Tragedi pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya yang masih berusia 12 tahun di Medan bukan sekadar peristiwa kriminal yang mengejutkan publik. Ia adalah alarm keras tentang rapuhnya kesehatan mental keluarga, sebagai isu yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah dan unggahan media sosial yang tampak harmonis.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana rumah, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak, justru berubah menjadi ruang tekanan emosional yang berlangsung lama dan berulang.
Kekerasan emosional yang dinormalisasi di dalam banyak keluarga, berupa bentakan, ancaman, dan hukuman fisik kerap dianggap sebagai bagian dari “cara mendidik”.
Dalam temuan kepolisian menunjukkan bahwa dalam kasus ini, kekerasan verbal dan fisik yang terjadi secara berulang: memukul dengan sapu dan ikat pinggang, mengancam dengan pisau, serta kemarahan yang dilampiaskan tanpa jeda refleksi. Dari sudut pandang kesehatan mental, kekerasan semacam ini bukan hanya melukai tubuh, tetapi juga membentuk rasa takut, marah, dan tidak berdaya yang terakumulasi dalam diri anak. Emosi yang tidak pernah diberi ruang untuk dipahami, lama-kelamaan berubah menjadi ledakan.
Anak dan beban emosi orang dewasa, serta hubungan suami-istri yang tidak harmonis, sebagaimana diungkap penyidik, turut menciptakan atmosfer rumah yang tegang. Dalam situasi seperti ini, anak sering kali menjadi “penampung emosi” orang dewasa: menyerap stres, konflik, dan frustrasi yang tak tersalurkan secara sehat.
Psikologi keluarga menyebut kondisi ini sebagai emotional spillover, ketika konflik orang tua merembes ke relasi dengan anak. Anak bukan hanya menjadi saksi, tetapi juga korban tak langsung dari konflik yang tidak pernah selesai.
Ketika dunia digital menjadi pelarian dalam tekanan emosional semacam ini, yang terus-menerus, membuat anak mencari pelarian dengan lebih dalam. Pada kasus AI, bocah berusia 12 tahun, pelarian itu hadir dalam bentuk gim dan tontonan digital. Masalahnya bukan semata pada kontennya, melainkan pada ketiadaan pendampingan emosional.
Gim dan anime dengan adegan kekerasan, ketika dikonsumsi oleh anak yang sedang marah, takut, dan tertekan, dapat berfungsi sebagai “bahasa alternatif” untuk mengekspresikan emosi. Anak belajar bukan dari nilai moral ceritanya, melainkan dari visualisasi tindakan yang dianggap mampu mengakhiri rasa sakit.
Seorang yang tumbuh di lingkungan tersebut sering kali menjadi pendiam. Namun, diam bukan berarti baik-baik saja sebagai anak penurut. Salah satu aspek paling berbahaya dalam kasus ini adalah justru adalah diamnya anak. Tidak ada tanda perlawanan terbuka, tidak ada pelaporan, tidak ada ruang aman untuk bercerita, dan dalam banyak keluarga, anak yang diam sering dianggap patuh dan baik. Padahal itulah masalahnya yang bisa membawa pada puncaknya seperti yang terjadi pada kasus keluarga di Medan.
Dalam perspektif kesehatan mental, diam bisa berarti ketakutan, kebingungan, atau keputusasaan. Anak yang tidak memiliki kosakata emosi dan tidak merasa aman untuk berbicara, akan mencari cara lain untuk “didengar” seperti yang dilakukan sang anak bernama AI.
Kesehatan mental keluarga sebagai sistem menjadi penting. Pelajaran atas tragedi ini menegaskan bahwa kesehatan mental tidak bisa dipisahkan antara individu dan sistem keluarga. Bukan hanya anak yang perlu diperhatikan, tetapi juga orang tua yang kelelahan secara emosional, pasangan yang gagal berkomunikasi, dan lingkungan yang abai terhadap tanda-tanda bahaya.
Pendampingan psikologis seharusnya tidak hadir setelah tragedi terjadi, tetapi menjadi bagian dari layanan dasar keluarga, seperti halnya kesehatan fisik.
Upaya pencegahan sebelum terlambat, dari kasus Medan ini mengajarkan satu hal penting: anak tidak tiba-tiba menjadi pelaku kekerasan. Ia tumbuh dalam ekosistem emosi yang rusak, tanpa ruang aman untuk marah, takut, dan sedih secara sehat.
Hal penting yang harus dipelajari bahwa menjaga kesehatan mental keluarga berarti dengan cara membangun komunikasi yang aman dan setara, menghentikan normalisasi kekerasan dalam pengasuhan, mendampingi anak dalam dunia digitalnya, serta berani mencari bantuan ketika konflik rumah tangga tak lagi terkendali.
Tragedi ini seharusnya tidak hanya berakhir sebagai arsip berita kriminal, tetapi menjadi momentum nasional untuk menempatkan kesehatan mental keluarga sebagai fondasi utama perlindungan anak. (Sal)