasaran diri' yang berlebihan adalah bentuk penipuan halus. Apakah pernikahan yang dibangun dari ekspektasi palsu akan menghasilkan keluarga yang sehat? Atau justru menciptakan generasi yang tumbuh dalam luka yang diwariskan, melihat orang tua mereka bersandiwara setiap hari? Anak-anak adalah perekam yang jujur. Mereka akan menyerap ketidakharmonisan tersebut sebagai standar normalitas hubungan mereka di masa depan.

Cerita-cerita perempuan itu bukan sekadar pengalaman individu yang bersifat anekdot. Data sosial menunjukkan bahwa persoalan rumah tangga memang menjadi fenomena luas yang mendesak untuk diperhatikan secara struktural.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ratusan ribu perceraian terjadi setiap tahun di Indonesia. Pada 2023 misalnya, terdapat lebih dari 463 ribu kasus perceraian secara nasional. Menariknya, sebagian besar gugatan perceraian justru diajukan oleh pihak istri. Data dari berbagai sumber pengadilan agama di tahun 2024 menunjukkan kecenderungan yang sama dengan angka sekitar 77 persen perceraian merupakan cerai gugat dari perempuan.

Angka ini menceritakan sebuah pergeseran paradigma. Data ini menunjukkan sesuatu yang penting bahwa perempuan semakin berani meninggalkan hubungan yang dianggap tidak sehat atau beracun (toxic). Kesadaran akan hak-hak diri dan kemandirian ekonomi membuat perempuan tidak lagi bersedia menjadi "martir" dalam rumah tangga yang hanya menawarkan penderitaan.

Penyebab perceraian pun memperlihatkan pola yang konsisten dan berulang. Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi faktor dominan, disusul masalah ekonomi, perselingkuhan, serta ketidaksiapan mental dalam menghadapi realitas rumah tangga yang tak seindah drama cina dan korea. Artinya, persoalan bukan hanya soal cinta, tetapi soal ekspektasi yang jomplang, kegagalan komunikasi, dan ketidakmampuan menjalani kehidupan nyata yang penuh tagihan dan tanggung jawab setelah fase romantis berakhir.

Dalam banyak kasus, janji sebelum menikah dibuat dalam fase idealisasi. Psikologi hubungan menyebut fase ini sebagai periode limerence atau romantisasi, saat individu cenderung menampilkan versi terbaik dirinya (best behavior) dan mengabaikan kekurangan pasangan demi mendapatkan keterikatan. Masalah muncul ketika fase hormon dopamin ini berakhir dan realitas mengetuk pintu rumah mereka.

Tekanan ekonomi yang kian menghimpit, perubahan peran gender di mana perempuan kini lebih berdaya, meningkatnya kemandirian perempuan, serta perubahan nilai sosial membuat pernikahan modern jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Banyak pasangan masuk ke dalam pernikahan dengan harapan yang dibentuk oleh standar semu film, unggahan estetik di media sosial, atau sekadar pelarian dari tekanan budaya. Bukan oleh kesiapan emosional yang matang atau diskusi mendalam mengenai pembagian peran domestik.

Di sisi lain, masyarakat kita masih mempertahankan stigma yang tajam terhadap individu yang belum menikah. Pertanyaan “kapan nikah?” yang dilemparkan di setiap acara keluarga bukan sekadar basa-basi, melainkan tekanan sosial yang seringkali mendorong orang mengambil keputusan impulsif sebelum mereka benar-benar siap secara mental dan finansial. Padahal, menikah bukan perlombaan lari, atau boleh dikatakan lari maraton yang memerlukan napas panjang dan persiapan matang.

Dari semua cerita itu, muncul pertanyaan tajam yang menggugat nurani kita. Jika cara termudah untuk menikah adalah dengan melebih-lebihkan diri, menjual mimpi, dan menyembunyikan retakan karakter, maka apakah seseorang harus menjadi “penipu” agar bisa masuk ke dalam institusi pernikahan? Apakah kita harus memoles kebohongan demi mendapatkan status "menikah"?

Jawaban pribadi saya justru sebaliknya, sebuah posisi yang mungkin bagi sebagian orang dianggap terlalu idealis, namun krusial demi kesehatan jiwa. Lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan kebohongan. Karena kebohongan kecil sebelum akad, seperti mengaku mapan padahal berutang, atau berjanji setia padahal masih mencari celah akan bisa menjadi luka besar yang membusuk setelahnya.

Lebih baik menunda, meski umur bertambah dan tetangga terus bertanya dengan nada sinis. Lebih baik jujur tentang ketidaksiapan, jujur tentang keterbatasan finansial, dan jujur tentang kekurangan sifat, daripada menjual mimpi surgawi yang ternyata tidak sanggup diwujudkan. Pernikahan bukan sekadar keberhasilan menemukan pasangan atau memamerkan buku nikah di media sosial, tetapi keberanian untuk menjadi diri sendiri seutuhnya tanpa manipulasi sedikit pun.

Barangkali masalah terbesar dalam krisis domestik kita hari ini bukanlah cinta yang gagal, melainkan ekspektasi yang tidak realistis dan kejujuran yang sengaja disembunyikan. Janji-janji kosong mungkin bisa membawa seseorang menuju pelaminan dengan meriah, tetapi tidak akan pernah cukup kuat untuk mempertahankan atap rumah tangga dari badai kehidupannya.

Jika keluarga adalah fondasi terkecil dari masyarakat, maka kejujuran adalah fondasi dari keluarga itu sendiri. Tanpa kejujuran, kita hanya sedang membangun istana pasir yang akan runtuh saat ombak kenyataan datang menerjang. Dan mungkin, di zaman yang penuh tekanan sosial dan tuntutan performa generasi tiktok dan instagram ini, maka keputusan paling berani bukanlah menikah secepatnya untuk membungkam mulut orang lain, tetapi berani menolak menjadi seseorang yang berpura-pura hanya demi sebuah status pernikahan.

Karena memilih untuk tidak menjadi “penipu” adalah bentuk tanggung jawab moral yang tertinggi. Bukan hanya terhadap pasangan, tetapi terhadap masa depan generasi yang akan lahir dari setiap keputusan yang kita ambil hari ini. Pernikahan yang jujur, meski sederhana, jauh lebih mulia daripada kemegahan yang dibangun di atas fondasi kepalsuan dan penipuan. (Sal)

Perspektif

Scroll