Tahun 2025 menjadi periode ujian bagi stabilitas ekonomi global. Inflasi memang mulai melandai di sebagian negara maju, tetapi tekanan harga masih terasa kuat di banyak negara berkembang. Nilai mata uang melemah, biaya hidup meningkat, dan ketimpangan ekonomi semakin nyata. Krisis ini memaksa para ekonom dan pembuat kebijakan menoleh ke luar pakem teori konvensional, mencari pelajaran yang lebih mendasar tentang bagaimana sebuah sistem moneter bisa runtuh atau bertahan.
Di tengah pencarian itu, sebuah manuskrip dari abad ke-15 kembali mencuat. Ditulis oleh sejarawan Mesir Taqiyuddin Ahmad ibn Ali al-Maqrizi, Ighatsah al-Ummah bi Kasyf al-Ghummah bukan hanya catatan sejarah, melainkan analisis tajam tentang krisis inflasi, kelaparan, dan kehancuran sosial akibat kebijakan ekonomi yang salah urus. Naskah ini lahir dari penderitaan nyata rakyat Kairo pada masa Kesultanan Mamluk, sebuah konteks yang, secara mengejutkan, memiliki kemiripan dengan tantangan ekonomi hari ini.
Al-Maqrizi menulis dengan nada yang jarang ditemui pada zamannya: kritis, lugas, dan berani menyalahkan kekuasaan. Ia mencatat bagaimana harga bahan pangan melonjak drastis, upah kehilangan daya beli, dan mata uang tak lagi dipercaya. Krisis tersebut bukan sekadar bencana alam atau takdir, melainkan hasil akumulasi kebijakan yang keliru dan tata kelola yang rapuh.
Dalam analisisnya, Al-Maqrizi mengidentifikasi tiga akar utama keruntuhan ekonomi. Pertama, korupsi pejabat yang menyebabkan jabatan publik diperjualbelikan, sehingga kebijakan ekonomi lebih melayani kepentingan elite daripada kesejahteraan rakyat. Kedua, keserakahan atas lahan produktif, di mana tanah pertanian subur dialihkan menjadi aset pasif, menurunkan produksi pangan dan mendorong inflasi. Ketiga, kekacauan sistem mata uang akibat pencetakan fulus (uang tembaga) secara berlebihan untuk menutup defisit negara.
Kritik Al-Maqrizi terhadap kebijakan moneter terasa sangat modern. Ia menegaskan bahwa uang seharusnya menjadi alat tukar, bukan komoditas politik. Ketika jumlah uang beredar meningkat tanpa dukungan produksi riil, nilai mata uang akan tergerus dan kepercayaan publik runtuh. Dalam bahasa hari ini, Al-Maqrizi sedang memperingatkan bahaya inflasi struktural sebagai fenomena yang masih menghantui ekonomi global.
Data inflasi modern memperlihatkan betapa relevannya peringatan itu. Pada 2025, rata-rata inflasi global masih berada di kisaran 4 persen, dua kali lipat dari target ideal banyak bank sentral. Negara-negara OECD memang menunjukkan tren penurunan, tetapi tetap bertahan di atas ambang stabilitas jangka panjang. Sebaliknya, sejumlah negara berkembang mencatat inflasi dua digit, dengan tekanan paling berat dirasakan oleh kelompok berpendapatan rendah.
Di Afrika dan Timur Tengah, inflasi tinggi menjadi kombinasi antara pelemahan mata uang, defisit fiskal, dan gangguan pasokan pangan. Beberapa negara mencatat inflasi di atas 15 persen, bahkan ada yang melampaui 30 persen, memicu spiral harga dan instabilitas sosial. Situasi ini mengingatkan pada Mesir era Mamluk, ketika lonjakan harga gandum dan kebutuhan pokok menjadi pemantik keresahan massal.
Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih stabil. Inflasi tahunan pada akhir 2025 tercatat di kisaran 2,8 hingga 2,9 persen, angka masih dalam rentang sasaran bank sentral. Namun stabilitas ini tetap rapuh. Ketergantungan pada impor pangan, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan global membuat risiko inflasi selalu mengintai, terutama jika kebijakan fiskal dan moneter kehilangan disiplin.
Perbedaan utama antara masa Al-Maqrizi dan era modern terletak pada instrumen. Jika Mamluk mencetak fulus dari tembaga, dunia hari ini menciptakan uang secara digital melalui sistem perbankan dan kebijakan moneter ekspansif. Namun esensinya sama: ketika penciptaan uang tidak sejalan dengan produktivitas ekonomi, inflasi menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Al-Maqrizi juga menekankan dimensi moral dalam ekonomi. Baginya, stabilitas mata uang bukan hanya soal teknis, tetapi soal integritas penguasa dan orientasi kebijakan. Tanpa keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada kepentingan publik, sistem keuangan semodern apa pun akan kehilangan legitimasi.
Di sinilah manuskrip kuno itu menemukan relevansinya sebagai cermin masa kini. Data inflasi modern memberi angka, tetapi Al-Maqrizi memberi makna. Ia menunjukkan bahwa krisis ekonomi hampir selalu berakar pada kombinasi keserakahan, kebijakan jangka pendek, dan pengabaian terhadap kesejahteraan rakyat.
Membaca Ighatsah al-Ummah hari ini bukanlah nostalgia intelektual. Ia adalah upaya memahami pola sejarah agar kesalahan yang sama tidak terus diulang dengan wajah dan teknologi berbeda. Di tengah grafik inflasi dan debat kebijakan moneter, suara Al-Maqrizi mengingatkan satu hal mendasar: nilai uang yang stabil lahir dari tata kelola yang sehat, bukan dari mesin cetak, baik yang berbentuk logam, kertas, maupun digital. (Sal)