Di tengah diskursus yang panjang mengenai asal-usul Al-Qur'an, karya terbaru Suleyman Dost berjudul Before the Qur'an (2026) menawarkan perspektif baru yang segar untuk membedah Al-Qur’an melalui lensa epigrafi atau prasasti kuno dari Semenanjung Arab. Buku ini berupaya mengurai simpul-simpul mendasar mengenai hakikat, subjek, ruang, waktu, hingga kausalitas kemunculan Al-Qur’an dengan menelusuri sumber-sumber material yang memiliki penanggalan absolut sebelum fajar Islam menyingsing. Dengan menempatkan teks suci ini dalam lanskap sosial-budaya Arabia pada era Late Antiquity, Dost memotret sebuah masa transisi krusial ketika peradaban kuno mulai luruh dan membuka jalan bagi tatanan baru di Timur Dekat dalam sebuah periode yang sarat akan dialektika ideologi serta pergulatan spiritualitas.
Alih-alih bertumpu pada tradisi tekstual atau klaim teologis, Dost mengandalkan bukti dokumenter berupa prasasti dalam berbagai bahasa kuno di wilayah Arabia dan sekitarnya. Pendekatan ini menjadi signifikan karena selama beberapa dekade terakhir, perdebatan akademik tentang konteks geografis Al-Qur’an semakin intens. Sejumlah sarjana revisionis, seperti yang dipelopori oleh kelompok Patricia Crone atau Michael Cook di masa lalu, bahkan mengajukan hipotesis bahwa Al-Qur’an mungkin tidak berasal dari wilayah Hijaz di Arabia Barat, sebagaimana disebut dalam sumber-sumber Islam klasik. Mereka meragukan kelaikan historis Mekkah sebagai pusat perdagangan dan religius pada abad ke-7.
Dost menilai bahwa teori-teori tersebut kerap mengabaikan sumber penting tentang ribuan prasasti kuno yang tersebar di Semenanjung Arab, mulai dari aksara Safaitik, Hismaik, hingga Nabateo-Arab. Dalam bukunya, ia menulis, “Bukti epigrafi yang dapat ditanggali memberikan jendela langsung ke dalam dunia religius dan linguistik Arabia sebelum Islam.” Melalui analisis ini, ia berargumen bahwa Al-Qur’an justru memiliki kesinambungan kuat dengan tradisi lokal Arabia. Prasasti-prasasti ini bukan sekadar coretan di batu, melainkan saksi bisu yang merekam doa, hukum, dan identitas sosial masyarakat yang hidup jauh sebelum masa kenabian.
Salah satu temuan penting dalam buku ini adalah penggunaan nama-nama Tuhan seperti Allah dan al-Raḥman. Menurut Dost, istilah-istilah tersebut bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan telah muncul dalam prasasti-prasasti pra-Islam, khususnya di wilayah Arab Selatan dan Arabia Tengah. Hal ini memperkuat argumen bahwa Al-Qur’an berbicara kepada audiens yang telah mengenal kosakata religius tertentu. Ia menegaskan, “Bahasa religius Al-Qur’an tidak lahir dalam kekosongan, melainkan berakar pada praktik dan tradisi yang telah ada sebelumnya.” Konsep monoteisme, dengan demikian, tidak datang sebagai "kejutan" linguistik, melainkan sebagai kulminasi dari pencarian spiritual yang panjang di tanah Arab.
Temuan lain yang menarik adalah adanya paralel antara bahasa religius Al-Qur’an dengan idiom keagamaan di Arabia Selatan (Himyar) dan Ethiopia (Aksum). Interaksi ini terjadi melalui jalur perdagangan kemenyan dan rempah yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Mediterania. Hal ini membuka kemungkinan bahwa interaksi budaya dan perdagangan di kawasan tersebut turut membentuk lanskap religius yang menjadi latar kemunculan Al-Qur’an. Hubungan trans-regional ini menunjukkan bahwa Arabia bukanlah pulau terpencil yang statis, melainkan titik temu peradaban yang dinamis.
