Cendekiawan Muslim terkemuka asal Malaysia, kelahiran Bogor, Jawa Barat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, wafat pada Ahad, 8 Maret 2026 dalam usia 94 tahun. Kabar duka tersebut pertama kali beredar luas melalui media sosial dan dikonfirmasi oleh sejumlah akademisi serta muridnya di berbagai negara. Tokoh yang dikenal sebagai filsuf, sejarawan, dan pemikir pendidikan Islam itu meninggalkan puluhan karya penting yang mempengaruhi diskursus intelektual di dunia Islam, khususnya Asia Tenggara. Ia wafat setelah lebih dari enam dekade berkarya dalam dunia akademik, meninggalkan warisan pemikiran yang hingga kini masih diperdebatkan dan dikaji di berbagai universitas.
Ucapan belasungkawa datang dari banyak kalangan akademisi dan tokoh publik. Akademisi Indonesia Ismail Fajri Alatas menulis di media sosialnya, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Profesor Kerajaan Tan Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas 1931–2026,” sambil membagikan foto kebersamaannya dengan sang pemikir. Sementara Wakil Rektor American Islamic College, Ibrahim Ozdemir, juga menyampaikan duka mendalam. “Saya berduka atas wafatnya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, salah satu intelektual Muslim paling cemerlang di masa kita,” tulisnya.
Al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931 dari keluarga keturunan ulama dan bangsawan Melayu. Ayahnya, Ali bin Abdullah al-Attas, berasal dari garis keluarga Arab-Hadrami yang telah lama berpengaruh di Nusantara. Sementara ibunya memiliki hubungan dengan keluarga Kesultanan Johor di Malaysia.
Sejak kecil ia mengenyam pendidikan agama di Madrasah al-Urwatul Wuthqa, Sukabumi, pada masa pendudukan Jepang (1941–1945). Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di Johor sebelum sempat menjalani pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris.
Namun karier militer itu tidak berlangsung lama. Ia memilih meninggalkan dunia ketentaraan dan beralih ke jalur akademik. Keputusan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi salah satu pemikir Islam paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. Al-Attas memulai pendidikan tinggi di University of Malaya di Singapura pada akhir 1950-an. Ia kemudian meraih gelar magister dari McGill University, Kanada, pada 1962 melalui tesis tentang pemikir sufi Aceh abad ke-17, Nuruddin ar-Raniri, dan polemik pemikiran wujudiyah.
Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di SOAS University of London dan meraih gelar PhD pada 1965 melalui disertasi tentang mistisisme penyair sufi Melayu Hamzah Fansuri. Dengan capaian tersebut, ia tercatat sebagai salah satu akademisi Malaysia pertama yang memperoleh doktor filsafat dari universitas tersebut.
Sepulangnya ke Malaysia, al-Attas berkarier sebagai dosen dan kemudian profesor di Universitas Malaya serta Universiti Kebangsaan Malaysia. Ia dikenal luas setelah menyampaikan pidato profesorat berjudul Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, yang kemudian diterbitkan dan menjadi rujukan penting dalam kajian peradaban Melayu. Salah satu kontribusi terbesar al-Attas adalah pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization, sebuah lembaga pascasarjana yang ia rancang sebagai pusat kajian peradaban Islam dengan pendekatan multidisipliner.
Melalui ISTAC, ia memperkenalkan gagasan yang kemudian dikenal luas sebagai Islamisasi ilmu pengetahuan, sebuah konsep yang menekankan bahwa ilmu modern tidak sepenuhnya netral nilai, melainkan dipengaruhi oleh pandangan dunia Barat sekuler. Dalam bukunya Islam and Secularism (1978), al-Attas menulis bahwa sekularisasi modern dapat merusak struktur makna dalam peradaban Islam jika tidak dikritisi secara filosofis.
Menurut muridnya, cendekiawan Malaysia Wan Mohd Nor Wan Daud, ada tiga gagasan utama yang diwariskan al-Attas tentang krisis utama umat Islam adalah krisis ilmu pengetahuan, ilmu modern tidak bebas nilai, dan perlunya rekonstruksi epistemologi melalui Islamisasi ilmu.
Pemikiran al-Attas tidak hanya berpengaruh di Malaysia, tetapi juga di Indonesia. Sejumlah intelektual Indonesia sering merujuk gagasannya, termasuk Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, serta sastrawan Abdul Hadi WM. Dalam sebuah seminar dakwah pada 1986, Amien Rais pernah mengutip pandangan al-Attas untuk mengkritik wacana sekularisasi yang berkembang di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa pemikiran al-Attas turut mempengaruhi perdebatan intelektual di dunia Islam modern, khususnya di kawasan Melayu.
Meski dihormati luas, gagasan al-Attas juga memicu perdebatan di kalangan akademisi. Para pendukungnya menilai konsep Islamisasi ilmu membuka ruang bagi rekonstruksi epistemologi Islam di era modern. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pernah menulis bahwa al-Attas memberikan “bimbingan intelektual yang mendalam kepada generasi mahasiswa Universiti Malaya.”
Namun sebagian akademisi menilai gagasan tersebut terlalu normatif dan sulit diterapkan dalam praktik ilmiah modern. Beberapa ilmuwan sosial berpendapat bahwa proyek Islamisasi ilmu masih menghadapi tantangan metodologis dan belum sepenuhnya menghasilkan paradigma ilmiah yang operasional. Perdebatan ini justru menunjukkan besarnya pengaruh al-Attas dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer.
Meski demikian, al-Attas adalah seorang cendekiawan yang menolak hiruk-pikuk zaman. Salah satu kisah yang sering dikenang tentang al-Attas adalah gaya hidupnya yang sederhana dan tidak terikat pada teknologi modern. Bahkan di usia lebih dari 90 tahun, ia masih menulis manuskrip dengan pena di atas kertas, tanpa menggunakan komputer maupun telepon genggam.
Pada Juli 2023, di Kuala Lumpur, ia meluncurkan buku Islam: The Covenants Fulfilled di hadapan lebih dari 1.500 undangan. Selama hampir dua jam, ia menjelaskan isi bukunya dengan tenang, sebuah gambaran tentang konsistensi intelektual yang jarang ditemukan di era digital.
Kini Syed Muhammad Naquib al-Attas telah berpulang. Namun karya-karyanya seperti Islam and Secularism dan Prolegomena to the Metaphysics of Islam masih terus dibaca dan diperdebatkan di berbagai kampus dunia. Di tengah dunia akademik yang bergerak cepat dan sering kali terjebak dalam arus teknologi serta produksi pengetahuan instan, sosok al-Attas menghadirkan kontras yang mencolok tentang sosok filsuf yang memilih berjalan perlahan, tetapi berpikir sangat dalam.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang profesor, melainkan berakhirnya satu generasi intelektual yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya soal informasi, melainkan tentang makna, adab, dan pencarian kebenaran. Warisan itulah yang mungkin akan terus hidup, bahkan ketika sosoknya telah tiada. (Red)