Meski demikian, pandangan Dost tidak luput dari kritik. Sejumlah sarjana yang mendukung pendekatan filologis berbasis tradisi Kristen Suryani tetap berpendapat bahwa pengaruh luar, khususnya dari literatur Kristen Timur, lebih dominan dalam membentuk bahasa Al-Qur’an. Salah satu argumen yang sering dikemukakan, misalnya oleh sarjana seperti Christoph Luxenberg, adalah kemiripan istilah teologis tertentu dengan bahasa Suryani (Syriac). Dalam perspektif ini, Al-Qur’an dipandang sebagai bagian dari jaringan intelektual yang lebih luas di kawasan Timur Dekat, yang saat itu didominasi oleh diskursus Kristen dan Yahudi.
Sebaliknya, pendekatan berbasis epigrafi seperti yang ditawarkan Dost dianggap memberikan koreksi penting terhadap kecenderungan untuk selalu mencari pengaruh luar tanpa melihat apa yang ada di "halaman rumah" Arabia sendiri. Seorang peneliti epigrafi Arabia, dalam diskusi akademik terkait, menyatakan, “Kita terlalu lama membaca Al-Qur’an dari teks ke teks, tanpa cukup memperhatikan bukti material yang justru lebih dekat dengan realitas sejarahnya.” Pernyataan ini mencerminkan dorongan untuk memperluas metodologi dalam studi Al-Qur’an, dari sekadar filologi murni menuju arkeologi lanskap dan budaya material.
Perdebatan ini muncul tidak hanya soal lokasi geografis apakah di Mekkah, Petra, atau wilayah perbatasan Palestina, tetapi juga tentang bagaimana memahami Al-Qur’an sebagai teks yang lahir dalam ruang sejarah yang nyata. Apakah ia lebih merupakan produk interaksi lintas budaya yang bersifat global pada masanya, atau justru ekspresi dari dinamika internal masyarakat Arabia yang tengah mengalami transformasi identitas? Pendekatan Dost menawarkan jalan tengah bahwa Al-Qur’an adalah suara autentik Arabia yang berdialog dengan dunia sekitarnya.
Buku Before the Qur’an tidak memberikan jawaban final yang menutup pintu diskusi, tetapi ia membuka jalur baru dalam membaca “batu” sebagai saksi sejarah. Prasasti-prasasti yang selama ini terabaikan kini menjadi suara yang menghubungkan masa lalu dengan teks suci. Ia mengajak kita untuk melihat bahwa di balik kemukjizatan sastranya, Al-Qur’an juga merupakan dokumen sejarah yang sangat kaya akan rujukan lokal yang spesifik.
Lalu pertanyaan bagi kita bukan hanya tentang dari mana Al-Qur’an berasal, tetapi juga bagaimana kita memilih untuk membacanya di masa kini. Apakah kita cukup berani untuk keluar dari kerangka lama yang terkadang membatasi, dan mulai mendengarkan apa yang disampaikan oleh jejak-jejak sunyi di atas batu-batu cadas Arabia?
Saya merenungkan bahwa pencarian sejarah ini bukanlah upaya untuk mengecilkan nilai transendensi wahyu, melainkan untuk memperdalam apresiasi kita terhadap bagaimana wahyu tersebut bekerja di dalam sejarah manusia. Barangkali, seperti yang diisyaratkan oleh Dost, sejarah tidak selalu tersimpan dalam kitab-kitab besar yang dijaga di perpustakaan megah, melainkan juga pada serpihan prasasti yang diam di padang pasir, yang menyimpan gema yang sangat panjang bagi mereka yang mau memperhatikan.
Melalui gema yang tersimpan dalam prasasti, kita menyadari bahwa kebenaran seringkali meninggalkan jejak yang tak mampu dihapuskan oleh waktu. Ia senantiasa menanti untuk dibaca kembali melalui kejernihan hati dan ketajaman nalar, demi merengkuh sebuah titik keseimbangan dalam memahami sejarah.
Prasasti-prasasti itu mengajarkan bahwa kebenaran kerap meninggalkan jejak abadi yang melampaui zaman. Jejak tersebut menunggu untuk ditafsirkan ulang dengan kejernihan batin serta ketajaman nalar guna mencapai pemahaman yang seimbang dan mendalam. (Red)